Eunha pulang tanpa membawa kembali jaket Hangyul. Sepanjang perjalanan, ia terus teringat wujud serigala yang dilihatnya. Setiap suara langkah di belakangnya membuat ia menoleh, meski tidak ada siapa-siapa.
Sesampainya di rumah, ia menyimpan rahasia itu sendiri. Ia tidak menceritakan apa pun kepada Nenek Kim dan tidak menghubungi Ayana. Ia tahu Ayana sedang menyembunyikan sesuatu juga, tetapi belum siap menanyakan semuanya.
Hangyul kembali ke rumahnya dan menemukan kotak roti yang dibawa Eunha masih tergeletak di meja. Ia menyentuh tutup kotak itu tanpa membukanya. Rasa bersalah mengganggunya, tetapi ia lega Eunha tidak mengancam akan membongkar rahasianya.
Ia mencoba kembali fokus mencari bahan ramuan. Sepuluh hari yang diberikan Jungwoo semakin dekat. Hangyul tidak bisa menambah beban Ayana dengan kabar itu, tetapi ia juga tahu kebohongan tersebut akan sulit dipertahankan.
Di istana, Ayana menjalani tugas seperti biasa. Seungwoo tidak memanggilnya lagi sejak kejadian di kamar, tetapi ia merasa tatapan para penjaga lebih lama tertuju kepadanya. Seungyoun juga beberapa kali tampak mengamati dari kejauhan.
Ayana tetap mengikuti aturan Madam Ra Mi. Ia membersihkan kamar raja sebelum malam dan pergi sebelum Seungwoo datang. Setiap kali berada di ruangan itu, ia merasakan ketenangan yang tidak ia temukan di tempat lain.
Namun ia tidak tahu berapa lama ramuan itu akan mampu menutupi aromanya. Ia tidak tahu pula bahwa Seungwoo mulai mengingat rasa kehilangan yang selama ini tak dapat ia jelaskan.
***
Kirao memperhatikan perubahan jadwal di istana. Aya semakin sering mendapat tugas di kamar Raja, sementara dirinya dipindahkan ke dapur dan ruang penyimpanan. Ia menganggap keputusan itu sebagai penghinaan.
"Pelayan baru itu belum lama datang, tapi sudah mendapat kepercayaan Raja," katanya kepada seorang pelayan dapur.
"Madam Ra Mi yang mengatur tugasnya," jawab pelayan itu. "Jangan membuat masalah."
Kirao tersenyum tipis. Ia tidak berniat membuat keributan terbuka. Ia hanya ingin Aya kehilangan tempat istimewanya, dan jika bisa, membuat Raja sadar bahwa pelayan itu membawa masalah.
Saat semua orang sibuk menyiapkan makan malam, seorang pemasok yang mengaku utusan Perdana Menteri Go Jeong menyelipkan sebuah botol kecil ke tangan Kirao, sesuai janji mereka beberapa hari sebelumnya. Kirao segera menyembunyikannya di lengan baju.
Ia tidak membuka botol itu. Ia tahu isinya dapat membuat siapa pun yang meminumnya jatuh sakit, tetapi belum memutuskan kapan akan menggunakannya. Ia hanya membayangkan kekacauan yang akan terjadi jika Raja menyalahkan Aya.
Di lorong, Ayana lewat membawa kain bersih. Kirao menatapnya dari kejauhan, lalu mengepalkan tangan di balik celemek.
"Lihat saja," bisiknya. "Kau tidak akan lama berada di dekat Raja."
Ayana tidak mendengar ancaman itu. Ia meneruskan langkah menuju kamar raja, tanpa mengetahui bahwa kecemburuan Kirao mulai berubah menjadi rencana yang jauh lebih berbahaya.
***
Kirao memasuki dapur ketika para pelayan sibuk menyiapkan hidangan malam. Botol kecil yang ia sembunyikan di lengan bajunya terasa dingin menyentuh kulit. Ia menunggu sampai tidak ada yang memperhatikannya, lalu mengeluarkannya di balik rak.
Anggur untuk Raja sudah dituangkan ke dalam wadah kristal. Kirao membuka botol, meneteskan isinya ke dalam minuman, lalu mengaduknya perlahan dengan sendok kecil. Cairan itu larut tanpa meninggalkan warna yang jelas.
Ia baru saja menyimpan botol ketika seorang pelayan dapur berbalik. Kirao mengambil kain dan berpura-pura sedang mengelap meja.
"Apa kau melihat Aya?" tanya pelayan itu.
"Tidak," jawab Kirao datar.
Tak lama kemudian Ayana dipanggil untuk membantu membawa nampan ke ruang makan kecil tempat Seungwoo akan menerima hidangan. Ia mengambil nampan dari meja, tetapi langkahnya terhenti saat mencium aroma tajam dari gelas anggur.
Aroma itu berbeda dari anggur biasa. Ada bau pahit dan menusuk yang membuat tengkuknya meremang. Indra penciumannya yang semakin peka menangkap sesuatu yang tidak beres.
"Jangan bawa itu," katanya kepada pelayan yang hendak mengangkat gelas.
Kirao muncul dari sisi dapur. "Kenapa? Itu minuman Raja."
"Ada bau aneh."
"Kau hanya pelayan. Jangan membuat tuduhan sembarangan." Kirao berusaha mengambil nampan itu dari tangan Ayana.
Ayana mundur selangkah. "Aku tidak menuduh siapa pun. Aku hanya bilang baunya tidak wajar."
Seungwoo masuk bersama Seungyoun sebelum Kirao sempat membalas. Pelayan-pelayan langsung menunduk. Raja melihat nampan yang tertahan di tangan Ayana.
"Apa yang terjadi?"
"Ada sesuatu pada anggur itu, Yang Mulia," kata Ayana. "Saya mencium bau yang berbeda."
Kirao menyela, "Dia keliru, Yang Mulia. Anggur itu sudah disiapkan sesuai perintah."
Seungwoo mengangkat tangan sebelum siapa pun menyentuh gelas. "Tidak ada yang meminumnya. Seungyoun, panggil Tabib Baek."
Ayana meletakkan nampan di meja. Ia tidak tahu apa yang terkandung di dalam gelas itu, tetapi ia lega Seungwoo belum meminumnya.
Kirao menunduk bersama para pelayan. Wajahnya tenang, namun tangannya mengepal di balik celemek.
***
Tabib Baek datang membawa kotak peralatan. Ia memeriksa anggur tanpa mencicipinya, lalu meminta semua orang menjauh dari meja. Seungwoo memerintahkan penjaga menutup pintu dapur agar tidak ada yang pergi sebelum pemeriksaan selesai.
"Ada bau yang terasa aneh," ujar Tabib Baek setelah memeriksa gelas. "Saya perlu membawa sampel untuk memastikan kandungannya."
Seungwoo mengangguk. "Lakukan. Jangan ada yang menyentuh wadah itu."
Kirao berdiri beberapa langkah dari Ayana. "Bukankah Aya yang pertama memegang nampan?" tanyanya. "Ia bisa saja menaruh sesuatu lalu berpura-pura mencium bau."
Ayana menoleh cepat. "Aku tidak melakukan itu."
"Tak seorang pun menuduhmu secara langsung," kata Kirao, memasang wajah prihatin. "Aku hanya menyampaikan apa yang kulihat."
Seungyoun menatap Kirao tajam. "Jangan membuat kesimpulan sebelum Tabib Baek selesai memeriksa."
Seungwoo mengalihkan pandangannya kepada Ayana. "Kau bilang mencium sesuatu. Sejak kapan?"
"Begitu saya menerima nampan, Yang Mulia. Baunya sangat tajam."
"Kenapa tidak melapor kepada kepala dapur?"
"Saya tidak sempat. Mereka hampir membawa gelas itu."
Jawaban Ayana terdengar jujur, tetapi Seungwoo belum menyatakan percaya. Ia meminta para pelayan tetap berada di tempat sampai pemeriksaan selesai.
Ayana merasakan perutnya menegang. Ketakutan itu bukan hanya karena tuduhan. Jika ia ditahan atau kehilangan pekerjaannya, ia bisa jauh dari Seungwoo dan membahayakan Baby Wulf.
Kirao menunduk seolah ikut cemas. Namun saat tak ada yang melihat, ia melirik Ayana dengan senyum tipis yang segera hilang.
***
Tabib Baek kembali dari ruang pemeriksaan dengan wajah serius. Ia meletakkan wadah kecil berisi sampel di atas meja, lalu menjelaskan bahwa anggur itu mengandung racun yang dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran dan mengalami gangguan pernapasan.
Suasana dapur berubah tegang. Para pelayan saling pandang, sementara penjaga berdiri di setiap pintu.
"Racun itu cukup untuk membahayakan Yang Mulia," kata Tabib Baek. "Beliau tidak boleh meminumnya."
Seungwoo menatap gelas yang kini tertutup kain. "Siapa yang menyiapkan anggur ini?"
Kepala dapur menjawab bahwa minuman itu disiapkan oleh beberapa pelayan sesuai jadwal, lalu dibawa ke ruang makan. Tidak ada seorang pun yang mengaku melihat saat cairan itu dicampurkan.
Kirao segera menunjuk Ayana. "Dia yang membawa nampan terakhir. Dia juga yang pertama menyentuh gelas itu."
"Aku hanya mencegah Raja meminumnya," ujar Ayana. "Aku tidak memasukkan apa pun ke dalam anggur."
"Bisa saja kau sengaja menahan gelas supaya terlihat seperti penyelamat," balas Kirao.
Seungwoo menatap mereka bergantian. Ia tidak menyukai tuduhan yang belum didukung bukti, tetapi percobaan meracuni Raja tidak boleh dianggap ringan.
"Seungyoun, bawa Aya ke aula. Jangan sakiti dia, tetapi pastikan ia tidak meninggalkan istana sebelum kita mengetahui apa yang terjadi."
Ayana menatap Seungwoo, berharap menemukan sedikit kepercayaan di wajahnya. Raja tidak mengalihkan pandangan, tetapi juga tidak membelanya.
"Yang Mulia, saya tidak melakukan ini."
"Kebenaran akan diketahui setelah penyelidikan," jawab Seungwoo.
Seungyoun memberi isyarat kepada penjaga. Ayana mengikuti mereka keluar dari dapur, masih berusaha menjaga langkahnya tetap tegak.