Ruang VIP rumah sakit
Jakarta, Indonesia
*
Pagi pertama di ruang VIP itu berjalan tanpa suara.
Callista berbaring miring sambil menatap boks bayi di sebelah tempat tidurnya. Sosok kecil di dalam sana sedang tidur dengan mulut yang sesekali bergerak seperti sedang mengunyah sesuatu.
Yunita tertidur di sofa dengan posisi duduk, kepalanya miring dan mulutnya sedikit terbuka. Wanita itu belum tidur sama sekali sejak semalam.
"Bu," panggil Callista pelan.
Yunita langsung terbangun, "Kenapa? Sakit?"
"Tidak. Ibu tidur lagi saja."
"Ibu tidak ngantuk."
"Bohong."
Yunita hanya tertawa lalu berjalan mendekat dan menatap cucunya di dalam boks, "Hidungnya mirip kamu."
"Matanya mirip Mas Wira."
"Belum kelihatan matanya. Baru juga lahir."
"Aku sudah lihat tadi pagi. Mirip," balas Callista keras kepala.
Yunita menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Pintu ruangan terbuka sedikit dan kepala Eric muncul dari baliknya.
"Sudah boleh masuk?" tanya Eric berbisik.
"Masuk saja, Rik," jawab Callista.
Eric masuk sambil membawa dua kantong plastik dan meletakkannya di meja, "Ini bubur buat Tante, ini teh buat kamu. Katanya ibu habis melahirkan tidak boleh minum yang dingin."
"Kamu dapat ilmu itu dari mana?"
"Dari ibu - ibu di kantin bawah," jawab Eric santai.
Yunita tertawa, "Kamu tidak pulang semalam?"
"Tidak, Bu. Saya tidur di mobil."
Callista menatap sahabatnya itu cukup lama, "Rik."
"Apa?"
"Terima kasih."
Eric mengibaskan tangannya, "Sudah, jangan mulai. Nanti aku salah tingkah."
Pria itu kemudian berjalan mendekati boks bayi dan menunduk untuk melihat isinya. Wajahnya yang tadinya santai berubah menjadi lembut.
"Ini yang semalam bikin ribut satu rumah sakit?" gumam Eric.
"Iya."
"Kecil sekali."
"Namanya juga bayi."
Eric tertawa pelan lalu berdiri tegak lagi, "Sudah dikasih nama belum?"
Callista tidak sempat menjawab, karena pintu ruangan kembali diketuk dan seorang perawat masuk sambil membawa selembar formulir.
"Selamat pagi, Bu. Ini untuk data bayinya," ujar perawat itu.
"Data apa, Sus?" tanya Callista.
"Untuk surat keterangan lahir. Nama lengkap bayinya diisi di sini, Bu."
Perawat itu menyerahkan formulir dan pulpen, lalu pamit keluar untuk memberikan waktu.
Callista menatap kolom kosong itu cukup lama.
Nama bayi.
Pulpen di tangannya bahkan belum menyentuh kertas.
"Kenapa?" tanya Yunita.
"Tidak apa - apa, Bu."
"Belum punya nama?"
"Sudah," jawab Callista pelan, "Sudah dari lama."
Wanita itu menatap ke arah jendela, ke arah langit pagi Jakarta yang kelabu, dan tanpa bisa ia cegah, ingatannya mundur ke beberapa bulan yang lalu.
* * * * *
Beberapa bulan yang lalu . . .
Rumah Mahawira dan Callista
*
Malam itu hujan turun cukup deras.
Callista duduk bersandar di kepala ranjang dengan bantal yang ditumpuk di belakang punggungnya, sedangkan Mahawira duduk bersila di ujung tempat tidur sambil memangku sebuah buku tebal berwarna cokelat.
"Ini apa?" tanya Callista.
"Buku nama bayi."
"Dari mana?"
"Beli. Tadi mampir ke toko buku sepulang kerja," jawab Mahawira sambil membuka halaman pertama.
Callista tertawa, "Ya Tuhan, Mas. Sekarang tinggal cari di internet juga bisa."
"Di internet tidak ada artinya yang lengkap."
"Ada."
"Tidak ada."
"Ada, Mas."
Mahawira menutup bukunya sebentar dan menatap istrinya dengan wajah datar, "Kamu mau debat atau mau memberi nama anak kita?"
Callista langsung menutup mulutnya sambil menahan tawa, "Lanjutkan, Pak."
Pria itu kembali membuka bukunya, "Oke. Kalau perempuan, gampang. Aku sudah punya tiga pilihan."
"Kalau laki - laki?"
"Nah itu yang susah."
"Kenapa susah?"
"Karena nama laki - laki itu akan dia bawa sampai tua. Kalau namanya jelek, dia akan diejek sampai kuliah," jawab Mahawira serius.
"Kamu dulu diejek?"
"Tidak. Namaku bagus."
"Percaya diri sekali."
Mahawira tidak menjawab, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Kamu tahu tidak," ujar Callista, "waktu aku kecil, Ibu pernah cerita kalau namaku itu diambil dari nama bidan yang membantu kelahiranku."
Mahawira mendongak, "Serius?"
"Serius. Namanya Bu Lista. Karena Ibu tidak punya siapa - siapa waktu itu, dan cuma Bu Lista yang mau menolong."
Pria itu terdiam sebentar, lalu meletakkan bukunya di pangkuan.
"Berarti namamu punya cerita," ujar Mahawira.
"Iya."
"Kalau begitu nama anak kita juga harus punya cerita. Bukan cuma bagus."
Callista tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Beberapa menit berlalu dengan pria itu membolak - balik halaman sambil sesekali menyebutkan nama, dan Callista menolak hampir semuanya.
"Terlalu panjang."
"Terlalu pasaran."
"Itu nama mantan temanku."
"Yang ini kenapa lagi?"
"Susah dieja."
Mahawira menghela napasnya panjang lalu menutup bukunya, "Ya sudah, kamu saja yang pilih."
"Loh kok jadi aku?"
"Karena kamu menolak dua puluh tujuh nama dalam sepuluh menit."
Callista tertawa sampai memegangi perutnya. Mahawira ikut tertawa, lalu bergeser mendekat dan duduk di sebelah istrinya.
"Ngomong - ngomong," ujar Callista, "kenapa kamu yakin sekali anak kita laki - laki?"
"Feeling."
"Kalau ternyata perempuan?"
"Ya sudah, berarti feeling-ku salah. Tapi tidak akan salah."
"Sombong sekali."
"Bukan sombong. Percaya diri," balas Mahawira sambil kembali membuka bukunya.
Callista mencubit lengan suaminya, dan pria itu bahkan tidak bergerak sedikit pun.
"Grayson," ujar Mahawira tiba - tiba.
Callista menoleh, "Apa?"
"Grayson. Bagaimana?"
Wanita itu mengulang nama itu di dalam hatinya sekali, dua kali, lalu tiga kali.
"Grayson," gumam Callista, "artinya apa?"
"Tidak tahu."
"Loh, katanya beli buku biar tahu artinya."
"Aku tidak menemukannya di buku," jawab Mahawira santai, "Nama itu muncul begitu saja di kepalaku waktu aku melihat foto ultrasonografi yang pertama."
Callista terdiam.
"Kenapa?" tanya Mahawira.
"Tidak apa - apa. Bagus," jawab Callista sambil tersenyum, "Aku suka."
"Serius?"
"Serius. Grayson."
Mahawira tersenyum lebar, lalu menutup buku tebal itu dan melemparkannya ke ujung tempat tidur.
"Grayson Rasendriya," ujar pria itu.
"Kedengarannya seperti nama orang penting."
"Memang orang penting."
Callista tertawa lagi. Namun tawanya berhenti begitu suaminya bergeser turun dari tempat tidur, berlutut di lantai, lalu meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri perut istrinya.
"Mas, ngapain?"
"Diam dulu."
Mahawira mendekatkan wajahnya, lalu mencium perut Callista dengan sangat pelan.
"Grayson," panggil pria itu kepada perut istrinya, "ini Ayah."
Callista menutup mulutnya dengan punggung tangan.
"Ayah belum pernah ketemu kamu, tapi Ayah sudah beli sepatu buat kamu. Dua pasang. Ibumu bilang itu berlebihan, tapi ya sudah, terlanjur," ujar Mahawira lagi.
Bahu Callista bergetar karena menahan tawa dan tangis sekaligus.
"Nanti kalau kamu lahir, Ayah akan ada di sana. Ayah yang pertama kali menggendong kamu. Sudah Ayah rencanakan," lanjut Mahawira.
Callista mengusap kepala suaminya, "Kalau kamu sedang rapat bagaimana?"
Mahawira mendongak dan menatap istrinya dengan wajah paling serius yang pernah Callista lihat.
"Rapat bisa diulang. Anak lahir tidak bisa diulang," jawab pria itu.
"Janji?"
"Janji."
"Kalau kamu bohong?"
Mahawira berdiri, lalu mencium kening istrinya lama sekali sebelum menjawab.
"Aku tidak pernah bohong sama kamu, Callista. Sekali pun."
Callista menatap mata suaminya cukup lama, lalu mengangguk.
"Ya sudah. Aku percaya," ujarnya.
"Harus percaya."
"Iya, iya."
Mahawira kembali naik ke tempat tidur, menarik selimut, lalu meletakkan telapak tangannya di atas perut istrinya seperti kebiasaannya setiap malam.
"Mas," panggil Callista.
"Hm?"
"Kalau nanti dia sudah besar, kamu mau ceritakan apa soal malam ini?"
Pria itu berpikir sebentar, "Aku akan bilang bahwa ayahnya membeli buku setebal bantal, lalu namanya justru muncul begitu saja tanpa membuka satu halaman pun."
Callista tertawa, "Jangan. Nanti dia pikir ayahnya bodoh."
"Biar saja. Yang penting namanya bagus."
Di luar sana, hujan masih turun dengan derasnya. Dan malam itu, di kamar kecil di sebuah rumah dua kamar yang jauh dari kata mewah, seorang wanita hamil tertidur dengan tangan suaminya yang tidak berhenti mengusap perutnya sampai ia benar - benar terlelap.
Sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa beberapa bulan kemudian, ia akan mengucapkan nama itu untuk pertama kalinya di dalam sebuah ruangan rumah sakit, sendirian, tanpa pemilik suara yang pernah menjanjikan semuanya.