Dua hari kemudian, Kai kembali ke rumah sakit untuk menyerahkan satu formulir yang berkaitan dengan kontrolnya. Anjani sedang menyelesaikan shift ketika Robert mengatakan bahwa Kai meminta berbicara sebentar setelah urusan administrasi selesai. Ia tidak langsung setuju.
'Apakah ini terkait perawatan?' tanyanya.
'Tidak,' jawab Robert. 'Kontrolnya ditangani tim lain. Formulirnya juga sudah diterima. Dia ingin bertanya sesuatu sebagai kenalan.'
Anjani menimbang beberapa detik. 'Aku bisa mendengar sebentar, di ruang tunggu umum. Kalau aku tidak nyaman, aku akan bilang.'
Robert menyampaikan batas itu kepada Kai, lalu mereka bertemu di ruang tunggu yang mulai sepi. Tidak ada meja pemeriksaan atau map medis di antara mereka. Robert tetap berada tidak jauh, memberi ruang tanpa meninggalkan Anjani sendirian.
Kai berbicara lebih dulu. 'Saya ingin mengajak kamu minum kopi kapan-kapan. Bukan untuk membahas biaya atau perawatan. Saya ingin bicara sebagai Kai, bukan pasien.'
Anjani memperhatikan wajahnya. 'Kamu tahu aku bisa menolak?'
'Tentu. Kalau kamu tidak ingin, saya tidak akan mengulang ajakan ini.'
'Dan biaya rumah sakit tidak ada hubungannya dengan ajakan itu?'
'Sama sekali tidak. Semua biaya sudah saya urus melalui administrasi. Saya tidak menganggap pertolonganmu sebagai utang yang harus dibayar dengan waktu.'
Anjani mengangguk, tetapi belum menjawab. Ia ingin memastikan bahwa undangan itu tidak muncul karena Kai merasa wajib menyenangkan orang yang menemukannya. 'Kamu juga boleh membatalkan kapan saja kalau berubah pikiran. Aku tidak akan menganggapnya sebagai penghinaan.'
'Saya mengerti.'
'Kalau kita bicara, aku tidak akan memaksa kamu menceritakan kasus. Kita bisa bicara tentang hal lain.'
'Saya justru ingin mengenal kamu di luar pantai dan rumah sakit. Tapi saya tidak mau menjadikan itu tuntutan.'
Anjani merasakan campuran tertarik dan waspada. Ia hampir tertawa karena Tita baru saja menasihatinya agar tidak menaruh orang baru dalam daftar calon suami. Ia ingin memastikan ia tidak sedang menyetujui karena kasihan atau merasa berutang.
'Kenapa kamu mengajak aku?' tanyanya.
Kai memikirkan jawabannya. 'Saya ingat kamu berbicara dengan saya tanpa meminta saya membalas. Saya ingin tahu seperti apa kamu saat tidak sedang bekerja.'
'Itu jawaban yang cukup jujur.'
'Saya tidak tahu apakah kamu tertarik.'
'Aku juga belum tahu.'
'Kalau begitu, kamu tidak perlu menjawab sekarang.'
Anjani mengapresiasi ruang yang diberikan. Ia memandang keluar jendela. 'Aku bersedia minum kopi sekali. Tapi aku ingin jelas: ini hanya obrolan. Aku tidak mencari suami dan tidak ingin terburu-buru.'
Kai mengangguk. 'Saya juga tidak meminta jawaban tentang masa depan.'
'Kalau begitu, kita atur waktu setelah kamu memastikan jadwal kontrolmu tidak terganggu dan setelah aku mengecek kuliah.'
'Baik.'
Robert mendekat ketika mereka selesai berbicara. Ia mengingatkan bahwa Anjani harus kembali ke ruang staf. Kai berdiri dan berterima kasih karena ia sudah mendengarkan. Anjani menjawab, 'Aku belum berjanji apa pun selain satu kali minum kopi.'
'Saya paham.'
Ia kembali ke pekerjaannya, tidak mengikuti Kai keluar.
Anjani mengirim pesan kepada Kai keesokan hari melalui nomor yang ia berikan hanya untuk mengatur pertemuan. Ia memilih tempat umum yang dekat dengan kampus, pada sore tanpa jadwal kerja. Pesannya menyatakan bahwa ia bisa bertemu selama sekitar satu jam. Kai membalas bahwa ia memahami batas waktunya dan akan datang sendiri.
Ia tidak meminta Robert ikut. Kai pun tidak membawa siapa pun. Mereka bertemu di kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Anjani tiba lebih dulu dan memilih meja dekat jendela. Ia tidak membawa berkas rumah sakit atau catatan kasus. Kai datang beberapa menit kemudian, berjalan hati-hati dan memilih kursi tanpa banyak bergerak.
'Terima kasih sudah datang,' katanya.
'Ini cuma kopi,' jawab Anjani sambil tersenyum. 'Tidak perlu dibuat seperti pertemuan resmi.'
'Saya masih terbiasa menyiapkan kalimat sebelum bicara.'
'Kalau begitu, kita bisa mulai dari hal yang tidak perlu disiapkan.'
Mereka memesan minuman dan membicarakan perjalanan, pekerjaan, serta kebiasaan sederhana. Anjani bercerita bahwa ia bekerja sebagai dokter, kuliah di bidang manajemen kesehatan, dan mengelola toko fashion bersulam bersama karyawan. Kai mendengarkan tanpa menilai pilihannya. Ia bertanya bagaimana Anjani membagi waktu dan apa yang paling ia sukai dari pekerjaannya.
'Saya suka membuat sesuatu dengan tangan,' kata Anjani. 'Toko itu awalnya cuma hobi. Sekarang ada orang lain yang bergantung pada keputusan saya, jadi saya belajar tidak menerima semua pesanan.'
'Apakah kamu masih ingin menjadi spesialis?'
'Untuk sekarang aku memilih S2 manajemen kesehatan. Dulu aku merasa harus menempuh PPDS karena keluargaku dokter. Aku ingin menjalani pilihanku sendiri dulu.'
Kai tidak berkata bahwa ia harus mengikuti satu pilihan. 'Kamu terlihat lebih lega saat bilang belum tahu.'
'Mungkin karena aku tidak sedang berpura-pura yakin.'
Mereka terdiam sesaat. Kai bercerita bahwa ketika terluka, ia cenderung menarik diri. Ia tidak menjelaskan hubungan lamanya dengan nama atau detail, tetapi mengakui bahwa sikap diamnya membuat orang di sekitarnya sulit memahami apa yang ia pikirkan.
'Saya sering merasa lebih aman jika tidak bicara,' katanya. 'Tapi itu juga membuat masalah tidak selesai.'
Anjani memahami perasaan itu, meski tidak ingin menyamakan pengalaman mereka. 'Aku justru sering terlalu banyak bicara dan mengambil alih. Dalam hubunganku yang lalu, aku mengira kalau aku cukup membantu, semuanya akan berhasil.'
'Apakah itu berhasil?'
'Tidak. Aku lupa bertanya apakah orang itu juga berusaha.'
Kai mengangguk. 'Saya pernah menghindar ketika seharusnya menjelaskan sesuatu. Saya tidak ingin mengulanginya.'
'Kalau suatu saat kamu butuh waktu, kamu bisa bilang butuh waktu. Diam tanpa penjelasan membuat orang lain menebak-nebak.'
'Saya akan mencoba.'
'Dan aku akan mencoba tidak langsung memperbaiki semuanya.'
Mereka tidak membahas siapa yang salah dalam hubungan lama masing-masing. Anjani menyebut bahwa ia pernah terlalu terikat pada rutinitas Chelsea dan Arya sampai tidak menyadari dirinya sendiri makin jauh dari tujuan. Kai tidak bertanya apakah ia masih menyayangi Chelsea. Ia hanya mendengarkan.
Mereka menyelesaikan minuman sebelum Anjani harus pergi. Ia mengingatkan Kai bahwa percakapan itu tidak memberinya kewajiban untuk menceritakan bagian yang belum siap. Kai menjawab bahwa ia menghargai hal itu, lalu mengucapkan terima kasih karena Anjani datang sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai dokter yang menunggui pasien.
Anjani menerima ucapan itu tanpa menjadikannya janji. 'Aku juga berterima kasih karena kamu tidak menganggap waktuku sebagai sesuatu yang harus dibayar.'
Mereka berpisah di depan kafe. Kai tidak menawarkan untuk mengantar, dan Anjani tidak meminta. Masing-masing pulang dengan urusan sendiri. Di perjalanan, Anjani menyadari ia bisa menikmati satu percakapan tanpa harus langsung menentukan ke mana arahnya.