Hari ini adalah hari kelulusan dan pisahan SMP Buana Bakti. Tidak ada yang spesial justru membuatku gerah karena banyaknya orang yang datang. Di gedung kesenian yang biasanya senyap kini hingar bingar dengan lampu sorot berwarna-warni yang kadang menyorot panggung kadang bangku penonton. Musik yang bergema hingga memekakkan telinga berdentang menyuarakan lantunan musik tradisional mengiringi seorang penari yang tengah menggerakkan pinggulnya ke sana kemari di panggung. Ifana, aku tahu namanya karena ia cukup populer di sekolah meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak peduli.
Ditengah riuhnya penonton yang bersorak dan bertepuk tangan, tanpa sengaja aku melihat seorang gadis yang tengah memegang sebuah lup dengan sebuah daun ditangannya. Tanpa peduli dengan keadaan disekitarnya, ia membolak-balikan daun itu dan mulutnya bergerak-gerak seakan sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Memilih untuk mengabaikannya, aku melangkah menjauhi keramaian.
Halaman sekolah sekarang penuh dengan stand-stand yang menjual berbagai macam benda. Mengadakan grand expo sudah menjadi tradisi di sekolah kami setiap acara perpisahan tiba. Kelas sembilan dilarang untuk mengikuti acara ini karena mereka pikir ini adalah hari yang penting bagi kami dan kami diwajibkan untuk menikmati pestanya. Meskipun sebenarnya keantusiasanku mengikuti acara ini sangat terbatas.
Aku menghampiri seorang gadis yang sedari tadi sibuk memanggang sosis di kompor sementara beberapa orang mengantri di stand-nya. Salah satu teman terbaik yang aku punya. Setelah berjuang selama berhari-hari memohon pada ketua penyelenggara acara akhirnya ia diizinkan untuk mendirikan standnya meskipun ia sudah berada di tingkat akhir.
“Laris?” tanyaku langsung duduk di sebuah kursi plastik.
“Laris manis! lima puluh pak terjual dalam waktu kurang dari tiga jam,” jawab Winna sambil menunjukkan jempolnya dan tertawa puas. “Ini tadi pesenannya. Silakan!” Ia memberikan dua bungkus sosis pada pelanggannya.
“Hasil ngemis-ngemis sama Pak Wibowo akhirnya terbayar juga. Untung gak digusur juga lo sama Pak Ali.”
“Hahaha... Siapa juga sih yang bisa ngalahin Winna buat urusan negoisasi,” ucapnya bangga sambil menjatuhkan pantatnya di kursi plastik lain, mengeluarkan uang yang baru ia peroleh dan menghitungnya.
“Negosiasi.”
“Iya, iya. ‘Negosiasi’. Susah amat ngomong sama ahli bahasa,” dumel Winna sewot sementara aku tertawa mendengarnya.
“Awas ketahuan sama tuyul, nanti duitnya digondol lagi.”
“Biarin! Biar gue laporin ke polisi terus di penjara sekalian. Anak-anak sukanya nyolong duit. Gak takut dosa apa.”
Aku hanya tertawa dan geleng-geleng kepala mendengar celotehannya. Ya kali tuyul mau di penjara. Gak waras emang. Tapi karena itulah aku menyukai Winna. Satu-satunya orang yang memiliki kepribadian terbalik denganku dan tidak pernah memaksaku untuk menjadi sama sepertinya. Ia menerimaku apa adanya dia tidak pernah protes dengan sikapku yang terkadang menyebalkan untuknya. Hal itu juga yang membuatku tidak ingin berpisah dengannya.
Hari ini adalah hari kelulusan kami. Aku dan Winna akan melanjutkan di sekolah yang berbeda dan itu artinya kami akan menjadi jarang bertemu. Mungkin akan sangat jarang sekali. Tanpa alasan mungkin pertemuan kami tidak akan terjadi.
Sementara, Winna melayani pembeli yang datang, tanpa sengaja aku melihat anak yang tadi sempat aku lihat di ruangan teater. Masih memegang lup dan daun yang tadi, ia duduk di bawah pohon yang sebenarnya agak ditakuti disekolah kami. Dilihat dari penampilannya ia pasti berasal dari sekolah lain.
Entah dapat dorongan dari mana tiba-tiba aku memutuskan untuk mendekatinya. Anak itu terlalu cantik dan normal untuk dapat disebut sebagai pengidap autis. Bagaimanapun juga, sikap yang terlalu perhatian terhadap dunianya sendiri itu hingga mengabaikan dunia di sekitarnya agak terlalu berlebihan. Sikapnya itu pula yang menarik perhatianku untuk mendekatinya.
“Gue pergi dulu,” ucapku pada Winna tanpa melihat ke arahnya.
“Mau ke mana? Woy!”
Aku mengabaikan teriakan Winna dan berlalu tanpa menjawabnya. Aku bisa merasakan jika dia sedang mengumpat di belakang sana, tapi aku mengabaikannya. Anak itu sedang membaca sebuah catatan kecil di tangannya saat aku sampai.
Hal yang sama sekali tidak aku duga adalah dia akan melompat saat aku sampai di depannya. Ia terlihat terkejut melihat aku tiba-tiba berdiri di sana. Jujur, aku sendiri merasa jika jantungku akan copot.
“Eh, ma-maaf. Aku ngagetin kamu, ya?” ucapku gugup.
Anak itu menatapku dengan pandangan terkejut. “Iya, gak pa-pa.”
Aku tersenyum mencoba untuk mencairkan suasana yang terlanjur kaku tersebut. Akhirnya setelah ia terlepas dari rasa terkejutnya, ia kembali duduk di tempat semula.
“Aku boleh duduk di sini?” tanyaku.
Ia mengangguk. “Boleh.”
Cara dia mengucapkan kata itu membuatku teringat dengan diriku sendiri. Saat aku sedang asik membaca novel yang aku sukai tiba-tiba ada orang yang datang dan bertanya hal-hal yang tidak penting. Membuatku terhenti dari aktivitasku dan membuat kesenanganku tertunda. Aku tidak membencinya, tapi itu sering membuatku kesal.
Saat ini aku dihadapkan pada kenyataan yang sama seperti itu namun sekarang dalam posisi ‘pengganggu’. APA YANG HARUS AKU LAKUKAN???!!!
“Kenalin, namaku Kirana. Kamu?” Aku mengulurkan tanganku sementara perempuan itu menatapku dan tersenyum kaku.
“Ifani,” ucapnya menyambut uluran tanganku dan buru-buru melepaskannya lagi. Terlihat sekali jika ia tersiksa dengan situasi yang mengurungnya sekarang. Dalam hati aku mengucapkan kata maaf seanyak-banyaknya sekaligus menyumpah karena tidak bisa melakukan perkenalan lebih baik dari ini. Aku ingin sekali berteriak padanya, ‘Kita itu mirip! Ayo, kita temenan!’, tapi nyatanya itu gak mungkin.
“Kamu dari sekolah lain, ya?” tanyaku basa-basi. Padahal dilihat dari seragamnya saja semua orang sudah tahu jika ia berasal dari sekolah lain. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku sama sekali tidak ahli dalam hal seperti ini. “Dari sekolah mana?”
“SMP Gemilang,” jawabnya singkat. Tangannya terus membolak-balikan lup yang ia pegang dengan gugup. Kalau begini aku jadi merasa bersalah.
“Oh, sekarang kelas berapa?”
“Udah lulus.”
Aku terkejut. “Eh, jadi kamu juga baru kelulusan. Kok bisa mampir ke sekolah ini?” Jika hari ini adalah hari kelulusannya harusnya ia berada di sekolahnya, ‘kan? Bukan di sini.
“Aku mau liat kakak aku tampil. Jadi, aku ke sini.”
“Kakak, maksud kamu, kamu punya kakak di sini? Kelas sembilan juga?” aku heran dengan jawabannya. Jika ia punya kakak, harusnya ia setidaknya satu tingkat di atas kami.
“Kakak sepupu aku. Namanya Ifana,” jawabnya menjawab kebingunganku.
“Oh, kakak sepupu. Jadi, kamu adik sepupunya Ifana,” ucapku sambil mengangguk. Melakukan pendekatan seperti ini menguras energi. Aku menghela napas pendek.
“Kamu kenal sama Kak Ifana?” tanyanya sambil menatapku sekilas.
Aku menggeleng. “Ifana lumayan populer di sini. Hampir semua orang tahu.”
Ifani hanya mengangguk dan bergumam, “Oh.”
Saat aku sedang memikirkan apa yang aku lakukan selanjutnya, aku mendengar seseorang memanggil namaku. Itu Raihan. Orang kedua dan terakhir yang lumayan dekat denganku di sekolah ini. Alasannya sederhana, Raihan adalah tetanggaku sejak aku lahir, jadi aku mengenalnya dengan cukup baik. Selain itu, kami besar di lingkungan dan sekolah yang sama selama hampir lima belas tahun.
“Ara! Ketemu juga,” ucapnya. Ia melihat Ifani yang duduk di sebelahku. “Loh, Fani juga ada di sini?”
Ifani menjawabnya dengan senyuman tipis.
“Kamu kenal sama Ifani?” tanyaku heran. Setahuku selain game tidak ada yang dapat menarik perhatian Raihan. Karena itu ia lebih banyak memiliki teman di dunia virtual daripada di dunia nyata.
Raihan mengangguk. “Kamu gak kenal?”
“Kita baru kenalan tadi.”
“Masa sih?” tanyanya tak percaya. “Ifani juga?”
Ifani mengangguk mengiyakan.
“Kalian berdua emang kurang pergaulan banget. Ya kali temen satu SD gak hapal. Sebanyak apa emang anak yang sekolah di sekolah kita dulu?!” ucapnya gemas.
“Hah?”
“Tapi wajar aja sih kalian gak saling kenal. Secara, dua-duanya kutu buku sejak SD.”
“Udah sih?! Masalah banget emang kalo kita baru kenal sekarang?” ujarku sewot. “Kamu mau ngapain ke sini?”
“Oh, iya. Kita di suruh ke aula. Waktunya pesta!”
Aku mengerutkan kening. “Ini masih siang.”
“Ya udah. Pesta aja nanti malem bareng hantu. Duluan!”
Aku mendesah dan menatap Ifani. “Aku duluan, ya!”
“Oke,” jawabnya sambil tersenyum.
Saat itu, aku masih belum tahu takdir apa yang menunggu kami di depan sana. Aku masih belum bertemu dengan Faza juga Bagas. Tapi, kami akan bertemu segera. Sebentar lagi, The Secret Cluster akan terbentuk.