Seungwoo tidak meminta Ayana menemuinya sendirian. Ia meminta Miran tetap hadir di ruang tengah dan membiarkan Tabib Baek berada di ruangan sebelah. Ayana menerima ajakan itu setelah memastikan dirinya bisa pergi kapan saja.
"Ada beberapa hal yang harus kukatakan," ucap Seungwoo. "Kau tidak wajib memaafkanku setelah mendengarnya."
Ayana duduk dengan tangan bertaut di pangkuan. "Saya akan mendengarkan."
Seungwoo menghela napas. Ia tampak canggung, seperti tidak terbiasa meminta maaf. "Aku minta maaf atas kata-kata kejamku di villa. Aku juga minta maaf karena menjatuhkanmu dengan kasar dan pernah berpikir untuk membunuhmu."
Ayana menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Maaf tidak cukup untuk menghapus semua itu."
"Aku tahu."
"Saya butuh waktu. Saya juga tidak tahu apakah saya bisa kembali percaya kepada Yang Mulia."
Seungwoo menerima jawabannya. "Kau berhak menentukan sendiri."
Ia kemudian menawarkan pilihan lain. Jika Ayana ingin pulang ke dunia manusia, Seungwoo akan menjamin keselamatannya dan datang secara berkala untuk memastikan keadaan bayi. Ia tidak akan menggunakan statusnya sebagai Raja untuk memaksa Ayana tetap di istana.
Ayana mendengarkan tanpa menyela. "Kalau saya pulang, apakah Yang Mulia akan datang hanya karena kewajiban?"
"Aku akan datang karena anak itu adalah tanggung jawabku. Dan karena aku ingin berusaha memperbaiki apa yang sudah kulakukan, meski kau tidak menerimaku kembali."
Ayana menunduk. Ia belum siap pergi. Bayi itu lebih tenang saat berada dekat Seungwoo, dan ramuan penyamaran masih belum tersedia cukup banyak.
"Saya ingin tetap di istana," katanya akhirnya. "Tapi sebagai tamu, bukan pelayan. Saya tidak mau diperlakukan seperti orang yang bisa diperintah seenaknya."
Seungwoo mengangguk. "Baik. Kau akan tinggal sebagai tamu. Kau bebas meminta Miran mendampingimu."
Keputusan itu tidak membuat masa lalu mereka pulih, tetapi Ayana mendapat kendali lebih besar atas hidupnya sendiri.
***
Madam Ra Mi menerima perubahan status Ayana setelah perintah Seungwoo disampaikan. Tugas membersihkan kamar raja dihentikan. Ayana tidak lagi harus memakai seragam pelayan dan boleh tinggal di kamar tamu bersama Miran.
"Kalau ada sesuatu yang kau butuhkan, sampaikan kepadaku," ujar Madam Ra Mi. "Sebagai tamu, kau tidak perlu menjalankan pekerjaan para pelayan."
"Terima kasih, Madam."
Ayana merasa lega ketika menyerahkan celemeknya. Ia tidak ingin kehilangan hubungan dengan orang-orang yang telah membantunya, tetapi berhenti menjadi pelayan adalah batas penting yang ia perlukan.
Seungwoo menepati janjinya. Ia tidak memasuki kamar tanpa izin dan tidak meminta Ayana menemaninya. Jika ingin berbicara, ia mengirim pesan melalui Miran dan menunggu jawaban.
Suatu sore, ia bertanya apakah Ayana ingin kembali ke dunia manusia sementara waktu. Ia bisa mengatur perjalanan aman melalui portal dan memastikan Hangyul menjemputnya.
Ayana memikirkan tawaran itu. "Belum sekarang. Saya ingin tinggal di sini sampai keadaan bayi lebih stabil."
"Baik. Aku tidak akan memaksamu pergi."
"Ada satu hal lagi. Jangan mengumumkan kehamilan saya kepada siapa pun tanpa izin."
Seungwoo menjawab langsung, "Aku tidak akan melakukannya."
Ayana masih tidak mempercayainya sepenuhnya, tetapi ia mencatat bahwa Seungwoo menepati batas yang mereka sepakati. Malam itu mereka makan di ruang yang sama bersama Miran, tanpa membicarakan hubungan lama mereka.
Di luar istana, Perdana Menteri Go Jeong menerima kabar bahwa Seungwoo menolak aliansi yang sebelumnya ia tawarkan. Ia tidak menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, ia mengirim pesan bahwa ia akan datang membawa Putri Cha Yeon untuk membahas hubungan dua negeri.
Seungwoo membaca pemberitahuan itu dan segera memahami bahwa Go Jeong sedang menyiapkan langkah lain. Ia belum memberi tahu Ayana, karena tidak ingin mengganggunya sebelum tahu apa maksud kedatangan perdana menteri.
***
Kedatangan Go Jeong diumumkan secara resmi. Ia akan membawa Putri Cha Yeon ke istana dan menghadiri pesta malam itu. Para bangsawan segera menebak bahwa kunjungan tersebut berhubungan dengan tawaran aliansi pernikahan.
Seungwoo menerima rombongan itu di aula. Ia tidak menunjukkan kehangatan khusus kepada Go Jeong, tetapi tetap menjalankan tata cara kerajaan. Putri Cha Yeon menyapa dengan sopan dan terlihat tidak mengetahui seluruh maksud politik di balik kunjungan itu.
Ayana mendengar kabar pesta dari Miran. Sebagai tamu istana, ia tidak diwajibkan hadir. Ia memilih beristirahat di kamar sampai suasana ramai membuatnya ingin keluar mencari udara.
"Kalau kau ingin pergi ke taman, aku temani," kata Miran.
"Aku hanya ingin duduk sebentar di balkon. Dari sana aku bisa melihat aula tanpa harus masuk ke tengah keramaian."
Miran memastikan pintu balkon dapat dibuka dan ada penjaga di dekatnya. Ayana berdiri di sisi luar, memandang para tamu yang mulai memenuhi aula. Ia melihat Seungwoo berdiri di dekat singgasana, sementara Go Jeong berbicara dengan para bangsawan.
Hangyul belum datang ke istana. Eunha juga masih berada di dunia manusia. Ayana merasa sendirian di tengah orang-orang yang tidak mengenalnya.
Dari aula terdengar bunyi gelas beradu. Go Jeong meminta perhatian para tamu. Ayana berhenti bergerak dan menoleh ke arah suara.
"Perdana Menteri akan menyampaikan sesuatu," kata Miran pelan.
Ayana tetap di balkon, bersembunyi setengah langkah di balik pilar. Ia tidak berniat menguping, tetapi namanya tidak disebut dan tidak ada yang melihatnya. Ia mendengar Go Jeong mengawali pidato tentang perdamaian dan hubungan dua negeri.
***
Go Jeong mengangkat gelasnya dan memperkenalkan Putri Cha Yeon kepada para bangsawan. Ia memuji kecantikan dan kecerdasan sang putri, lalu menyatakan bahwa pernikahan antara Cha Yeon dan Seungwoo akan menjadi ikatan yang menguntungkan kedua negeri.
Aula dipenuhi bisik-bisik. Seungwoo tidak pernah menyetujui perjodohan itu, tetapi Go Jeong menyampaikannya seolah keputusan sudah dibuat.
"Saya berharap Yang Mulia Raja menerima usulan ini," kata Go Jeong. "Pernikahan akan menjadi jaminan perdamaian dan memperkuat hubungan kita."
Putri Cha Yeon menundukkan kepala. Ia tampak terkejut dengan pengumuman terbuka itu, tetapi tetap menjaga sikap di hadapan semua orang.
Seungwoo berdiri tegak. "Aku tidak pernah menyetujui perjodohan tersebut."
Senyum Go Jeong tidak berubah. "Yang Mulia mungkin belum mempertimbangkan manfaatnya."
"Aku sudah menjawab."
Percakapan mereka membuat para tamu semakin berbisik. Ayana mendengarnya dari balkon. Tangannya mencengkeram pagar batu ketika Go Jeong kembali bicara tentang kewajiban Raja untuk menghasilkan pewaris dan menjaga kestabilan negeri.
Ayana menahan marah. Ia tidak ingin menjadi alasan Seungwoo menerima atau menolak aliansi. Ia juga tidak ingin kehamilannya dijadikan alat politik.
Miran menyentuh lengannya. "Kita bisa pergi kalau kau merasa tidak nyaman."
"Sebentar lagi." Ayana mengalihkan pandangan ke aula. "Aku ingin tahu apa yang akan dia jawab."
Seungwoo kembali menolak usulan itu dengan tegas. Ia tidak menyebut Ayana atau bayi mereka. Go Jeong tersenyum tipis, seolah penolakan tersebut justru sesuai dengan rencananya.