6 years later
Beep beep beep
Bunyi alarm membangunkan Hye-Na dari alam mimpinya yang begitu damai. Semalam dia tidak tidur karena harus menyelesaikan naskah yang sedang dikerjakannya, deadline yang diberikan oleh editornya tinggal sebentar lagi dan Hye-Na tidak mau sampai dirinya mendapat wejangan karena keterlambatannya. Hye-Na mengerang kesal, lalu menutup kepalanya menggunakan bantal tidur. Baru beberapa menit Hye-Na kembali tertidur pulas, selimutnya disibakkan dan kakinya ditarik paksa oleh seseorang. Dia langsung mengerang protes dan menggerutu kesal. "Astaga lima menit lagi! Aku masih mengantuk!" Baru saja dia selesai mengatakan hal tersebut, bantal yang menutupi kepalanya diangkat secara paksa, dan sontak mata Hye-Na langsung terbuka. Manik cokelatnya langsung menatap dengan tajam sahabat juga teman sekamarnya di apartemen, Kim So-Ra.
"Lima menit bagimu, itu sama saja dengan lima jam di dunia nyata! Ayo bangun Hye-Na! Kalau tidak nanti kita telat!" So-Ra kembali menarik kakinya.
"Ukh---bisa tidak kau itu memberikanku waktu beberapa menit lagi? Semalaman aku tidak tidur, astaga!"
So-Ra menggeleng dan sekarang menarik tangan Hye-Na untuk mendudukkan wanita itu yang terlihat jelas masih setengah sadar. So-Ra terkekeh pelan lantas menjawab, "kalau kau tidak mau bangun juga Hye-Na, aku akan menyirammu dengan air dingin!"
Seketika itu juga Hye-Na langsung menegakkan badan dan matanya terbuka lebar. "Iya ... iya aku sudah bangun So-Ra, jadi jangan siram aku ya. Oke?" Hye-Na memohon kepada sahabat baiknya itu.
So-Ra tertawa lalu mengedikkan bahunya tak acuh. "Ayo cepat siap-siap! Sarapan sudah ada di meja makan," perintah sahabatnya yang berjalan keluar dari kamar Hye-Na. Setelah So-Ra keluar, Hye-Na langsung beranjak ke kamar mandi untuk bersiap-siap. Saat dirinya sibuk bersiap-siap, Hye-Na tiba-tiba jadi teringat pengalaman dirinya disiram air dingin oleh So-Ra karena alasan yang sama---tidak mau bangun. Hye-Na seketika bergidik ngeri saat mengingat kembali kejadian itu.
Waktu itu Hye-Na tidak tidur semalaman sama seperti malam ini. Saat itu dia berada di semester terakhir dan harus menyelesaikan skripsi yang tenggat waktunya tinggal beberapa hari lagi, karena sangat lelah, jadi Hye-Na tidak berkutik saat So-Ra membangunkannya. SO-Ra juga mengancam Hye-Na saat itu, tapi Hye-Na pikir sahabatnya itu tidak serius jadi Hye-Na pura-pura tidak mendengarnya dan memutuskan untuk melanjutkan mimpinya yang indah, tapi baru saja Hye-Na kembali terlelap. Byurrr, air dingin mengguyur wajahnya, membuat matanya terbuka dan hidungnya dimasuki air. Seketika itu juga Hye-Na terbangun dan terbatuk-batuk sambil menatap tajam sahabatnya yanh sedang tertawa puas di lantai.
Hye-Na menggeleng frustasi saat ingat akan kejadian itu. Sahabatnya itu memang terkadang bisa sangat kejam. Hye-Na sampai bingung kenapa dirinya bisa berteman baik dengan So-Ra, si wanita yang kejam itu.
Setelah selesai bersiap-siap. Hye-Na berjalan ke meja makan dan melihat So-Ra sedang meminum kopi paginya sambil melakukan sesuatu dengan serius di gadget yang terletak di samping kiri sahabatnya itu. Hye-Na menarik kursi dan duduk, membuat So-Ra melirik ke arahnya sebentar sebelum melanjutkan kembali entah apa yang sedang dia kerjakan di gadgetnya itu. "Jadi? Apa yang akan kau lakukan hari ini?" Tanya So-Ra.
Hye-Na berpikir sejenak. "Mungkin aku akan ke penerbit sebentar, lalu menghubungi Sang-Woo-shii untuk bertanya mengenai scheduleku hari ini.”
Sahabatnya hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf 'O' lalu kembali diam. Hye-Na menggelengkan kepala tidak mengerti karena sikap sahabatnya yang seperti seorang ibu. Tegas dan dewasa. Sedangkan dirinya? Entahlah Hye-Na tidak tahu.
Hye-Na adalah lulusan dari Seoul National University dua tahun yang lalu, dan sudah setahun ini dia bekerja sebagai seorang penulis buku dan menjadi seorang manajer bidang humas di salah satu perusahaan travel di kota Seoul. Lee Sang-Woo merupakan asisten pribadinya yang juga teman masa kecil Hye-Na. Di waktu senggang mereka bertiga; Hye-Na, So-Ra, dan Sang-Woo, sering keluar bersama-sama. Entah itu ke taman atau nonton film di bioskop. Kadang juga, So-Ra mengajak kekasihnya Hyun-Jae untuk keluar bersama mereka. Dan karena mereka, Hye-Na bisa melupakan masa lalunya yang begitu menyedihkan.
Setelah putus dari Philippe dan kembali ke Korea, Hye-Na memutuskan hubungan komunikasi dengan keluarga tirinya. Di samping Hye-Na tidak mau berbicara lagi dengan mereka, keluarga tiri dan ibu kandungnya hanya mengetahui nomor Hye-Na yang baru, yang diberikan oleh Philippe. Sedangkan nomor lama Hye-Na, mereka tidak pernah tahu. Karena Hye-Na pernah berkata kalau nomor tersebut sudah tidak dia dibutuhkan lagi, tapi ternyata takdir berkata lain. Hye-Na sebenarnya merasa sangat bersalah karena meninggalkan keluarga tirinya dan juga ibu kandungnya, mereka tidak pernah memperlakukan dirinya dengan buruk, walaupun dia tidak memiliki ikatan darah---kecuali sang ibu, tapi Hye-Na sudah tidak sanggup lagi untuk hidup di dunia yang memang bukan miliknya. Pikiran Hye-Na seketika terbuyarkan saat So-Ra memanggil namanya. "Hye-Na ... Hye-Na ... halo Hye-Na?"
"Ah iya kenapa So-Ra?" Hye-Na menggelengkan kepalanya sedikit untuk menghilangkan pikirannya yang mulai mengarah ke masa lalunya itu. Dia tersenyum dan mulai memakan sarapannya.
"Aku bertanya 'kau pulang jam berapa nanti?' Astaga---kau tidak mendengarkan aku ya?" Gerutu So-Ra tidak habis pikir.
"Maaf, sedang ada yang aku pikirkan tadi.” Hye-Na tersenyum kecil.
"Apa yang kau pikirkan? Soal masa lalumu itu? Atau keluarga tiri dan ibumu?" Hye-Na hanya menatap makanan yang ada di depannya. So-Ra memang sangat mengenal dirinya.
Hye-Na menghembuskan napasnya. "Umm ... begitulah, lupakan soal itu. Aku akan pulang sekitar jam delapan mungkin, jadi aku tidak makan malam di rumah.”
"Hah apa?"
Hye-Na memutar bola matanya melihat respon orang yang ada di depannya itu. "Kau tadi bertanya aku pulang jam berapa, dan itu jawabanku, dasar lemot.”
"Oh iya kau benar. Hei aku tidak lemot! yasudah ... aku juga sepertinya akan pulang telat karena ingin makan malam bersama-"
Belum selesai So-Ra berkata Hye-Na sudah memotong terlebih dahulu, "Hyun-Jae? Memangnya kapan Hyun-Jae pulang dari New York?" Tanya Hye-Na penasaran
"Tadi malam, dia meneleponku saat aku sedang di bus," jawab So-Ra.
"Oh ... jangan lupa bilang Hyun-Jae, oleh-olehnya dari New York ditunggu." Lalu Hye-Na meminum kopinya.
So-Ra hanya memutar bola matanya mendengar perkataan Hye-Na. "Umm Hye-Na, kamu lihat berita semalam tidak?" Tanya So-Ra dengan hati-hati.
Hye-Na meletakkan cangkir kopinya yang kosong dan menatap So-Ra sambil menaikkan sebelah alisnya, sedangkan So-Ra masih menatapnya, menunggu jawaban dari Hye-Na. Hye-Na mengernyit, kemudian menggelengkan kepala dan menjawab, "tidak." So-Ra menghembuskan napasnya lega saat mendengar jawaban dari Hye-Na. Hye-Na yang merasa curiga dengan tingkah So-Ra, langsung mendelikkan mata tajam dan bertanya, "memangnya kenapa?"
So-Ra yang tidak tahu kalau Hye-Na akan kembali bertanya, langsung terlonjak kaget. Dia menggelengkan kepala sambil mengibaskan telapak tangannya di udara. "Tidak ... tidak ada apa-apa." Hye-Na menatap sahabatnya itu.
Hye-Na tahu kalau sahabatnya menyembunyikan sesuatu. "So-Ra aku tahu kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu."
Sejenak So-Ra diam. Dia seperti menimbang-nimbang sesuatu, namun akhirnya berkata, "Aku melihat berita di kantor, hotel bintang lima yang di bangun di daerah Gangnam sudah selesai dan besok malam akan ada acara pembukaannya." So-Ra menjelaskan dengan pelan. Hye-Na mengernyit bingung, tapi dia masih diam agar So-Ra dapat menyelesaikan penjelasannya. "Kau tahu bukan kalau hotel itu akan menjadi hotel termegah di Korea? Dan saat aku mendengar berita itu, aku terkejut saat tahu kalau pemilik hotel itu adalah SpencesCross Inc. Jadi dengan kata lain ... umm kau mengerti maksudku bukan?" So-Ra menyelesaikan kalimatnya dengan pertanyaan.
Hye-Na tersentak kaget mendengar penjelasan So-Ra. Itu berarti ... "iya aku tahu apa yang kau maksud So-Ra, pemilik perusahaan itu keluarga Spencer, jadi berarti hotel itu adalah milik keluarga Spencer. Atau bisa dibilang Philippe," jawab Hye-Na dengan nada datar.
"Tapi bukan itu saja, aku dengar dari temanku kalau bukan hanya keluarga Spencer yang hadir. Keluarga Cornell juga akan hadir. Karena keluarga Cornell juga turut andil dalam pembangunan hotel tersebut." So-Ra menyelesaikan penjelasannya dan menunggu reaksi Hye-Na.
Tentu saja reaksi Hye-Na hanya satu, diam. Kemudian dia menarik napas sebanyak mungkin dan dengan perlahan mengeluarkannya. Terus seperti itu berulang-ulang. Dia melakukan itu untuk menenangkan batinnya serta membuang perasaan panik dan sedihnya. "Temanmu tahu semua itu darimana?"
"Dia bekerja di perusahaan event organizer, dan perusahaannya tempatnya bekerja telah ditunjuk sebagai penyelenggara acara peresmian hotel tersebut, dan kebetulan temanku bekerja di bagian tamu undangan."
Hye-Na hanya mengangguk paham dan langsung meraih handphonenya yang bergetar. "Ya? Sang-Woo-shii, ada apa? ... oh iya ... iya ... baiklah ... jangan marah ... aku segera kesana ... tunggu aku di lobby ... iya astaga sabar ... baiklah ... bye.” kemudian telepon ditutup.
"Ada apa?" Tanya So-Ra saat melihat Hye-Na yang buru-buru merapihkan piringnya danan meraih tasnya lalu bergegas meninggalkan apartemen.
"Biasa si 'artis gagal' sudah berada di bawah tidak ga sabar menungguku di lobby, dia pikir aku sudah menunggunya disana, tapi ternayata aku masih disini dan dia menghubungiku lalu menyuruhku untuk turun,” terang Hye-Na sambil memutar bola matanya jengkel.
So-Ra tertawa keras saat mendengar Hye-Na memanggil Sang-Woo dengan nama julukannya 'artis gagal', Karena dulu Hye-Na sempat berpikir kalau Sang-Woo ingin menjadi artis, namun karena suatu hal pria itu ditolak oleh agensi. Tidak salah kalau Hye-Na berpikir seperti itu, karena Sang-Woo sangat tampan. Lagipula Hye-Na pernah mendengar kalau mimpi Sang-Woo ingin menjadi seorang aktor. Jadi karena pemikiran itu, Hye-Na kadang mengejek Sang-Woo dengan julukan 'artis gagal'. Namun yang sebenarnya, mimpi Sang-Woo adalah menjadi seorang pengacara hebat, itu sebabnya saat ini Sang-Woo sedang menjalani kuliah pascasarjana dan membutuhkan uang, jadi untuk sementara waktu Sang-Woo bekerja sebagai asisten pribadi Hye-Na.Tapi dia hanya berkata 'artis gagal' hanya di belakang Sang-Woo. Kalau di depan Sang-Woo, Hye-Na tidak berani, karena kalau Sang-Woo marah, pria itu bisa sangat menyeramkan serta kejam sama seperti So-Ra. Hye-Na menggelengkan kepalanya tidak mengerti kenapa dia bisa berteman dengan orang-orang yang kejam, tapi walaupun begitu, mereka sangat perhatian dan protektif kepada Hye-Na.
Hye-Na berdiri di depan pintu apartemen dan mengecek semua barang bawaannya. Setelah dirasa cukup, dia berjalan menuju lift.