Pagi kesembilan, Anjani membuka laptop di meja makan setelah sarapan. Tugas kuliahnya tentang pembagian kerja di layanan kesehatan masih harus dirapikan. Ia menambahkan catatan tentang jadwal yang bertabrakan, lalu berhenti ketika panggilan dari Jonathan masuk.
'Jo, polisi sudah menghubungi?' tanyanya setelah menyapa.
'Iya. Mereka mau dengar lagi urutan pas hari itu. Aku bilang siap.'
'Kalau kamu ingat ada bagian yang nggak jelas, bilang saja nggak jelas. Jangan nebak.'
'Dokter Anjani mengajar saksi sekarang?'
'Aku mengingatkan. Aku juga sudah beberapa kali diwawancarai.'
'Tenang. Aku tahu bedanya ingatan sama dugaan. Aku ingat kamu jatuh dari papan, terus berdarah. Aku juga ingat kamu melihat pria itu sebelum aku sampai di dekatmu.'
'Dan kamu yang memeriksa apakah dia masih bernapas.'
'Betul. Kita menunggu bantuan. Dua teman lokal yang ikut bersama kita pergi mencari pertolongan.'
Anjani mengangguk, meski Jonathan tak bisa melihatnya. 'Kamu tidak perlu menanggung semua ini sendiri.'
'Jani, aku saksi, bukan pelaku.'
'Aku tahu. Aku cuma tidak ingin kamu merasa harus mengurus semuanya.'
Jonathan menghela napas di ujung telepon. 'Aku juga tidak ingin kamu kembali merasa bertanggung jawab atas hidup Kai.'
'Aku tidak.'
'Bagus. Kamu punya kelas dan kerjaan sendiri. Jangan duduk di lorong rumah sakit sampai malam cuma karena dia belum cerita.'
Anjani terdiam. 'Aku memang sudah berhenti menunggu.'
'Pertahankan.'
Mereka membicarakan jadwal Tita dan rencana makan siang, lalu menutup telepon. Anjani kembali ke tugasnya. Ia menulis beberapa kalimat, menghapus satu bagian yang terlalu umum, dan memasukkan contoh yang tidak memuat identitas pasien. Pekerjaan itu memaksanya memikirkan sistem, bukan hanya satu orang yang kebetulan hadir dalam pikirannya.
Hari kesepuluh dimulai dengan jadwal kuliah lebih pagi. Anjani menyelesaikan tugas di perpustakaan kampus sebelum menuju rumah sakit. Ia memilih meja dekat jendela, menata laptop, buku, dan catatan agar tidak tergoda membuka ponsel. Namun ketika layar menyala dengan pesan Robert bahwa Kai telah memberikan persetujuan untuk bertemu petugas, ia membaca sekali lalu menyimpan ponselnya lagi.
Ia tidak berada di ruangan saat pemeriksaan berlangsung. Robert menangani komunikasi dengan Kai dan petugas, sementara Anjani melanjutkan tugasnya. Ia tidak tahu pertanyaan apa saja yang diajukan, dan tidak meminta salinan keterangan. Menjelang sore, ia melihat Jonathan di koridor rumah sakit. Temannya baru saja selesai berbicara dengan petugas.
'Jo,' sapa Anjani. 'Kamu baik-baik saja?'
'Baik. Mereka cuma minta aku mengulang yang kuingat. Aku menjelaskan aku datang setelah mendengar kamu memanggil.'
'Terus?'
'Aku memeriksa dia, lalu minta dua teman lokal mencari bantuan. Aku juga cerita kamu terluka karena karang. Itu saja yang kulihat.'
'Bagus. Kamu menyampaikan yang kamu tahu.'
'Petugasnya membandingkan waktuku sama keteranganmu. Mereka punya catatan dari rumah sakit dan hasil pemeriksaan.'
Anjani mengangguk. 'Kamu tidak merasa ditekan?'
'Enggak. Mereka bertanya dengan jelas. Kalau aku lupa, aku bilang lupa.'
Jonathan menatapnya dengan sorot yang lebih lembut. 'Kamu sendiri sudah istirahat cukup?'
'Sepertinya.'
'Itu bukan jawaban.'
'Aku sedang mencoba.'
'Bagus. Jangan jadikan luka ini lomba siapa paling kuat.'
Anjani tertawa. 'Baik, Pak Jonathan.'
Mereka berpisah ketika Robert datang membawa map. Ia tidak mengungkapkan isi keterangan Kai, hanya mengatakan bahwa Kai telah menyampaikan sebagian kronologi secara resmi. Ia juga menegaskan bahwa keterangan Jonathan cocok pada bagian penemuan: lokasi umum, keadaan Kai ketika mereka menemukannya, dan waktu bantuan dipanggil. Tidak ada perbedaan besar pada bagian yang bisa diamati langsung.
'Jadi semuanya cocok?' tanya Anjani.
'Untuk bagian penemuan, iya. Bagian sebelum itu masih diselidiki.'
Anjani memahami bahwa itu batas informasi yang bisa ia terima. Ia mengangguk lalu kembali ke tugas.
Menjelang malam, ia bertemu Kai di kamar dengan Robert dan petugas yang hadir. Ia hanya masuk setelah Kai mengizinkan Robert menyampaikan bahwa Anjani boleh berada di sana sebagai pendengar. Anjani duduk dekat pintu, bukan di sisi ranjang.
'Kamu sudah bicara dengan polisi?' tanyanya.
Kai mengangguk. 'Saya menceritakan hal-hal yang saya ingat. Saya belum memberi semua nama.'
'Kamu tidak harus menceritakan kepada saya.'
'Saya tahu. Tapi ada satu hal yang perlu kalian pahami. Pertemuan yang saya datangi di Banyuwangi berkaitan dengan uang.'
Anjani menahan gerak. Robert tidak menyela.
'Perselisihan tentang jumlah dan catatan pembayaran,' lanjut Kai. 'Saya meminta semuanya diperiksa. Orang yang saya temui menganggap saya menahan sesuatu.'
'Apakah kamu merasa ada ancaman sebelum diserang?' tanya Robert.
Kai menunduk. 'Ada kata-kata yang membuat saya takut. Saya tidak siap mengulangnya sekarang.'
Robert mengangguk. 'Kita tidak akan memaksakan itu. Apakah kamu sudah memberi tahu petugas tentang perselisihan uang?'
'Ya. Saya bilang ada masalah pembayaran, tetapi saya belum menyerahkan semua catatan.'
Anjani tak bertanya siapa yang menuntut uang atau berapa jumlahnya. Ia melihat wajah Kai semakin tegang. 'Kamu boleh berhenti.'
'Saya ingin polisi melihat bukti sebelum orang lain membuat cerita tentang saya.'
'Kalau begitu, serahkan bukti lewat petugas dan minta salinannya dicatat,' kata Robert. 'Jangan kirim ke orang lain sendiri.'
Kai mengangguk. Ia meminta waktu untuk mengumpulkan dokumen dan memastikan tidak ada hal pribadi lain ikut tersebar. Petugas mencatat permintaannya. Anjani menyadari motif mulai tampak, tetapi belum menjadi jawaban lengkap. Ia pamit setelah Kai menyampaikan bahwa ia ingin beristirahat.
Pagi kesebelas, Anjani bangun dengan pikiran lebih ringan setelah menuntaskan sebagian besar tugasnya. Ia sarapan, mengecek jadwal kerja, lalu mengirim pesan kepada Ningsih untuk memastikan tenggat pesanan masih realistis. Tidak ada pekerjaan baru yang ia ambil sendiri.
Di rumah sakit, Robert sedang duduk di ruang staf bersama Kai dan petugas yang menangani perkara. Anjani berhenti di ambang pintu ketika melihat mereka. Ia tidak masuk sebelum Robert menoleh.
'Kai mengizinkan kamu hadir,' kata Robert. 'Kalau kamu tidak nyaman, tidak perlu.'
Kai memandangnya dari kursi. 'Saya ingin Anda tahu saya menyerahkan catatan yang saya punya. Tapi saya tidak ingin membicarakan isi rinci di luar proses.'
Anjani mengangguk. 'Aku menghormati itu.'
Petugas menaruh map tertutup di atas meja. Kai memeriksa tanda terima, memastikan dokumen yang diserahkan tercatat sebagai barang bukti atau bahan pemeriksaan sesuai prosedur yang dijelaskan kepadanya. Ia bertanya bagaimana ia dapat memperoleh bukti penerimaan. Petugas menunjukkan bagian yang perlu ia simpan. Tidak ada pembahasan angka di depan Anjani.
'Saya tidak menyerahkan dokumen asli yang masih saya perlukan untuk memahami perhitungannya,' kata Kai. 'Saya serahkan salinan yang sudah saya pilih.'
'Pilihan itu dicatat,' jawab petugas. 'Kalau nanti ada kebutuhan dokumen lain, kami akan menghubungi melalui jalur resmi.'
Kai mengangguk. Ia tampak cemas, tetapi tidak menarik kembali mapnya. Robert membiarkannya membaca setiap bagian sebelum menandatangani tanda terima. Anjani melihat cara Kai memeriksa satu per satu, tidak tergesa-gesa dan tidak membiarkan orang lain memilihkan untuknya. Ia tampak lebih kuat daripada saat pertama sadar, meski wajahnya masih menunjukkan kelelahan.
'Apakah ada orang lain yang memiliki salinan?' tanya petugas.
Kai terdiam sejenak. 'Saya tidak yakin.'
'Kalau kamu mengingatnya, sampaikan kemudian. Jangan mencari sendiri.'
'Saya mengerti.'
Setelah petugas menyimpan map, Kai memandang Robert. 'Saya belum ingin keluarga saya tahu soal uang ini.'
'Polisi sudah tahu batas yang kamu minta. Kalau ada perubahan, kamu bisa memberi persetujuan baru.'
Anjani tidak menyela. Ia hanya berada di sana karena Kai mengizinkan, bukan untuk menjadi penengah. Saat percakapan berakhir, ia bertanya, 'Kamu ingin aku tetap di sini?'
Kai menggeleng. 'Tidak. Terima kasih sudah datang.'
Anjani bangkit. 'Kalau begitu, aku kembali kerja.'