Merlin tetap menjalankan kegiatan di panti sesudah menolak surat atas nama Ajeng. Ia tidak ingin setiap langkahnya ditentukan oleh seseorang yang bersembunyi di balik nama orang mati. Namun, ketika harus pulang dari sebuah kegiatan di luar panti, ia meminta Elly menjemputnya. Mereka memilih bertemu di pintu keluar gedung yang masih ramai. Tidak ada janji dengan pengirim surat.
Elly tiba ketika adiknya sedang menutup tas. Di seberang jalan, seorang perempuan berkacamata gelap menunggu dengan map tipis di tangan. Merlin melihatnya lebih dahulu. Ia memegang lengan Elly dan mengatakan perempuan itu mengingatkannya kepada orang yang menyapa di pemakaman. Ia belum sempat memastikan sebelum perempuan tersebut menyeberang dan berhenti di dekat mereka.
'Manoa,' katanya. 'Kau harus ikut denganku. Mereka akan membuatmu mengaku semua yang tidak kau lakukan.'
'Saya tidak mau pergi,' jawab Merlin.
Elly berdiri di sisi adiknya. Ia menanyakan nama perempuan itu dan alasan ia datang. Perempuan tersebut hanya menyebut orang-orang yang pernah berurusan dengan Robi. Ia mengatakan Elly terlalu dekat dengan PIC untuk memahami siapa yang sebenarnya membutuhkan pertolongan. Sambil berbicara, ia bergerak ke sisi Merlin yang tidak terlindung oleh tubuh kakaknya.
Merlin mundur ke arah pintu. Perempuan itu meraih tali tasnya. Elly menepis pegangan tersebut, sementara Merlin melepaskan tas dari bahunya agar dapat menjauh. Perempuan berkacamata mencoba mendekat lagi. Suara Elly memanggil petugas keamanan membuat beberapa orang menoleh. Seorang petugas keluar dari gedung dan berdiri di antara mereka.
Perempuan itu mengatakan mereka salah paham. Ia hanya ingin mengantar seorang kenalan pulang. Merlin menjawab cukup keras agar petugas mendengarnya: ia sudah menolak dan tidak mengenal orang itu. Ketika petugas meminta perempuan tersebut menunggu, ia menjatuhkan map dan berbalik ke jalan. Petugas lain memilih membawa Merlin masuk daripada meninggalkan pintu untuk mengejar.
Di ruang keamanan, Elly mengambil air minum dan meminta adiknya duduk. Merlin memeriksa pergelangan tangannya sendiri. Ia tidak terluka, tetapi gemetar ketika mengingat pegangan pada tas yang hampir membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia meminta Elly menelepon Kaluma. Kali ini ia ingin membuat laporan resmi agar kejadian itu tidak hilang sebagai pertengkaran di depan gedung.
Kaluma datang bersama Hanung. Mereka menerima rekaman yang memperlihatkan pendekatan dan pegangan pada tas, serta keterangan petugas yang memisahkan kedua perempuan. Wajah dalam rekaman tidak seluruhnya jelas. Namun, mereka tidak perlu mengetahui nama pelaku terlebih dahulu untuk mencatat perbuatannya. Merlin membacakan kembali ringkasan keterangannya dan memperbaiki bagian yang mengatakan perempuan itu menyebut Bokeh.
'Dia tidak menyebut nama itu. Dia menyebut Robi.'
Hanung mengubah kutipan tersebut. Map yang terjatuh hanya berisi selembar kertas dengan bekas tekanan yang tidak terbaca. Barang itu disimpan bersama catatan penemuannya. Bekas tulisan itu belum dapat memberi mereka nama yang dapat dicari. Petunjuk terkuat mereka hari itu tetap tindakan yang dilihat petugas dan ucapan Merlin sendiri.
Seorang pengunjung yang menyaksikan kejadian meninggalkan nomor yang dapat dihubungi penyidik. Ia melihat Merlin menolak sebelum tasnya diraih. Keterangannya dicatat terpisah dari cerita Elly, sehingga tidak seluruh peristiwa harus bergantung pada dua saudara tersebut. Petugas keamanan juga menyimpan waktu kejadian agar salinan rekaman yang diminta tidak keliru mengambil hari lain.
Barry menjemput Elly dan Merlin melalui pintu samping. Merlin memilih bermalam di rumah kakaknya untuk sementara, bukan karena PIC memerintahkannya pindah. Bunda Ida diberi kabar mengenai pilihannya. Barry menyiapkan kamar tamu dan menyerahkan kuncinya kepada Merlin. Ia tidak meminta cerita kejadian itu sebagai syarat membukakan pintu rumahnya.
Dean menerima laporan di kantor. Ia tidak menyesali bahwa Merlin menolak datang sendirian sebagaimana diminta surat. Justru penolakan itu membuat perempuan tersebut mengambil risiko muncul sendiri. Namun, tim tidak menjadikan keberanian Merlin sebagai alasan membawanya menghadapi tersangka lagi. Mereka akan menelusuri rekaman dan bukti lain tanpa mengulang ancaman terhadapnya.
Pemeriksaan surat dan rekaman tidak segera menghasilkan nama. Perhatian Dean beralih kepada berkas serangan terhadap dirinya. Ancaman kepada dua orang yang dekat dengan penyelidikan dapat dijawab dengan bukti yang sudah ada: catatan layanan hotel ketika mawar dan jempol dikirim, serta biaya kamar di bangunan seberang apartemen. Kaluma mengajukan permintaan melalui penyidik setempat.
Hanung menemaninya melihat berkas penembakan. Penyerang bertudung yang telah ditaklukkan Zacky mati terkena tembakan dari luar. Ia adalah sopir yang terkait penculikan Nono, bukan orang asing yang kebetulan melintas di kamar. Dean membenarkan tindakannya menempatkan orang itu dekat jendela. Ia tidak dapat membuktikan apakah penembak di seberang membidiknya, penyerang tersebut, atau siapa pun yang terlihat pada posisi itu.
Ia harus menanggung pilihan yang dibuatnya tanpa mengarang bahwa ia mengetahui siapa yang akan ditembak. Hanung mencatat pengakuan itu bersama perkiraan arah proyektil. Foto kaca dan pemeriksaan lokasi menunjuk bangunan hotel sebagai arah yang perlu ditelusuri, tetapi belum menentukan seorang tamu sebagai penembak. Mereka meminta dokumen pada rentang waktu yang berkaitan, bukan daftar kehidupan semua pengunjung.
Malam itu Elly duduk di luar kamar tamu ketika Merlin meminta ditemani. Mereka tidak membicarakan cuitan. Merlin ingin tahu apakah bonekanya masih aman di panti. Elly mengatakan Bunda Ida sudah menyimpannya sesuai permintaannya dan akan membawakannya esok hari. Merlin mengangguk. Sesudah seharian mempertahankan hak untuk tidak dibawa seseorang, ia hanya menginginkan satu benda yang boleh dipilihnya sendiri untuk dibawa pulang.
Jawaban hotel tiba beberapa hari kemudian. Sebuah kamar yang mungkin sesuai dengan arah tembakan dibayar tunai melalui perantara. Pengembalian depositnya memakai rekening berbeda dari nama pemesan. Petugas hotel masih memiliki tanda terima. Nomor pada tanda terima itu membuat Hanung membuka kembali lampiran pengeluaran yang berkaitan dengan kendaraan Nono.
Dean hampir menghubungkan kedua nama hanya dari dua angka terakhir. Ia menunggu Hanung membawa dokumennya. Nomor rekening ternyata berbeda, tetapi ada pembayaran dari perantara yang sama pada jalur keduanya. Kesamaan itu perlu diuji petugas keuangan. Untuk pertama kalinya sejak perempuan berkacamata mendatangi Merlin, mereka mempunyai arah pencarian yang tidak bergantung pada ingatan wajah yang ketakutan.