Namanya QUEENNESA MUTIARA ARDIANSWIJAYA. Memiliki sifat Baik, cantik, humble, supel, lucu, cerewet dan sedikit rusuh, ia memiliki mata cantik berwarna hijau kebiruan, yang akan membuat siapa pun yang menatapnya langsung terpana. Tapi tidak disekolah, ia memakai softlens berwarna hitam untuk menutupi warna aslinya. Ia perempuan satu-satu nya didalam keluarga hangatnya, memiliki dua abang yang superduper sayang dan over protective terhadapnya. Gadis yang hanya memakai nama tengah nya saat di sekolah, karena tak ingin mendapat cinta dan persahabatan yang palsu. Tidak ada yang tau persis bagaimana sifat aslinya, mereka hanya tau ia memiliki sifat yang hangat, tapi mereka belum tahu bagaimana sisi kejamnya. Selalu banyak kejutan dan rahasia di balik paras cantiknya;)
cantiknya, dan sialnya tidak ada satu pun orang yang berhasil membaca sampai halaman terakhir.
Di rumah ia gadis manja yang minta disuapin, di sekolah ia gadis biasa yang duduk paling belakang, dan di tempat lain ia bukan keduanya. Softlens hitam itu bukan sekedar gaya, itu pintu yang ia kunci rapat-rapat. Nama panjangnya pun ia simpan di laci, hanya nama tengahnya yang ia bawa keluar rumah. Baginya, orang yang datang karena tau siapa dia bukan teman, itu cuma antrean. Ia pernah percaya sekali, pernah menyebut seseorang sahabat, dan ternyata yang disayang orang itu bukan dirinya, tapi apa yang bisa ia keluarkan dari dompetnya. Sejak itu tia berhenti memberi nama lengkapnya pada siapa pun.
Ia baru saja kembali ke rumah setelah lama tinggal bersama kakek neneknya, membawa satu koper baju dan satu koper rahasia. Punya kartu tanpa batas, tapi lebih senang uang hasil online shop nya sendiri. Punya mobil di garasi, tapi lebih milih motor. Aneh? Enggak juga, ia cuma tidak mau hidupnya dinilai dari apa yang menempel di badannya.
Lalu, ada empat orang lagi di rumah itu. Empat orang yang membuat gadis ini rela memakai topeng seumur hidup, asal mereka tidak pernah kenapa-kenapa.
RIFAN. Papah nya. Lelaki yang bicaranya pelan tapi tidak ada satu pun karyawan yang berani memotong. Perusahaannya bercabang dari indonesia, australia, sampai belanda yang sedang ia siapkan untuk launching. Di kantor, tanda tangannya bisa membuat orang kaya mendadak atau bangkrut mendadak. Di rumah, ia laki-laki yang paling gampang luluh cuma karena anak perempuannya menunduk dan pura-pura sedih. Kalau sudah begitu, mau uang jajan dipotong seratus kali pun, papahnya sendiri yang mengembalikan.
CACA. Ibunya. Perempuan yang wajahnya dijiplak habis-habisan oleh tia, sampai orang sering salah menebak mana ibu mana anak. Di rumah dipanggil bubu. Masakannya nomor satu, omelannya nomor satu juga. Satu-satunya orang yang berani mengancam tia dengan uang jajan, dan satu-satunya orang yang menyetir seperti sedang dikejar. Kalau bubu sudah memanggil nama lengkap, itu tandanya seisi rumah harus diam.
REYFAN. Abang pertama. Reyfan alaski ardianysah, pria yang namanya ada di jajaran orang berpengaruh di dunia dan wajahnya ada di sampul majalah manapun. Sekarang ia mengurus bisnis keluarga di luar negeri, jauh dari rumah, tapi tidak pernah benar-benar jauh dari adiknya. Ada saja tangannya yang memantau, ada saja orangnya yang melapor. Senyumnya ramah, candaannya selalu ada ancaman di ujungnya. Kejam? Sangat. Tapi di depan adik perempuannya, pria itu bisa jadi orang paling tidak berdaya sedunia.
REVANO. Abang kedua. Panggilannya revan, tapi tia lebih suka memanggilnya monster ganteng. Sudah dipercaya mengurus cabang perusahaan, tapi kelakuannya masih seperti anak sekolah. Kerjaannya mengerjai adiknya, meledek adiknya, lalu panik sendiri kalau adiknya ngambek. Punya barisan penggemar dimana-mana, dan justru itu yang bikin tia gerah setengah mati kalau harus berjalan berdua dengannya di tempat umum.
Dan malam ini, tiga dari mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Ti, barang kamu udah dibongkar semua belum?" ucap caca sambil melipat kain di pangkuannya
"Udah bu, tinggal dua kardus" ucap tia, yang sedang tengkurap di karpet dengan hape di tangan
"Dua kardus itu banyak, ti"
"Kan masih ada besok bu" ucap tia asal, dan berhasil membuat revan tertawa
"Besok besok, besok nya besok lagi. Gue tebak sebulan lagi kardus itu masih disitu" ucap revan
"Ihh abang, doain yang bener napa" ucap tia sambil melempar bantal, yang dengan santainya ditangkap revan
"Sudah, jangan berantem" ucap rifan dari sofa, koran di tangannya diturunkan sedikit "Besok pagi ayah mau ngomong sesuatu sama kamu, ti"
"Ngomong apa yah?" ucap tia, langsung duduk
"Besok" ucap rifan singkat, lalu korannya naik lagi menutupi wajahnya
"Yaahh, tia jadi penasaran" ucap tia sambil manyun
"Palingan mau dijodohin" celetuk revan
"Hah?!"
"Bercanda cantik, muka lu jangan gitu dong. Jelek" ucap revan, lalu tertawa puas karena adiknya melotot
"Abang tuh ya, kalo ngomong disaring" ucap tia
"Alat saringnya rusak de" ucap revan
Caca hanya menggeleng melihat dua anaknya, sementara rifan tersenyum di balik korannya. Rumah ini memang selalu begitu, ribut tapi hangat, dan tia tidak akan menukarnya dengan apapun.
"Bu, nanti kalo tia sekolah, boleh gak naik motor mang ijal?" ucap tia hati-hati
"Buat apa? Kamu kan punya mobil" ucap caca, alisnya langsung naik
"Kan lebih gampang bu, gak kena macet"
"Nanti kamu jatuh"
"Gak akan bu, tia bawanya pelan" ucap tia, lalu menoleh ke arah papahnya dengan tatapan yang sudah ia latih bertahun-tahun. Tatapan yang tidak pernah gagal.
"Ca, biarin aja" ucap rifan tanpa menurunkan korannya
"Faan..."
"Sebentar doang, nanti juga bosen sendiri" ucap rifan
Tia langsung nyengir lebar, sementara caca menghela nafas panjang, kalah suara seperti biasa. Revan menggeleng-geleng, sudah hapal betul bagaimana adiknya bekerja. Anak itu tidak pernah membentak, tidak pernah memaksa, tapi selalu dapat apa yang ia mau. Kalau orang lain menyebutnya manja, revan menyebutnya bakat.
Drrt
Drrt
Hape rifan bergetar di atas meja. Satu nama muncul di layar, dan tia yang tadinya sudah setengah mengantuk langsung merangkak mendekat.
"Abang reyfan!" pekik tia, merebut hape papahnya tanpa dosa
"Ti, itu hape ayah" ucap rifan pasrah
"Sebentar doang yah" ucap tia, lalu menggeser layar "Haloo abang"
"Eh ada princess" ucap suara di seberang sana, berat tapi langsung melunak begitu tau siapa yang mengangkat
"Abang kapan pulang? Tia kangen tau" ucap tia sambil mengerucutkan bibir
"Bentar lagi, abang lagi banyak urusan disini" ucap reyfan
"Bentar lagi tuh kapan? Tahun depan? Abang bohong terus" ucap tia
"Nanti abang kasih kejutan, gimana?"
"Gak mau kejutan, mau nya abang" ucap tia, dan diseberang sana terdengar tawa kecil
"Iya iya, sabar. Oiya, kamu udah dapet sekolah?" ucap reyfan
"Belum, papah belum nentuin"
"Nanti abang yang atur kalo papah lupa" ucap reyfan, nadanya berubah datar "Tapi inget pesen abang. Dimana pun kamu sekolah nanti, kalo ada yang berani nyentuh kamu, satu orang aja, kamu telpon abang"
"Iya bang, tia bisa jaga diri ko"
"Abang tanya, kamu telpon abang atau enggak" ucap reyfan lagi, kali ini tidak ada nada bercandanya sama sekali
"Iya, tia telpon" ucap tia akhirnya, dan suara diseberang kembali hangat seperti tadi
"Anak pinter. Udah, tidur sana, jangan begadang"
Telpon ditutup. Tia menyerahkan hape papahnya kembali, lalu duduk lagi dengan senyum yang tidak hilang-hilang.
"Kalo abang reyfan udah ngomong gitu, ada yang bakal susah tidur di jakarta" ucap revan pelan
"Apa bang?"
"Enggak, gue bilang lu cantik" ucap revan sambil nyengir
"Gue tidur duluan ya" ucap tia sambil bangkit dan meregangkan badan
"Jam segini?" ucap revan heran
"Besok mau bangun pagi, biar gak diteriakin sama monster" ucap tia
"Monster mana?"
"Ada, tinggi, ganteng dikit, suaranya kaya toa masjid" ucap tia sambil ngacir naik tangga
"HEH KUPRET" teriak revan, dan yang diteriaki malah tertawa dari atas tangga
"Revan, jangan teriak-teriak" ucap caca
"Lah bu, adik bu yang mulai"
"Kamu yang gede, kamu yang ngalah" ucap caca, dan revan hanya bisa mengaduh pasrah
Di kamarnya, tia menutup pintu pelan. Ia melepas jepitan rambutnya, duduk di tepi kasur king size nya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Mata hijau kebiruan itu balas menatap, warna yang nanti akan ia sembunyikan lagi di balik lensa hitam.
"Selamat datang di rumah, tia" ucap nya pelan pada bayangannya sendiri
Ia meraih hape, mengecek satu pesan yang masuk, membacanya sekilas, lalu menghapusnya sampai bersih. Setelah itu ia tersenyum, senyum yang tidak pernah ia perlihatkan pada siapa pun di rumah ini.
Sebentar lagi dunia akan bertemu dengan mutiara yang manis, yang cerewet, yang rusuh, yang gampang dikerjai.
Dan tidak ada yang tau, mutiara itu punya sisi yang tidak semua orang siap lihat.