Malam itu Elatha pergi untuk makan malam bersama investornya yaitu Agnibrata Wicaksana. Siapa yang tidak kenal dengan Tuan Agnibrata Wicaksana, pemilik Wicaksana Group yang namanya sudah melanglang buana dalam dunia bisnis baik di dalam mampun di luar negeri. Elatha sangat beruntung bisa mendapatkan perhatian Brata yang berujung pada Tuan Besar Wicaksana itu menjadi investor untuk perusahaan start up miliknya yang masih seumur jagung.
Setelah berkendara lebih dari satu jam, akhirnya Elatha sampai di restoran mewah yang menjadi tempat makan malam bersama Brata. Elatha masuk sambil tergesa-gesa karena dia datang terlambat lima belas menit karena macet di jalan.
Ketika memasuki restoran, Elatha terkagum-kagum dengan kemewahan restoran yang bisa membuat siapa saja masuk ke dalamnya merasa tersihir. Seolah terbawa ke dimensi yang berbeda. Tidak banyak pengunjung malam itu, hanya beberapa orang mengisi meja yang jaraknya berjauhan.
Elatha disambut oleh pelayan dan kemudian diantarkan ke meja yang ternyata sudah duduk dua orang yang salah satunya adalah Brata.
Elatha sedikit membungkuk, "Maaf Pak Brata, tadi agak macet di jalan, jadi saya datang sedikit terlambat."
Brata berdiri diikuti oleh pria mungil di sebelahnya, "Tidak apa. Sudah-sudah tidak perlu sungkan."
Elatha kembali sedikit membungkuk dan tersenyum. "Sekali lagi saya minta maaf."
Brata menepuk punggung Elatha, "Sudah-sudah, jangan minta maaf terus-terusan seperti itu." Brata menghentikan kalimatnya sesaat. "Perkenalkan ini anak bungsu saya, Aelius."
Aelius mengulurkan tangannya dan Elatha menyambut uluran tangan itu dengan mantap.
"Aelius Wicaksana."
"Elatha Rajendra."
Setelah berkenalan. Brata langsung mengajak Elatha untuk duduk. Makan malampun berlangsung dengan suasana yang hangat. Brata juga banyak bercerita tentang si anak bungsu sehingga membuat pria mungil yang diceritakan itu hanya bisa tersenyum malu.
Setelah hidangan penutup disajikan, suasana yang tadi hangat kini berubah menjadi serius. Tidak seorangpun yang memulai pembicaraan. Hanya terdengar dentingan sendok dessert yang beradu dengan piring porselen.
"Jadi, begini nak Elatha. Makan malam ini sebenarnya bertujuan untuk menjodohkan anak bungsu saya dengan nak Elatha."
Elatha yang mendengar pernyataan dari Brata tersebut tidak dapat menutupi keterkejutannya. Menjodohkan? Bukannya anaknya masih terlalu muda untuk di jodohkan dengan pria sepertinya?
"Saya tahu ini mendadak, tapi saya dan istri saya sudah tidak bisa menunda perjodohoan ini. Aelius terus-terus memaksa saya bahkan sampai mengancam saya dan keluarga. Saya tidak dapat menolaknya lagi." Ujar Brata dengan nada pasrah. "Nak Elatha tidak perlu khawatir dengan dana dan lain-lain, semua urusan bisnis kita akan berjalan lancar."
.
.
.
.
.
Setelah berbulan-bulan kejadian makan malam itu berlalu, saat ini di sinilah Elatha, duduk bersebrangan dengan Aelius yang sekarang sedang ditemani adiknya Ery. Di hadapannya tersaji dua porsi cheeseburger dan dua porsi french fries, dengan dua cola berukuran besar sebagai pelengkap. Tidak lupa kantong plastik kecil berwarna putih yang juga berada di atas meja.
Elatha masih ingat beberapa belas menit yang lalu adiknya itu menghubunginya dengan nada serius dan memintanya untuk bertemu di salah satu restoran cepat saji. Namun, yang didapatinya adalah dua orang yang sedang bersekongkol itu duduk di hadapannya. Yang satu dengan wajah sangat tegang sedangkan yang satunya lagi dengan wajah tanpa dosa.
"Kalau gak ada yang mau diomongin aku mau balik lagi. Kepalaku udah terlalu sakit, bahkan rasanya mau pecah." Ujar Elatha dingin sambil menatap kedua remaja di depannya.
"Dengar ya kalian berdua, aku gak tahu apa yang terjadi, tapi aku mohon gak perlu berantem kayak gini kan." Ujar Ery yang sepertinya tahu keadaan ini sangat buruk.
"Huh." Aelius mendengus kesal sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Ku mohon, biarkan dia kembali ke apartemenmu okay?" Pinta Ery kepada sang kakak.
"Lho, kenapa malah kamu yang mohon-mohon supaya dia balik ke apartemenku? Berapa banyak duit yang dia kasih ke kamu sampe kamu mau mohon-mohon demi dia?" Tanya Elatha ketus.
"Bukan gitu kak, aku-" Belum selesai Ery berbicara, Elatha sudah memotong kalimatnya.
"Dia punya mulutnya yang pinter ngomong kasar itu buat ngomong ke aku kalau dia memang mau balik."
Ery terdiam. Suasanya kembali hening. Baik itu Elatha maupun Aelius, keduanya sama-sama keras kepala. Selama ini Ery memang selalu menjadi penengah, tapi entah kenapa saat ini sepertinya masalah mereka hanya dapat diselesaikan oleh mereka berdua.
"Kakak ipar, mending kamu ngalah deh." Bisik Ery di telinga Aelius.
"Kenapa aku yang harus ngalah? Kan dia yang ngusir aku." Ujar Aelius dengan suara yang jelas dan ketus sambil melirik Elatha dengan tatapan sinis.
Elatha tahu semua ini terjadi karena dia yang mengusir Aelius, tapi semua ini tidak akan terjadi jika saja, jika saja Aelius ingin mendengarkan apa yang dikatakan oleh Elatha. Jika saja sifat keras kepala Aelius itu dikurangi sedikit saja. Elatha pasti akan membawanya kembali ke apartemen mereka.
Elatha juga tahu persis Aelius tidak dapat tidur di tempat yang baru dan Elatha merasa bersalah atas itu. Tapi, jika Elatha mengalah kali ini, Aelius tidak akan pernah berubah, tetap keras kepala dan tidak akan pernah mengakui kesalahannya.
Elatha berdiri, "Aku sudah gak kuat lagi. Kepalaku sakit banget. Kalian berdua pulang, sekarang, udah malem banget buat sekedar berkeliaran di luar."
"Kak." Ery memanggil nama kakaknya sambil menarik hoodie Elatha sebelum Elatha sempat melangkahkan kakinya.
"Lepas, sebelum aku marah ke kamu juga Ery. Kamu tahu kan aku gak pernah main-main?" Ujar Elatha dingin.
Ery melepaskan tangan yang menarik hoodie Elatha dengan perasaan takut. Takut kakaknya memusuhinya dan takut Aelius membatalkan kencannya dengan Kai karena rencananya gagal.
Elatha berjalan menjauh. Meninggalkan Aelius yang masih duduk dengan tangan terlipat di depan dadanya dan Ery yang menunduk dengan tangannya yang bertumpu pada meja menahan berat kepalanya.
"Ael, kayaknya kali ini kamu memang harus meminta maaf deh. Soalnya, menurut aku sih, Elatha bener-bener udah nyampe batasnya."
Aelius tidak bergeming. Masih diam bak patung manekin yang sedang merajuk.
"Ael, jangan sampe kamu nyesel karena kelakuan kamu sendiri." Ujar Ery sekali lagi.
"..."
"Aelius, aku sar-"
"Berisik, aku bakal minta maaf, okay?" Aelius menyelesaikan kalimatnya lalu berdiri dan kemudian berlari mengejar sosok Elatha yang kini sudah berada di parkiran. Bersiap memasuki mobilnya.
"Atha!" Panggil Aelius sambil sedikit berteriak.
Elatha mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil. Ia berdiri di balik pintu mobil yang kini sudah terbuka. Menunggu sosok yang memanggilnya itu datang menghampiri.
Aelius tiba dengan nafas yang terengah-engah. Elatha hanya menatapnya dengan tatapan dingin yang siap membekukan tubuh Aellius hingga ke tulang.
"Aku minta maaf." Ujar Aelius dengan nafas yang masih tidak beraturan.
Elatha menatapnya dingin. "Aku maafin."
Setelah menyelesaikan kata-katanya, Elatha kemudian memasuki mobilnya. Namun, belum sempat dia menutup pintu mobil, pintu itu tertahan oleh tarikan dari Aelius. Elatha menatap Aelius dengan penuh tanda tanya, untuk apa dia menahan pintu mobilnya. Jika hanya sekedar minta maaf, Elatha sudah memaafkannya.
"Aku minta maaf." Ujar Aelius lagi.
Elatha mendengus kesal. "Aku udah maafin kamu, jadi lepasin tangan kamu dari pintu mobilku, aku mau pulang."
"Aku sudah minta maaf!"
Elatha kembali menatapnya dengan perasaan bingung. Dia tidak mengerti dengan maksud Aelius. "Dan aku juga udah maafin kamu kan, sekarang apalagi?" Tanyanya kesal.
Aelius menggigit bibir bawahnya, "Aku...."
"Cepatlah, kepalaku sudah ingin pecah." Elatha tidak berbohong, kepala benar-benar sakit saat ini.
"Aku mau pulang bareng kamu ke apartemen kita." Akhirnya, Aelius mengucapkan kalimat yang sejak tadi sudah ingin dia katakana dalam satu tarikan nafas.