"Bella terkena serangan panik saat menemukan cicak di kamar. Dia sangat histeris tadi." Jelas dia menerangkan kejadian itu dengan gusar kepada Adam.Aku bernapas lega karena Johan sama sekali tidak menyinggung kejadian tadi.
Astaga, dia benar-benar pria dewasa.
"sial, benarkah?" Sekarang ada nada penyesalan pada suara Adam. "Aku tahu dia benci cicak tapi aku tidak memikirkan akan separah ini."
Aku akan bangun namun suara Johan kembali terdengar, mengurungkan niatku.
Sial, aku seperti seorang penguping sekarang. Tapi aku tidak bermaksud begitu, mereka berdua yang berbicara dari tempat yang bisa aku dengar.
"Apa ada alasan lain aku harus meneleponmu sepuluh kali sore ini?" Johan tampan jengkel. "dengar Adam, aku tidak berniat ikut campur atau apa. Tapi kau yang membawa Isabella ke sini, jadi aku harap kau bisa bertanggung jawab atas pacarmu selama kalian tinggal di sini."
"Aku tahu, aku tahu. Kau tidak perlu marah-marah, oke?"
"Jaga sikapmu, tolong jangan bertengkar dan membuat suasana rumah ini menjadi kacau."
Adam tidak menjawab pertanyaan ayahnya dan balik bertanya.
"Di mana Bella?"
"Dia sedang tidur di sofa." Jawab Johan lagi, dan perkataannya membuatku langsung menutup mata, kembali ke mode pura-pura tidurku. "dan tolong jaga suaramu, kau bisa saja membuatnya terbangun karena suaramu."
"Serius, pa? Sebenarnya anakmu itu aku atau Bella?"
"Kau tidak tahu betapa kacaunya kondisi Bella tadi, Adam. Dia sangat panik, dan aku sangat bersyukur dia bisa tidur sekarang."
Cara Johan mengkhawatirkanku membuat perutku bergelenyar.
"Lalu kenapa kau membiarkannya tidur di sofa?"
"Menurutmu dia akan kembali ke kamarnya dan tidur sendirian sana?"
"Seburuk itu?"
"Ya, seburuk itu. Jadi angkat saja dia dari sofa dan tidurkan dengan benar di kamarmu." Johan tampak sangat gusar dan aku mendengar suara langkah kaki mendekat, aroma yang aku kenal merasuki indra penciumanku. Adam.
"Maafkan aku, Bella." Gumamnya lembut lalu aku merasakan kecupan ringan di keningku.
Aku menahan napas saat tangannya bergerak menyusup bawah lengan dan pahaku, mengangkatku dalam gendongannya sekali percobaan.
"hati-hati, Adam. Kau akan membuatnya bangun astaga."
Adam tidak menjawab dan terus melangkah, sedikit melambat saat dia menapaki anak tangga dengan aku yang berada di gendongannya.
"Sejak kapan dia menjadi begitu berisik dan peduli terhadap orang lain." Desis Adam keheranan di sela langkahnya menaiki tangga.
***
Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan dengan Adam yang mendekapku erat, aku mengubur wajahku di dadanya, menghirup aroma yang sudah menjadi favoritku selama satu tahun terakhir ini, seharusnya aku bisa tidur nyenyak dengan itu semua. Namun tidak. Otak ku melayang ke mana-mana.
Melepaskan diri dari lengan adam, aku beringsut menjauh dari pelukannya. Berbaring terlentang, aku menghela napas panjang dan menatap ke langit-langit kamar berwarna putih di atas sana. Otakku menerawang.
Ini salah, perasaan ini salah.
Aku memang terlahir dari perpaduan dua gen b******k dari orang tuaku, namun aku tidak pernah ingin berakhir menjadi salah satu dari mereka.
Ya, ini tidak seperti aku berselingkuh atau apa. Tapi rasanya ini salah. Aku memiliki pacar, dan aku haus akan perhatian dari orang lain, yang merupakan ayah dari pacarku.
Sial, come on, Bella. Adam tampan, kaya, populer. Kau mencintainya. Berhenti bersikap bodoh dengan memikirkan pria lain yang berusia tujuh belas tahun lebih tua darimu!
Menarik napas panjang, aku terus mengulang kata-kata tersebut di otakku. Tanpa aku sadari, matahari sudah mulai muncul di langit timur.
Aku mengerang, menatap cahaya redup yang mulai terlihat dari jendela kaca. Aku bangun dari tidurku, Merentangkan otot tanganku lalu menyibak selimut dari tubuhku.
Aku tidak bisa tidur, dan aku juga tidak mengantuk.
Menoleh ke sisi lain tempat tidur, aku menemukan Adam masih tidur dengan posisi tengkurap di sana.
Aku menarik napas panjang dan segera turun dari ranjang. Mengikat rambutku membentuk cepolan saat Melangkah dengan hati-hati menuju kamar mandi yang berada di sudut ruangan.
Masih ada rasa takut dan trauma atas kejadian kemarin, namun aku sekuat tenaga berusaha mengusir rasa cemas di dalam diriku.
Tidak ada cicak di sana. Tidak ada cicak disana.
Aku terus mengulang kata-kata itu di dalam hatiku, menyalakan lampu kamar mandi dan menyelesaikan urusanku di sana hampir setengah berlari saat melakukannya.
Mengelap wajahku yang basah dengan handuk, aku keluar dari kamar mandi, berjalan menuju koperku yang belum sepenuhnya terbongkar, mengambil satu set pakaian olah raga dan sepatu lariku dari sana.
Ya, aku berniat untuk jogging pagi ini. Paling tidak itu membuatku keluar dari rumah dan menjauh dari Johan untuk sementara. Mungkin saja aku hanya butuh udara segar untuk berpikir jernih sekarang.
Ya, ya. Aku hanya butuh udara segar dan akan segera tersadar. Tidak mungkin aku memiliki perasaan terhadap Johan. Aku tidak segila itu!
Mengganti pakaianku cepat, aku memakai sepatu lariku dan keluar kamar. Namun kembali masuk sesaat kemudian, meraih airpods ku dari meja nakas, aku melirik ke arah adam sebelum menghampiri dia yang masih terlelap di sana.
"Aku akan pergi jogging." Pamitku kepadanya lalu mengecup pipinya singkat. Dia hanya merenggek pelan, tidak bangun ataupun menjawab perkataanku-karena dia masih tertidur. Dan aku tidak begitu memikirkannya.
Yang terpenting aku sudah berpamitan dengannya.
Berjalan cepat menuruni tangga, aku bernapas lega saat di menemukan lantai bawah masih tampak gelap di mana-mana, yang itu artinya, Johan belum bangun.
Aku menyalakan lampu dapur dan berjalan menuju kulkas, aku butuh air minum sekarang.
Menyesap botol air mineral yang aku ambil dari salah satu rak di kulkas, aku berjalan menjauh dari dapur saat mataku menemukan toples kaca yang aku kenali di letakkan di atas meja kopi samping kursi malas di ruang tengah.
Itu ikanku, yang sudah aku lupakan setelah kejadian kemarin.
Apa Johan mengurusnya untukku?
Aku berjalan menghampirinya, menghitung jumlah ikan di sana. Masih sepuluh, utuh. Dan mataku beralih ke vas berisikan bunga liar yang aku bawa kemarin.
Sial. Aku merasakan getaran itu lagi. Jantungku berdegup kencang, dan perutku bergelenyar.
Tidak! Tidak boleh lagi!
Aku menyesap kembali botol air di tanganku, sebelum akhirnya meninggalkan sisanya di meja. Berjalan menuju pintu depan dan keluar dari sana.
Hawa dingin langsung menyerbu kulitku saat aku berdiri di halaman, di antara ford raptor dan volkswagen yang terparkir di sana.
Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya di ufuk timur, menyebarkan sinarnya ke dunia. Hari ini tidak ada gulungan mendung di langit, jadi cuacanya sepertinya akan cerah, cocok untuk jogging yang aku rencanakan.
Aku melakukan peregangan sebentar, sebelum akhirnya mulai berlari kecil meninggalkan halaman depan rumah Johan. Mataku memperhatikan sekitar, pemukiman tempat tinggal Johan merupakan perumahan dengan tipe perkarangan luas di sekitarnya, membuat jarak rumah dan rumah lain cukup berjauhan.
Indah dan damai. Ada pohon dan rumput di mana-mana. Bahkan aku yakin jika aku berlarian mengelilingi rumah Johan selama sepuluh putaran, itu akan cukup membuatku mandi keringat.
Namun keringat bukan alasanku pagi ini untuk jogging, aku butuh udara segar dan waktu sendiran. Jadi, aku mulai memasang airpods pada telingaku, menyetel musik dengan volume rendah sebelum memasukkan ponselku ke tas jogging yang melingkari pinggangku dan menyusuri jalanan depan rumah Johan, memulai acara lari pagiku.
Lingkungan ini benar-benar sepi. Atau mungkin aku yang keluar terlalu pagi. Aku tidak bertemu dengan satu pun manusia di jalan, hanya ada beberapa kendaraan yang sesekali melintas.
Wah jika seorang pembunuh berantai tinggal di sini dan menculikku, aku yakin aku tidak akan selamat.
Memikirkan itu semua, aku memutuskan untuk meraih handphoneku dan mengetik pesan singkat kepada Adam, memberitahunya jika aku sedang jogging sekarang.
Menyusuri trotoar dengan langkah lari-lari kecil. Aku menoleh ke belakang. Rumah Johan sudah sudah tidak terlihat, dan aku hanya bisa menarik napas panjang.
Udaranya sangat segar, dengan suara kicauan burung yang bernyanyi seolah mengiringi langkahku, dan cahaya mentari pagi yang mulai menyentuh kulitku. Perpaduan sempurna yang membuat senyumku tersungging sekarang.
Aku tidak tahu lingkungan ini dengan persis, jadi rencanaku sekarang hanyalah menyusuri jalanan lurus, tanpa belokan sekalipun agar tidak tersesat.
Lalu, lagu Lana Del Rey yang berjudul chinamon girl dari playlist musikku menguasai indra pendengarku, melalui airpods di telingaku, dan adegan aku duduk di mobil Johan kemarin langsung berputar di kepalaku. Ya kami mendengarkan lagu itu kemarin, yang berakhir dengan obrolan singkat tidak terduga dengannya.
Sial. Aku jogging untuk melupakan Johan dan menenangkan pikiran, namun otakku di penuhi oleh namanya sekarang. Menekan ujung airpods ku, aku memilih untuk mematikan musik yang aku dengarkan, menghela napas panjang.
Aku memperlambat langkahku dan hanya berjalan santai, menetralkan napasku yang sedikit tersengal saat indra pendengarku menangkap suara langkah kaki mendekat.