“Kau..”
“Eh?”
Aku sedikit bingung dengan ekspresi kakak Alice yang tercengang melihatku. Senyuman ala pangeran lenyap seketika. Mungkinkah dia mengenalku? Kau tahu? Aku memang jenius namun harus kuakui aku sangat parah dalam hal mengingat orang apalagi jika orang itu seorang pria. Untuk apa aku mengingat mereka kan?
“Kau tidak ingat padaku?”
“Maaf, apa kita pernah bertemu?” aku balik bertanya.
“Waktu itu hujan, payung, kau basah, um.. maaf.”
“Ah, kau!” aku sedikit menaikkan suaraku tidak bermaksud menyalahkannya. Namun kakaknya Alice sepertinya salah tingkah berhadapan denganku, merasa bersalah mungkin. “Sudahlah, lagipula aku sudah melupakan kejadian itu,” lanjutku tersenyum.
“Um.. iya. Ah, maaf.”
“Aah, kenapa kau harus tersenyum padanya sih?” Levine menghela napas.
“Eh?” Aku beralih menatap Levine tidak mengerti maksud ucapannya.
“Sadarlah Dover senyumanmu kembali membuat orientasi seorang pria membelok.”
“HAH!”
Dan aku langsung berbalik menatap kakaknya Alice. Benar saja, mimik wajahnya tidak berbeda dengan cara Rave menatapku, dan itu membuatku bergidik ngeri.
“Kakak, ini kakakku,” kini Alice menggandeng sebelah tanganku.
Dengan berat hati, agar tidak mengecewakan Alice, aku mengulurkan tangan kananku.
“Dover.”
Mendengar suaraku yang kubuat se-manly mungkin, kakak Alice terlihat kaget dan sepertinya itu membuatnya sadar akan jenis kelaminku.
“Aaron.”
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mimik wajahnya kembali terlihat ramah dan bersahabat seperti sedia kala, tidak lupa senyum ala pangerannya terpampang ketika menyambut uluran tanganku.
***
Ini sudah hari kedua setelah obrolan tentang patronku terputus. Alice dan Aaron baru saja pergi. Sepulang dari sekolah, aku menemui Alice di taman ini. Tentu saja menemaninya bermain sampai Aaron datang menjemputnya. Siapapun pasti tak akan tega membiarkan gadis moe ini sendirian kan? Aaron? Ah, iya, kini kami berteman. Menggembirakan, kini dia sudah biasa terhadapku, tidak seperti Levine dan Rave yang setiap saat semakin berlebihan memperlakukan aku seperti seorang putri— ah, mungkin pangeran lebih tepatnya. Walaupun awalnya merasa tidak enak, tapi Aaron sangat berterimakasih karena aku mau menemani adiknya hingga dia pulang dan dia tidak akan canggung mengungkapkan rasa terimakasihnya dengan ciuman ataupun pelukan, brother hug. Yah, kurasa dia mulai menganggapku sebagai adiknya juga. Uhm, di masa depan mungkin aku akan menjadi adiknya jika aku menikahi Alice. Pasti jika sudah dewasa Alice yang imut dan penurut akan menjadi gadis yang cantik luar biasa.
“Wah, ternyata Rainmaker bisa berpikiran kotor juga ya?” suara yang sepertinya tidak asing menyapa pendengaranku. Aku menengadahkan kepalaku dan menyipitkan penglihatanku karena pria ini berdiri membelakangi matahari. “Hai, kita bertemu lagi,” lanjut pria itu kemudian duduk di sampingku.
“Kau..”
Deg! Dia adalah orang yang pernah kutemui di perpustakaan kota. Kalau tidak salah namanya Keith. “Patronmu namanya Ke—,” tiba-tiba aku teringat ucapan Rave. Ah, aku mulai paham sekarang, jadi patronku adalah Keith. Tunggu, dulu, dia tadi bilang apa? Aku melotot padanya, dan kini dia tersenyum padaku, ya ampun, kenapa senyumannya begitu indah?
“Terimakasih. Memang banyak yang bilang aku tampan.”
“Hah?” Percaya diri sekali orang ini. Apa benar ini adalah orang yang sama yang aku temui di perpustakaan?
“Ya, memang aku.”
“Kau bisa membaca pikiran?” tanyaku padanya dan hanya ditanggapi dengan senyuman. Pria ini berbahaya, aku harus ekstra hati-hati padanya, apalagi pandangan matanya yang teduh dan senyumannya yang argggggh. “Dan, apa yang kau bilang tadi? Aku berpikiran kotor? Sepertinya kau tidak terlalu ahli dalam membaca pikiranku,” lanjutku. Membayangkan Alice yang tumbuh menjadi gadis dewasa tentu saja bukan pikiran kotor, menurutku.
“Kenapa aku harus membaca pikiranmu, jika wajahmu menggambarkan apa yang sedang kau pikirkan Dover.” “Silahkan,” lanjutnya menawariku bungkusan yang aku yakini berisi burger.
“Hah?” aku memijat keningku, mengira ada kerutan atau mungkin coretan di sana, lalu segera memalingkan mukaku.
“Jadi kau tidak mau?” tangan Keith masih terulur.
“Aku tidak lapar.”
Setelah mengucapkan kalimat ini, aku merasa wajahku memanas. Mungkin kini wajahku memerah, kemudian Keith menertawakanku. Bagaimana tidak, perutku menghianatiku, cacing di perutku berbunyi bahkan sangat keras, mungkin dalam radius tujuh meter semua makhluk hidup sesekitarku mendengarnya.
“Kau lapar,” Keith masih menertawakanku.
“Aku diajari untuk tidak menerima pemberian dari orang asing,”
“Waktu itu bukannya kau yang pertama kali mengenalkan diri.”
Sial, orang ini sungguh menyebalkan. Kalau sudah begini tak perlu tanggung-tanggung, dengan gerakan cepat aku rebut bungkusan yang dibawanya, ku buka dan langsung melahab cheeseburger kesukaaanku. Hah, seorang patron memang paling mengerti aku, dia bahkan tau makanan favoritku.
“Uhuk,” oke harus ku akui kali ini aku sungguh tidak keren, tersedak.
“Pelan-pelan Dover, kau tidak sedang mengikuti perlombaan makan cepat.”
Keith menepuk-nepuk punggungku dan sebelah tangannya menyodorkan botol air mineral. Entah darimana dia mendapatkannya karena tadi aku tidak melihat adanya botol minuman sebelumnya, tapi ya sudahlah, apa peduliku. Yang aku pedulikan sekarang adalah, aku butuh minum. Segera kuteguk habis air pemberiannya.
“Terimakasih, kau memang dapat diandalkan.”
“.......”
Tidak mendapatkan jawaban dari Keith aku memalingkan wajahku untuk melihatnya. Keith hanya menatapku diam, sepertinya memang tidak berniat merespon perkataanku. Ada kesedihan di matanya, melihatnya aku jadi merasa tidak enak hati.
***
“Kern,” pria itu memperkenalkan dirinya.
“Maaf, kau tadi bilang apa?” aku tidak yakin dengan pendengaranku sendiri.
“Dia patronmu Dover,” Rave kembali mengulangi perkataan Alice, seolah maklum dengan lamanya proses daya pahamku.
“Eh, Ke-kern? Kupikir patronku bernama Keith.”
“Keith? Siapa Keith?” Levine menatapku bingung, tidak hanya dia, akupun bingung. Rave sedikit terkejut, namun sedetik kemudian dia memasang wajah tenangnya, sedangkan Kern hanya terdiam, tidak bereaksi apa-apa.
***
Sejak itu, aku memulai latihanku bersama Kern, patronku. Yah, kupikir menjadi Rainmaker tidaklah buruk, namun ternyata aku harus melewati aktifitas yang lumayan menguras tenaga. Tentang siapa Keith, tentu saja dia masih menjadi misteri. Ketika aku menanyakannya pada trio— sebut saja teman baruku, selalu saja obrolan itu terputus dan mereka selalu mengalihkannya, terutama Rave. Kurasa mereka, kecuali Levine, tau siapa Keith namun teramat malas untuk menjelaskannya padaku. Ah, sungguh mat, eh aku masih hidup dan aku penasaran~
“Ck, tak bisakah kau sedikit lebih berusaha Dover?” Kern menatapku dengan tatapan putus asa.
“Aku butuh istirahat Kern.” Aku menjatuhkan pantatku di lantai kayu dan meneguk air dari botol minuman yang ku bawa. Tentu saja aku membawa sendiri, Kern sungguh pelit, dihari pertama aku latihan dengannya aku hanya disuguhi satu gelas teh panas. Benar-benar panas dan kau tahu kan apa yang terjadi dengan bibir seksiku selanjutnya huh?
“Dalam satu jam sudah berapa kali kau beristirahat, hah?” Kern menghela napas dan berkacak pinggang di hadapanku.
Aku mengipasi badanku dan mengerucutkan bibirku. Memang benar aku sudah berkali-kali beristirahat dan mengeluh kepada Kern. Mau bagaimana lagi, ku pikir porsi latihan seorang rainmaker hanyalah merapal mantra-mantra aneh atau semacamnya, dengan kemampuan daya ingatku yang cukup baik, sudah pasti aku bisa menghapalnya dengan mudah. Namun yang aku jalani saat ini adalah latihan fisik. Beuh, aku paling malas dengan ini semua.
“Bukannya sudah ku katakan diawal, aku tidak suka dengan latihan yang seperti ini,” protesku.
“Kau terlalu banyak mengeluh Dover. Kau ini Rainmaker.”
“Ya ya, aku tau. Dan kau sudah ratusan kali mengatakannya.”
“Tunggu, mau ke ma-”
“Seorang Rainmaker juga perlu ke toilet Kern.”
Aku menjulurkan lidahku dan meringis kemudian meninggalkan Kern untuk memenuhi panggilan alam yang tidak baik untuk ditunda-tunda, dititipkan apalagi diwakilkan. Di belakangku ku dengar suara decakan Kern. Mungkin aku membuatnya muak? Hahaa, masa bodoh.
Kern, patron yang kaku. Sebenarnya dia cukup tampan dengan wajah ala pemain bola Eropa, apalagi dagunya yang membelah itu, membuat orang yang melihatnya gemas saja. Badannya? Aku tidak sudi menjelaskannya, yang pasti dia lebih besar dariku. Arghh, bahkan dengan Levine saja aku kalah tinggi, kenapa di sekelilingku di penuhi mahkluk tinggi dan besar sih? Kembali pada Kern, patron yang kelewat serius awalnya memang terlihat cool dan pendiam namun ketika berurusan denganku dia jadi sedikit terbawa emosi, cenderung cerewet malah, seperti kakak.
“Hah, kakak apa kabar ya?” setelah membuang nafas lega— karena telah menyelesaikan panggilan alam barusan, aku teringat pada kakakku. “Ck, kenapa rumah ini luas sekali sih?” lanjutku bermonolog ria menusuri lorong rumah Kern.
Yah, setelah bertemu dengan patronku itu aku rutin menjalani latihan di rumahnya. Rumahnya seperti rumah-rumah di asia dalam film ninja ku rasa, atau samurai? Berlantai kayu dengan pintu geser yang sangat rawan sobek. Sedangkan latihanku berada di bangunan terpisah dinamakan dojo.
“Hei, kenapa kau sudah mengemasi barangmu?” tanya Kern begitu melihatku kembali dan langsung memasukkan bawaanku ke dalam tas ranselku.
“Karena aku orang yang rapi,” jawabku datar.
“Hah, ku pikir kau sudah akan pulang,” Kern kembali menghela napas.
“Memang itu maksudku.” Aku sudah menyelempangkan ranselku. Dan bersiap pulang.
“Hah? Latihan kita bahkan belum intinya. Tidak-tidak, kau belum boleh pulang,” Kern berusaha bersikap tegas.
“O, ayolah Kern. Aku memang Rainmaker, tapi aku juga seorang pelajar. Aku mempunyai banyak PR yang harus ku kerjakan,” aku mengeluarkan jurus andalanku, merengut dan bicara dengan nada manja. Tentu saja aku tidak manja. Seperti perang yang membutuhkan strategi, ini adalah strategiku untuk meluluhkan hati lawan.
“Ughhh, tapi latihannya? Ng.. lagipula Rave dan Levine belum datang, dan juga kau tahu, aku tidak bisa mengantarmu.”
“Uh, padahal umur kita tidak terlampau jauh, kenapa semua orang memperlakukanku seperti bayi sih?” aku kembali merengut. “Lagipula aku sudah hapal jalan pulang, hey, ayolah kau pikir aku orang baru di kota ini? Aku bisa pulang sendiri,” lanjutku.
“Bukan masalah bayi atau arah, tapi kau ini Rainmaker, kau bisa saja di serang oleh pihak-pihak yang mengincarmu.”
“Justru karena aku Rainmaker, aku aman. Aku tinggal mengucapkan sesuatu agar mereka tidak menyakitiku kan?”
“Ughh, setidaknya kau tunggulah sebentar sampai Rave atau Levine dat-”
“Aku pergi.”
“Dover, aku belum selesai bicara denganmu. Hei, tidak sopan sekali kau pada orang tua, hei!”
Aku berjalan ke luar sambil mengangkat tanganku ke atas dan memberi lambaian singkat tanpa menoleh padanya. Sampai pintu dojo aku masih mendengar Kern berdecak sebal dan mengataiku tidak tahu sopan santun dan keras kepala. Huh, bodoh.
***
Tidak jauh setelah keluar dari rumah Kern. Mataku menangkap sesuatu yang bergerak dengan cepat, ku hentikan langkahku dan segera ku tolehkan kepalaku untuk melihat apa itu. Namun, tak ada apapun di sana. Ketika hendak berjalan kembali, di depanku terdapat seekor kelinci yang berpendar kebiruan. Benar-benar berpendar, di sekeliling bulunya yang berwarna putih bersih memancarkan sinar kebiruan. Matanya yang berwarna merah darah itu bertemu dengan mataku. Kelinci itu menatapku. Kemudian kelinci itu berbalik membelakangiku dan mulai melompat-lompat kecil. Tanpa berpikir panjang, seperti di komando, aku mengikutinya. Terus mengikutinya dan sesekali kelinci itu menoleh ke belakang menatapku seolah memastikan kalau aku masih di belakangnya. Aku sadar, aku kini berada di pinggir jalan jalur cepat, namun seperti terhipnotis kakiku terus melangkah mengikuti kelinci itu. Kakiku tidak mau mengikuti perintah otakku untuk berhenti. Mungkinkah aku akan mati di sini? Dalam hati aku menyesal tidak menuruti apa kata Kern, seandainya aku menunggu Rave atau Levine, seandainya aku latihan sesuai jadwal. Seandainya..