Cahaya dari lampu minyak didalam kamar mulai redup tapi sosok itu tak kunjung kembali ke dalam kamar ini. Aku lelah menunggu Askala kembali, dia mungkin tetap tinggal di kamar kerjanya malam ini.
Pernikahan kami sudah seminggu berlalu tapi tidak ada percikan kebahagian didalamnya, aku pun tidak berharap dia memberikan cintanya padaku. Tapi setidaknya bicara padaku sebagai suami istri di sebuah rumah tangga bukanlah hal yang sulit.
Aku sudah lelah menunggu seperti panjangan manis di rumahnya. Dengan selendang aku menutup bahuku yang terbuka dan berjalan ke kamar kerja Askala.
Pintu ruang kerjanya tidak tertutup rapat sehingga aku bisa meliha lampu kerja di kamarnya masih menyala.
Aku mengetuk pintu sekali dan membuka perlahan kamar kerja Askala.
Posisi Askala sudah menggunakan piyama tidurnya dan dia sudah berbaring dengan tidak nyaman di sofa kerjanya.
Dia lebih memilih meringuk tidak nyaman di sofa kerjanya dibandingkan berbaring di ranjang yang sama denganku.
Ketika melihatku masuk keruangannya, Askala terkejut seperti dia melihat hantu. Wajahnya tidak nyaman dan terlihat kaku, dia segera merubah posisinya menjadi duduk tegak disofa.
"apa aku menganggu"tanyaku
Dia tersenyum pura pura "Tidak, kau bisa duduk disini"
Kupikir dia akan marah padaku atau mengusirku dari ruangan kerjanya. Tapi bisa kulihat dia tidak nyaman, jadi aku memilih duduk bersebrangan dengannya.
"Apa ada masalah yang membuatmu kesini, jiva" Dia bertanya
"Bisa iya bisa tidak" aku menjawab
Wajahnya bingung, dia mencoba menebak apa yang akan ku lakukan.
Baginya aku adalah orang asing yang tiba-tiba hadir di kehidupannya. Dia pasti merasa tidak adil tapi dia harusnya sudah mengetahui perjodohan kami telah disiapkan bahkan sebelum kami lahir.
"Aska mungkin kamu punya sesuatu yang mau dibicarakan denganku"aku menatapnya tegas.
"Kau dan aku sudah menikah , suka tidak suka saat ini aku istrimu. Pernikahan kita bisa berjalan dengan baik jika kita bisa saling bicara , berkomunikasi"
Askala mengernyitkan dahinya "Apa aku berbuat salah padamu atau membuat sulit dirimu. Kurasa tidak ada hal yang membuatmu harus menuntut padaku"
"Aku memang harus menuntutmu bicara. Pernikahan ini diatur oleh keluarga kita, aku paham posisimu tidak nyaman denganku tapi aku bukan musuhmu. Aku dan kau itu di posisi yang sama" kataku.
Dia bukan orang bodoh tentu paham kearah mana aku bicara. Bagi kalangan kami, pernikahan bisnis tanpa perasaan adalah hal biasa. Dijodohkan dan menikah untuk memperkuat tali bisnis dalam ikatan darah.
Keluargaku saat ini tidak dalam posisi bisnis yang baik tapi kakek buyut kami merupakan teman masa kecil dari kota yang sama, merintis dari nol dan saling menyelamatkan satu sama lain hingga bisnis stabil. Kakekku pernah menyelamatkan keluarganya sehingga muncul hutang budi yang membuat adanya pernikahan diantara keluarga kami.
Dengan posisi keluargaku sekarang dia berpikir aku adalah lintah darah, keluargaku butuh pernikahan ini untuk bisnis kami sementara dari sisi Askala tentu pernikahan kami hanya untuk membayar hutang budi masa lalu.
"Kuharap kau kesini tidak hanya untuk merenggek padaku dan bicara omong kosong. Jika memang kau berpikir serius maka proposal kerjasama apa yang mau kau berikan" tanyanya.
Aku bukan gadis yang dibesarkan naif dalam keluarga kaya, aku pun berusaha bertahan diantara saudari dan saudaraku. Terlahir sebagai wanita tidaklah menguntungkan, bagi keluargaku terlahir sebagai wanita tidak lebih sama seperti komoditas dagang. Kami diperdagangkan dalam pernikahan bisnis kelas atas, dipoles seperti boneka porselen untuk bisa ditawarkan dalam pernikahan bisnis yang menjanjikan.
Pernikahan bisnis tidak banyak yang berakhir bahagia, sejak awal kami tidak punya pilihan dan tidak bisa berharap untuk dicintai. Jadi akupun tidak berharap pada cinta yang akan bisa diberikan oleh Askala padaku.
"Mungkin kau belum mendengar bahwa kakek berencana merombak susunan pekerja di rumah utama. Salah satu keluarga yang akan diberhentikan adalah keluarga Lidya" kataku.
Mendengar nama 'Lidya' wajah Askala tidak tenang.
Sebelum ini aku tentu memiliki informasi tentang kehidupan Askala, dia memiliki kekasih. Seorang wanita biasa yang besar dan tumbuh dengannya di rumah utama keluarga Brahma. Keluarga wanita itu bekerja di rumah utama, dia memiliki hubungan yang cukup intens dengan Lidya.
Tapi kehidupan kalangan kami tidak seperti sebuah dongeng, kita tidak bisa memilih pasangan sembarangan. Hidup kami sudah diatur.
Dan Askala tidak bisa memilih cinta lebih daripada nama keluarganya. Sehingga dia memilih untuk menikah bisnis denganku.
"Pasti kau lebih mengenal kakekmu dibanding aku, mengusir keluarga Lidya mungkin tidak cukup untuk membuatmu menyerah jadi kakek berencana menikahkan Lidya dengan orang lain" lanjutku.
Mendengar itu Askala marah, dia mengebrak meja keras.
"Apa keluargamu terlibat dan untuk apa kau membicarakan ini denganku" serunya.
Ego lelaki semua sama, mereka tidak suka barang yang mereka miliki di ambil orang lain. Mendengar bahwa mungkin Lidya akan bersama orang lain bisa memicu amarah dari Askala.
"Keluargaku sudah cukup banyak memiliki intrik internal jadi untuk apa kami ikut campur masalah asmaramu dan aku disini juga tidak berniat terlibat disana tetapi aku bisa menawarkan bantuan"
"Jika kau mau aku bisa memberikan Lidya dan keluarganya tempat aman sementara"
Askala tertawa mendengar apa yang ku ucapkan "Bantuan yang kau berikan tidak mungkin cuma-cuma dan apa kau pikir aku bisa percaya padamu, kau mau berbagi suami mu dengan wanita lain. Itu tidak masuk akal"
Dia pasti tidak mudah mempercayaiku, jika aku membantu Lidya tentu itu akan membuat Askala curiga dengan alasanku. Bagaimanapun aku adalah istrinya dan adanya Lidya tentu memberikan akses mudah Askala berselingkuh.
"Aku tentu punya syarat yang harus kau penuhi untuk bantuan yang ku tawarkan"
"Pertama, bantu aku untuk mendapatkan kepercayaan terlibat dalam bisnis keluarga kita"
"Kedua, Hargai aku sebagai istrimu dan perlakukan aku layak di publik. Aku mau diluar kita tampak bahagia dan harmonis. Maka aku akan menutup mata dan telinggaku untuk apa yang kau lakukan diluar sana termasuk ketika kau bersama Lidya"
Jika dia membutuhkan kekasihnya maka aku lebih butuh pengakuan dan kekuatan. Aku tidak mau membiarkan keutungan pernikahan ini dinikmati oleh Ayahku seorang. Jika dia mengorbankan diriku maka setidaknya aku harus mendapatkan bayaran yang setimpal.
"Apa yang membuatmu bisa berpikir aku akan setuju, kalau pun ada masalah dengan kehidupan pribadiku maka aku akan bisa mengurusnya sendiri" kata Askala.
Tentu tidak akan mudah membujuknya tapi apa yang ku tawarkan bukan tanpa pertimbangan. Untuk saat ini kurasa aku tidak bisa memaksa dia untuk mengikuti kemauanku.
"Sebenarnya kau tidak perlu terburu-buru memutuskannya. Jika memang kau rasa tawaranku tidak cukup baik saat ini" kataku.
Dia tidak dalam suasana hati yang baik dan melihatnya terdiam cukup lama membuatku mengambil keputusan untuk lebih dulu kembali ke kamarku.
Malam ini mungkin Askala akan tidur tidak tenang karena apa yang ku bicarakan. Itu berarti umpanku berhasil, aku cukup memberinya waktu sejenak berpikir apa yang perlu dia lakukan.
Jikapun dia bergerak lebih dulu sendiri pasti kakeknya akan membuat semua menjadi lebih sulit untuknya dan gadis itu.