Tak terhitung sudah berapa kali Briyanda menyusuri jalanan dimana dirinya di keroyok kemaren malam. Beberapa orang yang berjualan disekitar kejadian sana tak lupa dirinya tanya. Apakah melihat preman itu lagi atau Meta. Setidaknya ketika dia berusaha menemukan Meta bisa membayar hutang budinya karena Meta sudah menolong dirinya.
Kali ini jiwanya sebagai manusia yang tau akan balas budi begitu bergejolak. Biasanya dirinya selalu saja bersikap acuh. Karena baginya, ketika dia ikut campur urusan orang lain hanya membuang waktunya dan tidak memberikan manfaat sama sekali kepadanya. Bukankah jaman sekarang ada begitu banyak orang niat menolong pasti ada embel-embelnya dibelakang. Bukan hanya di ucapkan terimakasih maka hutang budi terbayar dengan mulus.
Ternyata mencari orang hilang itu begitu melelahkan dan banyak menguras tenanga. Briyanda yang merasa kelelahan, memutuskan untuk kembali ke kosannya. Tak lupa dia lebih dahulu membeli asupan malamnya. Sebagai penambah energinya sebelum kembali mencari Meta.
Cuaca malam ini tidaklah seperti kemaren, hal ini membuat Briyanda sedikit lega. Setidaknya tidak membuat demam Meta akan semakin parah. Dengan menenteng sebungkus nasi goreng dan juga satu kotak s**u disana. Briyanda berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai paling atas di kosan ini.
Tinggal beberapa anak tangga lagi menuju kamarnya, samar-samar Briyanda bisa mendengar suara yang begitu dia kenal. Langkah kakinya seketika berhenti dan kemudian menajamkan pendengarannya.
“Kamu kekasih yang begitu baik ternyata. Saya harap kamu bisa langgeng hingga jenjang pernikahan ya”
“Terimakasih bi. Aku tidak akan mungkin membiarkan kekasihku kerepotan seperti ini, aku harus menolongnya. Di saat aku terpuruk, dia bersama denganku, masa ketika dia bersedih aku acuh begitu saja dan tidak menolongnya”
Tunggu, kenapa aku mendengar suaranya. Ah, tidak. Apa mungkin saat ini aku sedang berhalusinasi atau bagaimana. ini pasti karena aku memikirkannya secara menerus.
Briyanda menggelengkan kepalanya. Berusaha menepis apa yang ada di pikirannya saat ini. Lagian kalau di pikir tidak mungkin itu Meta. Sejak kapan dirinya menjadi kekasih dari wanita itu. Sehalunya Meta, wanita itu tidak akan melakukannya. Terutama ini tidak ada sangkut pautnya dengan Klandra.
“Kamu itu vibes—nya beda banget dengan Briyan. Anak itu vibes—nya seakan ingin bawa ke ring tinju saja. Tapi bibi bersyukur kamu bersama dengannya, siapa tau kalau vibes kamu ini bisa ketularan ke Briyan”
Briyan? Di kosan ini hanya satu nama Briyan dan itu adalah aku.
Mendengar namanya disebut, membuat Briyanda tidak bisa menahan dirinya menjadi pendengar yang baik saja. Dia mempercepat langkahnya untuk bisa bertemu dan meminta penjelasan.
Dia megernyitkan alisnya, menatap pemandangan yang ada di hadapannya ini kaget. Entah sandiwara apa yang sedang dimainkan oleh Meta saat ini. Hal apa yang membuat keduanya bisa seakrab sekarang. Sungguh pemandangan yang bahkan dalam mimpi saja itu tidak akan mungkin terjadi.
Bibi Siti yang merupakan Ibu kosan dimana Briyanda tinggal tampak tengah berbincang dengan Meta, seakan keduanya sudah lama saling mengenal satu sama lain. “Meta!” panggil Briyanda tanpa sadar dengan nada yang sedikit tinggi. Alhasil yang di panggil segera saja menoleh.
Raut wajah kaget dan takut bercampur menjadi satu ketika Briyanda menatap Meta dengan tatapan kesalnya. “B—Bang..” sapa Meta terbata-bata.
“Yang dibicarakan akhirnya datang” wanita bertubuh berisi yang kini menggunakan daster dan ada sebuah gulungan roll dirambutnya itu kemudian menatap Briyanda bahagia. Selama ini wanita itu tidak pernah beramah tamah kepada siapapun. Membuat hal ini jelas saja menimbulkan kecurigaan.
Briyanda kemudian berjalan mendekati Meta, berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau wanita yang ada di hadapannya ini adalah benar Meta. Dia tidak peduli dengan wanita tukang tagih uang kosannya ini yang masih saja menatapnya. “Kamu kemana saja?” Kesal Briyanda.
Meta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Mn, aku bisa jelaskan nanti Bang”
“Hei, kenapa kamu begitu galak kepadanya, padahal Meta adalah anak yang baik. Bibi suka dengannya” Sela Siti.
Briyanda menoleh ke arah Siti, dan menatap Ibu kosannya itu dengan dingin. “Katakan apa yang sudah Meta lakukan ke Ibu dengan uangnya?” Tidak ada yang namanya berbasa—basi sama sekali. Briyanda jelas saja ingin langsung ke tujuannya.
“Kamu emang tidak pernah berbasa-basi ya” Siti kemudian tersenyum. Namun sebelum Siti bisa menjelaskan alasannya. Meta lebih dahulu berjalan mendekati Briyanda dan segera saja meraih tangan Briyanda, menuntun punggung tangan senior—nya ini ke keningnya. “Aku lelah sekali hari ini, bisakah aku menumpang istirahat sebentar dikosan kamu”
Briyanda jelas saja ingin memarahi Meta dengan api emosinya yang sudah membara. Namun semua itu harus tertahan kala punggung tangannya itu bisa merasakan panas tubuh Meta. Netranya itu tanpa sadar berubah menjadi sendu. Hal apa yang sudah dilakukan Meta seharian ini tanpa memperdulikan bagaimana dengan kondisinya sekarang.
Dia kemudian melepaskan tangannya dari kening Meta meraih kunci kosannya lalu membuka kamarnya. “Masuk” titah Briyanda yang begitu dingin. Membuat Meta mau tidak mau harus masuk kedalam lebih dahulu.
Briyanda menoleh ke arah siti dan menatap wanita itu kesal. Namun Siti masih malah tersenyum dengan hangatnya. “Saya akan tunggu siang hari” Siti lalu pergi namun baru beberapa langkah dia kemudian menoleh kebelakang menatap Briyanda. “Tolong, jangan sampai suaranya kedengaran sama anak kosan lainnya” Siti terkekeh sebentar dan segera menuruhi tangga.
“Entah apa yang ada dikepala wanita itu” Gerutu Briyanda. “Aku tidak akan macam-macam dengan wanita seperti Meta.” Dia kemudian masuk kedalam kosannya dan menatap Meta sudah makan setengah bungkus nasi goreng miliknya.
Cacing yang ada diperutnya seketika menangis meraung. Melihat Meta memakannya dengan begitu lahap membuat dia juga ingin ikut makan. Briyanda segera saja mendekat dan mengeser piring nasi goreng Meta ke arahnya. “Apa kamu tidak tau tata krama dan sopan santun apa?”
“Aku lapar, seharian ini aku hanya berkelana kesana kemari mencari uang agar bisa meminjamkannya ke Abang untuk membayar uang kosan. Aku tidak tau kalau harganya sangatlah mahal disini. Biasanya lantai paling atas paling murah, namun siapa sangka kalau kosan ini adalah yang paling mahal diantara lantai sini.” jelas Meta, dia kemudian menekuk sebelah lututnya dan menyandarkan dagunya disana sembari menatap Briyanda iba.
“Jadi seharian ini kamu berusaha mencari uang untuk membayar uang kosan aku” Tanya Briyanda yang berusaha memahami apa dikatakan Meta.
Meta menganggukkan kepalanya. “Tentu, tiga bulan Abang tidak membayar, ditambah lagi dengan uang listrik Abang. Tidak hanya itu saja, abang tidak juga membayar uang iuran kebersihan disini, jasa upah dari laundry sebulanan Abang dan lebih mengejutklan lagi Abang sendiri juga mengutang kepada tukang sayur” Jelas Meta yang berusaha menjabarkan apa saja hutang dari Briyanda.
“Dari mana kamu tau semuanya?” Sarkas Briyanda.
“Jelas saja aku tau, disaat Bibi Siti datang dan menjabarkan semuanya kepadaku. Jangankan untuk mengetahui masalah ini, sosial media Abang aja susah di cari” Keluh Meta.
“Kenapa kamu harus repot-repot melakukannya. Aku tidak suka kamu ikut campur dalam urusan pribadiku. Aku masih bisa menanggung semuanya.”
“Jelaskan kepadaku, disaat Abang menunggak sebegitu banyak tagihan. Bagaimana abang melunasinya?” Tanya Meta yang kini menatap Briyanda yang tengah melahap nasi goreng.
“Itu adalah urusanku dan bukan urusan kamu, Meta”
“Bang, aku yang berkelana seharian ini kemudian berpikir. Bagaimana kalau kita menikah saja? Abang bisa tinggal satu kosan dengan aku tanpa di kira pasangan kumpul sapi. Kalau masalah uang kosan Abang ga usah khawatir, aku yang akan membayarnya. Tapi untuk masalah makanan, iuran kebersihan serta token listrik bisa kita bagi dua.” Saran Meta.
Walau itu terkesan menggiurkan, akan tetapi Briyanda menolaknya dengan cepat. “Apa kamu sudah tidak bisa berpikiran jernih?”
“Dengan kita menikah, maka beban pengeluarkan kita bisa di tekan sedikit.” Jawab Meta.
“Bukan beban pengeluaran, akan tetapi beban masalah taruhan kamu” Sarkas Briyanda. Dia hendak saja ingin meminum s**u kotak miliknya, namun melihat Meta yang tampak menyedihkan saat ini. Dia kemudian mengulurkannya ke Meta. “Ambil, atau aku minum”
Meta yang jelas saja masih lapar itu, tanpa menolak sama sekali segera saja mengambilnya dan meminumnya.
Dasar bocah. Hanya dengan s**u dia terlihat begitu bahagia.
“Tidak ada yang dirugikan disini Bang. Abang bisa mendapatkan tempat tidur dan tinggal gratis lalu masalah pengeluaran lainnya kita bagi dua. Aku sudah berusaha mencari pinjaman sana sini untuk Abang. Tapi aku tidak mendapatkannya.” Ucap Meta.
Sejenak Briyanda tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Meta sekarang. Wanita ini begitu gigih untuk mencari uang hanya untuk dirinya.
“Kita tidak perlu mengumbar kalau kita sudah menikah. Kalau di kampus, kita tetaplah senior dan adik tingkat dimana aku selalu saja mencari masalah dengan Abang. Aku berjanji tidak akan ada yang mengetahui status kita selain Perwira, Vulkanik dan juga Klandra” Meta kemudian mengacungkan jemari kelingkingnya ke atas. “Aku berjanji demi bumi yang berbentuk bulat”
“Bang, hanya Abang yang bisa menolong aku saat ini. Mickey adalah peninggalan ibuku, aku sangat menyayanginya. Ada begitu banyak kenangan yang terukir di motor itu. Sebuah kenangan yang tidak akan bisa dibayar dengan apapun itu kala ibuku sendiri sudah tiada Bang. Satu-satunya peninggalan ibuku yang paling berharga”
“Kalau tau itu adalah peninggalan dari Ibu kamu yang paling berharga, lalu kenapa kamu malah melakukan balapan liar? Bukankah itu tidak hanya merusak peninggalan Ibu kamu, tapi juga bisa menyebabkan nyawa kamu melayang dan juga hidup kamu akan berakhir dengan sia-sia disana?” Tanya Briyanda.
“Sejatinya aku adalah pembalap resmi dahulunya yang berada pada kelas moto3 dimana itu dua ratus lima puluh cc. Namun karena satu hal, aku harus pensiun saat aku SMA. Motor aku balapan kemudian aku gunakan untuk balapan dijalanan. Abang kira aku mau melakukan hal itu? Tidak. Aku melakukannya karena aku butuh yang namanya uang. Dimana uangnya bisa membantu aku untuk berkuliah di Steorra. Uang yang aku dapatkan sangatlah banyak dan juga kerjanya hanya balapan saja. Walau begitu aku lebih baik bekerja seperti ini dari pada aku harus membuka bookingan buat mencari uang dengan singkat dan enak”
“Bukankah kamu sanggup membeli motor semahal itu, akan tetapi kenapa kamu tidak sanggup untuk membiayai kuliah kamu, yang dimana uang kuliah kamu tidak semahal motor kamu gunakan” jawab biryanda yang masih tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Meta.
“Perekonomian yang memaksakan aku melakukannya. Abang kira aku tidak mencoba mencari pekerjaan diluar sana? Jelas saja sudah aku lakukan bahkan aku hanya tidur dua sampai tiga jam saja. Namun karena biaya kuliah disini tidak tergolong sedikit. Membuat aku harus mencari uang lebih. Seluruh gaji yang aku miliki tidak cukup untuk membayarnya. Lagian aku juga harus menyisihkan uangku untuk kebutuhan sehari-hari.”
“Udah tau kuliah di Steorra itu mahal. Kenapa kamu termotivasi untuk masuk kesana. Padahal ada begitu banyak perguruan tinggi di negara ini yang bagus-bagus dan tidak semahal Streorra.” Briyanda masih saja mencari celah agar Meta tersudutkan.
“Aku akan menjawabnya, akan tetapi izinkan aku berkata Bang. Ketika Abang bahkan mengutang ke tukang sayur, lantas kenapa Abang masih ingin berkuliah di Streorra? Dimana dengan kecerdasaan yang Abang miliki, bisa dengan mudahnya menujuk universtitas yang Abang minati untuk berkuliah”
Sejenak Briyanda terbungkam dengan apa yang dikatakan oleh Meta sendiri. Dalam hatinya Meta adalah satu-satunya orang yang bersikap tidak sopan dan ramah kepadanya. “Karena aku tau ini adalah kampus terbaik dari sektor pendidikan yang tidak perlu di ragukan lagi kualitasnya dan juga aku memiliki beasiswa yang membiayai perkuliahan aku”
Meta terkekehh mendengarnya. “Begitu juga dengan aku Bang. Aku ingin membuktikan kalau aku bisa berkuliah di tempat yang berkualitas seperti Steorra. Berhasil masuk dengan jerih payah aku sendiri dan membayar uang kuliah secara mandiri pastinya. Yah, walau aku tidak sepintar Abang yang memiliki untuk mendapatkan beasiswa. Akan tetapi aku harus bisa berjuang”
Ada begitu banyak pertanyaan yang ada di kepala Briyanda saat ini, namun dia menyadari kalau ini adalah sebuah pertanyaan yang tidak perlu dia katakan, mengingat hubungan mereka tidaklah dekat.
Briyanda hendak saja ingin berjalan mengambil gelas untuk dia minum. Namun entah kjenapa dia baru menyadari ada yang aneh dengan se isi kamar kosannya ini.
Sejak kapan seluruh barang aku sudah di kardusin begini.
Dia kemudian menoleh dan menatap Meta. Matanya itu memicing menatap sinis pada wanita yang ada dihadapannya ini. “Meta!”
Meta kemudian terkekeh. Menyatukan kedua telapak tangannya, memohon. “Ayo Bang. ini adalah cara terbaik”