멋진 만남 (Meosjin Mannam/Beautiful Encounter)
Putra Mahkota Yeongak terlihat gusar selama mengikuti pertemuan Dewan Istana pagi ini. Wajah sang Pangeran terlihat memerah seperti udang rebus, tidak hanya itu ia juga berkali – kali mendengus, bahkan menyorotkan tatapan tajam ke pada beberapa menteri yang sedang berbicara. Tak ada yang sadar bahwa kedua tangannya bahkan mengepal kuat seiring pembahasan yang terus bergulir.
“...curah hujan yang tidak menentu bahkan gagal panen yang terjadi di daerah Gyeonggi jelas menjadi sebuah pertanda buruk.”
“Semua ini jelas menampakkan bahwa Langit murka karena tidak adanya keselarasan yin-yang di istana timur.”
“Keselarasan yin-yang sangat mempengaruhi kondisi sebuah negeri. Karena itu, hamba mengharapkan perhatian jeoha dan sejabin mama dalam mengatasi hal ini.”
“Dikarenakan sejabin mama yang tak kunjung memberi kabar baik mengenai pewaris, izinkan kami mengajukan saran agar jeoha mengangkat seorang selir. Mohon pertimbangkan saran kami, jeoha!”
“Mohon pertimbangkan saran kami, jeoha!”
Para menteri secara serempak saling bersahutan mengutarakan pendapat terkait kondisi negeri. Curah hujan yang tak menentu, pertanian di daerah Gyeonggi yang gagal panen merupakan pokok permasalahan utama pada pertemuan Dewan Istana pagi ini. Namun, Putra Mahkota Yeongak tak menyangka bahwa topik pertemuan akan menyeret kondisi istrinya yang tak kunjung memberikan kabar kehamilan pada seluruh negeri.
Rahang Putra Mahkota Yeongak mengeras, seiring para menteri yang terus memohon agar melakukan saran yang diberikan oleh mereka. Hatinya sebagai pria jelas bergemuruh mendengar wanita yang begitu ia cintai di hina sebegitu kejam pada pertemuan ini. Hal ini jelas memicu kemarahan yang semakin meluap dalam diri sang Putra Mahkota.
“Oho!”
Teguran serta suara gebrakan meja yang kencang membuat para menteri merapatkan bibir. Para pria berjubah marun tersebut terkejut mendapati reaksi keras Putra Mahkota Yeongak atas saran yang diberikan. Kini, balai istana yang tadi dipenuhi argumen dari para menteri seketika menjadi hening setelah Yi Hyul menggebrak meja.
“Kelancangan kalian sudah melampaui atap istana! Bagaimana mungkin kalian memberikan saran mengerikan seperti itu! Tidakkah kalian sadar bahwa saran tersebut bisa sangat melukai harga diri sejabin!?”
Perdana Menteri Park—yang tak lain adalah keluarga dari Ratu Park— mengangkat sedikit wajahnya dan mengarahkan tubuhnya ke arah singgasana tempat Yi Hyul duduk saat ini. Masih dengan tubuh sedikit membungkuk, pria itu seakan tak gentar menghadapi tatapan Yi Hyul yang seperti bilah pedang—dingin dan tajam tertuju padanya.
“Jeoha, mohon maafkan kelancangan hamba. Hamba sangat yakin, para pejabat sama sekali tak bermaksud merendahkan harga diri sejabin mama melalui saran tersebut. Ini adalah bentuk kekhawatiran yang menunjukkan kesetiaan kami sebagai abdi negara terhadap kelangsungan masa depan negeri ini,” ucap Perdana Menteri Park dengan nada yang begitu tenang, tak sedikit pun terdengar emosi mendesak yang terkandung dalam setiap ucapannya.
“Namun, tidakkah Anda mendengar rumor yang beredar mengenai sejabin mama di istana juga di luar istana, jeoha?” lanjut Perdana Menteri Park dengan sebuah seringai kecil di sudut bibirnya, “rumor jahat mengatakan bahwa sejabin mama man—“
“Tutup mulutmu jika kau masih ingin menjadi seorang pejabat negara, Perdana Menteri Park!” potong Putra Mahkota Yeongak sembari menggebrak meja tahta di depannya. Manik sekelam jelaganya berkilat oleh percik kemarahan yang menguasai dirinya.
Perdana Menteri Park mengangguk, seakan senang melihat Putra Mahkota Yeongak yang tak bisa menahan emosi hanya karena topik rumor yang ia bahas. Tanpa suara, Perdana Menteri Park melangkah mundur, kembali ke tempatnya dan memilih tak bersuara seakan ingin melihat reaksi lainnya dari sang Putra Mahkota.
“Sekali lagi kalian membahas selir dalam pertemuan berikutnya,” desis Putra Mahkota Yeongak penuh ancaman, “kupastikan kalian akan menyesalinya kemudian. Aku tak akan pernah mengangkat selir.”
Setelah mengatakan ancaman tersebut, Yi Hyul turun dari kursi singgasana. Hal ini menjadi pertanda bahwa diskusi pagi mereka telah selesai. Dengan langkah yang menyiratkan emosi yang meletup – letup, Yi Hyul pergi meninggalkan Balai Istana.
Begitu punggungnya tak lagi terlihat di ambang pintu Balai Istana, aula yang semula hening kembali dipenuhi suara para pejabat yang berdengung seperti sekumpulan lebah.
“Aigoo aku benar – benar tak tahan harus melewati diskusi setiap pagi dengannya yang mengerikan itu,” keluh Menteri Kim dengan tubuh bergidik ngeri ke arah pintu masuk Balai Istana tempat Yi Hyul tak lagi terlihat oleh maniknya.
“Aura seja jeoha sangat dingin dan tak menyenangkan, membuatku benar – benar tak ingin berada satu ruangan lama – lama dengannya. Aku tak bisa membayangkan pria dingin sepertinya kelak menjadi Raja negeri ini,” sahut Menteri Kang menanggapi keluhan Menteri Kim sebelumnya.
“Tidakkah Anda merasa tertekan berada satu ruangan dengannya, daegam?” tanya Menteri Hong pada Perdana Menteri Park yang sedari tadi terlihat tenang menghadapi kemurkaan Putra Mahkota Yeongak.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan dari harimau yang bahkan tak bisa mengaum, daegam,” balas Perdana Menteri Park disertai kekehan kecil.
Dahi para menteri yang berkumpul di dekat Perdana Menteri Park mengernyit, mereka jelas tak mengerti maksud ungkapan yang diucapkan sang Perdana Menteri.
“Daegam, apa maksud dari ucapan Anda tersebut?”
Perdana Menteri Park tersenyum penuh arti lalu mengerling ke arah para menteri di dekatnya. “Jika sejabin mama tidak mampu memberikan pewaris, bukankah saatnya kita bergerak semakin gencar mendukung pemilik paviliun musim gugur?”
~***~
Ratu Park tak bisa menahan tawa saat mendengar laporan Dayang Kim mengenai kemarahan Putra Mahkota Yeongak pada pertemuan Dewan Istana pagi ini. Sang Ratu terbahak senang, mendengar kemurkaan putra tirinya saat membahas diminta mengangkat selir dan rumor kemandulan Putri Mahkota Kang. Hal ini semakin memperkuat dugaan Ratu Park bahwa kelemahan Yi Hyul terletak pada wanita anggun yang bersanding di sebelahnya.
Sementara itu, Dayang Kim bergerak gelisah dalam duduknya. Beberapa kali, asisten sang Ratu itu melemparkan tatapan khawatir pada pintu ruangan yang tertutup. Bagaimana pun, Dayang Kim takut sikap yang diperlihatkan Ratu Park bisa menimbulkan kecurigaan atau dimanfaatkan oleh pihak – pihak yang sengaja mencuri dengar percakapan mereka.
“Mama, mohon pelankan suara Anda. Tidak seharusnya Anda bersikap seperti ini sementara seluruh istana sedang diselimuti keraguan akan kemampuan sejabin mama memberikan pewaris,” tegur Dayang Kim sehalus mungkin, berusaha agar tak menyinggung sang Ratu.
Ratu Park mengerling seraya tawa masih menghias parasnya. Wanita itu menatap geli pada asistennya yang begitu setia itu. “Aigoo, Kim sanggung kau mengkhawatirkanku sebegitu dalamnya? Tak perlu cemas. Aku yakin tidak akan ada yang menyangka bahwa kemalangan bisa menyelimuti donggungjeon. Setidaknya, ini bisa mengukuhkan bahwa bocah arogan itu bukanlah sosok yang tepat mewarisi tahta,” pungkasnya dengan ringan, seakan tak merasa bersalah atas ucapannya.
Dayang Kim semakin terbelalak mendengar ucapan Ratu Park. Rasa cemas semakin cepat menjalari hatinya. Bagaimana pun, Ratu Park saat ini akan menjadi sorotan bila tak menjaga sikap. Di istana ini, sudah menjadi rahasia umum mengenai hubungan dingin antara Ratu Park dan Putra Mahkota Yeongak. Jika sang Ratu tak mampu menjaga sikap, maka kemalangan akan dengan mudah berbalik.
“Hamba mohon Anda bersikap tenang, jungjeon mama. Bagaimana pun ada banyak telinga dan mata yang pasti mengawasi Anda saat ini. Terlebih, siapa pun tahu bahwa hubungan Anda dan seja jeoha seolah saling menyembunyikan pedang di punggung satu sama lain.”
“Aigoo, aku sangat beruntung memilikimu disisiku, Kim sanggung,” ungkap Ratu Park yang akhirnya berhasil meredakan tawa. Irisnya kini tertuju sepenuhnya pada Dayang Kim yang masih setia duduk di hadapannya.
“Sekalipun mereka memiliki dugaan buruk atas diriku, bukankah hal tersebut memang sebuah fakta? Fakta bahwa selama ini akulah yang menyebabkan sejabin tak mampu mengandung pewaris. Aku hanya meminta kakakku—Perdana Menteri Park—menyinggung pengangkatan selir. Tapi, siapa yang menduga bahwa aku mendapatkan akhir dari pertarungan ini dengan begitu jelas?”
“Jungjeon mama!” suara Dayang Kim sedikit meninggi saat Ratu Park yang membicarakan kartu as rencananya, “mohon perhatikan ucapan Anda. Hamba mengkhawatirkan Anda, mama.”
Ratu Park kembali tertawa, membuat kepalanya sedikit tersentak ke belakang. Wanita itu sungguh menganggap kekhawatiran Dayang Kim berlebihan. Irisnya masih menatap geli sosok Dayang Kim dengan raut khawatir.
“Kim sanggung, sungguh kekhawatiranmu terlalu berlebihan. Tidakkah kau paling tahu bahwa selama ini akulah orang yang berada di balik rumor mengenai sejabi—“
BRAK
Ratu Park tersentak mundur mendengar sekaligus melihat pintu ruangannya terbuka secara kasar. Manik cokelatnya membulat sempurna sementara wajahnya terlihat pucat disertai rasa terkejut yang tak biasa ia tutupi. Sosok yang kini berdiri di ambang pintu jelas menjadi penyebab Ratu Park bungkam disertai rasa takut yang perlahan merayapi hati.
Dengan wajah tak kalah terkejut seperti yang diperlihatkan Ratu Park saat ini, Raja Munhyeong menatap nyalang istrinya. Sang Raja jelas tak menyangka bahwa istrinya bisa berbuat sekeji itu pada menantu mereka.
~***~
Yi Yeol termenung menatap bangunan – bangunan yang merupakan paviliun tempat tinggalnya dalam diam. Rasa haru dan hangat perlahan mengaliri hatinya setelah enam bulan lamanya ia pergi meninggalkan rumah juga istrinya.
Sebuah perasaan bersalah menghantamnya bak palu yang membuat dadanya berdenyut nyeri setiap kali memikirkan istrinya yang ia tinggalkan di rumah ini. Yi Yeol tak bisa membayangkan betapa hancur perasaan Min Yeonhwa saat mengetahui di hari pertama kehidupan pernikahan mereka di mulai, Yi Yeol mengatakan bahwa ia akan pergi dari rumah entah sampai kapan.
Senyum Min Yeonhwa yang tulus—sekalipun Yeol menduga perempuan itu terkejut dan terpukul—membayangi Yeol selama perjalanan berlangsung. Membuat Yeol tanpa sadar bahwa ia merindukan Yeonhwa selama ini.
Sementara para pelayan mulai sibuk membereskan beberapa barang bawaannya, manik gelap Yeol mengedar. Yeol jelas mencari keberadaan Yeonhwa di tengah hiruk pikuk yang terjadi di halaman utama Paviliun Musim Gugur tersebut. Yeol tahu kepulangannya adalah sesuatu yang tak terduga, ia berharap Yeonhwa menyambutnya kepulangannya lewat kesibukan di halaman utama. Setelah beberapa menit berdiri mengawasi para pelayan, tak terlihat batang hidung Yeonhwa.
“Di mana Nyonya rumah?” tanya Yeol pada Yoobaek—kepala pelayan pria di rumahnya— yang berdiri di dekatnya.
Yoobaek mengalihkan perhatiannya yang tengah mengawasi para pelayan, pada sang Pangeran Agung, yang terlihat sedang mencari sosok yang baru saja ia tanyakan keberadaannya.
“Bubuin manim sedang berada di taman bangunan timur, daegam. Hamba rasa, saat ini beliau masih berada di sana karena kegiatannya setiap pagi pasti sedang mengurusi tanaman di taman bangunan timur.”
Sebuah anggukan singkat menjadi tanggapan atas penjelasan yang diberikan Yoobaek padanya. Dengan menyilangkan tangan di belakang tubuh, Yeol segera mengarahkan kakinya menuju taman bangunan timur tempat istrinya berada saat ini. Bagaimana pun, Yeol ingin melihat reaksi Yeonhwa atas kepulangannya saat ini.
~***~
“Kau harus tumbuh dengan baik. Aku akan menunggumu sampai kau bisa tumbuh dan memperlihatkan warnamu yang cantik.”
Yeonhwa menggumam sembari menepuk lembut tanah tempat ia baru saja menanam bibit pohon ceri. Rasa puas dan senang mengaliri hatinya saat ia memandangi sekitar taman yang dipenuhi berbagai tumbuhan juga bunga. Rasanya ia tak sabar agar segera musim semi dan melihat warna – warni cantik memenuhi taman tersebut.
Maniknya berubah sendu saat ia mengingat entah kapan pemilik bangunan tersebut akan kembali. Helaan napas menjadi pertanda jika Yeonhwa tengah dilanda rindu. Bagaimana pun ia jelas merasa sepi tanpa kehadiran sosok yang ia rindukan. Seberapa keras ia berusaha memperindah bangunan tempat suaminya tinggal, lelaki itu mungkin tak akan pernah pulang.
Yi Yeol bukan tak memberi kabar. Sekalipun ia bersikap seakan tak memiliki perasaan dengan meninggalkan Hanyang tepat sehari setelah pernikahan, lelaki itu tetap mengirimkan kabar secara rutin pada Yeonhwa. Dalam surat yang didapatkan Yeonhwa setiap awal bulan itu tak sekalipun Yeol menyinggung waktu kepulangannya. Awalnya, Yeonhwa berpikir bahwa Yeol masih terlalu sibuk dengan urusannya. Tapi, seiring surat yang ia dapatkan tanpa kejelasan waktu kepulangan Yeol, membuat harapan Yeonhwa sirna. Mungkin, Yeol memang tak akan pernah kembali ke rumah, itulah pikir Yeonhwa selama ini.
Yeonhwa kembali menghela napas berat, mengingat fakta menyedihkan yang ia miliki tentang pernikahannya. Perempuan itu kemudian mengubah posisinya dengan berjongkok sembari memeluk kedua kakinya. Sebelah tangannya membelai lembut tanah tempat bibit pohon ceri yang ia tanam.
“Segeralah tumbuh supaya kau bisa menghibur dan menemaniku di tengah kehidupanku yang sepi ini. Setidaknya ada aku yang akan memandangi keindahan taman ini,” gumam Yeonhwa pelan dengan kepala tertunduk lesu.
Yi Yeol bergeming mendengar gumaman Yeonhwa betapa kesepiannya perempuan itu. Yeol menghentikan langkah dan merasa dadanya berdenyut nyeri menyadari betapa kejam tindakannya pada Yeonhwa. Butuh beberapa saat bagi Yeol untuk menarik napas dan melegakan sakit yang menderanya atas rasa bersalahnya pada Min Yeonhwa.
“Bagaimana jika kita menikmati keindahan taman ini bersama – sama?”
Yeonhwa tersentak mendengar suara bariton yang sudah lama sekali tak ia dengar. Perempuan itu buru – buru bangkit dan menoleh ke belakang. Tepat beberapa meter darinya, sosok yang baru saja memenuhi pikirannya seakan menjelma menjadi nyata. Yeonhwa hanya mampu bergeming, memandangi sosok yang kini mulai memangkas jarak diantara mereka.
“Aku menyukainya. Tak menyangka bahwa kediamanku akan memiliki taman secantik ini,” puji Yeol dengan senyum tersungging di kedua sudut bibirnya, “terima kasih sudah menungguku pulang, buin,” lanjut Yeol setelah ia berhadapan satu sama lain.
Yeonhwa masih mematung di tempat, namun sebulir air mata luruh di salah satu pipinya. Sungguh, ia sangat terkejut dengan kehadiran tak terduga Yi Yeol di rumah mereka. Segala perasaan berbaur menjadi satu, hingga Yeonhwa hanya mampu mematung dengan mata yang tak lepas memandangi sosok suami yang selama ini ditunggunya pulang.
“S-seobangnim, apa benar ini kau?” tanya Yeonhwa dengan nada terbata, seakan takut bahwa ini hanya ilusi semata.
Yeol mengangguk dan tersenyum lebar, “ya ini aku. Aku sudah kembali. Maaf karena sudah membuatmu kesepian selama ini. Karena itu, mulai saat ini ayo kita nikmati keindahan taman ini bersama – sama. Bagaimana?”
Rasa haru menjadi perasaan yang menguasai hati Yeonhwa saat ini. Perempuan itu tersenyum tapi air mata tak henti mengalir dari kedua sudut matanya. Buncahan rasa bahagia kini meledak di d**a laksana kembang api yang meledak di langit malam.
Tanpa kata, keheningan menyergap Yeol dan Yeonhwa. Seakan hanya melalui tatapan satu sama lain, mereka seakan mampu memahami perasaan yang selama ini mereka rasakan satu sama lain. Sekalipun hampir dua musim mereka lewati tanpa kehadiran satu sama lain, tapi kekosongan itulah yang sepertinya menumbuhkan sesuatu yang baru di antara keduanya.
~***~