Hari keempat setelah pertengkaran itu, Akhtar meminta Kalina menyiapkan laporan untuk rapat direksi. Kalina menyelesaikannya dengan teliti dan meminta Toni memeriksa angka sebelum berkas dikirim. Ia ingin tidak ada celah yang bisa dipakai untuk mempertanyakan pekerjaannya.
Saat rapat berlangsung, seorang direktur menanyakan perkembangan proyek Bali. Kalina menyajikan catatan dari kunjungan lapangan, menjelaskan perubahan anggaran, dan menyampaikan risiko keterlambatan. Akhtar mendukung penjelasannya dan meminta tim menindaklanjuti rekomendasinya.
'Laporan lapangan tersusun baik,' ujar salah satu direktur setelah rapat. 'Kita bisa mengambil keputusan berdasarkan data ini.'
Kalina berterima kasih. Pujian itu membuatnya merasa kembali percaya diri setelah beberapa hari yang berat.
Akhtar menghampirinya setelah peserta lain keluar. 'Presentasimu bagus.'
'Terima kasih, Pak.'
'Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan ekstra hanya untuk membuktikan sesuatu.'
Kalina memahami maksudnya. 'Saya memang ingin memastikan hasilnya baik.'
'Saya tahu. Tapi saya tidak ingin kamu merasa harus membuktikan bahwa kamu pantas di sini karena percakapan dengan Giana.'
Kalina memilih menjawab jujur. 'Saya hanya ingin dinilai dari pekerjaan saya.'
'Kamu memang dinilai dari pekerjaanmu.'
Ia mengangguk. 'Kalau begitu, saya akan terus melakukan yang terbaik.'
Akhtar tampak ingin memperpanjang pembicaraan, namun Toni datang membawa panggilan dari bagian hukum. Kalina kembali ke meja sekretariat dan melanjutkan tugasnya.
Menjelang sore, Giana menelepon Akhtar. Ia meminta maaf karena berbicara kasar kepada Kalina. Akhtar mendengarkan, tetapi Giana menambahkan bahwa ia tetap merasa tidak nyaman jika sekretaris itu terlalu dekat dengannya.
'Aku akan menjaga batas profesional,' kata Akhtar. 'Tapi Kalina harus tetap menjalankan pekerjaannya.'
'Aku tidak ingin memaksamu memecatnya.'
'Bagus. Karena aku tidak akan melakukan itu.'
Giana terdiam. 'Mungkin aku hanya takut kehilanganmu.'
Akhtar ingin memberi jawaban yang menenangkan, namun ia tak mau berjanji sesuatu yang tidak yakin bisa ia penuhi. 'Aku ingin kita membicarakan hubungan kita tanpa menjadikan orang lain sasaran.'
Giana menyetujui untuk mencoba. Mereka sepakat makan malam di rumah malam itu. Akhtar menutup telepon dan menatap jendela. Ia berharap percakapan tersebut menjadi awal yang lebih jujur.
Kalina tidak mengetahui isi panggilan itu. Ia sedang berbicara dengan Kayra melalui pesan. Kayra bertanya apakah Giana masih membuat masalah. Kalina menjawab bahwa situasi sudah sedikit mereda, tetapi ia belum tahu apakah Giana benar-benar percaya padanya.
'Kamu tidak bisa mengatur kepercayaan orang lain,' tulis Kayra. 'Terus jaga batas, tapi jangan mengecilkan dirimu.'
Kalina membaca pesan itu dan tersenyum. Ia berterima kasih, lalu menyelesaikan pekerjaan terakhir. Sebelum pulang, ia melihat Akhtar keluar bersama Toni. Ia menyapa singkat dan kembali merapikan meja.
Malam itu, Giana menyiapkan makan malam sederhana. Akhtar membantu menata meja. Mereka berbicara tentang pekerjaan dan rencana akhir pekan, lalu berusaha menghindari nada saling menyalahkan. Giana berkata ia ingin mencoba meluangkan lebih banyak waktu bersama. Akhtar menyambut niat itu, meski ia tahu mereka perlu lebih dari satu malam untuk membangun kembali kedekatan.
Di apartemen, Kalina makan malam bersama Kayra dan berbincang tentang hal-hal ringan. Ia tidak memikirkan apa yang dilakukan Akhtar dan Giana. Ia tahu rumah tangga itu adalah tanggung jawab mereka berdua. Kalina hanya bisa memastikan dirinya tidak sengaja melampaui batas.
Namun jauh di dalam hati, ia masih menyimpan rasa kagum yang belum sepenuhnya hilang. Ia tidak membiarkan rasa itu mengambil keputusan untuknya. Besok ia akan kembali bekerja, menyapa Akhtar sebagai atasan, dan mengingat bahwa menghormati dirinya sendiri berarti tidak menunggu sesuatu yang tidak pernah dijanjikan.
Sepekan setelah makan malam itu, Akhtar terbangun sebelum alarm berbunyi. Ia sudah terbiasa bangun lebih awal untuk berolahraga, tetapi beberapa hari terakhir pikirannya terasa lebih berat. Giana belum pulang ketika ia tidur malam sebelumnya. Istrinya mengirim pesan bahwa ia menginap di rumah Rebeca karena acara mereka berakhir larut. Akhtar membalas agar Giana memberi kabar jika sudah sampai, lalu ia tak menerima pesan lagi sampai pagi.
Ia turun ke lantai bawah dan menemukan meja makan kosong. Asisten rumah tangga menyiapkan kopi, namun Akhtar hanya meminumnya beberapa teguk. Rumah itu besar dan teratur, tetapi terasa terlalu sunyi ketika Giana tidak ada.
Setelah berolahraga di pusat kebugaran dekat rumah, Akhtar kembali dan berharap istrinya sudah pulang. Kamar mereka masih kosong. Ia menghubungi Giana, tetapi panggilannya masuk ke pesan suara. Akhtar tidak menelepon lagi. Ia tak ingin terdengar mengawasi, meski ia ingin tahu apakah Giana baik-baik saja.
Di kantor, ia berusaha menenggelamkan diri dalam rapat. Kalina menyerahkan jadwal dan ringkasan dokumen seperti biasa. Ia tampak tenang, sopan, dan menjaga jarak. Akhtar menghargai sikap itu, tetapi juga merasakan kehilangan sesuatu yang sebenarnya belum pernah menjadi miliknya.
'Pak, rapat dengan tim pemasaran dimulai pukul sepuluh,' ujar Kalina.
'Baik. Berkasnya sudah di ruang rapat?'
'Sudah. Toni sedang memastikan proyektor.'
'Terima kasih.'
Kalina mengangguk dan berbalik. Akhtar ingin menanyakan kabarnya, tapi ia mengurungkan niat. Ia sudah mengerti bahwa Kalina memilih batas yang lebih jelas. Ia tidak berhak meminta perhatian pribadi darinya.
Sepanjang hari, Akhtar beberapa kali memeriksa ponsel. Giana membalas pesan singkat bahwa ia sedang bersama Rebeca dan akan pulang nanti. Ia tidak menyebut kapan. Akhtar mencoba tidak membuat kesimpulan. Mungkin Giana memang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, seperti yang sudah sering ia lakukan.
Menjelang malam, Akhtar kembali ke rumah sendirian. Ia duduk di ruang tengah tanpa menyalakan televisi. Ia teringat masa awal pernikahan mereka, ketika Giana selalu bercerita tentang hari-harinya dan mereka makan bersama meski sederhana. Waktu dan kesibukan telah mengikis kebiasaan itu, perlahan hingga ia baru menyadarinya ketika rumah terasa kosong.
Ia membuka ponsel dan menelusuri foto lama. Ada foto mereka berdua di pantai, tertawa dengan rambut berantakan terkena angin. Akhtar menyimpan foto itu, namun ia tak tahu apakah mereka masih bisa kembali sedekat itu.
Giana akhirnya mengirim pesan menjelang tengah malam. Ia mengatakan sudah sampai di rumah Rebeca dan tidak akan pulang malam itu karena terlalu lelah. Akhtar membalas agar ia beristirahat. Setelah itu, ia tidur sendiri di kamar yang terasa terlalu luas.
Keesokan paginya, ia pergi ke kantor dengan pikiran kusut. Ia menyelesaikan rapat, menjawab panggilan, lalu meninjau laporan. Kalina kembali bersikap profesional. Ia tidak berusaha membuat suasana menjadi hangat, dan Akhtar juga tak memaksanya.
Toni melihat perubahan pada sahabatnya. 'Kamu kurang tidur?'
'Sedikit.'
'Ada masalah di rumah?'
Akhtar menatapnya sejenak. 'Giana sedang banyak kegiatan.'
Toni mengangguk, tak mengejar. 'Kalau kamu perlu pulang lebih awal, saya bisa ambil alih jadwal sore.'
'Terima kasih. Belum perlu.'
Akhtar tetap bekerja sampai malam. Ketika akhirnya pulang, rumah kembali kosong. Giana meninggalkan pesan bahwa ia akan bertemu Rebeca lagi keesokan paginya. Ia merasa seperti tinggal di rumah yang sama dengan seseorang yang makin jarang ia temui.
Malam itu, Akhtar duduk di balkon dengan secangkir kopi. Ia bertanya pada diri sendiri kapan terakhir kali mereka membuat rencana bersama tanpa harus diingatkan. Ia masih ingin memperbaiki perkawinan itu, tetapi tak tahu apakah Giana menginginkan hal yang sama. Ia juga tidak tahu mengapa bayangan Kalina semakin sering muncul di kepalanya saat ia merasa sendiri.
Ia memejamkan mata, mengingatkan diri bahwa Kalina bukan jawaban atas masalah rumah tangganya. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Giana, bukan mencari kenyamanan pada orang lain.