Hembusan angin lembut menerpa wajahku. Perlahan ku buka kedua mataku, sejauh mata memandang terlihat hamparan ilalang hijau dengan langit biru cerah sebagai pembungkusnya. Segera ku putar tubuhku, menangkap bayangan rumah mungil yang berada tak jauh dari tempatku berdiri. Di depan rumah itu tempak siluet seorang pria merangkul mesra seorang wanita. Walau kedua wajahnya tak terlihat dengan jelas, entah bagaimana, dengan pasti aku mengetahuinya bahwa kedua orang itu tersenyum kepadaku. Siluet wanita itu kini melambaikan tangannya kepadaku. Seperti terhipnotis aku melangkahkan kakiku mendekati keduanya. Tanpa ku sadari kedua ujung bibirku tertarik melengkung ke arah atas secara simetris, ya aku tersenyum. Perasaan senang menghapiri diriku, seolah tidak sabar untuk segera melihat wajah dan senyuman kedua orang itu aku mempercepat langkahku dan bahkan kini kakiku mulai berlari. Entah perasaan apa ini? Jantungku bergemuruh tak karuan. Begitu kencangkah kecepatan berlariku sehingga jantungku berdegup dengan kecepatan yang tidak normal? Perasaan bahagia ketika mendekati kedua sosok itu? Atau malah perasaan khawatir?
Tiba-tiba langkahku terhenti begitu jarak untuk mencapai keduanya tak begitu jauh lagi, mendadak bayangan kedua orang itu lenyap begitu pula dengan rumah mungil dibelakangnya. Suara ledakan yang amat dasyat membuatku mematung untuk sesaat. Kini, di dalam bola mata ini terekam kobaran berwarna merah menari-nari melahap bangunan mungil yang sudah tak berbentuk. Langit yang berwarna biru cerah berubah menjadi kelabu akibat asap hitam yang membumbung tinggi. Kedua kakiku tak sanggup menahan tubuh ini untuk tetap berdiri. Aku bersimpuh melihat pemandangan mengerikan yang ada di hadapanku. Pipiku terasa basah, tak mampu membendung aliran air mata. Pada akhirnya hanya mampu berteriak memilukan.
“TIDAAAAAAAAAAAK!”
***
Aku membuka kedua mataku. Langsung terduduk dengan napas yang terengah-engah. Keringat membanjiri tubuhku. Metolehkan kepalaku pada nakas di samping tempat tidur, melihat jam weker yang terletak di atasnya. Kedua jarumnya menunjukkan pukul 09:58 a.m. Kilauan sinar matahari masuk dari celah gorden yang tidak sempurna menutup keseluruhan jendela. Tak lama jam weker bergambar kodok itu mengeluarkan suara yang cukup nyaring. Aku bergegas bangkit dari tempat tidur menuju ke arah jendela. Ku sibakkan gorden ke arah samping dan seketika aku menyipitkan mata terkena sinar matahari yang menyilaukan. Segera ku balikkan badan meninggalkan kamarku yang berada di lantai dua itu tanpa mempedulikan suara alarm dari jam weker yang masih saja terus berbunyi. Berjalan dengan malas menuruni tangga menuju dapur. Membuka kulkas dua pintu seukuran lemari pakaian yang ada di setiap kamar, mengambil botol air mineral yang masih tersegel, membukanya dan meneguk dengan cepat hingga tak ada sisa.
“Panasnya...” aku bergumam sendiri, sesekali mengusap keringan yang menetes di keningku.
“Aku berharap siang ini turun hujan,” lanjutku sembari mengibas-ibaskan tangan kanan berharap angin yang dihasilkannya dapat mengusir panas.
BREEESSSSSS..
Kualihkan pandanganku ke arah jendela, terlihat tetesan-tetesan air dengan derasnya berjatuhan membasahi bumi. Sedikit tercengang, namun kemudian tersenyum puas. Bagaimana tidak? Ketika doamu terkabulkan secepat ini bukankah merupakan sesuatu yang menyenangkan? Mengingat saat ini adalah musim panas yang persentase kemungkinan turunnya hujan sangatlah kecil.
Puas sejenak memandangi hujan, aku berbalik menghampiri meja makan. Menarik salah satu kursi dan duduk di atasnya. Mengambil sepotong roti, mengolesinya dengan selai coklat kesukaanku, kemudian melahapnya. Aku mengunyah dalam diam, hanya terdengar suara hujan di luar sana. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling, mengamati setiap sudut dapur dimana aku berada saat ini. Sepi. Ya, aku hanya sendiri di rumah ini. Tentu saja bukan rumah yang besar dan mewah, tetapi bangunan mungil berlantai dua ini tetap saja terlalu luas untuk dihuni satu orang saja.
Ku hentikan kunyahanku, mengamati kursi kosong dihadapanku. Mengenang dia yang selalu duduk di hadapanku, teringat dia yang sedang memasak, teringat segala ocehannya yang tidak pernah berhenti menasehatiku. Asal kau tau saja, sampai satu tahun yang lalu aku tidak tinggal sendiri seperti sekarang ini.
Tanpa sadar aku tersenyum, “Ck, bagaimana bisa mulut itu terus mengoceh sedangkan tangannya tak berhenti bekerja?”
“Dan hasil masakannya selalu saja lezat, apa ocehannya itu merupakan mantra agar masakannya selalu enak?” aku kembali bermonolog ria.
Sejak setahun lalu, berbicara sendiri sudah menjadi sesuatu yang biasa ku lakukan di rumah ini. Mau bagaimana lagi, kakak laki-lakiku satu-satunya yang sangat cerewet tapi pintar memasak menghilang setahun lalu. Orangtuaku? Aku bahkan tidak mengingat wajah mereka. Kakakku berkata bahwa kedua orangtua kami meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas saat aku masih sangat kecil. Tidak ada satupun foto kedua orangtuaku. Penjelasan kakak yang berkata ‘Semuanya lenyap ketika rumah kita kebakaran tidak lama setelah orangtua kita meninggal’ membuatku tidak banyak bertanya-tanya tentang kedua orangtuaku. Toh mereka sudah tenang di alam sana. Rumah ini tentu saja hasil kerja keras kakak. Kakak sekaligus sahabat dan berperan sebagai orangtua bagiku, satu-satunya keluarga yang kumiliki.
Aku tidak tahu di mana keberadaan dan kabar kakak saat ini. Seperti yang kukatakan tadi, dia menghilang. Tepatnya, pergi tanpa pamit terlebih dahulu kepadaku. Yang pasti kakakku masih hidup di suatu tempat di luar sana. Bagaimana aku mengetahuinya? Tentu saja, aku tahu. Setiap bulan jumlah tabunganku selalu bertambah. Siapa lagi, kalau bukan kakak yang mengirimnya. Dan aku tak berusaha untuk mencarinya. Mungkin saja dia pergi meninggalkanku karena jengah terhadapku atau bosan mengurusiku.
Namun, satu hal yang aku sesalkan dari peristiwa menghilangnya kakakku. Sejak dia pergi aku hanya makan roti, makanan cepat saji atau membeli makanan jadi. Ironis memang, kakak laki-laki yang sangat pintar memasak mempunyai adik yang tidak mempunyai kemampuan untuk memasak sama sekali. Mengingat setiap kali aku mencoba untuk memasak sendiri, makanan itu selalu berakhir di tempat sampah. Bagaimana tidak? Makanan apapun, hasilnya selalu berwarna hitam, rasanya pun membuat keningku berkerut dan buru-buru memuntahkannya keluar, khawatir akan kesehatanku sendiri tentu saja. Tidak lucu bukan jika kau jatuh sakit karena makanan yang kau masak sendiri?
***
Setelah membersihkan diri, aku bersiap untuk mengisi liburan musim panas ini dengan mengerjakan tugas di perpustakaan. Aku menatap pantulan diriku di cermin. Aku mempunyai tinggi badan yang sedang, tidak tinggi tidak pula pendek, namun terkesan jakung karena mungkin tubuhku yang terlalu kurus. Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang berusaha menampilkan otot-otot mereka, aku sama sekali tidak berminat untuk membentuk otot-otot, entah pada lengan, maupun perut, atau entahlah otot bagian mana saja yang sering dibanggakan oleh anak laki-laki seumuranku. Bola mata coklat dengan bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir yang berwarna pink alami membuatku terkesan –walau aku tak mau mengakuinya– cantik di mata orang-orang. Apalagi dengan warna kulit yang putih ini tidak sedikit orang salah mengira aku adalah perempuan. Tentu saja, aku menganggap mereka bodoh, bagaimana mungkin mereka salah mengenali gender seseorang.
Aku merapikan blazer coklat yang melapisi t-skirt hitam yang ku kenakan berpadu dengan celana jins berwarna hitam. Simpel namun tetap terkesan rapi. Kemudian segera ku raih dan ku selempangkan tasku. Kembali menuruni tangga, memakai sneakersku, mengambil payung dan bergegas menuju perpustakaan.
***
Sepanjang perjalanan dapat kulihat banyak orang berteduh mengira hujan yang turun tidak akan berlangsung lama. Sedangkan beberapa orang berlarian menerobos hujan. Tak sedikit dari mereka merutuki hujan yang tiba-tiba turun di tengah musim panas ini, tentu saja mereka tidak menyiapkan payung atau sejenisnya untuk melindungi diri dari guyuran air yang jatuh dari langit. Sedangkan aku, hanya tersenyum mendengar u*****n-u*****n mereka. Menurutku, lebih nyaman ketika hari hujan, kau hanya perlu memakai payung agar tidak basah. Yang terpenting tidak ada panas matahari yang membuatmu berkeringat dan tentu saja tidak ada debu-debu yang berterbangan akibat polusi kendaraan di kota besar ini.
BRUK
Tiba-tiba payungku terlepas dari genggaman tanganku. Dan kini aku terduduk di pinggir jalan. Tentu saja, basah.
“Maaf, aku buru-buru jadi tidak melihatmu,” laki-laki yang menabrakku mengambil payungku yang tergeletak di dekatnya.
‘Pasti orang ini mempunyai rabun yang sangat parah, jika dia tidak melihatku yang sebesar ini,’ batinku.
“Kau tidak apa-apa?” lanjut laki-laki itu sambil menyodorkan payungku.
‘See? Aku basah,’ kembali aku membatin.
“Kau baik-baik saja?” laki-laki itu kini berjongkok melihatku dengan pandangan khawatir, mungkin karena orang yang ditabraknya masih terduduk tanpa menjawab satupun kata-katanya.
“Ya, aku baik-baik saja.”
Akhirnya aku menjawab pertanyaannya. Segera ku ambil payungku yang tersodor di tangannya. Berdiri dan berjalan meninggalkannya. Tak ku pedulikan tatapan heran sekaligus khawatir yang diberikan laki-laki itu kepadaku. Sikap tidak peduliku membuat orang itu memandang aneh padaku. Menurutmu aneh kah jika orang yang kau tabrak sehingga berantakan tak mempedulikan keadaannya dan hanya berlalu begitu saja? Bagiku tidak. Mau bagaimana lagi? Aku tidak mau membuang-buang tenaga dan waktuku hanya untuk sekedar mengomelinya, toh aku sudah basah dan berantakan. Lagi pula, hujan ini ada karena permohonanku. Tidak bijaksana jika aku menyalahkannya yang terburu-buru karena hujan.
Tak terasa gedung perpustakaan sudah ada di hadapanku. Ya, jarak antara rumahku dan perpustakaan di kota ini tidak begitu jauh, hanya menempuh waktu sekitar 20 menitan dengan jalan kaki. Pakaian yang basah rupanya sangat tidak nyaman dikenakan. Tanpa sadar gigiku bergemelatuk, sedikit menggigil akibat dingin yang berasal dari pakaian yang ku pakai.
“Seandainya baju ini cepat kering.”
Aku tidak bermaksud mengeluhkan keadaanku, hanya terucap begitu saja. Seketika angin yang terasa hangat berhembus melewatiku dan kurasakan hawa dingin yang sedari tadi menyerangku kini sirna. Ajaib, pakaianku kini kering, yang mengherankan tidak ada bekas noda maupun tanda-tanda bahwa pakaian ini basah sebelumnya. Tidak mau mengambil pusing, aku segera memasuki gedung perpustakaan.
***
Begitu aku memasuki pintu masuk perpustakaan seorang petugas tersenyum kepadaku dan sedikit menganggukan kepalanya, tentu saja akupun berlaku sama demi kesopanan untuk membalas keramahannya. Sebelumnya aku melipat payungku dan meletakkannya di tempat yang telah disediakan. Langsung saja aku menuju rak dengan buku-buku tebal di ruang referensi.
Jari telunjukku menelusuri satu per satu referensi yang kira-kita akan membantuku dalam mengerjakan tugas. Memiringkan kepalaku ketika membaca judul-judul yang tertera pada punggung buku yang ditata secara vertikal. Jari ku terhenti pada salah satu buku dan memutuskan untuk mengambilnya. Begitu pula dengan dua buku lainnya yang kutemukan tidak jauh dari buku pertama yang ku temukan.
BUK
Sebuah buku setebal kamus besar terjatuh dari rak. Walau ku yakini buku itu jatuh bukan karena kesalahanku, aku mengambilnya dari lantai berniat untuk mengembalikannya ke rak. Ketika aku mengarahkan buku itu pada tempatnya, aku menangkap sesuatu yang menarik perhatianku. Ya, akibat buku tebal yang terjatuh itu menghasilkan celah yang lumayan besar. Dapat ku lihat di seberang sana, di sebuah meja baca, duduk seorang pria berkacamata tebal dengan mimik serius membaca sebuah buku. Tunggu dulu, tentu saja aku tidak tertarik dengan pria itu— begitu dengan pria manapun juga. Sesuatu yang ada ditangannya yang membuatku tertarik, buku bersampul hitam dengan tulisan emas di sampulnya.
“Boleh aku duduk di sini?” kini aku berdiri di hadapan pria itu.
Pria itu mengangkat kepalanya. Sesaat dapat ku lihat ekspresi kagetnya ketika melihatku. Namun dengan cepat dia mengganti ekspresi terkejutnya itu dengan tatapan teduh dan tersenyum padaku. Tak ku sangka ternyata pria ini begitu, um bisa dikatakan berkharisma, tatapan matanya membuatku sedikit tidak pecaya diri.
“Silahkan.”
Pria itu kembali menatap buku yang dipegangnya. Segera kuletakkan buku-buku di atas meja, menarik kursi yang entah kenapa tak mengeluarkan sedikitpun suara. Mungkin karena ini perpustakaan maka kursi atau bahkan lantainya terbuat dari bahan khusus agar tidak menimbulkan suara.
“Mantra?” aku bertanya penasaran.
Pria itu menatapku, menaikkan alisnya seakan bertanya kepadaku.
“Itu! Judul buku yang kau baca,” aku menunjuk enam huruf berwarna emas yang berjajar membentuk kata MANTRA pada sampul buku yang ada di tangan pria itu.
“Kau percaya sihir?” aku kembali bertanya.
Perlahan pria itu meletakkan buku yang sedari tadi dipegangnya pada meja. Dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mensedekapkan kedua tangannya dan menatapku.
“Kau tidak percaya?” pria itu bertanya balik dengan senyuman yang selalu dipamerkannya.
“Sebatas cerita untuk menakuti anak-anak.”
Kali ini pria itu memajukan badannya, menggenggam kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja.
“Bagaimana jika aku mengatakan kalau sihir itu nyata?” senyuman pria itu tiba-tiba menghilang digantikan dengan tatapan dan raut muka serius.
Aku mengendikan bahuku, “Aku bukan tipe orang yang mudah menerima suatu hal tanpa adanya bukti.”
Pria itu terkekeh pelan mendengar jawabanku. Melepas kacamata tebalnya dan meletakkan di atas buku berjudul ‘mantra’.
“Well, um...” perkataan pria itu terhenti sejenak.
“Dover, namaku Dover.”
Pria itu kembali memandangku. Tanpa kacamatanya, tatapan pria itu kurasa semakin tajam dan membuatku mengalihkan pandanganku tidak berani melihat terlalu lama pada bola mata hitam itu. Cukup lama dia menatapku sampai akhirnya kembali tersenyum dan melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti.
“Baiklah Dover. Kalau begitu kau bisa memanggilku Keith,” aku hanya mengangguk.
“Ada kalanya kau harus mempercayai sesuatu yang tidak bisa kau terima,” lanjut Keith.
“Eh?”
“Kau tahu, dahulu banyak peristiwa yang melibatkan sihir di dalamnya? Sehingga orang-orang berkemampuan khusus ini dianggap berbahaya dan di musnahkan. Bahkan secara massal.”
“Ku pikir itu hanya ketakutan pemerintah pada suatu perkumpulan yang dianggap sesat.”
“Ya, waktu itu sihir memang dianggap sebagai sesuatu yang sesat.”
“Hei, jika mereka benar penyihir, bukannya tidak semudah itu memusnahkan mereka? Mereka hanya perlu menyebut suatu mantra dan boom rubah saja para algojo itu menjadi kodok.”
“Haha.. sederhana sekali pemikiranmu,” lagi-lagi Keith terkekeh. “Mungkin saja tanpa kau sadari ada pengguna sihir di sekitarmu. Hujan ini misalnya? Di musim panas seperti ini bisa saja seseorang menggunakan sihir untuk menurunkan hujan.”
Aku sedikit bergidik, mengingat sebelumnya aku mengharapkan hujan dan ajaib hujan langsung turun. “Tak masuk akal, kau sebut suatu kebetulan sebagai sihir?”
“Hei, sihir memang sesuatu yang tidak masuk akal kan?”
“Kau mempelajari sihir?” aku bertanya dengan hati-hati.
“Aku hanya tertarik.” “Mungkin kau sedikit tertarik dengan sihir?” Keith menaikkan alisnya.
“Kalaupun sihir benar-benar ada seperti dalam serial Harry Potter, aku memilih menjadi manusia biasa, aku terlalu malas untuk menghapal begitu banyak mantra-mantra.”
Kali ini pun tanggapan yang diberikan Keith sama seperti sebelum-sebelumnya, dia menertawai ucapanku. Kemudian Keith melihat sekilas pada jam yang melingkar di lengan kirinya.
“Aku harus pergi sekarang. Senang berbincang denganmu Dover,” Keith mengantongi kacamatanya dan membawa buku ‘mantra’ bersamanya. Kemudian berdiri dan menatap ke arahku sekali lagi dan tersenyum.
“Sampai jumpa di lain kesempatan,” lanjutnya kemudian melangkahkan kakinya menjauh.
Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh dan akhirnya lenyap. Kemudian mengalihkan pandanganku pada buku-buku yang tertata rapi di rak di hadapanku.
“Sihir?” Aku berdecak dan tersenyum sinis meremehkan sesuatu yang ku anggap bodoh. Masih terpaku pada buku-buku yang ada di rak. Kemudian aku bangkit dari kursi bergegas menuju loket peminjaman buku.
BUK
Tanpa ku sadari sebuah buku terjatuh. Buku yang sedari tadi ku pandangi dengan tajam.
***
Aku berjalan santai menyusuri jalanan. Menenteng payung yang aku gunakan tadi. Ya, hujan telah reda, meninggalkan aroma khasnya. Saat ini aku tidak mengetahui bahwa pertemuanku dengan Keith adalah awal dari peristiwa yang akan merubah kehidupanku 180 derajat. Tidak mengetahui bahwa sesuatu yang menakutkan sedang menunggu.
*****