왕비의 소원 (Wangbi-ui Sowon | The Queen's wish)
Tuan Min memandangi bunga teratai putih yang tumbuh di kolam kecil halamannya. Jantung pria bangsawan itu selalu diremat oleh rasa gelisah setiap kali memandangi tumbuhan hias yang hidup di permukaan air tersebut. Beberapa kilasan masa lalu berputar, memenuhi kepalanya, hingga pria itu menghela napas, berusaha meredam segala sesuatu yang terasa membebani hatinya.
Sementara itu, hanya berjarak beberapa langkah Nyonya Lee termenung melihat punggung suaminya yang terlihat begitu lesu. Tanpa perlu bertanya, Nyonya Lee tahu betul apa yang saat ini tengah dipikirkan suaminya. Wanita bangsawan itu hanya bisa menghela napas mengetahui keresahan yang menyelimuti hati sang Suami. Tak ingin melihat suaminya berluart – larut dalam kegelisahan, Nyonya Lee pun mengambil langkah mendekati suaminya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, seobangnim? Udara pagi ini cukup dingin, kenapa kau malah berdiam diri di sini?"
Suara lembut dari arah belakang, membuat Tuan Min menoleh dan mendapati istrinya. Tuan Min tersenyum kecil melihat raut khawatir yang melingkupi hati istrinya. Dengan bahasa tubuh, Tuan Min meminta agar Nyonya Lee mendekat padanya.
"Apa kau melihat ada sesuatu yang berubah dari kelopak putihnya, buin?" tanya Tuan Min dengan perhatian kembali tertuju pada setangkai bunga teratai putih yang mengapung di atas permukaan air kolam.
Nyonya Lee yang paham apa yang ditanyakan suaminya, segera ikut memfokuskan perhatian pada helaian kelopak putih bunga teratai. Manik hazelnya bergulir, menatap lekat, berusaha mencari perubahan pada bunga teratai. Namun, nihil.
"Aku tak melihat adanya perubahan, seobangnim. Bunga itu masih memiliki kelopak putih, sama seperti ia mekar untuk pertama kalinya."
Tuan Min menarik dan mengembuskan napas sedikit kasar, hatinya berusaha mengusir kegundahan yang selalu menggelayuti hatinya. Pria itu berusaha melakukan sugesti positif, membenarkan ucapan istrinya. Kelopak teratai itu tetap berwarna putih, dan tidak akan berubah.
"Sudah hampir beberapa bulan berlalu setelah uri-Yeonhwa-ie menikah dengan daegun. Dan bunga ini tidak memperlihatkan perubahan, itu artinya semua akan baik – baik, seobangnim," imbuh Nyonya Lee seakan menyuarakan sugesti positif yang tengah dilakukan sang Suami.
Tuan Min tersenyum dengan kepala mengangguk. Jemarinya kemudian meraih jemari Nyonya Lee dan menggenggamnya perlahan, berusaha mencari kekuatan untuk meneguhkan hatinya.
"Kau benar. Aku yakin semuanya akan baik – baik saja. Uri- Yeonhwa akan baik – baik saja bersama daegun."
~*~
Sementara itu di istana, Ratu Park bersama rombongannya tengah bergerak menuju istana utama. Matahari bahkan belum menampakkan diri di langit, kala sang Ratu meninggalkan istananya. Dini hari tadi, Ratu Park mendapat kabar bahwa Raja Munhyeong sempat pingsan dan mengalami demam tinggi. Mendengar suaminya jatuh sakit, sang Ratu bergegas menemui suaminya.
Langkah Ratu Park terhenti kala irisnya mendapati sosok yang baru saja keluar dari pintu masuk paviliun Raja Munhyeong. Ujung bibirnya tertarik, membentuk senyum sinis mengetahui Putra Mahkota Yeongak tiba lebih dulu untuk memastikan kondisi Raja Munhyeong.
Melihat Putra Mahkota Yeongak yang sepertinya tak menyadari kehadirannya, membuat Ratu Park melangkah lebih cepat agar bisa sampai di depan beranda paviliun. Dan seperti dugaan sang Ratu, perhatian Putra Mahkota Yeongak beralih dan menatap datar sosok Ratu Park yang semakin mendekati dirinya.
"Aigoo, aku tak menyangka seja adalah putra yang sangat berbakti pada jeonha. Lihat, matahari bahkan belum muncul di atas langit, tapi ia sudah berada di sekitar kediaman jeonha," ujar Ratu Park dengan senyum palsu yang membingkai wajahnya.
Yi Hyul tak ambil pusing dengan komentar Ratu Park terhadap dirinya. Pria berjubah biru itu berniat untuk segera pergi meninggalkan Ratu Park. Dengan anggukan singkat—tanda Hyul menghargai status wanita itu, Hyul bersiap mengambil langkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.
Sadar bahwa Putra Mahkota Yeongak tak ingin menggubris ucapannya, membuat Ratu Park semakin bersemangat untuk menyulut emosi putra tirinya tersebut. Seakan sengaja membiarkan Hyul mengambil beberapa langkah pergi dari beranda paviliun, Ratu Park kemudian bersiap menjatuhkan bom yang akan meledakkan emosi Putra Mahkota Yeongak.
"Aigoo, malang sekali jeonha. beliau sampai jatuh sakit karena memikirkan nasib seja. Aku sangat mengerti kegundahan hati jeonha karena seja terus diserang Dewan Istana terkait penerus," sahut Ratu Park dengan mata mengerling ke arah Putra Mahkota Yeongak yang sudah berhenti di tempat.
Seringai semakin lebar di sudut bibir Ratu Park melihat Putra Mahkota Yeongak sudah mulai masuk ke dalam perangkapnya. Sambil berpura – pura tak menyadari kehadiran Yi Hyul di halaman istana utama, Ratu Park kembali berkomentar dengan nada iba.
"Jika saja sejabin mampu melahirkan pewaris atau pun seja tak keras kepala untuk mengambil selir, jeonha pasti tak akan sakit. Bila sampai sakit jeonha berkepanjangan, aku akan—"
"Jungjeon mama..." desis Yi Hyul dengan nada berbahaya. Hyul sudah berbalik badan ke arah Ratu Park. Netranya berkilat tajam diselimuti emosi berbahaya.
Ratu Park membalikkan badan ke arah Putra Mahkota Yeongak. Wanita yang pagi ini mengenakan dangui berwarna kuning itu membalas tatapan Hyul dengan tenang. Tak terlihat rasa gentar menghadapi Putra Mahkota Yeongak.
"Ada apa seja? Apa ada ucapanku yang salah?" tantang Ratu Park.
"Mohon menjaga ucapan Anda mengenai jeonha. Ucapan Anda mengenai penyebab jeonha sakit, jelas tidak berdasar. Bagaimana bisa seorang Ratu Joseon menaruh tuduhan seperti itu pasangan mahkota negeri ini, mama?"
Ratu Park tertawa kecil, sorot matanya menatap geli dengan balasan Hyul. Roknya bergemerisik, saat ia mengambil langkah mendekat pada Hyul. Iris hazelnya seolah memindai segala hal yang tengah dipikirkan oleh Yi Hyul.
"Aku tak menuduhmu,seja. Aku mengatakan kekhawatiran jeonha selama ini pada kalian. Sebagai ibu kalian, aku pun sedih dengan tindakan yang kalian ambil. Seja yang bersikukuh tak mengambil selir, sementara sejabin yang sudah jelas tidak mampu menunaikan tugasnya," Ratu Park menjeda dan memusatkan tatapan dinginnya pada Hyul, "karena kalian yang tak bijaksana dalam mengambil keputusan, menyebabkan jeonha jatuh sakit. Lebih baik berhenti bersikap selayaknya anak yang berbakti jika kau tetap keras kepala seperti ini, seja."
"Jeonha tidak pernah meragukan keputusanku dalam bertindak, jungjeon mama. Aku sama sekali tak membutuhkan selir. Sejabin lebih dari mampu untuk melaksanakan tugasnya, ini hanya masalah waktu," balas Hyul dengan gigi bergemeretak, menahan emosi yang meledak di dadanya.
Ratu Park tersenyum sinis melihat kegigihan Hyul terhadap kemampuan Putri Mahkota Kang. Sungguh, Ratu Park ingin sekali terbahak dan mengatakan Hyul bersikap naif. Namun, sikap naif serta keras kepala Hyul ini jelas sangat menguntungkan Ratu Park. Bagaimana pun, rencananya berjalan sesuai dengan yang ia inginkan.
"Begitukah, seja? Aku merasa sedih karena kau terlalu keras kepala. Jika kau berharap terlalu tinggi seperti ini, kelak kau akan jatuh hancur saat mengetahui faktanya. Sebagai pemimpin harem istana, aku jelas tahu masa depan sejabin seperti apa. Karena itu, camkan baik – baik nasihatku sebagai seorang tetua istana untukmu,seja," ujar Ratu Park yang kemudian tersenyum samar sebelum akhirnya berbalik untuk segera menemui Raja Munhyeong.
~*~
"Apa Anda begitu terkejut dengan fakta yang kuungkapkan kemarin, jeonha?" tanya Ratu Park tanpa basa – basi, begitu ia sudah duduk di samping alas tidur Raja Munhyeong. Ratu Park menatap dingin suaminya. Tak terlihat sedikitpun penyesalan yang terpancar dari kedua maniknya. Ratu Park jelas tak gentar menghadapi Raja Munhyeong atas kejadian kemarin.
"Apa kau perlu bertindak sejauh ini pada sejabin,jungjeon?" tanya Raja Munhyeong, yang masih tak mempercayai Ratunya bisa bertindak sejahat itu pada menantunya sendiri.
"Ye,jeonha. Aku memang harus melakukan ini demi menyelamatkan putraku. Sekali pun kau memberikanku hukuman, aku akan dengan senang hati menerimanya tapi tak akan pernah menyesali tindakanku ini."
Raja Munhyeong memegangi dadanya, terkejut dengan ungkapan berani Ratu Park. Sungguh, ia benar – benar tak menyangka Ratu Park bisa sedingin ini dalam melakukan tindakan. Meski begitu, ada rasa sedih yang merayapi hati Raja Munhyeong dengan perang dingin antara Ratu Park dan putra sulungnya—Putra Mahkota Yeongak.
"Apa kau tak sadar? Tindakanmu ini jelas akan membuat Yeol yang kau pertahankan setengah mati merasa sedih, jungjeon!"
Ratu Park mendelik, marah dengan tanggapan Raja Munhyeong yang masih saja menyudutkan dirinya. Jika saja sang Raja mendengarkan permohonannya saat itu, Ratu Park tak akan mengambil langkah untuk melindungi Yeol sampai sejauh ini.
"Semua ini tidak perlu aku lakukan jika Anda mendengarkan permohonanku,jeonha! Anda jelas tahu seja selalu menganggap putraku sebagai ancaman. Ibu mana yang tidak akan cemas mengetahui ada bahaya yang mengintai putranya!?"
"Tapi kau tak perlu melakukan ini, jika hanya untuk melindungi Yeol, jungjeon. Aku bisa saja me—"
"Animnida,jeonha! Seja tidak akan berhenti. Jika pun Anda bertindak, itu hanya akan memancing kemarahan dirinya! Dalam situasi ini, aku jelas yang harus melindungi Yeol, sekali pun ada harga yang harus kubayar."
Raja Munhyeong menatap sendu, mengetahui Ratu Park akan melakukan apa saja demi melindung pangeran keduanya. Sedih merambati hatinya menyadari hubungan Hyul dan istrinya tidak akan pernah hangat. Permusuhan keduanya malah semakin membesar, dan Raja Munhyeong sadar, semua ini adalah kesalahannya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dari tindakan ini,jungjeon? Apa yang harus kulakukan, untuk membuatmu berhenti menyakiti ataupun melukai seja dan sejabin? Tindakan yang bisa melindungi Yeol," ucap Raja Munhyeong dengan nada yang begitu lirih.
"Anda jelas tahu apa yang sebenarnya aku inginkan,jeonha," tandas Ratu Park dengan senyum yang membingkai paras ayunya.
~***~