Selama ini, Kupikir aku menemukan tanah yang bisa membuatku mengakar dan seorang wanita yang ku panggil mama adalah cahaya terang yang selalu ada untukku, akan memberikan sebuah rumah lalu menjadi sandaran ku tapi ternyata aku salah pahaman.
Sejak kejadian itu, aku berpura-pura tidak rindu sedangkan dia sudah tidak peduli. Sang ego bersorak sorai merayakan kemenangannya akan perpisahan kami, tetapi aku meratap dengan kesendirian. Inginnya mempertahankan ego nyatanya aku semakin terpuruk.
Masa Poerseni masih berlaku, jadilah aku menggurung diri di kosan selama 3 hari lebih dengan pola makan yang berantakan dan kondisi hati yang hancur-sehancurnya.
Di kosanku aku menaggis pilu bahkan membuatku kehilangan semangat hidupku.
Aku menutup akses untuk orang lain beberapa hari ini.
Beberapa kali bahkan ibu kos datang karena tidak melihatku keluar kamar begitu juga dengan teman-temanku. mereka selalu menyempatkan diri untuk berkunjung tapi tak pernah ku bukakan pintu kamar.
Siapa sih yang pernah terbayangkan untuk berada di posisiku sekarang ini?. Seandainya bisa memilih jelas aku ingin dilahirkan di keluarga yang harmonis, berkecukupan, memiliki akhlak yang baik dan semua keluarga saling menyayangi tapi lihatlah sekarang!. AKu ingat om Hafiz pernah berkata padaku
“Jangan takut menghadapi hari esok, karena kamu sudah belajar dari hari kemarin dan banggalah dengan yang terjadi hari ini”
Sampai hari ini aku nggak ngerti yang terjadi di hidupku. Bapak di penjara, rumah kami di sita, orangtuaku cerai, mama akan menikah lagi dan kasus bapak sampai saat ini tidak ada titik terangnya. Bagian mana yang perlu ku syukuri?.
Selama tiga hari ini, aku benar-benar khusu melantunkan doa dan permohonan maaf pada sang khalik, berharap cobaan bisa ku lalui serta di kurangi.
Bukan sekali dua kali, aku berpikir bodoh dan seandainya aku tidak ingat jika manusia yang mati dengan bunuh diri adalah hal yang sia-sia, mungkin sedari kemarin aku mempraktikkan hal yang ada di dalam pikiranku.
Selera humor ku menghilang, mood ku memburuk, setelah ku pikir lagi, kesalahannya ada di aku sendiri. Selama ini, Aku terlalu berfikir keras dan terlalu khawatir atas hal-hal yang seharusnya tidak aku khawatirkan.
Dulu aku khawatir mama akan susah menata kehidupannya dan alice di tempat yang baru, nyatanya salah, mama malah dengan sekejap mata dapatin pengganti bapak dalam durasi lebih cepat setelah masa idahnya selesai.
Lucu? Mungkin tapi yang lebih lucu adalah, kalo kemarin aku selalu menghindari Abi, sekarang aku malah mencarinya. Yapss aku sudah tidak tahan berdebat dengan diriku sendiri jadi aku harus mendatanggi mama dan meminta penjelasan padanya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, setelah mengirimkan makanan ke rutan untuk bapak, aku memasuki sekolah dengan tujuan mencari Abi.
Awalnya Ilmi yang sangat senang melihat yang keluar dari tempat persembunyian tapi saat kuceritakan jika aku ada perlu dengan Abi, wajah Ilmu seketika berubah suntuk. Ilmi berkata
"Untuk apa lo cari dia?” Tanya Ilmi sarkis.
“Aku butuh bantuan Abi” Jawabku sambil celinggak-celingguk mencari keberadaan orang itu.
“Bantuan apa lagi?, mang gue nggak bisa?” Tanya Ilmi kesal.
“Bukannya nggak bisa, tapi gue harus nemuin nyokap gue di Pinrang dan cuman Abi yang tahu lokasi di sana” Jawabku masih mencari keberadaan Abi.
“Serius mau ketemu nyokap?”
“Mmm” Gumamku sebagai jawaban.
“Lo mau ngapaen?” Tanyanya dengan penuh curiga.
“Mencari kepastian!” Jawabku singkat padat dan jelas.
"Kepastian apa?"
"Lo nggak bakal ngerti" Jawabku acuh tak acuh.
Mataku terus mencari sosok yang sangat ku kenal sampai dari arah timur, ku lihat Abi baru saja muncul dari ruang OSIS lalu bergerak menuju ke kelasnya.
Tanpa babibu lagi, aku pergi dari hadapan Ilmi. Saat aku sudah beberapa meter dari ilmi, ilmi berteriak berkali- kali memanggil tapi tidak ku hiraukan.
Aku berlari menyusul langkah Abi, benar nyatanya abi menuju kekelasnya. Untungnya Abi sedang sendiri saat ini jadi kurasa, aku bisa leluasa berbicara dengan Abi.
“Abi” panggilku dengan suara keras mencegat Abi memasuki kelasnya.
Abi tidak menjawab tapi benar adanya sekarang dia berbalik ke asal suara dan melihat aku yang masih sedikit berlari untuk berada tepat di hadapannya.
Saat kami sudah saling berhadapan, Abi hanya diam memperhatikan aku yang masih mencoba menggatur nafasku. Kami sempat terdiam beberapa menit. Waktu Abi melihat aku sudah mendingan, Abi berkata
“Kenapa?” Ujarnya sambil bergerak menggeluarkan sapu tangan dari sakunya lalu Abi membasuh keringatku.
“Kamu masih sibuk?” Tanyaku berbasa –basi.
“Tidak” Kata Abi tapi dia juga berkata
“Tunggu di sini” Ujarnya lalu bergerak untuk masuk ke dalam kelasnya.
Tidak lama setelahnya dia kembali membawa tas dan sebotol air minum yang di sodorkan padaku. Ku terima minuman itu, setelah meneguknya beberapa kali, aku berkata
“Temani aku ke Pinrang dong” Pintaku terus terang.
“Kenapa baru sekarang rindunya?” Jawab Abi dengan wajah menggejek.
“Kamu pasti tahu kalo mama mau nikah kan sama keluarga tante dewi itu?”. Ujarku malah menuding tanpa menjawab pertanyaan Abi.
“Mmm” gumam abi menjawab
“Aku mau minta kejelasan sama dia” Tuturku singkat.
“Kejelasan apa? Toh mama dan bapakmu sudah cerai” Jelas Abi santai.
Mendengar itu, Aku seketika terdiam. Aku tahu jelas bagaimana kasar dan sarkisnya ucapan Abi tapi kalimat yang mengingatkanku dengan perceraian kedua orangtuaku serasa membunuhku berkali-kali.
Genangan air mata rasanya sebentar lagi akan menetes jika tidak ku tahan dengan sekuat tenaga. Aku putus asa, harapanku serasa di rampas oleh Abi jadi aku berkata
“Sudahlah kalo kau tidak mau bantu” Ucapku dan berniat pergi tapi dengan cepat Abi mencekat dan memaksaku kembali bersitatap dengan dia. Kali ini abi berkata
“Aku bukannya tidak mau, tapi kamu sudah yakin dan siap dengan faktanya?”
“Kalo aku bunuh diri kamu bakal cegah aku kan?" Tanyaku balik
“Kamu mau bunuh diri?”
“Baru kepikiran kemarin, kalo faktanya makin sakit mungkin saja terjadi”
“Bodoh” Ejek Abi.
“Memang, saking bodohnya, di permainkan sama kamu saja aku masih bisa memaafkan kamu berkali-kali” Balasku sarkis dan mencoba melepaskan pegangan abi. Abi diam saja tapi pegangannya semakin kuat saja.
“Lepas” Kataku berontak.
“Kapan?” Tanya Abi gamang.
“Apa?” kataku balik tidak mengerti.
“Kapan kamu mau menemui mamamu?” Jelasnya kali ini dengan wajah datar tapi sorot matanya penuh dengan keseriusan di sana.
“Secepatnya biar aku bisa tahu, aku ini baginya masih seorang anak atau barang tidak layak pakai lagi”
“Lia” Kata Abi membentak
“Kamu juga memperlakukanku seperti itu Abi, jadi tidak salah kalo aku mikirnya gitu”
“Kamu bodoh”
“Iya memang, dan salah satu orang yang membodohi aku adalah kamu”
“Apa maksudmu?” Tanya Abi dengan tatapan tajam dan serasa siap membunuhku.
“Aku masih sakit hati di bohongi sama kamu” Jujur ku pada Abi.
“Terus kenapa minta tolong denganku?” Ujar Abi menghempaskan tanganku kasar.
“Kita anggap ini permohonan maaf dan setelahnya kalo aku mati, kamu juga nggak bakal di kejar-kejar penyesalan”
“Lia berhenti berandai-andai dengan kematian mu” Kata Abi marah.
“Kenapa? Kamu malah mau aku mempercepatnya iya”
“Lia” Bentak Abi dengan suara yang sangat keras. Jujurnya aku terkesiap tapi aku bertingkah jika suara itu tidak mempengaruhiku sehingga aku berkata
“Apa?” Tantang ku dengan wajah angkuh.
“Jangan coba-coba berbuat aneh, kalau tidak…”
“Kalo tidak apa, kamu mau apa ha” Ucapku menantang Abi secara terang-terangan.
“Kau ....” kata abi menunjukku dengan wajah yang sudah mengeras menahan amarah. Aku baru saja akan menantang Abi sekali lagi tapi sebelum aku berhasil, sosok di belakang tubuh Abi lebih dulu terdengar dan berkata
“Abi..” Panggil wanita itu.
Wanita itu baru saja keluar dari kelasnya dan menatapi aku dan Abi dengan pandangan terpengarah. Melihat Rina sudah mengusik kami, aku segera berlalu dan tidak memperdulikan mereka lagi.
*********
Mobil terus bergerak menuju Pinrang. Kami berangkat pada pukul lima sore karena Abi harus melakukan tugasnya sebagai ketua pelaksana POERSENI terlebih dahulu. Setelah melakukan persiapan dan diskusi singkat, kami akhirnya pergi dengan menggunakan mobil Rahmat.
Dari Kota Makassar hingga ke Kabupaten Pinrang menempuh jarak selama empat sampai lima jam dan itu harus melewati Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Pare-Pare hingga akhirnya bisa sampai di Pinrang.
Dari ke empat kabupaten itu, Kabupaten yang paling panjang kami lalui adalah kota Barru dan rasanya sangat lama dan membuat p****t serasa akan kempes sebentar lagi.
Setelah ku cari di internet, aku baru tahu kalau Kota pinrang ternyata adalah sebuah kota kecil di mana masyarakatnya cukup padat dan memiliki objek wisata yang cukup banyak, nah karena memiliki objek wisata itulah yang membuat teman-temanku dan rina ingin ikut.
Kini kami berenam sudah berada di atas mobil dengan posisi Abi yang menyetir, Rina di sampingnya, aku dan Ilmi di kursi tenggah sedangkan Dito juga Rahmat berada di kursi belakang.
Kami sengaja menaruh Rina di depan karena sebenarnya teman-temanku tidak ada yang setuju jika Rina ikut tapi setelah dia merengek ke Abi, Abi akhirnya mengiyakan dan membuat kami kesal bukan main.
Walau pun kami sadar Rina ada tapi kami seolah tidak menganggapnya, jadi saat kami singgah di warung untuk makan, tidak seorang pun dari kami yang menegur atau sekedar basa-basi pada Rina.
Jahat? mungkin tapi bukan aku yang mempropokasi teman-temanku. Aku jelas tahu mereka, mereka bukan tipe yang mudah terhasut lalu membenci orang lain tapi memang karena citra diri Rina yang rusak apa lagi Rina merusak hubunganku dengan Abi maka Semakin bencilah mereka.
Sepanjang perjalanan Rina layaknya orang asing di antara kami. Biarpun suasananya kurang nyaman, tapi tetap ramai karena suara-suara teriakan Rahmat atau Dito yang sedang heboh-hebohnya bermain game di belakang sana.
Awalnya mobil masih berjalan baik-baik saja tapi nyatanya semuanya tidak berjalan dengan mulus. Saat kami akan memasuki Kabupaten Barru, maka mobil seolah meronta-ronta karena kelelahan.
"Putt "
"Putt"
"Putt"
Suara kenalpot mobil yang di paksa tetap melaju, untunglah jalan mulai sepi karena jarum jam sudah menunjukkan pukul satu tengah malam.
"putt"
"putt"
"putt"
"putt" suara itu terus terdengar hingga membangunkan semua penumpang kecuali aku dan Abi yang memang selalu terjaga selama mobil melaju. Merasa tidak bisa di paksakan lagi, Abi menepikan mobil. Rahmat yang baru terbangun dari tidurnya berkata
"Kenapa berhenti?"
"Mobilnya kentut-kentut" Jawabku polos.
"Apa'an kentut-kentut, ngawur kamu" Kata Rahmat tidak terima keteranganku.
"Lagh emang gitu kok, kamu ngak rasa mobilnya kayak lompat-lompat emang?"
"Nggak" Jawabnya tidak kalah polos dariku.
"Lagian tidur atau mati sih, mana brisik lagi pasti ileran jugakan?" Tudingku.
Sebelum Rahmat menjawab ku lihat Abi turun dari mobil dan memeriksa bagian mesin padahal di luar sedang gerimis. Abi lalu kembali membuka pintu mobil dan menggambil handphone yang dia titipkan padaku.
Setelah mengambil HPnya, Abi kembali keluar dan memeriksa mesin mobil, melihat Abi sepertinya menggutak-atik tapi entah itu apa, Rahmat dan Ditto ikut turun di susul Rina yang berbaik hati menyalakan senter HPnya sebagai cahaya bnatuan.
Hujan kian deras dan baju Abi mau pun yang lainnya jelas sudah basah. Karena penasaran apa yang sedang mereka kerjakan, aku dan Ilmi akhirnya ikut turun dari mobil hingga hujan menggujyur tubuh kami.
Ternyata Rahmat, Dito dan Abi sedang mendiskusikan jalan keluar agar kami bisa kembali melanjutkan jalan tapi satu celetukan Rina membuat Rahmat seketika berang bukan main, Rina berkata
"Sudah tahu mau jalan jauh, mana berani banget ngajuin mobilnya yang di pake"
"Apa?" Kata Rahmat membentak Rina.
"Udah udah" Tutur Dito menegur keduanya.
"Lagian aku kan udah ngajuin mobilku, kalo make mobilku pasti nggak gini jadinya" kata Rina ngotot.
Rina semakin memperkeruh suasana padahal kami sedang berada di jalan yang sepi, gelap, hujan makin deras, dan sangat jauh dari rumah penduduk. Di tempat kami berhenti saat ini hanya ada sawah, rawah-rawah dan ilalang yang tinggi.
"Yang ngarapin lo ikut di tim kami siapa sadar diri lo" Ketus Rahmat makin meninggikan intonasi suaranya.
Rina seketika terdiam, entah karena sadar jika memang dia tidak di harapkan atau karena Abi tidak kunjung membuka suara apa lagi membelanya.
"Jadi sekarang gimana dong?" Tanyaku pada mereka.
"Ya kepaksa mobil harus banget kita dorong dulu biar bisa nyala lagi"
"Eghh katanya mogok mang bisa?" Tanyaku polos karena memang tidak mengerti.
"Bisa, ini cuman busi dan lampunya yang bermasalah kok" Kata Rahmat dengan wajah suntuk.
"Oooo" Balasku sambil mengangguk-angguk pelan.
"Jadi siapa nih yang nyetir?"
"..." Seketika semuanya diam. Kami saling memperhatikan satu sama lain. Penampilan kami saat ini hampir serupa, baru beberapa menit di luar mobil, kami sudah basah karena hujan yang tak kunjung berhenti juga.
"Cewek lo deh" Putus Rahmat seketika.
"Lia?, Lia mana bisa nyetir mobil" Kata Abi polos atau sedang bersandiwara.
"Maksudnya Rahmat tuh Rina" balas Ilmi dengan sewot.
"Rina bukan pacarku" Sanggah Abi langsung.
"sakerapmu deh, duh sabar ya Rin, kalo gue jadi lo pasti malunya nggak ketolong deh" Ejek Ilmi pada Rina dengan wajah pura-pura prihatin.
"Hust udah yuk dorong, udah tenggah malam nih" kataku mengintrupsi perdebatan itu.
Setelah mengatakan itu, kami akhirnya menggambil posisi masing-masing dimana Rina yang masuk ke dalam mobil untuk menggarahkan mobil sedangkan kami mendorong di belakang.
Mobil Rahmat yang bodynya memang besar ternyata emang terasa sangat sulit di dorong apa lagi jalanan sedikit menanjak maka lengkap penderitaan kami.
Dorong dan dorong, itu yang kami lakukan, belum lama mobil itu bergerak, terdengar suara aneh. Jelas kami berhenti mendorong salah satu alasannya adalah mobil seolah tertahan dari arah depan.
Setelah di periksa, ternyata oh ternyata salah satu ban depan keluar dari jalur jalan dan masuk ke genangan air yang tanahnya rendah. Ku pikir semuanya sudah sempurna dengan ban mobil yang tengelam dan sulit di gerakkan, nyatanya tidak wan kawan.
Di mobil yang kami tumpanggi tidak ada dongkrak. tahu kabar buruknya apa? jalanan makin sepi, hujan makin deras dan perdebatan antara Ilmi dan Rina terjadi.
"g****k banget sih lo, lo bilang jago sekarang apa? Bukannya nyelesaiin malasah malah nambah-nambahin musibah aja lo" Semprot Ilmi menunjuk-nunjuk wajah Rina.
"Gue nggak sengaja" Bela Rina pada dirinya sendiri.
"Nggak sengaja tapi apa sekarang kita ke jebak di sini dan mana nggak ada dongkrak lagi" kata Ilmi semakin kesal.
Seketika kami semua terdiam melihat mobil beberapa saat tapi Rahmat malah masuk ke dalam kolong mobil dan melihat kondisi dan kedalaman ban yang tenggelam itu. Setelah Rahmat keluar, dia berkata
"Lumayan dalam tapi kayaknya kalo di ganjal batu bisa deh" Kata Rahmat bertolak pinggang di hadapan kami.
"Ya udah deh, cari dah" Kata Dito. Aku baru akan bergerak dan ikut mencari batu tapi Abi mencegat tanganku dan berkata
"Kalian disini saja, tunggu" Ujar Abi pelan dan bergabung dengan Rahmat dan Tio yang sudah memegang beberapa batu kecil.