선택받은 자 (Seontaegbad-eun Ja|The Chosen One)
Suara gebrakan diikuti teriakan marah Raja Yeongak menggema memenuhi balai istana pagi ini. Sang Raja begitu murka setelah melihat dan mendengar satu persatu petisi dari para Dewan Istana—yang lagi-lagi menuntut dan membahas mengenai kehadiran pewaris. Tampaknya, topik pewaris takhta menjadi topik sensitif bagi sang Raja setiap kali para menteri mencoba melakukan diskusi pada pertemuan Dewan Istana.
Seperti pagi ini, Raja Yeongak melayangkan tatapan membunuh pada setiap menteri yang menghadiri pertemuan pagi ini. Ekspresi gusar bercampur amarah benar-benar menghias roman sang Raja yang biasanya bersikap dingin tanpa ekspresi. Tapi, kali ini sepertinya emosinya benar-benar tersulut habis.
“Apa kalian pikir aku menduduki takhta hanya untuk mendapatkan pewaris? Apa tidak ada pembahasan lain yang bisa kalian bahas selain masalah ini?!” sembur Raja Yeongak yang tak lagi duduk nyaman di singgasananya.
Seorang menteri berjubah merah melangkah maju, keluar dari barisan para menteri. Pria paruh baya itu membungkuk ke arah Raja sebelum mulai berbicara.
“Mohon maafkan hamba, Jeonha. Topik ini sengaja kami bahas karena Jungjeon Mama tak kunjung memberikan kabar baik terkait kehadiran pewaris. Bagaimana bisa kami mengabaikan saja kondisi genting seperti ini? Selain itu, kehadiran pewaris adalah suatu kewajiban dari seorang Raja untuk memastikan keberlangsungan kerajaan ini.”
“Belum adanya pewaris bukan berarti aku tak ikut memikirkan masalah tersebut, Perdana Menteri! Kau pikir pewaris itu bisa langsung di dapatkan begitu kalian menginginkannya? Semua ini hanyalah masalah waktu!” desis Raja Yeongak.
Perdana Menteri mengangkat wajah dan menatap lurus tepat ke arah Raja Yeongak. Sekalipun ia mendukung segala keputusan dan pemerintahan yang dilaksanakan oleh sang Raja, namun tidak adanya pewaris membuat keraguan dalam dirinya semakin menguat. Jika Raja Yeongak tak bisa memenuhi kewajibannya, dapat dipastikan pemerintahan sang Raja lambat laun akan goyah. Sebagai seorang politisi, tidak ada gunanya bergantung pada pohon yang hampir runtuh.
“Lalu, sampai kapan Anda bisa menjanjikan kehadiran pewaris tersebut, Jeonha? Hamba bertanya seperti ini demi kelangsungan negara ini,” cecar Perdana Menteri yang menginginkan kepastian saat ini juga.
“Beraninya kau!”
Brak!
Raja Yeongak tak tahan lagi dengan kelancangan yang diperlihatkan Perdana Menteri. Kedua manik hitam itu menghunus tajam pada menteri tua tersebut. Karena tak sanggup lagi menerima sikap lancang yang diperlihatkan Dewan Istana, Raja Yeongak turun dari singgasana dan keluar begitu saja dari balai istana dengan langkah penuh emosi.
Kepergian sang Raja yang begitu saja membuat para menteri yang masih berada di balai istana riuh. Mereka berbicara dan mengomentari sikap yang diperlihatkan Raja Yeongak. Ini adalah kali pertama Raja Yeongak melakukan walk out saat menyelenggarakan diskusi Dewan Istana.
“Daegam, tindakan apa yang perlu kita lakukan saat ini? Sepertinya masa depan pemerintahan Jeonha akan suram.”
Menteri Pertahanan Shim mendekati Perdana Menteri yang masih memandangi pintu keluar balai istana yang beberapa saat lalu dilalui sang Raja. Beberapa menteri lain juga sibuk berdiskusi menilai perilaku Raja Yeongak dan mulai memprediksi masa depan pemerintahan. Bagaimana pun, kehadiran pewaris memberikan pengaruh yang sangat besar akan pemerintahan seorang raja di Joseon.
Perdana Menteri kemudian melayangkan pandangannya pada Menteri Personalia Kang—yang tak lain adalah ayah dari Ratu Kang. Tampaknya pria berjubah menteri itu pun sangat frustasi dengan putrinya yang sepertinya tak mampu memberikan pengaruh apapun pada pemerintahan.
“Menteri Kang, apa kau bisa menjamin jika Jungjeon Mama bisa memberikan pewaris dalam waktu dekat?” tanya Perdana Menteri spontan dengan ekspresi tenang tanpa riak di wajah tuanya.
Menteri Kang menoleh pada sumber pertanyaan. Namun, pria itu tak mampu memberikan jawaban dan memilih diam. Ia tak ingin membuat jawaban gegabah atas situasi yang terjadi saat ini.
Perdana Menteri mendengus lalu mengalihkan perhatian pada Menteri Shim yang masih berdiri di sisinya. Kepala Perdana Menteri mengangguk-angguk, seakan sudah mendapatkan jawaban atas situasi saat ini. Dengan suara pelan, ia mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan pada Menteri Shim.
“Sudah saatnya kita perlu mendukung kekuatan baru, Menteri Shim. Ada seseorang yang perlu kita temui dan mintai pendapatnya,” ujarnya penuh arti.
~THE RED MOON~
“Aku yakin kau tak hanya sekedar datang mengunjungi wanita tua sepertiku. Apa benar tebakanku ini, Daegam?” ujar Ibu Suri Park sambil tersenyum penuh arti saat mendapatkan kunjungan dari Perdana Menteri dan Menteri Shim di paviliunnya.
Sebagai wanita yang tinggal serta menghabiskan waktu di istana sejak masih muda, Ibu Suri Park sudah hapal segera pergerakan politik. Termasuk seperti kunjungan tak terduga dari Perdana Menteri yang ia dapatkan sekarang. Senyum wanita itu tersembunyi di balik cawan teh yang tengah dinikmatinya.
Perdana Menteri terkekeh mendengar sindiran penuh arti yang diucapkan Ibu Suri Park. Wanita istana itu jelas menyadari maksud dari kedatangannya siang ini. Sekalipun selama ini Ibu Suri Park selalu terlihat tenang dan tak menunjukkan ketertarikannya pada politik, Perdana Menteri tahu bahwa wanita itu sebenarnya hanya sedang menunggu waktu yang tepat. Bukankah predator paling berbahaya adalah yang berburu dalam ketenangan?
“Anda terlalu berlebihan, Daebi Mama. Hamba datang kemari memang tulus ingin menyapa Anda.”
Ibu Suri Park terkekeh dan meletakkan cawan tehnya di atas meja. Wanita itu kemudian mengetuk-ngetuk jemarinya pada meja seraya menatap tajam Perdana Menteri yang sangat lihai menyembunyikan maksud dan tujuannya.
“Jika kau memang ingin menyapaku, hal itu sudah pasti kau lakukan sejak lama, Daegam. Tidakkah tindakanmu terlalu kentara karena mengunjungiku setelah keributan yang terjadi pada diskusi Dewan Istana pagi ini?”
Perdana Menteri berdeham mendengar tembakan telak yang diucapkan Ibu Suri Park. Meski begitu, pria itu kembali bersikap tenang dan mengendalikan rasa terkejutnya.
“Anda mendengarnya juga, Daebi Mama?”
“Istana memiliki telinga di manapun, Daegam. Tak mungkin aku tak mendengar keributan yang terjadi hari ini,” sahut Ibu Suri Park dengan enteng.
“Hamba merasa tak enak jika kedatangan hamba kemari untuk berkeluh kesah sudah bisa diketahui oleh Anda, Mama.”
Ibu Suri Park terkekeh dan menatap tepat pada kedua manik hitam Perdana Menteri. Iris wanita itu menatap penuh waspada apapun yang akan disampaikan Perdana Menteri.
“Lalu, apa yang bisa dilakukan wanita istana ini sehingga seorang perdana menteri sepertimu hendak menyampaikan keluh kesahnya? Aku tak memiliki wewenang apapun, Daegam.”
“Anda adalah satu-satunya harapan kami demi kelangsungan negeri ini, Daebi Mama,” sambar Menteri Shim dengan cepat, mematahkan argumen Ibu Suri Park yang tidak menunjukkan ketertarikannya pada politik istana.
Iris Ibu Suri Park bergulir dan kini menatap pada Menteri Shim yang baru saja membuka suara. Kekehan terlontar dari wanita istana itu mendengar ucapan Menteri Shim yang benar-benar memakan umpannya.
“Benarkah? Apa tepatnya yang aku miliki hingga kau bisa berkata seperti itu, Daegam?” tantang Ibu Suri Park yang seakan meminta bukti atas perkataan Menteri Shim.
“Daebi Mama, Anda jelas mengetahui mengenai wasiat mendiang Raja mengenai penunjukkan Hyoyeom Daegun. Bukankah sebentar lagi penundaan yang diberikan akan berakhir? Terlebih hingga saat ini Jungjeon Mama tak kunjung memperlihatkan tanda kehamilan. Bukankan ini berarti pertanda bahwa Langit seakan mendukung agar wasiat mendiang Raja segera dilaksanakan?”
Ibu Suri Park menghela napas panjang. Wanita itu jelas tak akan menggigit mentah-mentah umpan pembicaraan yang dilontarkan Perdana Menteri. Wanita itu tetap harus bersikap waspada karena ia tahu bahwa Perdana Menteri dan Menteri Shim merupakan pendukung kuat atas takhta dari Raja Yeongak.
“Jika kalian mengatakan hal seperti itu padaku, tidakkah itu berarti kalian sedang berencana mengkhianati Jusang?”
“Kami melakukan ini pun demi kelangsungan negara ini, Daebi Mama. Melihat Jeonha yang seakan mengabaikan masalah ini, membuat kami sangat khawatir dengan masa depan Joseon,” jelas Perdana Menteri berusaha meyakinkan Ibu Suri Park.
“Jika memang begitu,” Ibu Suri Park menjeda perkataannya sambil membenahi letak duduknya, membiarkan kegelisahan itu semakin terlihat nyata di roman kedua menteri senior tersebut. Ibu Suri Park perlu bukti kesungguhan dari kedua menteri tersebut sebelum menyertakan mereka untuk menjadi bagian dari rencananya.
“Bukankah seharusnya kalian meyakinkan orang yang terpilih itu sebelum berbicara dan meminta dukunganku, bukan?” ujar sang Ibu Suri Park penuh arti.
~THE RED MOON~
Di sebuah Gibang—tempat hiburan malam, yang terkenal di pusat kota Hanyang, terlihat para menteri berkumpul sambil menikmati sajian dengan masing-masing sebotol arak beras. Tampaknya, kejadian yang terjadi saat diskusi Dewan Istan pagi tadi tidak bisa lagi dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Malam ini, Perdana Menteri mengundang beberapa menteri lainnya untuk berdiskusi membahas strategi politik yang perlu dilakukan.
“Sikap Jeonha pada diskusi pagi tadi, tak bisa kita anggap remeh lagi, Tuan-Tuan. Sikap tersebut jelas menunjukkan pengabaian atas kewajibannya sebagai Raja. Menteri Kang dan keluarganya tak bisa berbuat banyak, hal ini dapat kita pastikan dengan kemampuan Jungjeon Mama hingga saat ini.”
Perdana Menteri membuka topik pembicaraan setelah memastikan pertemuan ini bersifat rahasia dan aman. Pria tua itu menatap satu persatu para menteri yang menghadiri jamuan makan malam ini. Dan seperti yang sudah ia duga, para menteri yang hadir memiliki pemikiran yang sama dengannya.
“Apa yang Anda katakan benar adanya, Daegam. Jeonha sudah mengabaikan kewajibannya dengan memberikan penerus untuk kelangsungan negeri. Berdasarkan sumber informasi yang kudapatkan di istana, Anda sekalian pasti mendengar bahwa beberapa hari lalu terjadi pertengkaran antara Jeonha dan Jungjeon Mama. Tidakkah ini memberi petunjuk bahwa selama ini hubungan mereka tak harmonis?” imbuh Menteri Ritual Song, yang seakan semakin memperjelas keruhnya masa depan Joseon dengan ketidakharmonisan rumah tangga keluarga inti kerajaan.
“Jika terus seperti itu, bisa dipastikan pewaris tidak akan pernah hadir dari Jungjeon Mama, benar begitu, Daegam?” pungkas Menteri Keuangan Jung yang terlihat ngeri, saat menyadari rapuhnya pemerintahan yang dimiliki Raja Yeongak saat ini.
“Itu sebabnya, kita harus melakukan sesuatu secepat mungkin mengatasi situasi genting yang dimiliki negeri ini. Sepertinya, Mendiang Raja sudah menyadari ketidakharmonisan yang terjadi diantara Jeonha dan Jungjeon Mama, sejak keduanya masih berstatus sebagai pasangan mahkota.”
Perdana Menteri kembali mengambil kendali dalam diskusi. Pria itu berdeham dan menjatuhkan fakta yang sejak tadi ia coba tahan.
“Mendiang Raja mewasiatkan seorang pewaris takhta untuk Jeonha. Wasiat itu sengaja ditangguhkan dengan batasan waktu mengingat usia Jeonha yang masih dalam usia produktif untuk memiliki pewaris sendiri. Tapi, melihat situasi yang terjadi sekarang, sepertinya tidak ada alasan lagi untuk menunda pelaksanaan wasiat tersebut.”
Para menteri terkejut mendengar fakta yang baru saja diucapkan Perdana Menteri. Selama ini, diantara Dewan Istana yang mengetahui wasiat Mendiang Raja hanya Perdana Menteri dan Sekretaris Istana saja. Hal ini dikarenakan aturan protokoler kerajaan untuk menjamin keaslian dari isi wasiat. Itu sebabnya, para menteri yang hadir malam ini sangat terkejut dengan fakta tersebut.
“Benarkah semua itu, Daegam? Apa selama ini sebenarnya Mendiang Raja sudah mewasiatkan pewaris untuk Jeonha?”
Perdana Menteri mengangguk singkat dan menyesap perlahan arak berasnya sebelum memberikan penjelasan lebih jauh. “Ye. Mendiang Raja sepertinya sudah bisa memprediksi semua ini. itu sebabnya, ia menunjuk seseorang menjadi pewaris selanjutnya.”
“Lalu, jika itu memang benar, itu berarti kita hanya perlu mengajukan pelaksanaan wasiat Mendiang Raja dan membawa pewaris itu,bukan?” tanya Menteri Jung.
“Tapi, siapa pewaris yang sebenarnya ditunjuk Mendiang Raja, Daegam? Jika memang sudah ada pewaris yang ditunjuk, kenapa Jeonha seakan enggan membahas semua ini dengan kita?”
Perhatian para menteri kini kembali tertuju pada Perdana Menteri. Mereka berharap pria tua itu akan memberikan jawaban atas rasa penasaran mengenai pewaris yang sebenarnya telah ditunjuk melalui wasiat Mendiang Raja.
“Hyoyeom Daegun adalah pewaris yang ditunjuk Mendiang Raja melalui wasiatnya.”
Seketika ruangan tersebut menjadi sunyi senyap setelah mendengar nama pewaris terpilih yang disebutkan Perdana Menteri. Tampaknya pengajuan pelaksanaan wasiat tidak akan semudah seperti yang mereka perkirakan. Sudah menjadi rahasia umum jika Raja Yeongak sangat membenci saudara tirinya—Pangeran Agung Hyoyeom. Kini para menteri mengerti, kenapa sang Raja tak pernah membicarakan pewaris terpilih pada diskusi Dewan Istana. Sang Raja tengah berusaha agar saudara tirinya tak mewarisi takhta.
~THE RED MOON~