Lacoste
Beberapa puluh tahun setelah kepergian Dakota
* * * * *
Evander tak pernah benar - benar berhenti bekerja sejak hari itu.
Setiap kali matahari yang ia ciptakan sendiri terbit, pria berambut putih itu sudah berdiri di suatu tempat baru. Kadang di tepi pantai, kadang di puncak bukit, kadang di dasar lembah yang belum memiliki nama. Tangannya terus terulur, dan dari sana keluar cahaya keperakan yang membentuk pohon, sungai, hewan dan segala hal yang menurutnya masih kurang.
"Kalian akan tinggal di sini," ujar Evander kepada sekawanan Oriel bersayap yang baru saja ia ciptakan di sebuah pulau yang kelak dinamai Pulau Amadea.
Oriel - oriel itu menundukan kepala mereka, lalu terbang menyebar ke segala arah.
Bangsa elf berkembang paling cepat. Mereka membangun rumah dari batang pohon yang hidup, menanam bunga yang bisa menyala di malam hari, dan mengisi Hutan Avalon dengan serbuk pixie yang berkilau seperti bintang jatuh. Bangsa dwarf memilih tinggal di dalam perut gunung, menggali batu dan menempa besi. Bangsa ogre menempati padang - padang luas, sedangkan bangsa vampire memilih tempat yang paling gelap dan paling dingin.
Setiap kali Evander lewat, mereka semua akan berhenti bekerja dan menundukan kepala.
"Tuan Pencipta," ujar mereka.
Evander tidak pernah meminta hal seperti itu. Tapi ia juga tidak melarangnya. Baginya, panggilan itu hanyalah suara. Yang ia inginkan sebenarnya hanya satu, yakni tempat ini tidak lagi sesepi hari ketika Maxim dan Dakota pergi.
* * * * *
Avidor
* * * * *
Sementara itu, di sisi lain Lacoste, Zander bangun dari tidur panjangnya.
Naga hitam itu meregangkan sayapnya, lalu terbang rendah melewati hutan dan lembah yang dulu ia tinggalkan dalam keadaan kosong. Namun kini semuanya berbeda. Di bawah sana ada cahaya, ada asap dapur, ada suara. Bahkan ada nyanyian.
Zander mendarat di sebuah bukit dan merubah wujudnya menjadi manusia seperti yang pernah diajarkan oleh Dakota. Ia berjalan menuju sekumpulan bangsa elf yang sedang mengangkut kayu, dan salah satu dari mereka menoleh.
"Siapa kau?" tanya elf itu.
"Aku Zander," jawab Zander.
Elf itu hanya mengangguk, lalu kembali mengangkat kayunya tanpa memberikan hormat apa pun.
Zander terdiam di tempatnya. Ia menoleh ke sekeliling dan menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa panas. Tak ada satu pun dari mereka yang mengenali dirinya. Padahal ia lahir dari telur yang sama, dari Ibu yang sama, dari sihir yang sama.
"Zander!" panggil sebuah suara dari belakang.
Zander berbalik dan mendapati Evander berjalan menghampirinya dengan senyuman lebar.
"Akhirnya kau bangun juga," ujar Evander.
"Apa yang kau lakukan pada tempat ini?" tanya Zander.
"Aku mengisinya. Bukankah Ibu memang meminta kita mengurusnya?"
Zander tak menjawab. Matanya justru terus mengedar ke arah rumah - rumah kayu, ke arah asap, ke arah anak - anak elf yang berlarian di antara pohon.
"Kau juga bisa menciptakan, Zander. Kau ingat caranya, kan?" ujar Evander.
Zander mengulurkan tangannya. Cahaya kehitaman keluar dari telapak tangannya, berputar sesaat, lalu jatuh ke tanah dan membentuk sesuatu.
Sesosok makhluk bertubuh pendek dengan kulit kehijauan, hidung besar dan mata yang terlalu berdekatan berdiri di hadapannya. Makhluk itu menggaruk kepalanya, lalu mengeluarkan suara yang bahkan bukan kata.
"Apa - apaan ini?" keluh Zander.
Evander justru tertawa, "Tidak apa - apa. Beri saja nama."
"Goblin," ujar Zander malas.
Goblin pertama itu berlari ke semak - semak dan menghilang di sana. Dan tak lama kemudian, dari semak yang sama, terdengar suara goblin lain, lalu goblin lain lagi. Mereka berkembang biak jauh lebih cepat dari bangsa mana pun, tapi tak satu pun dari mereka bisa berbicara dengan benar.
Zander mengepalkan tangannya.
"Ajari aku," ujar Zander tiba - tiba.
Evander menoleh, "Ajari apa?"
"Caramu. Kenapa milikmu bisa berbicara sedangkan milikku tidak?"
Evander tampak berpikir sejenak, lalu menggidikan bahunya, "Aku tidak tahu. Aku hanya mengulurkan tangan dan memikirkan bentuknya. Sisanya keluar sendiri."
Jawaban itu terdengar biasa saja bagi Evander. Tapi bagi Zander, jawaban itu jauh lebih menyakitkan dari pada hinaan.
Karena artinya Evander tidak perlu berusaha sama sekali.
"Kalau kau mau, aku bisa menciptakan sesuatu untukmu," tawar Evander lagi dengan wajah polos.
"Tidak perlu," balas Zander pendek lalu berbalik pergi.
Evander hanya menatap punggung saudaranya sampai hilang di balik pepohonan. Ia sama sekali tidak menyadari jika kalimat yang menurutnya ramah itu justru menancap seperti duri.
* * * * *
Seratus tahun kemudian . . .
* * * * *
Seratus tahun bukan waktu yang lama bagi seekor naga. Namun dalam seratus tahun itu, Zander tidak berhenti mencoba.
Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengulang, gagal, mengulang lagi. Sampai pada suatu hari di sebuah lembah di Pulau Amadea, cahaya kehitaman dari tangannya membentuk sesuatu yang berbeda.
Sepasang makhluk berdiri di hadapan Zander. Tubuh mereka tidak sekuat ogre, tidak seindah elf, tidak setajam vampire. Mereka bahkan tidak memiliki setetes pun sihir di dalam tubuh mereka.
"Kalian lemah sekali," gumam Zander.
Namun makhluk itu justru menatap balik Zander, lalu salah satunya membungkuk, mengambil ranting dan mulai menggores tanah dengan ranting itu. Zander mengerenyitkan dahinya. Baru beberapa saat diciptakan, dan makhluk itu sudah membuat tanda.
"Manusia," ujar Zander.
Manusia berkembang biak, membangun, membakar, menanam. Tanpa sihir, mereka justru belajar jauh lebih cepat dari bangsa mana pun. Dalam waktu yang singkat mereka sudah memiliki desa, lalu kota, lalu kerajaan.
Dan Evander datang untuk memuji.
"Ide bagus untukmu. Mereka jauh lebih pintar dari yang kau kira," ujar Evander sambil menatap sekelompok manusia yang sedang membangun jembatan di atas sungai.
Zander tersenyum tipis. Tapi senyuman itu hilang begitu ia mendengar apa yang dikatakan oleh para manusia itu di bawah sana.
"Semoga Tuan Pencipta memberkati jembatan ini," ujar salah seorang dari mereka sambil menengadahkan kepalanya ke langit.
"Tuan Pencipta yang mana?" tanya yang lain.
"Yang berambut putih. Siapa lagi?"
Zander memalingkan wajahnya. Dadanya terasa panas untuk yang kesekian kalinya.
Bahkan makhluk buatannya sendiri pun menyembah saudaranya.
* * * * *
Avidor
Beberapa tahun kemudian
* * * * *
Zander duduk sendirian di dalam sarangnya di Avidor. Tempat itu gelap, kering dan penuh dengan barang - barang tua peninggalan Maxim dan Dakota yang tidak pernah disentuh oleh siapa pun sejak kedua naga itu pergi.
Tangannya menyingkirkan tumpukan kain lapuk, lalu berhenti pada sebuah benda bundar yang tergeletak di sudut ruangan.
Sebuah bola kristal bening.
Zander mengambil benda itu dan memutarnya di antara jari - jarinya. Ia ingat benda ini. Dulu Maxim pernah menunjukannya kepada mereka berdua sewaktu masih kecil, dan mengatakan sesuatu yang saat itu terdengar membosankan.
Benda ini bisa menampung energi sihir. Bukan sedikit, melainkan sebanyak apa pun yang dikeluarkan oleh pemilik sihirnya, sampai pemiliknya sendiri kehabisan.
"Jangan pernah dipakai kepada saudaramu," begitu pesan Maxim waktu itu.
Zander tertawa pelan. Tawanya bergema di dinding gua yang kosong.
Ia menatap bola kristal itu lebih lama, dan bayangan wajahnya sendiri yang memantul di permukaan bola itu balik menatapnya. Wajah yang tidak dikenali oleh satu pun makhluk di Lacoste. Wajah yang tidak pernah disebut dalam doa siapa pun.
"Kenapa harus dia," gumam Zander.
Kenapa dari dua telur yang sama, hanya satu yang lahir dengan sisik berwarna putih keperakan. Kenapa dari dua anak yang sama, hanya satu yang bisa menciptakan Hydra sedangkan yang lain hanya menghasilkan ayam dan goblin. Kenapa dari dua saudara yang sama, hanya satu yang diingat.
Zander menggenggam bola kristal itu erat - erat sampai buku - buku jarinya memutih.
Di luar sana, di seberang lautan, Evander masih sibuk mengamati bangsa elf tanpa curiga sedikit pun. Ia bahkan tidak tahu jika sejak hari itu, saudaranya sudah berhenti menganggapnya sebagai saudara.
Perasaan iri itu tidak lagi mengendap di dasar dada Zander.
Perasaan itu sudah naik sampai ke ubun - ubunnya.