*******
Aku hanya bisa berdoa semoga hari-hariku dikelilingi orang-orang yang baik nantinya~ Adiba
*******
~Adiba Pov
Aku mematut wajahku di depan cermin riasku. Aku oles wajahku dengan bedak dengan riasan natural. Akhirnya, setelah sekian lama, penantian berpuluh-puluh tahun dahulu, akhirnya cita-cita yang ku impikan menjadi kenyataan yaitu menjadi seorang awak kabin atau yang dikenal dengan Pramugari. Cita-cita yang penuh perjuangan dan penuh cacian dari orang sekitar. Bagaimana tidak, profesi tersebut dicap sebagai wanita yang suka mengumbar kemaksiatan, aku berpikir semua pekerjaan itu halal asal tidak mencuri. Tetapi, pramugari? Mengapa sampai disamakan dengan pekerjaan wanita di luar sana yang sering bersama banyak lelaki, melakukan hal itu yang seolah-olah disamakan dengan pekerjaan yang tak mementingkan harga diri wanita.
Memang ada oknum pramugari yang melakukan tindakan tak pantas tersebut, tetapi bukankah pramugari juga pekerjaan mulia yang dengan sopan santunnya menunjukkan keramah-tamahan , selalu membantu penumpang yang mungkin belum pernah berpengalaman naik transportasi udara. Seorang profesi yang mulia, menurutku. Dan para tetangga dan putra putri mereka yang seumuran dengan ku, ada juga yang mencibir keluargaku. Bahwa, anak seorang petani tak akan mampu sukses, mau setinggi apapun aku kuliah, pasti nanti akan jadi petani meneruskan pekerjaan sehari-hari kedua orang tuaku, ada pula yang bilang bahwa aku kuliah berpangkat berapapun, ketika sudah berumah tangga pasti akan menjadi ibu rumah tangga dan bentuk cibiran orang-orang lainnya terhadap impian ku ini. Aku akan menunjukkan bahwa aku bisa menjadi orang yang baik, sukses dan berprestasi dalam bidang apapun dan aku bertekad harus membahagiakan kedua orang tuaku dengan meraih impianku. Kedua orang tuaku sangat mendukung ku, aku sangat bersyukur mereka sangat memahami dan mendukung penuh atas keputusanku. Karena merekalah aku menjadi kuat, dan tak pantang menyerah dalam segala bentuk cibiran orang di sekitarku.
Ku pakai baju kemeja putih polos berlengan panjang dan rok span bermode klok A panjang sampai di atas mata kakiku. Lalu ku sanggul dengan rapi rambutku yang hitam berkilau. Aku memakai ID Card yang menunjukkan identitasku, tak lupa aku juga memasang pin berlambang sayap. Di dalam ID Cardku tertera nama Syaqila Adiba Arfan trainer Wings Air. Adiba namaku, aku sangat bahagia sekali setelah lulus pelatihan pramugari 1 bulan yang lalu, akhirnya aku bisa mencapai impian kecilku. Alhamdulillah aku bersyukur sekali atas pencapaian selama ini, semua kerja keras dan doa ku bersama kedua orang tuaku akhirnya terkabul. Awalnya aku sedikit kecewa karena aku mengira setelah lulus pelatihan selama 1 tahun langsung bisa bekerja di maskapai impian. Tetapi, prosedur pihak Wings Air mewajibkan, setiap calon pramugari harus di latih terlebih dahulu dalam hal seleksi serta kelayakan pramugari itu sendiri. Aku pun menerima hal itu, memang Wings Air ini adalah maskapai yang sangat ku idam-idamkan. Setelah siap dengan pakaian ku, tak lupa aku langsung turun ke lantai bawah untuk mempersiapkan sarapan untukku. Aku masih tinggal di asrama pelatihan khusus pramugari, tetapi setelah traine sore nanti, aku akan pindah tempat ke rumah yang sudah di sediakan oleh pihak Wings Air, ya sepetak rumah lengkap beserta isinya berukuran 9 meter X 11 Meter, tetapi aku bersyukur bahwa aku tak perlu lagi repot-repot untuk mencari kontrakan apalagi di ibukota Jakarta yang seluas ini. Rumah yang berfasilitas lengkap di khususkan untuk para traine selama 3 bulan menjalankan tugas. Setelah di terima menjadi pramugari junior yang tetap nanti, pramugari tersebut akan mendapatkan rumah tersebut. Ku ucapkan syukur yang amat atas kerja keras dan doa ku selama ini. Wings Air memang maskapai yang terkenal dan masuk menjadi pramugari di maskapai ini sangatlah teliti dan butuh kriteria khusus.
Kriteria itu di antaranya, mampu berbahasa inggris lancar baik tulis dan lisan. Mampu berbahasa asing minimal 2 bahasa, tinggi badan pramugari minimal 160 CM dan tinggi badan pramugara minimal 170 CM, berat badan pramugari harus antara 50 KG-60 KG dan untuk pramugara 60 KG-70 KG dan yang satu ini membuatku geleng-geleng kepala sebenarnya, biaya masuk ke Wings Air ini kurang lebih 10 Juta rupiah perorang, dan maskapai ini mendisiplinkan sopan santun, kecantikan dan ketampanan, kerapian, kebersihan dan tepat waktu.
Setelah sarapan nasi goreng, aku berpamitan kepada seluruh penghuni asrama. Aku akan pindah ke tempat khusus milik Wings Air nanti sore setelah traine. Barang-barang ku juga sudab di rapikan di kamar dan siap nanti sore untuk di pindahkan. Aku memakai sepatu berhak tahu berwarna hitam setinggi 5 CM, dan taksi yang ku pesan sudah terparkir di halaman asrama. Setelah menempuh perjalanan selama 25 menit, akhirnya aku sampai di Bandara Soekarno Hatta. Aku melihat ada seorang gadis cantik yang berpakaian persis denganku, dan aku berinisiatif untuk mendekati dia. Sekedar berkenalan dan berteman apakah menambah silaturahmi itu salah? Tidak bukan. Aku mendekati wanita itu, dia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu dia tersenyum ke arahku.
“Hai, boleh aku duduk di sini?” tanyaku.
Dia menjawab sambil tersenyum simpul “Boleh kok”
Aku mengulurkan tanganku ke arahnya “Kenalkan namaku Syaqila Adiba Arfan, panggil Adiba saja” ucapku dan dia pun menyambut uluran tanganku “Namaku Hilyatun Azizah, panggil saja Hilya ya. Salam kenal Adiba. Oh iya, kamu sepertinya anak traine Wings Air juga ya?” ucap Hilya ramah
“Betul aku traine di Wings Air” balasku. Hilya tersenyum sambil berkata “Sama dong kalau begitu, mulai sekarang kita berteman ya” ucap Hilya dengan gembira. Aku hanya mengangguk menyetujui. Aku dan dia berbincang sangat lama, hingga Hilya merasa kehausan..
“Ayo kita ke kantin bandara sebentar, aku haus. Lagipula traine kita masih kurang 30 menit lagi bukan?” ucap Hilya sambil menarik tanganku pelan. Aku mengangguk sebagai jawaban dan mengikuti langkahnya.
Setelah sampai di kantin bandara, Hilya memesan 2 mangkuk porsi Bakso dan 2 es teh botol plastik. Lalu, kami pun mencari tempat duduk. Aku tidak enak terhadap Hilya, baru kenal beberapa menit yang lalu dia sudah sangat baik sekali terhadapku dengan mentraktirku.
“Loh bukannya tadi bilang kamu hanya haus, kok malah masing-masing 2 porsi?.” Ucapku
Dia hanya tersenyum menanggapi bentuk protesku.
“Adiba, aku mau traktir kamu masa kamu keberatan? Lagi pula, kamu orang baik dan anggap saja traktiran ini sebagai ucapan pembuka pertemanan kita, tenang saja aku tidak masukkan racun di dalam baksomu kok” ucap Hilya terkekeh pelan.
“Aku tidak berniat suudzon Hilya, tetapi..” ucapku terpotong olehnya
“Kamu tidak enak kan sama aku, main traktir kamu?.” Ucap Hilya
Aku hanya bisa mengangguk.
“Gak boleh nolak rejeki loh Dib, insya Allah hartaku masih banyak kok sampai 7 turunan heheh” kekeh Hilya.
“Maaf ya aku gak berpikir kamu itu orang yang aneh-aneh Hil, tapi aku Cuma gak enak” ucapku hati-hati takut Hilya tersinggung.
“Aku tahu kok maksud kamu, jadi jangan tolak lagi. Kalau kamu tolak, aku bakalan marah” ucap Hilya
“Hehe iya terima kasih merepotkan” ucapku
“Sama sekali tidak masalah, dan tidak merepotkan. Lebih merepotkan nanti kalau kamu nanti kelaperan terus pas traine berlangsung kamu pingsan gimana?. Aku ikhlas berteman sama kamu, kamu orang baik” ucap Hilya.
“Kamu juga orang yang baik juga Hil” ucapku. Aku bersyukur dipertemukan dengan orang sebaik Hilya.
Dan kami pun bercerita semua hal-hal tentang keluarga kami, pendidikan kami, dan kesukaan kami masing-masing. Setelah 5 menit menunggu, hidangan pesanan kami pun telah tersaji di meja kami.
“Yuk makan Dib” ucap Hilya
“Iya ayo. Sekali lagi terima kasih banyak. Aku janji lain kali akan traktir kamu martabak manis full coklat” ucapku bercanda
“Siap ku tagih nanti setelah kita traine 1 bulan nanti” ucap Hilya bercanda.
Aku hanya bisa tertawa dengan candaan Hilya.
Kami menyantap makanan kami, tiba-tiba tampak seorang lelaki tampan mendatangi meja kami.
“Hai, kamu Adiba? Wah sudah 8 tahun ya tidak bertemu” ucap pria tersebut, Aku mendongakkan kepala ku, dan aku memandang pria tersebut sepersekian detik kemudian aku ingat, kalau dia orang yang ku benci, Agung.
Hilya yang saat itu sedang memasukkan bakso ke dalam mulutnya dibuat ternganga dengan kedatangan pria tampan yang ada di hadapannya itu.
“Ngapain kamu di sini” ucapku cuek sambil fokus melahap makanan ku.
“Aku yang punya cabang resto ini, senang bisa ketemu kamu lagi Dib” ucap Agung yang membuatku malas mendengar celotehan dirinya.
Hilya masih tercengang menatap Agung, dan Hilya masih dalam posisi yang sama memakan bakso dalam kondisi mulut yang masih mengaga. Aku menggoyangkan tangannya “Hilya kamu kenapa” tanyaku
“Ganteng banget sih ini cowok” ucapnya.
“Loh temen kamu bilang aku masih ganteng, masa kamu gak mengakui itu” ucap Agung sombong
Aku menatap Agung malas.
“Ini siapa kamu Dib?” tanya Hilya
“Ini ma..” ucapku terpotong oleh Agung
“Aku pacarnya Adiba” ucap Agung
“Hei kita udah putus saat kita wisuda itu ya, kalau perlu aku ingetin” kataku menatap Agung dengan tatapan tak suka
“Iya, dan sebentar lagi, kita bakal balikan” ucap Agung dengan pedenya
Aku semakin malas terhadapnya. Aku sangat membencinya, karena dia berani berselingkuh dan mengatakan kalau aku adalah wanita miskin yang tak pantas untuk dia cintai. Dia memilih berselingkuh dengan wanita yang kaya raya dan sederajat dengan dirinya. Dia mengakui nama wanita itu bernama Jesica, tetapi aku tidak pernah tahu seperti apa wajah wanita selingkuhan dia. Dan aku menganggap itu masa bodoh, aku saat itu amat terluka akan perlakuan Agung, karena Agunglah cinta pertamaku. Aku masih ingat jelas perkataanya itu membuat aku yakin untuk memutuskan hubungan dengan dirinya 8 tahun yang lalu, tepat saat setelah acara wisuda kami. Dan dengan bantuan ibuku, aku akhirnya bisa melupakan dia.
Mengapa dia tidak menikah dengan wanita pujaannya saja, hilang sudah selera makanku akibat dia.
“Kamu jadi traine pramugari Dib? Wah itukan memang cita-cita kamu. Selamat ya, aku salut sama kamu. Dib, aku minta maaf soal kejadian itu, aku menyesal ninggalin kamu. Dan aku mau kita balikan lagi plis” ucap Agung memegang tangan ku
Aku hanya diam dan air mataku ini rasanya ingin tumpah begitu saja, aku tak menampik bahwa di hati kecilku masih mencintai Agung tapi aku sudah tidak mau lagi kembali berhubungan dengan dirinya.
“Hei, lo ganteng sih, tapi lo orang yang b******k tahu gak. Ninggalin Adiba. Inget ya gue orang pertama yang bakalan ngejauhin lo dari dia. Catat itu, lepasin tangan najis lo itu di tangan sahabat gue. Yuk Dib, kita pergi aja males ngeladenin orang gak jelas” ucap Hilya dengan sarkas dan menarik tanganku mengajakku pergi dari tempat itu
Aku menatap Hilya dengan perasaan haru, baru mengenalku dia sudah sangat baik terhadapku.
Lalu Agung dengan santainya berteriak.
“Aku gak peduli Dib, yang terpenting aku sudah catat nomor handphone kamu. Aku bakalan berjuang dapetin kamu lagi” teriak Agung
Aku dan Hilya lalu berbalik ke arah Agung yang masih berdiri di samping meja tempat kami tadi. Dengan kesalnya botol minuman bekas ku dengan sekuat tenaga ku lemparkan ke arah Agung.
Botol itu melayang. Tetapi, ekspektasi nyatanya tak berjalan sesuai yang di harapkan.
~Bersambung~