"Charissa!" panggil Jemia dari koridor, Charissa yang merasa namanya terpanggil, menoleh ke belakang.
Jemia mendekati Charissa, "Charissa buku jurnal-mu tertinggal." Jemia menyodorkan buku jurnal-nya.
Charissa menerima-nya, lalu tersenyum kecil, "Terimakasih, Mia." Jemia hanya mengangguk kecil.
Kemudian Charissa berbalik dan melangkah, di ikuti Jemia di samping-nya. "Apa kau sudah menemukan jawaban-nya?" tanya Jemia tanpa menghentikan langkah-nya.
Charissa menoleh sambil mengangguk pelan, "Ya.Tentu saja."
Jemia mengangguk paham, "Kerja bagus, Rissa."
"Mia, masih ada hal yang ingin ku cari tahu. Aku tidak akan langsung pulang, aku akan ke perpustakaan sebentar, duluan saja ya." kata Charissa sambil meninggalkan Jemia.
Jemia hanya mengangguk, sudah sering Charissa seperti itu. Jemia tidak akan bertanya.
Sekolah sudah sepi, hanya tersisa anak-anak ekskul Paskibra dan Basket yang masih di sekolah, dan tersisa Charissa yang kini di perpustakaan.
Charissa terlihat sedang fokus membaca buku, sesekali dahi-nya mengerenyit.
"Beberapa orang berspekulasi di suatu tempat terdapat portal dimensi lain." gumam Charissa.
"Perhitungan menggunakan teori Brane mengungkapkan setidaknya ada 9 dimensi di alam semesta ini."
"Tentunya ini masih merupakan teori serta perhitungan kasar semata, dan ilmuwan masih belum bisa membuktikan apakah 9 dimensi tersebut benar-benar ada. Namun, yang menarik adalah black hole sepertinya memegang kunci dari semua misteri tersebut."
Charissa terdiam setelah membaca buku tersebut, tentu saja Charissa penasaran apakah portal dimensi lain benar-benar ada?
Kalau saja bisa, Charissa ingin masuk ke dalam black hole untuk membuktikan teori tersebut.
"Sebenar-nya ada atau tidak ada ya? aku benar-benar ingin tahu." ucap Charissa.
Tidak mungkin Charissa mendatangi tempat dimana black hole berada, diam pun Charissa tidak akan mengetahui-nya karena para ilmuan masih meneliti.
Lama-lama Charissa akan menjadi kuriositas karena rasa penasarannya.
Black hole itu tempat-nya di luar angkasa, Charissa tidak akan bisa kesana, Jalan satu-satu nya hanya menunggu informasi lewat artikel.
Ponsel Charissa bergetar, ia melihat contact name tersebut, lalu mengangkat-nya. "Ya, Mia?"
"Rissa, gawat!!"
"Ada apa, Mia?"
"Kau masih berada di sekolah kan, Rissa?"
"Ya, tentu."
"Tadi saat aku ingin mengambil ponsel-ku ke kelas, aku melihat bayangan hitam, namun saat aku mendekati-nya bayangan itu hilang, Rissa."
"Sebelum-nya, aku melihat bayangan itu mencari sesuatu di kolong meja Kristian."
Charissa terdiam, "Lalu kau sekarang dimana?"
"Aku sudah keluar dari sekolah, tidak berani untuk mencari tahu."
Charissa menunduk, "Akan aku cari tahu." kata Charissa.
"Terimakasih, Rissa. Aku takut bayangan itu akan menjadi hal buruk untuk kelas kita."
"Ya, aku mengerti."
"Sudah ya, aku tutup." Charissa menutup telfon-nya tanpa menunggu jawaban Jemia.
Charissa memberes-kan buku-nya dan menyimpan buku yang barusan di baca-nya ke rak awal. Kemudian Charissa keluar dari perpustakaan berjalan di koridor menuju kelas-nya.
Sesampainya di kelas, Charissa tidak melihat siapa-siapa, ia berjalan ke arah meja Kristian, mata-nya menangkap sesuatu, tulisan yang di tulis dengan spidol merah.
Be honest or die!
Charissa memegang kertas tersebut, dan meremas-nya. Sepertinya orang yang menyimpan kertas tersebut juga sudah pergi, Charissa keluar dari kelas dan membuang kertas itu ke tempat sampah.
Charissa berjalan dengan santai, berniat untuk pulang. Namun, Charissa mendengar ada yang sedang berbicara. Spontan Charissa menghentikan langkah-nya.
Mereka berbicara terdengar seperti bisik-bisik, Charissa mencari sumber suara itu. Lalu mata-nya menangkap dua pasang manusia tengah berbicara serius, mereka berpakaian hitam-hitam, bahkan memakai masker dan topi hitam, kedua-nya sama-sama perempuan.
Charissa tidak mendengar jelas mereka membicarakan apa, tapi Charissa menangkap beberapa kata. Salah satu dari mereka menyadari keberadaan Charissa, lalu mengode teman-nya, ia menoleh ke arah Charissa lalu kedua-nya berlari.
Charissa segera memungut kembali kertas yang tadi ia buang ke tempat sampah, lalu mengikuti mereka, namun ia tidak berlari. Meskipun wajah-nya terlihat santai, tapi otak Charissa sedang berfikir.
Mereka terlihat menaiki motor Ninja ZX-6R 636 SE dengan tergesa-gesa. Charissa melirik plat nomor-nya lalu segera mem-foto plat nomor tersebut.
Charissa memasukan ponsel-nya ke dalam saku baju seragam-nya, Charissa duduk di sebuah kursi panjang yang biasa di pakai tongkrongan siswa.
Charissa sedang menunggu seseorang setelah menghubungi orang tersebut barusan. Setelah setengah jam Charissa menunggu, orang tersebut datang dengan motor beat-nya.
Charissa berdiri, orang tersebut segera menghampiri Charissa. "Ada apa, Ris?"
Charissa tersenyum kecil, "Ada apa, Kris? seharus-nya aku yang bertanya."
Orang tersebut mengerenyit bingung, Charissa menyondor-kan kertas yang tadi di remas oleh-nya, "Seperti-nya kau sedang dalam masalah, Kris. Aku hanya membantu-mu sedikit." kata Charissa sambil menunjukan foto plat nomor yang barusan di foto-nya.
Kristian terdiam, "Maaf saja, Kris. Aku tidak memberitahu-mu duluan lewat chat."
Charissa dapat melihat wajah Kristian yang terpaku, ia tidak akan ikut campur dengan urusan Kristian, ia hanya penasaran dengan bayangan hitam yang di bilang Jemia, ketika ia sudah tahu bahwa orang itu menarget-kan Kristian, maka Charissa tidak akan berbuat jauh.
Charissa melangkah meninggal-kan Kristian yang masih terdiam, "Tunggu, Ris." panggil Kristian.
Charissa menghentikan langkah-nya. "Bisa tolong bantu aku? ku mohon, Ris." pinta Kristian dengan wajah pucat dan tatapan memohon.
Charissa tampak menimang, "Aku tidak mau ikut campur." kata Charissa.
Kristian menggeleng pelan, "Aku yang meminta-nya, bukan kau yang ikut campur."
"Bagaimana kalau aku tidak bisa membantu-mu Kris?" tanya Charissa memancing.
"Aku tidak akan meminta bantuan pada orang yang tidak bisa membantu-ku, Rissa."
Charissa tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan. Ia mendekati Kristian, "Ceritakan awal mula-nya, mungkin aku bisa memikirkan apa yang harus kita lakukan." ucap Charissa lalu kembali duduk di ikuti Kristian di samping-nya.
Charissa mendengar-kan dengan seksama, sesekali ia mengerenyit, setelah Kristian selesai menceritakan-nya, Charissa menghela nafas-nya.
"Aku tidak mengerti kenapa seseorang mudah sekali mengatakan akan membunuh." ucap Charissa melirik langit senja.
Kristian tersenyum tipis, "Aku tidak tahu masalah-nya akan menjadi seperti ini, Ris." ia merasa lega telah menceritakan masalah-nya pada seseorang.
Charissa mengangguk, "Ya, karena kau bukan-lah seseorang yang bisa melihat hal apa yang akan terjadi ke depan-nya."
"Tidak perlu di sesali, Kris. Saat ini kau hanya harus menghadapi-nya." ucap Charissa memberikan semangat.
"Tapi aku penasaran, tidak mungkin hanya hal sekecil itu dia berbuat nekat dengan mengancam nyawa orang lain." ucap Charissa pelan.
Kristian terdiam.
Charissa melirik-nya, "Apa ada hal lain yang membuat-nya begitu membenci-mu?" tanya Charissa dengan tatapan menyelidik.
"Aku tidak tahu." jawab singkat Kristian.
Charissa memejam-kan mata-nya. Lalu berdiri, "Aku akan membantu-mu mulai besok. Sekarang, aku ingin istirahat dan pulang." kata Charissa.
Kristian sontak ikut berdiri, "Aku antar."
Charissa menggeleng, "Aku sudah pesan ojek online."
Kristian mengangguk, setelah Charissa mengatakan itu, ojek yang di pesan Charissa pun datang.
"Hati-hati, Ris!" kata Kristian, Charissa mengangguk. Setelah sepulang Charissa, Kristian pun ikut pergi dan mengendarai motor-nya dengan kecepatan tinggi.
Sepanjang perjalanan Charissa terdiam berfikir apakah dugaan-nya benar. Ia akan membuktikan-nya besok, atau dalam beberapa hari ke depan. Kali ini Charissa akan menarget-kan 3 hari, jika dalam 3 hari Charissa tidak juga mendapat jawaban, maka Charissa tidak boleh mencari tahu tentang sains, atau tentang hal lainnya dalam 3 Minggu ke depan.
Setelah sampai di rumah-nya, Charissa membersih-kan diri-nya, lalu menulis di buku jurnal-nya.
Kristian lied, he is guilty.
Starting from 04-02-2019 to 07-02-2019.