Setelah Kalina selesai membetulkan dasinya, Akhtar menegakkan tubuh. Jarak mereka yang tadi begitu dekat mendadak terasa terlalu nyata. Kalina segera mundur satu langkah, sementara Akhtar merapikan bagian depan jasnya dengan gerakan yang dibuat setenang mungkin.
'Berkasnya sudah lengkap?' tanya Akhtar, suaranya kembali terdengar seperti suara seorang atasan.
'Sudah, Pak. Materi presentasi dan salinan kontrak ada di map biru. Jadwal rapat juga sudah saya kirim ke Toni.'
'Baik. Ayo.'
Kalina mengikuti Akhtar menuju lift. Dadanya masih berdebar, dan ujung jarinya terasa dingin. Ia sudah beberapa bulan menjadi sekretaris Akhtar, tetapi momen sederhana seperti membetulkan dasi pria itu masih sanggup membuat pikirannya kacau. Ia mencoba mengingatkan dirinya bahwa ini hanya bagian dari pekerjaan. Akhtar adalah CEO, sementara dirinya sekretaris. Tidak ada hal lain yang boleh ia bayangkan.
Toni menunggu di lobi bersama mobil. Begitu melihat mereka, ia membuka pintu belakang untuk Akhtar. Kalina hendak duduk di kursi depan, tetapi Akhtar berkata, 'Duduk di belakang saja. Kita perlu memeriksa beberapa berkas sebelum sampai.'
Kalina menurut. Ia membuka map biru di pangkuan dan mulai menjelaskan isi agenda. Akhtar mendengarkan sambil sesekali bertanya tentang angka dan poin yang perlu ditegaskan. Ia menjawab dengan tenang, tetapi beberapa kali pandangannya tertahan pada dasi Akhtar. Ia lalu cepat-cepat menunduk ke dokumen.
'Kalina, bagian proyeksi biaya renovasi hotel sudah diperbarui?'
'Sudah, Pak. Saya menyesuaikannya dengan catatan dari tim operasional. Ada dua angka yang berubah, tapi tidak mengubah kesimpulan utama.'
'Bagus. Kalau mereka menanyakan alasan revisi, jelaskan bahwa perubahan itu berasal dari pemeriksaan terakhir. Jangan menyebut perkiraan sebelum ada data yang pasti.'
'Baik, Pak.'
Akhtar mengamati cara Kalina menjawab. Gadis itu selalu berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Ketelitian dan sikapnya yang tidak banyak menuntut membuatnya mudah diandalkan. Namun setiap kali mengingat apa yang terjadi di Bali, Akhtar merasa ada garis yang harus ia jaga. Ia tidak boleh membiarkan perasaannya membuat Kalina berada dalam posisi sulit.
Mobil berhenti di depan gedung tempat pertemuan berlangsung. Akhtar turun lebih dulu, kemudian menunggu Kalina mengambil map. Toni mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke ruang rapat yang telah disiapkan. Beberapa perwakilan investor dan tim internal Galindra sudah menunggu. Akhtar menyapa mereka dengan profesional, lalu mengambil tempat di ujung meja.
Kalina duduk di kursi samping, menyiapkan dokumen dan laptop. Ia tahu tugasnya bukan hanya mencatat, tetapi juga memastikan Akhtar mendapat berkas yang tepat ketika dibutuhkan. Akhtar membuka rapat dengan menjelaskan tujuan pembahasan proyek hotel di Bali. Suaranya mantap, berbeda dari pria yang beberapa menit lalu membuat Kalina gugup hanya dengan menatapnya.
Saat pembicaraan sampai pada estimasi biaya, salah satu peserta rapat mempertanyakan alasan perubahan angka. Kalina segera membuka halaman yang sesuai dan menyodorkannya kepada Akhtar. Ia lalu menjelaskan data tersebut ketika Akhtar memberi isyarat.
'Revisi ini mengikuti hasil pemeriksaan terakhir dari tim operasional. Ada penyesuaian pada biaya perbaikan fasilitas yang sebelumnya belum masuk dalam perhitungan. Karena itu, angka total berubah, tetapi target penyelesaian tetap sama,' jelas Kalina.
Akhtar menatapnya sejenak, kemudian menambahkan, 'Kami memilih memasukkan temuan itu sekarang agar anggaran yang disepakati realistis. Galindra tidak ingin ada perubahan mendadak yang merugikan kedua pihak.'
Pembicaraan berjalan lancar. Kalina mencatat poin-poin yang perlu ditindaklanjuti dan mengingatkan Akhtar ketika waktu rapat hampir habis. Ia tidak lagi terlalu memikirkan dasi yang tadi disentuhnya. Kesibukan membuatnya kembali fokus pada tugas.
Salah satu investor meminta Akhtar menjelaskan target pengerjaan tahap pertama. Akhtar membuka bahan presentasi, tetapi layar sempat berhenti merespons. Toni yang duduk dekat pintu segera memeriksa kabel. Kalina tidak menunggu diminta; ia membuka salinan presentasi di laptopnya sendiri dan menyambungkannya ke layar cadangan.
'Silakan, Pak. Saya sudah menyimpan versi terakhir di sini.'
Akhtar mengangguk dan melanjutkan. Ia menjelaskan jadwal proyek tanpa terganggu oleh jeda singkat itu.
Setelah rapat selesai, para peserta mengangguk menyetujui langkah selanjutnya. Akhtar mengucapkan terima kasih dan menutup pertemuan. Ketika orang-orang mulai meninggalkan ruangan, ia menoleh kepada Kalina.
'Penjelasanmu tadi jelas. Terima kasih sudah menyiapkan datanya.'
'Sama-sama, Pak. Saya hanya menyampaikan hasil yang sudah ada.'
'Jangan merendah. Kamu memang bekerja dengan baik.'
Kalina tersenyum kecil. Pujian itu membuatnya senang, tetapi ia cepat-cepat mengingatkan diri bahwa rasa senang seorang karyawan menerima apresiasi atasan adalah hal yang wajar. Tidak perlu mencari makna lain.
Toni mengajak Akhtar kembali ke kantor. Di mobil, Akhtar membicarakan tindak lanjut rapat dengan Kalina. Ia menggunakan sapaan formal dan hanya membahas pekerjaan. Kalina menjawab dengan sopan, lega karena suasana kembali biasa.
Namun ketika ia melihat pantulan wajahnya di kaca jendela, ia kembali teringat jarak dekat mereka sebelum berangkat. Kalina mengembuskan napas dan menatap map di pangkuannya. Ia tidak ingin menjadi perempuan yang berharap pada pria beristri. Ia hanya perlu menjaga sikap, bekerja baik, dan membiarkan debar itu berlalu.
Setelah mereka kembali ke kantor, ponsel Akhtar berdering. Nama Giana muncul di layar. Ia menatapnya beberapa detik sebelum menjawab. Dari ruang kerjanya, Kalina tidak mendengar kata-kata Giana dengan jelas, hanya suara Akhtar yang sesekali menjawab pendek.
'Aku pulang malam ini,' terdengar Akhtar berkata. 'Kamu jadi makan malam di rumah?'
Kalina menunduk pada pekerjaannya. Ia tidak ingin menguping lagi. Akhtar menutup pintu setelah panggilan berakhir. Giana telah berjanji akan pulang untuk makan malam bersama. Setelah beberapa hari hubungan mereka renggang, Akhtar tidak tahu apakah janji itu akan benar-benar ditepati. Namun ia tidak ingin langsung berprasangka.
Pekerjaan Kalina hampir selesai ketika jam dinding menunjukkan pukul empat sore. Ia telah menyiapkan beberapa dokumen untuk esok hari, tetapi pikirannya belum sepenuhnya tenang. Sejak pagi ia berniat meminta maaf kepada Akhtar karena menguping teleponnya di bandara saat mereka kembali dari Bali.
Ia menimbang-nimbang apakah lebih baik melupakan saja. Namun Akhtar sudah tahu ia mendengar percakapan itu, dan sikap diamnya mungkin terlihat seperti ia sengaja menyimpan rahasia. Kalina tidak ingin membuat atasannya merasa tidak nyaman.
Ia mengetuk pintu ruangan Akhtar. Dari dalam terdengar suara mempersilakan masuk. Akhtar sedang membaca berkas, tetapi menutupnya ketika melihat Kalina berdiri di ambang pintu.
'Pak, apakah Bapak ada waktu sebentar?'
'Silakan. Ada apa?'
Kalina berdiri di depan meja. 'Saya ingin minta maaf soal kejadian di bandara waktu kita pulang dari Bali.'
Akhtar tidak langsung menjawab. Ia tahu yang dimaksud Kalina adalah percakapan teleponnya dengan Giana. 'Kamu tidak sengaja mendengarnya.'
'Memang tidak sengaja, Pak. Saya keluar dari toilet dan mendengar suara Bapak. Saya seharusnya langsung pergi, tapi saya sempat diam karena kaget. Saya minta maaf sudah mendengar hal pribadi Bapak.'
Akhtar menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia tidak marah, tetapi ingin memastikan Kalina memahami bahwa persoalan itu sensitif.
'Kalina, saya tidak menyalahkan kamu karena kebetulan berada di sana. Saya hanya ingin kamu melupakan apa yang kamu dengar.'
'Saya tidak pernah menceritakan itu kepada siapa pun, Pak.'
'Bagus. Anggap saja kamu tidak pernah mendengarnya. Saya tidak ingin urusan rumah tangga saya menjadi pembicaraan kantor.'
'Saya mengerti. Saya janji tidak akan membahasnya.'
Akhtar menatap wajah Kalina. Ia tampak sungguh-sungguh dan sedikit gugup. 'Kalau begitu, kita lupakan. Kamu tidak perlu merasa takut atau bersalah selama rahasia itu tetap terjaga.'
Kalina mengangguk. 'Terima kasih, Pak. Saya memang tidak ingin membuat Bapak berpikir saya sengaja ikut campur.'
'Tidak apa-apa. Tapi lain kali kalau mendengar percakapan pribadi, langsung menjauh.'
'Iya, Pak. Saya akan ingat.'
Ada jeda singkat. Kalina ingin bertanya apakah Akhtar baik-baik saja setelah pertengkaran itu, tetapi janji untuk tidak ikut campur mengingatkannya agar berhenti. Akhtar juga tidak memberi ruang untuk pertanyaan pribadi. Ia kembali membuka berkas dan berkata bahwa masih ada pekerjaan yang perlu ia selesaikan.
Kalina memahami isyarat tersebut. 'Baik, Pak. Saya kembali ke meja.'
'Terima kasih sudah bicara langsung.'
Kalina keluar dengan hati sedikit lebih ringan. Ia telah menyampaikan permintaan maafnya dan berjanji menjaga rahasia. Ia tidak akan menjadikan kesedihan Akhtar sebagai alasan untuk mendekatinya. Rasa kagum yang muncul harus tetap tinggal sebagai perasaan yang ia kendalikan sendiri.
Akhtar kembali membaca berkas, tetapi percakapan tadi membuatnya memikirkan kepercayaan. Kalina bisa saja mengulang apa yang didengarnya kepada Kayra atau Jihan, tetapi ia memilih menyimpannya. Ia menghargai itu. Namun ia juga sadar bahwa semakin banyak hal pribadi yang ia bagikan, semakin besar risiko batas antara mereka menjadi kabur. Ia harus berhati-hati.
Menjelang pulang, Kalina menata meja dan mematikan komputer. Ia mengucapkan selamat sore kepada Toni yang masih berada di kantor, lalu turun menuju lobi. Akhtar masih menyelesaikan beberapa pekerjaan dan mengatakan akan pulang setelahnya. Kalina berpamitan tanpa menanyakan rencananya malam ini.
Di perjalanan menuju apartemen, Kalina berusaha memikirkan hal lain. Ia mengingatkan dirinya bahwa Akhtar akan pulang kepada istrinya. Ia bukan miliknya, dan ia tidak ingin menjadi seseorang yang mengusik rumah tangga orang lain. Namun begitu mengingat suara Akhtar saat berkata Giana tidak pernah bertanya apakah ia sudah makan, dadanya tetap terasa sesak.
Di parkiran apartemen, Kalina mematikan mesin mobil fasilitas kantor yang ia gunakan untuk pulang. Ia memejamkan mata sejenak sebelum turun. Ia harus menjaga jarak. Ia hanya perlu bekerja, pulang, dan menjalani hidup seperti biasa. Perasaan yang tidak seharusnya tumbuh itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengubah dirinya.