Tiara kembali memejamkan mata, bukan berpura-pura ingin tidur. Namun berdebat dengan kakak madunya itu, sungguh sedikit membuatnya menjadi kepayahan. Rasa pusing yang mendera kian-kian bertambah. Bahkan, sesosok yang selama pernikahannya itu yang telah mampu membuatnya jatuh cinta, untuk sesaat pun tak mampu mencairkan hatinya yang diliputi rasa kecemburuan. Kecapekkan dalam masa kehamilannya pun membuatnya semakin lepas kendali, dan tentu saja lepas kesabaran juga.
Ningrum buru-buru menghapus jejak airmatanya, yang sempat menggenangi di kedua pipinya yang ranum dan lembut.
Wanita itu tak ingin tangisnya diketahui oleh sang suami atau siapa pun.
"Hei, mas. Sendiri? Mana mama? " tanya Ningrum dengan suara yang dibuat setenang mungkin, tetapi tetap saja suara bekas menangisnya pun tidak mampu menutupi hal itu.
"Kenapa dengan suara kamu Rum? " balik Aksa bertanya, sambil meletakkan bungkus plastik belanjaannya di atas nakas. Bahkan keningnya berkerut tanda ia penasaran.
"Aku, yang membuatnya menangis. " jawab Tiara spontan, namun kedua matanya tetap setia terpejam. Tetap acuh dengan keadaan sekitarnya.
Aksa menarik kursi lain, untuk ikut duduk di depan Ningrum.
"Ada apa? Kalian bertengkar? " tanya Aksa tanpa basa-basi.
"Iya. " itu jawaban dari bibir Tiara, berbeda dengan Ningrum yang malah menggelengkan kepala.
Aksa mengelus-elus kepala milik istri mudanya. "Pusing? "
"Hm... "
Tetapi, pandangan mata Aksa berfokus pada istri tuanya. Lalu menarik jari-jari milik Ningrum dengan tangan lainnya. "Kenapa? " tanyanya lirih. Dan hal itu membuat Tiara tak menghiraukan pertanyaan suaminya, karena ia tahu, pertanyaan itu untuk Ningrum.
"Apa aku di sini yang salah? Hingga membuat kalian bertengkar? " sekali lagi Ningrum tetap menggelengkan kepala. Sekuat tenaga ia tahan agar airmata miliknya tidak kembali menghiasi ujung mata dan pipinya.
"Baiklah. Mungkin aku yang membuat kalian berbeda pendapat kali ini. Selaku suami kalian berdua, aku minta maaf pada kalian. Maaf, jika orang bodoh ini telah membuat kalian terluka, kesakitan, bahkan sudah lancang menghancurkan mimpi-mimpi indah kalian. Maaf... Aku mengaku salah pada kalian, maukah kalian mengampuni aku? Ampuni aku, tolong beri aku kesempatan, agar bisa membuat kalian tersenyum kembali. Tolong kasih tahu caranya, agar kalian tak bersedih hati lagi. "
Ningrum sudah tidak mampu menyembunyikan airmata kesedihannya. Isak lirihnya sekuat tenaga ia tahan, agar tidak menimbulkan suara. Ia sedih, suami terkasihnya merasakan kesedihan dan terluka. Ia merasa gagal memberikan kebahagiaan untuk lelaki pahlawannya itu. "Jangan bicara begitu mas, mas adalah laki-laki terbaik setelah papaku... "
"Aku yang jadi pemicu kalian tidak nyaman. Bagaimana bisa, aku disebut lelaki terbaik Rum? "
Tiara membuka perlahan kedua matanya. Ia bukannya tidak mempunyai hati dan perasaan. Karena, sering dalam diam atau kesendirian saat waktunya ia harus sendiri, Tiara sudah sering menangis, seakan-akan menyesali apa yang telah ia setujui di awalnya. "Aku yang salah, telah jatuh cinta. Kalian tak perlu meributkan apapun. Setelah ini, akan aku usahakan tak akan membiarkan hatiku mengharapkan yang lebih lagi... "
"Adek bilang apa? Tolong katakan, abang harus apa? "
"Aku sempat meminta, pada mba, buat menyerahkan abang seutuhnya padaku. " seketika tubuh Aksa menegang terkejut, bahkan genggaman tangan kirinya pada jari-jari Ningrum semakin mengerat, dan hal itu tidak lepas dari lirikkan ujung mata kiri Tiara, yang membuatnya mengdengkus jengah. "Tapi tak usah khawatir bang. Aku tak akan sejahat itu, walau aku ingin. "
"Dek___ "
"Aku ingin tidur kembali bang. Aku ingin sendiri. Aku lelah. "
"Baiklah. Sehabis itu, semoga perasaan adek bisa baikkan kembali. Jangan berpikir yang enggak-enggak ya... " akhirnya Aksa mengalah, tidak mau mencerca Tiara dengan pertanyaan - pertanyaan yang ada di dalam otak kepalanya. "Abang ada di sini, istirahat ya? " ucap Aksa penuh dengan kelembutan, lalu mengecup kening istri mudanya itu tanda cinta.
"Bagaimana aku bisa tak ingin menguasaimu bang... Jika perlakukan kamu seperti ini. Marahlah kalau ingin marah bang... Itu lebih baik untukku. " ucap Tiara sangat lirih.
Aksa menggelengkan kepala dengan pelan. "Abang, tak akan pernah bisa marah pada kalian berdua. Sedangkan, poros masalah itu ada pada abang sendiri. " jawab Aksa berusaha memberikan ketenangan untuk Tiara. "Istirahat ya... Abang dan mba ada di sini. "
Tanpa menunggu kalimat lain, Tiara kembali mengatupkan kedua kelopak matanya. Rasa pusing yang menderanya ingin segera ia lenyapkan, ditambah obat yang ia minum setelah disuapi oleh mama mertuanya tadi sudah mulai beraksi.
Ketika melihat Tiara telah tertidur tenang, ritme napasnya pun sudah teratur, Aksa menggenggam telapak tangan Ningrum, lalu membawa istri pertamanya itu keluar dari ruangan inap Tiara. Ningrum pun dengan patuh mengikuti langkah suaminya, tanpa mengajukan protes sedikitpun. Namun, dalam hatinya tetap was-was. Apakah Aksa akan menegurnya karena membuat istri mudanya itu bersedih.
"Kita duduk di sini saja, kalau Ara bangun kita bisa langsung tahu. " ucap Aksa sambil membawa Ningrum duduk di bangku besi panjang depan ruang inap Tiara. Ningrum menganggukkan kepala tanda setuju.
"Maaf ya Rum. Kamu harus mengalah lagi demi Ara. Mas, mengaku salah dan lelah. Mencoba berbuat adil pada kalian sesuai yang kalian mau ternyata tak semudah yang mas bayangkan. " ucap Aksa pelan, namun masih terdengar di rungu milik Ningrum.
"Apa mas mendengar pembicaraan kami tadi? " tanya Ningrum dengan sabar walaupun dalam hatinya kebat-kebit.
Helaan napas kasar Aksa itu pun menjadi jawaban atas pertanyaan yang dilontarka oleh ningrum. "Terus? Apa yang akan mas lakukan? Apakah mas akan mengabulkan permintaan Ara? " tanya Ningrum parau. Ia takut, apa yang ia takutkan hatinya akan terjadi.
"Abang dari awal tak akan memilih di antara kalian. Bersabarlah sedikit lagi Rum. Mas akan bicara pelan-pelan pada Ara. Kata dokter, ini hanya gejolak dari hormon kehamilannya. Mas minta, kamu mengerti keadaannya ya Rum. Kita akan tetap menjadi kita, mas tak akan memilih. "
"Tapi, benar kata Ara mas, dia sekarang sangat butuh perhatian dari mas. Apalagi melihat kondisi yang mudah drop begitu. "
"Apa kamu punya solusi Rum? Terus terang mas sangat buntu akan hal ini. Mas juga merasa nggak enak dengan orangtua Ara. "
"Untuk sementara, mas sama Ara aja dulu. Menjaganya itu lebih penting sekarang. Ada calon anak kita juga yang butuh perhatian lebih dari mas. Tidak mungkin juga, kita merepotkan papa dan mama terus kan? "
"Kalau mas harus jaga Ara lebih lama. Lalu, kamu gimana Rum? Apa kamu tidak perlu kehadiran mas juga? "
Mendengar hal itu, Ningrum tersenyum lembut, lalu mengusap lembut rahang keras milik suami tercintanya itu. "Mas yang lebih tahu, akan perasaanku. Aku butuh mas, itu pasti. Tapi keadaan Ara, sekarang lebih penting. Calon penerus kamu sedang bersamanya mas. Aku bisa mengurus diriku sendiri untuk sementara waktu. "
"Lalu, menjadikan mas sebagai suami yang zolim? " dengan cepat Ningrum menggelengkan kepalanya.
"Mas baik. Mas sangat baik. Aku ridho, aku ikhlas, asal mas bahagia. Hanya satu keinginan aku mas, biarkan aku tetap menjadi istrimu, sampai aku tak bernyawa lagi. "
Aksa segera meraih tubuh ringkih milik istri yang sangat ia sayangi itu, bersama Ningrum, ia tak pernah berpikir pelik. Karakter lembut dan suka mengalah Ningrum, membuat Aksa berkali-kali bersyukur, bahwa wanita salehah itu memang ada. Wanita yang baik lembut hatinya, yang tak akan ia lepaskan sampai kapan pun.
"Hal yang tak akan pernah aku lakukan adalah, melepaskanmu Rum. Tak akan pernah. Kamu tetap menjadi bagian dari jiwa mas. Maaf. Maaf belum bisa membuatmu bahagia. "
"Aku sudah bahagia mas. "
"Jangan menghiburku Rum. Kamu berhak bersedih. Jangan selalu ditahan. "
"Aku masih punya kamu mas. Yang bisa menahan kesedihan aku. "
"Maafkan Ara ya... Maafkan dia. Yang sudah bicara kasar padamu. "
"Aku mengerti mas. "
"Kamu tahu Rum? "
"Apa? "
"Kamulah bidadari tanpa sayap. "
"Mas memujiku? "
"Bukan memuji. Tapi mengakui. Bidadariku harus selalu tersenyum. "
Aksa semakin mengeratkan pelukan hangatnya pada istri yang terlihat lebih rapuh itu. Dengan sesekali mengecup lembut pucuk kepala Ningrum.
"Bidadari mas jangan menangis ya? "
Dalam pelukan Aksa, Ningrum menganggukkan kepala bahagia.
"Kalau ingin menangis, carilah bahu atau d**a mas. Mas tak mengijinkan, kamu menangis sendirian. "
"Iya. "
"Ingat selalu pesan mas. "
"Iya. "
"Ingat selalu, hanya bahuku yang hanya boleh menjadi sandaranmu. "
"Iya. "
"Aku sayang kamu, Rum. "
"Makasih. Aku lebih sayang kamu mas. "
Prang!!!
.
Bersambung...