Fukuoka, Jepang
*
Wira meletakkan ponselnya di atas meja hotel dan menatap benda itu seperti menatap sesuatu yang bersalah.
Dua minggu lagi. Kalimat itu terdengar sederhana ketika keluar dari mulut Bara, tapi bagi Wira, dua minggu lagi berarti ia akan berada di negara yang salah pada saat yang paling penting dalam hidupnya.
"Pak?" panggil Ayu yang berdiri di dekat pintu sambil membawa map.
"Apa?"
"Jadwal besok pagi jam sembilan dengan Pak Hito. Apakah tetap?"
"Tetap."
Ayu mengangguk lalu meletakkan map itu di meja, "Kalau begitu saya permisi, Pak."
Setelah pintu tertutup, Wira menghela napasnya panjang. Tangannya kembali meraih ponsel, mencari satu nama, lalu menekan tombol hijau.
Nada sambung terdengar tiga kali sebelum akhirnya diangkat.
"Halo, Mas?" sapa Callista dari seberang telepon.
"Halo, sayang. Kamu lagi apa?"
"Lagi bikin teh. Kenapa? Suaramu aneh."
Wira terdiam sejenak. Sebenarnya ia sudah menyusun kalimatnya sejak tadi, tapi begitu mendengar suara istrinya, semua susunan itu berantakan.
"Aku ada kabar," ujar Wira.
"Kabar apa?"
"Jadwalku di sini diperpanjang."
Terdengar suara sendok yang berhenti mengaduk di seberang telepon.
"Berapa lama?" tanya Callista.
"Dua minggu lagi."
Hening.
"Callista?" panggil Wira.
"Iya, aku dengar," jawab Callista.
"Aku sudah coba menolak. Tapi Pak Levi yang harusnya bertemu besok justru sedang di China, dan Papa bilang kalau bukan aku yang menunggu, dia sendiri yang akan terbang ke sini," ujar Wira.
"Jangan Papa. Papa sudah tua."
"Itu juga yang aku pikirkan."
Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon.
"Ya sudah," ujar Callista akhirnya.
"Sayang -"
"Tidak apa - apa, Mas. Sungguh," potong Callista, "Aku cuma... aku cuma menghitung saja."
"Menghitung apa?"
Callista tertawa kecil, tapi tawa itu terdengar aneh di telinga Wira, "Dua minggu lagi berarti tanggal berapa ya. Kandunganku sudah masuk sembilan bulan minggu depan."
Wira memejamkan matanya.
Itulah yang paling ia takutkan sejak tadi. Bukan marahnya. Kalau Callista marah, Wira tahu harus berbuat apa. Tapi wanita itu justru tidak marah sama sekali, dan itu jauh lebih menyakitkan.
"Aku akan pulang sebelum kamu melahirkan," ujar Wira.
"Jangan janji kalau tidak yakin."
"Aku janji, Callista."
"Ya sudah," balas Callista pelan, "Aku pegang."
* * * * *
Jakarta, Indonesia
*
Callista meletakkan ponselnya di atas meja dapur, lalu melanjutkan mengaduk tehnya yang sudah terlalu lama diaduk sampai gulanya pasti sudah larut sejak tadi.
Yunita yang berdiri di ambang pintu dapur hanya memperhatikan.
"Diperpanjang?" tanya Yunita.
"Dua minggu."
Yunita berjalan mendekat dan mengambil gelas teh itu dari tangan anaknya sebelum tehnya tumpah.
"Kamu tidak marah?" tanya Yunita.
"Marah sama siapa, Bu? Sama Papa? Sama perusahaan? Sama Jepang?" balas Callista sambil tersenyum kecil.
"Sama suamimu."
"Dia juga tidak mau."
Yunita menghela napasnya, lalu menuntun anaknya duduk di kursi meja makan.
"Nak," panggil Yunita.
"Iya, Bu."
"Kamu boleh kecewa. Kecewa itu bukan dosa."
Callista menunduk. Untuk beberapa saat wanita itu tidak menjawab apa pun, sampai akhirnya bahunya bergetar pelan.
"Aku cuma takut, Bu," ujar Callista.
"Takut kenapa?"
"Takut nanti aku masuk ruang bersalin sendirian."
Yunita memeluk anaknya erat, "Kamu tidak akan sendirian. Ada Ibu."
* * * * *
Hari - hari berikutnya berjalan seperti biasa. Setidaknya, itu yang terlihat dari luar.
Wira tetap menelepon setiap pagi. Callista tetap menjawab dengan suara ceria. Yunita tetap memasak, Eric tetap mampir dua hari sekali membawa buah, dan tetangga tetap bertanya kapan anaknya lahir.
Tapi ada yang berubah, dan Callista adalah orang pertama yang menyadarinya.
Hari pertama, teleponnya berlangsung dua puluh menit.
Hari kedua, sepuluh menit.
Hari ketiga, lima menit, dan itu pun sebagian besar diisi oleh suara orang lain yang berbicara di belakang suaminya.
"Mas lagi sibuk ya?" tanya Callista di hari keempat.
"Sedikit. Kenapa?"
"Tidak apa - apa. Cuma tanya."
"Nanti malam aku telepon lagi ya."
Tapi malam itu tidak ada telepon.
* * * * *
Eric datang keesokan sorenya dengan sekantong jeruk dan sekotak roti.
"Aku tidak lama. Cuma numpang duduk sebentar," ujar Eric sambil meletakkan bawaannya di meja.
"Numpang duduk sambil bawa jeruk sekantong," balas Callista.
"Ya kan sekalian."
Yunita muncul dari dapur sambil membawa dua gelas teh, "Eric, makan dulu sini. Ibu masak banyak."
"Nanti saja, Bu. Saya masih kenyang."
Setelah Yunita kembali ke dapur, Eric duduk di sofa dan memperhatikan wajah sahabatnya sejak kecil itu cukup lama.
"Kamu kurang tidur," ujar Eric.
"Semua ibu hamil kurang tidur."
"Bukan itu maksudku."
Callista mengalihkan pandangannya ke arah televisi yang sebenarnya tidak sedang ia tonton, "Mas Wira jadwalnya diperpanjang dua minggu."
"Aku sudah dengar dari Bu Yunita."
"Ya sudah, kenapa masih tanya?"
Eric tertawa kecil, "Karena aku mau dengar dari kamu, bukan dari ibumu."
Callista terdiam sesaat, lalu menghela napasnya, "Aku baik - baik saja, Rik."
"Kalau kamu bilang baik - baik saja sambil menatap televisi yang tidak menyala, aku jadi tidak percaya."
Callista langsung menoleh ke arah televisi, dan benar saja, benda itu memang mati sejak tadi.
Wanita itu tertawa. Tapi tawanya cuma bertahan sebentar sebelum akhirnya berubah menjadi diam yang panjang.
"Kalau butuh apa - apa, telepon saja," ujar Eric.
"Iya."
"Jam berapa pun."
"Iya, Rik. Terima kasih."
* * * * *
Tokyo, Jepang
*
Wira duduk di kursi belakang mobil sambil menatap ke luar jendela. Lampu - lampu kota memantul di kaca dan bergerak cepat, membentuk garis - garis panjang yang menyilaukan.
"Pak, besok pagi kita ke kantor Pak Levi jam sepuluh," ujar Ayu dari kursi depan.
"Iya."
"Setelah itu ada makan siang dengan pihak konstruksi."
"Iya."
Ayu menoleh sedikit ke belakang, "Bapak baik - baik saja?"
"Kenapa semua orang bertanya seperti itu?"
"Karena Bapak tidak makan siang tadi."
Wira tidak menjawab. Ia justru mengeluarkan ponselnya dan menyalakan layarnya.
Empat panggilan tak terjawab. Semuanya dari nama yang sama.
Jarinya sempat bergerak hendak menekan tombol, lalu berhenti.
Bukan karena ia tidak ingin mendengar suara istrinya. Justru sebaliknya. Setiap kali ia mendengar suara Callista yang berusaha terdengar baik - baik saja, ada sesuatu di dadanya yang terasa seperti dipelintir. Dan setiap kali panggilan itu berakhir, ia akan duduk diam selama setengah jam sambil membenci dirinya sendiri.
Lebih mudah tidak mengangkatnya sama sekali.
"Pak," panggil Ayu lagi.
"Apa?"
"Ponsel Bapak bergetar."
Wira menunduk. Layar itu menyala lagi, dan nama itu muncul lagi.
Callista Evanora.
Pria itu menatap layar tersebut sampai getarannya berhenti dengan sendirinya, lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya.
"Bapak tidak angkat?" tanya Ayu.
"Nanti."
Ayu tidak bertanya lagi. Wanita itu hanya membalikkan badannya ke depan sambil menyunggingkan senyuman tipis yang tidak dilihat oleh siapa pun di dalam mobil itu.
"Pak," panggil Ayu beberapa saat kemudian.
"Apa lagi?"
"Kalau Bapak butuh teman bicara, saya ada."
Wira menoleh ke arah kaca spion dan bertemu pandang dengan sekretarisnya sendiri di sana.
"Kamu sekretaris saya, bukan teman saya," balas Wira datar.
"Maaf, Pak," ujar Ayu sambil menundukan kepalanya.
Mobil itu terus melaju membelah jalanan Tokyo yang basah karena gerimis. Dan sepanjang sisa perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara lagi.
* * * * *
Di Jakarta, Callista menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap layarnya yang sudah kembali gelap.
Panggilan kelima juga tidak diangkat.
Wanita itu duduk di tepi tempat tidur cukup lama, dengan satu tangan mengusap perutnya dan satu tangan lagi memegang ponsel yang tidak berbunyi.
"Mungkin dia benar - benar sibuk," gumam Callista kepada dirinya sendiri.
Kalimat itu ia ulang lagi di dalam hati, sekali, dua kali, tiga kali. Sampai akhirnya ia sendiri tidak yakin sedang meyakinkan siapa.