Keylea tidak dapat menemukan cara, untuk dapat menerobos masuk ke dalam kehidupan seorang wanita yang direnggut data dirinya. Melihat sosok ibu yang ditemuinya beberapa jam lalu, membuatnya tidak dapat menahan emosi.
Sungguh, kehidupan manusia tidak semudah yang ia bayangkan. Namun, demi membalas budi kepada Keyra, ia akan membuat ibu palsunya menyadari akan kesalahan yang dilakukan.
Ya!
Hanya bisa seperti itu saja, menurutnya.
Terlalu lelah memikirkan jalan kehidupan yang tidak seharusnya ia tempuh, membuat Keylea kelelahan.
Untung saja, ia bergegas meninggalkan rumah ibu palsunya, jika tidak ... akan lebih banyak persoalan harus dihadapi. Tentunya, karena sikap sang ibu yang tengah menguras emosinya.
Ia sudah berdiri di atas balkon luar kamarnya, yang terdapat pada bangunan megah, rumah mewah milik pengusaha termuda kedua dalam negeri, bernama Kenzo Revanditya. Di sana, ia merenung tajam. Terlalu fokus memikirkan langkah awal untuk mencegah agar penyamarannya tidak terbongkar, membuat anggota tubuhnya terprovokasi. Ia menggigit kuku dari jari telunjuknya.
Tap ... tap ... tap ....
suara langkah kaki dari arah belakangnya itu nyaris tak terdengar olehnya, lantas, gerakannya cepat. Ia dapat memastikan, bahwa, anggota tubuh yang masih bergerak maju itu adalah milik seorang lelaki.
Jika itu sang pemilik rumah, untuk apa berjalan dengan gerakan mencurigakan seperti itu?
Batin Keylea dihantam kecurigaan mendasar.
Baiklah ....
Keylea sudah lama tidak bermain dengan kemampuannya, ia akan menggunakan kesempatan ini untuk melatih tangan dan anggota tubuh lainnya. Ia kemudian menunggu insan yang masih setia berjalan di belakangnya untuk mendekati tubuhnya.
Lalu ....
Pundak sebelah kanan Keylea sudah tersentuh oleh tangan dari seseorang yang telah merampungkan ayunan kakinya. Dengan sigap, wanita ini mengubah posisi tubuhnya, agar tangannya dapat menggulingkan raga tersebut. Dan, hanya dengan satu gerakan, tubuh seorang lelaki telah terbaring di atas lantai.
"Aw ...." Kenzo meringis pelan, ketika punggungnya menyentuh lantai. Mendapati si wanita sedang memasang ancang-ancang untuk memukulnya, ia dengan segera membuat gerakan pasrah dengan kedua tangannya. "Key, stop! Ini aku, suamimu."
"Huft!" Keylea menarik tubuhnya untuk berdiri, tanpa ingin membantu Kenzo yang masih terbaring di atas lantai.
Tidak masalah!
Kenzo masih bisa berdiri dengan sendirinya. "... dari mana, kamu pelajari itu?" Karena, yang ia ketahui, wanita incarannya tidak akan bisa melakukan hal tersebut.
"Dari mimpi." Keylea murka, ia tidak pernah merasa terkejut seperti ini. Semua insan yang mengenalinya, akan berhati-hati bersikap terhadapnya. Dan, yang dilakukan Kenzo telah mendobrak bendungan amarahnya.
"Secepat itu?"
"Stop bahas itu! Lu, ngapain ngagetin kaya gitu?"
"Tadinya aku mau bikin kejutan, pengen meluk kamu dari belakang. Aku harap kisah cinta romantis bakalan jadi cerita kita hari ini."
"Romantis ... romantis pala lu benjol!" Entah mengapa, Keylea tidak menyukai hal yang disebutkan oleh Kenzo ini?
"Ya, udah, maaf." Kenzo kemudian menarik tangan kanan Keylea, tetapi, wanita itu dengan cepat mengibaskannya.
"Huh ...." Kenzo melenguh rapuh. Sungguh, wanita ini berubah drastis.
Apakah ia akan melihat lagi Keyra yang lembut?
Namun, ia tidak ingin kisah cinta palsu ini berakhir dengan cepat. Maka, ia terpaksa menerima perlakuan sadis wanita pujaannya ini.
Keylea sudah menghindar dari hadapan Kenzo, wanita itu berjalan untuk mencari penopang tubuhnya.
Langkah tegas, diartikan Kenzo, wanita itu sedang gelisah. Lantas, raut wajahnya yang hanya terlihat dari samping itu, menggambarkan kekecewaan.
Apa gerangan penyebabnya?
Kenzo bertanya-tanya di dalam benaknya saja.
Namun, daripada hanya melihat saja, lebih baik, Kenzo menghampirinya. Dengan langkah cepat ia membawa tubuh, dan, kemudian duduk pada sofa yang terletak di ruang tidur wanita incarannya.
“Kayanya kamu lagi pusing.” Kenzo menyerukan terkaan, tepat setelah melihat wanita itu mengangkat kepala.
Wajah gelisah seketika berubah. “Ya, pusing mikirin pengen mobil pribadi.” Raut nakal ia persembahkan di penghujung kalimat, membuat lawan bicaranya bergidik ngeri.
“Buat apa?”
“Buat dijual! Buat dipake jalan-jalan, ‘lah. Lu tega emang ngebiarin gue tiap hari di rumah? Udah gitu mau jalan susah, ga ada mobil, atau minimal motor.” Teriakkannya dibalas si lelaki dengan gelengan tajam.
“Mau ke mana emangnya? Biar aku anter!”
Oh tidak!
Mengapa, Keylea merasa sikap lelaki ini tak lain dengan kakak pertamanya?
Jadi ….
“Gila lu ya? Lu kura gue mau nyari cowo lain? Malesin banget! Satu aja ini udah bikin mual.” Keylea jelas sudah mengetahui cara untuk menangani sikap perlindungan yang berlebihan itu.
Kenzo terkekeh gemas, sebelum kemudian membalas candaan. “Baguslah, kalo gitu, aku ga usah takut kamu selingkuh. Akan aku pertahanin sikap yang bikin mual kamu itu.”
“Hidih.” Bibirnya bergerak sadis, menandakan kejengkelannya. “Mau kasih gue mobil ga?”
“Ga!”
“Pelit.”
“Masalahnya … aku takut kamu keluyuran dan ga bisa pulang.”
Benar!
Seperti dugaan Keylea, lelaki ini memiliki kekhawatiran tinggi terhadap dirinya.
Mungkin, jika itu Keyra yang asli, akan merasa tersanjung dengan hal ini. Namun, tidak untuk dirinya.
“Bisa, ‘lah. Lu udah kasih gue HP, gampang ‘kan kalo mau nyari jalan? Cuma, gue ga mau lu nguntit.” Sebab, ada rencana yang sedang dirangkai Keylea. Lelaki itu tidak boleh mengetahuinya barang sedikit pun.
“Ga bisa! Kalo ga aku yang anter, aku kasih kamu bodyguard!”
“Huft.”
Sialan!
Lagi, Keylea hanya dapat memendam rasa jengkelnya.
Namun, ia belum kehabisan cara. “Kalo gitu, gue balik aja ke rumah mama gue!”
Tidak!
Mata Kenzo seketika membelalak garang. Rasa kejut itu ia layangkan dengan sorotan mata tajam menuju wajah Keylea.
“Key!” Tanpa sengaja, Kenzo membentak wanitanya.
Padahal, selama mengenal Keyra, lelaki ini tidak pernah meninggikan suara barang sekali pun.
Keylea dibuat kian marah, emosi itu telah mendobrak ketidaksabarannya.
Atukah?
“Ya udah gini aja, deh. Gue ga akan balik ke rumah mama gue kalo lu mau bikin perjanjian sama gue.”
“Apa dulu perjanjiannya ….”
“Satu.” Telunjuk wanita ini melenting. “Lu ga bisa ngikutin gue ke mana gue pergi.”
Kemudian, jari tengahnya mengikuti. “Dua, kasih gue mobil buat gue kalo mau jalan, mau kasih pinjem atau bukan terserah. Tiga, jangan nanya ke mana gue pergi.” Dan, berakhir di jari manisnya.
“Oke!”
Sepertinya, Kenzo menyetujui tanpa pertimbangan. Hal itu, membuat Keylea kehilangan keyakinan.
“Gue ga percaya lu bisa pegang omongan. Mending ….” Ia memenggal ucapannya sendiri, ketika tubuh beranjak dari tempat duduknya. Dan, berjalan menuju meja rias, di mana kertas dan pena tersedia di sana.
Kenzo hanya mengikutinya dengan arah tatapan, tanpa ingin bertanya lebih.
Ya, Keylea meraih dua benda itu. Setelah mendapatkannya, ia kembali menapakkan tubuhnya pada tempat semula.
Dengan gesit tangannya bergerak, menuliskan sebuah perjanjian yang telah diucapkannya lima menit yang lalu. Untuk yang terakhir, ia menggoreskan tanda persetujuan di bawah kalimat yang tertera, kemudian menyodorkan kertas dan pena kepada suami palsunya.
“Lu juga harus tanda tangan!” kata Keylea berbicara tegas.
“Aku serasa jadi pembohong.”
“Ya, mana gue tau kalo lu bisa dipercaya apa engga?” Lagi, ia menyahut dengan suara yang melengking nyaring.
“Ya udah … ya udah ….” Dengan pasrah, Kenzo menuruti keinginan wanitanya. Ia pun memberikan persetujuan dengan tanda tangan.
“Bagus.” Akhirnya, Keylea dapat bernapas lega. Dengan senyuman bahagia ia merayakan kemenangannya.
“Tapi, aku juga punya syarat,” kata Kenzo, seketika membuat Keylea melenguh rapuh.
“Apa itu?” Pandangannya menjadi tajam, diiringi kernyitan dahi Keylea menjelaskan yang dirasakan.
“Selain jangan pulang ke rumah mama kamu, kamu juga harus bersikap lebih lembut sama aku.”
“Halah, itu sih gampang.” Tangannya melambai-lambai, seolah sedang mengabaikan kesulitan.
Seandainya Keylea tidak terlalu fokus pada keinginannya, ia akan dengan mudah mencerna maksud dari yang Kenzo katakan.
Jika ia berubah menjadi lembut, bukankah Kenzo tidak akan melepaskannya?
Lalu, bagaimana dengan rencana balas dendamnya?
“Jadi?” tanya Keylea memastikan.
“Sementara kamu pake mobil aku dulu aja. Nanti aku beliin yang baru.”
Seringai kemenangan terukir di balik wajah Keylea, ia merayakan dengan gerakan tangannya jua.
Mendapatkan apa yang diinginkan, Keylea bangkit berdiri dan menepuk pundak Kenzo.
Kenzo tidak dapat berkata-kata, melihat tingkah wanita ini semakin mirip dengan pria.
Namun, yang terpenting bagi Kenzo, bukanlah sifat atau sikap wanita ini. Melainkan, jalinan ikatan palsu ini tidak segera berakhir.