Istana Twyla, Kerajaan Twyla
Kamar Ivelle, lantai 3
* * * * *
Pintu kamar Ivelle terbuka dan Daisy masuk sambil membawa nampan berisikan teko teh serta beberapa potong kue madu yang masih mengepulkan asap tipis.
"Silakan dinikmati, Nona," ujar Daisy sambil meletakkan nampan itu di atas meja bundar di tengah kamar.
"Terima kasih, Daisy," balas Ivelle.
Namun bukan Daisy saja yang masuk. Di belakangnya, Nikita ikut melangkah masuk dengan sepiring kue madu lain di tangannya. Sontak saja Rosa dan Veza berdiri dari tempat duduk mereka dan menundukan kepala.
"Duduk saja. Kalian tamu di sini," ujar Nikita.
Rosa dan Veza kembali duduk dengan gerakan yang kaku. Sedangkan Nikita justru menarik kursi dan ikut duduk di antara mereka, seolah wanita itu bukanlah Ratu dari Kerajaan Twyla melainkan tetangga sebelah rumah yang sedang mampir.
"Namamu Rosa, ya?" tanya Nikita.
"I - iya, Nona. Rosamund Pandora," jawab Rosa.
"Pandora. Keponakan Matthew Garbhan?"
Rosa menganggukan kepalanya pelan. Ia sempat khawatir karena nama Kerajaan Odor bukanlah nama yang menyenangkan untuk didengar oleh keluarga ini. Namun Nikita justru tersenyum dan mendorong piring kue madu itu mendekat ke arah Rosa.
"Sudah, makan dulu. Kue itu tidak akan enak lagi kalau sudah dingin," ujar Nikita.
Rosa mengambil sepotong dan menggigitnya perlahan. Renyah di luar, lembut di dalam, manis tapi tidak membuat kepala pusing. Tanpa sadar Rosa memakan potongan kedua bahkan sebelum yang pertama benar - benar habis, membuat Veza meliriknya dengan wajah menahan tawa.
"Enak?" tanya Nikita.
"Sangat enak, Nona," jawab Rosa jujur.
Selama Rosa dan Veza makan, Nikita hanya memperhatikan. Bukan memperhatikan wajah mereka, melainkan sesuatu yang lain. Ada energi asing yang terus memancar dari salah satu wanita itu, samar tapi tidak pernah hilang. Energi itu tidak terasa seperti sihir bangsa elf, tidak juga seperti darah vampire.
"Ibumu masih tinggal di Terassen?" tanya Nikita lagi.
"Masih, Nona. Ibuku Asha Pandora. Ayahku sedang berada di Wendlyn untuk urusan pekerjaan," jawab Rosa.
"Dan kau?" tanya Nikita sambil menoleh ke arah Veza.
Veza sontak menegakkan punggungnya, "Sa - saya Veza, Nona. Pelayan pribadi Nona Rosa. Kedua orang tua saya juga bekerja untuk keluarga Pandora."
"Pelayan?" ulang Nikita sambil melirik ke arah kursi yang diduduki oleh Veza, kursi yang sama tingginya dengan kursi Rosa dan kursi anaknya sendiri.
Veza langsung salah tingkah, namun Rosa justru menyahut lebih dulu, "Veza sudah seperti adik saya sendiri, Nona. Di rumah kami, dia makan di meja yang sama dengan kami."
Nikita tersenyum mendengarnya. Wanita itu kemudian menuangkan teh ke dalam cangkir Veza sendiri, membuat Veza hampir terlonjak dari duduknya.
"Kalau begitu di sini pun kau makan di meja yang sama," ujar Nikita.
"Kalian mau melihat taman belakang?" tanya Ivelle tiba - tiba.
"Tidak hari ini," potong Nikita cepat, "Ayahmu sedang menerima tamu di belakang."
Ivelle mengerucutkan bibirnya, "Ibu selalu begitu."
"Lain kali. Aku janji," balas Nikita sambil mengusap kepala anaknya.
Sore itu, Rosa dan Veza akhirnya pamit pulang. Sebelum melewati gerbang, Ivelle menahan tangan Rosa sebentar.
"Rosa," panggil Ivelle.
"Ya?"
"Tolong jangan ceritakan kepada siapa pun soal wajahku. Ayahku merahasiakan aku dari umum sejak aku lahir," ujar Ivelle.
Rosa menatap mata biru itu lalu tersenyum, "Aku bahkan tidak akan bercerita kepada Ibuku."
"Aku juga, Nona Ivelle," sahut Veza.
Ivelle tersenyum lebar, lalu kembali mengangkat tangannya. Angin kencang berputar sekali lagi dan kedua wanita manusia itu pun lenyap dari halaman depan Istana Twyla.
* * * * *
Taman belakang Istana Twyla
* * * * *
Sriingg ! ! ! !
Angin bertiup dari arah laut, membawa serta butiran air asin yang menghantam tebing di bawah taman belakang Istana Twyla. Di tepi taman itu, sesosok pria dengan rambut putih berdiri membelakangi Gerhard sambil menatap ombak yang menghantam karang.
"Kau datang lebih lambat dari biasanya," ujar Gerhard.
"Aku lebih lambat dari biasanya dalam segala hal sekarang," balas pria itu tanpa menoleh.
Evander Cassiopeia. Sosok yang menciptakan tanah yang sedang dipijak oleh Gerhard, dan sosok yang sekarang justru harus meminjam sisa - sisa tenaga hanya untuk berdiri di atas tanah itu.
Gerhard meletakkan cangkir tehnya di atas meja batu, "Apa semakin parah?"
Evander akhirnya berbalik. Wajahnya memang tetap tampan seperti biasa, tapi Gerhard bisa melihat sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang seperti pudar.
"Palung itu semakin dalam setiap tahun. Atau mungkin bukan palungnya yang bertambah dalam, melainkan aku yang bertambah lemah," ujar Evander.
"Kau masih mengambil energi dari mimpi mereka?"
Evander mengangguk, "Masih. Tapi tidak sebanyak dulu. Rasa takut manusia sekarang berbeda. Mereka tidak lagi takut pada kegelapan, pada hutan, pada laut. Mereka takut pada hal - hal yang tidak bisa aku sentuh."
Gerhard terdiam. Ia tahu betul bagaimana caranya Evander bertahan hidup selama ini. Masuk ke dalam mimpi para wanita, menampakkan wujud aslinya, lalu menyerap rasa takut yang timbul dari sana. Cara yang menyedihkan bagi sesosok pencipta.
"Aku dan Maverick masih mencari cara lain," ujar Gerhard.
"Sudah dua puluh tahun kalian mencari."
"Berarti kami akan mencari dua puluh tahun lagi."
Evander tertawa kecil. Tawa yang terdengar lelah, "Kalian ini keras kepala. Padahal kalian tidak berhutang apa pun kepadaku."
"Kau menciptakan kami," balas Gerhard.
"Dan aku juga yang membiarkan Zander mengambil setengah dari kekuatanku. Semua kekacauan ini berawal dari kelalaianku sendiri, Gerhard. Bukan dari kalian."
Angin kembali bertiup kencang. Gerhard mengambil cangkirnya dan meneguk tehnya yang mulai dingin, lalu duduk di kursi batu di sampingnya.
"Ivelle membawa teman hari ini," ujar Gerhard mengalihkan pembicaraan.
Evander menaikkan sebelah alisnya, "Anakmu keluar lagi tanpa izin?"
"Yang ketiga kalinya. Nikita bilang salah satu temannya memancarkan energi yang aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Nikita sendiri tidak bisa menjelaskannya. Katanya bukan sihir, bukan juga darah majin. Hanya terasa ada," jawab Gerhard.
Evander terdiam sesaat, lalu menggidikan bahunya, "Manusia terkadang membawa sisa energi dari benda yang pernah mereka sentuh. Bisa jadi hanya itu."
Gerhard mengangguk meski sebenarnya ia belum sepenuhnya yakin.
"Maverick mengirim kabar kemarin," ujar Gerhard lagi.
"Apa katanya?"
"Alat selam yang dulu gagal itu sudah dia perbaiki. Katanya sekarang bisa menahan tekanan dua kali lipat," jawab Gerhard.
Evander menggelengkan kepalanya, "Katakan padanya untuk berhenti. Bukan tekanannya yang menjadi masalah, Gerhard. Bukan air, bukan gelap, bukan dingin. Yang mengurungku di bawah sana adalah kekuatanku sendiri yang dipakai oleh Zander. Alat buatan tangan tidak akan pernah bisa melawan itu."
"Lalu apa yang bisa?"
"Sesuatu yang berasal dari darah yang sama," jawab Evander pendek.
Gerhard menghela napasnya. Jawaban itu selalu sama sejak dua puluh tahun yang lalu, dan selalu berujung pada satu nama yang tidak pernah bisa mereka temukan.
"Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan," ujar Gerhard.
"Apa?"
"Ivelle bertanya kepadaku beberapa hari lalu. Dia bertanya siapa yang membuat Lacoste. Aku menjawab seadanya, dan dia langsung tahu jika aku menjawab seadanya," ujar Gerhard.
Evander menoleh, "Lalu?"
"Aku tidak pernah benar - benar tahu ceritanya dari awal. Azriel menuliskannya di buku catatan, tapi tulisan itu tidak lengkap. Ada bagian - bagian yang hilang, ada juga bagian yang hanya berupa gambar tanpa penjelasan," ujar Gerhard.
Evander kembali menatap laut. Untuk waktu yang cukup lama, pria itu tidak menjawab apa pun.
"Kau ingin tahu dari awal?" tanya Evander akhirnya.
"Aku ingin tahu dari awal," jawab Gerhard.
"Kalau begitu kau harus mundur jauh sekali. Jauh sebelum ada manusia, jauh sebelum ada elf, jauh sebelum ada tanah yang kau pijak sekarang."
"Aku punya waktu."
Evander tersenyum tipis, "Kau memang punya waktu. Kau seorang noblesse."
Pria itu kemudian duduk di tepi tembok taman, membiarkan kakinya menggantung di atas jurang yang berbatasan langsung dengan Laut Elara. Matanya menatap jauh ke garis tempat langit bertemu dengan air, dan untuk sesaat matanya seolah tidak sedang menatap laut itu sama sekali.
Ia sedang menatap sesuatu yang jauh lebih tua dari laut itu.
"Dulu," ujar Evander pelan, "tidak ada apa pun. Tidak ada laut, tidak ada gunung, tidak ada satu pun makhluk yang bisa menyebut namanya sendiri. Yang ada hanya dua ekor naga dan sihir yang tidak tahu harus dipakai untuk apa."
Gerhard tidak menyela. Ia hanya menunggu.
Dan di ujung tebing itu, ingatan Evander pun mundur. Mundur melewati ratusan ribu tahun, melewati kematian, pengkhianatan, dan sebuah pedang bernama Aerosworn. Terus mundur sampai ke satu titik di mana Lacoste bahkan belum memiliki nama.