Karung beras yang ketujuh hari itu beratnya lima puluh kilo, sama seperti yang lain, dan Wulan sudah hafal cara tubuhnya harus berbicara dengannya. Ia berdiri di depan tumpukan di sudut Toko Sumber Rejeki, mengusap telapak tangan ke celana training yang sudah pudar warnanya, lalu menunduk. Bukan membungkuk dari pinggang seperti yang dilakukan kuli-kuli baru sampai punggung mereka rusak dalam setahun. Wulan turun dengan lutut, dada tegak, pantat ke belakang, dan ketika tangannya sudah mengunci di bawah karung, ia tidak menarik dengan lengan. Ia mendorong lantai dengan kedua kakinya, dan karung itu naik seolah lantai sendiri yang mengangkatnya.
Lalu bagian yang tidak pernah ia pikirkan, yang sudah jadi sehalus napas. Pada saat karung mencapai pinggang, ia tidak terus mengangkatnya ke bahu dengan tenaga lengan. Ia menjatuhkan dirinya sedikit — lutut menekuk cepat, badan turun menyongsong beban — dan karung itu mendarat di bahunya yang sudah menunggu, persis di lekukan antara leher dan pundak. Satu hentakan, satu kali turun, dan lima puluh kilo sudah bertengger seolah ringan. Wulan berdiri kembali, melangkah delapan langkah ke timbangan, dan menurunkannya tanpa suara.
"Cepat amat," gerutu Pak Soleh, kuli tua yang masih terengah dengan karungnya sendiri. "Kamu itu bukan perempuan, Wulan. Kamu mesin."
Wulan tidak menjawab. Ia tidak pernah suka komentar soal tubuhnya, baik yang memuji maupun yang menghina, karena keduanya terasa seperti orang mengomentari sesuatu yang bukan urusan mereka. Ia kembali ke tumpukan. Masih ada lima karung yang harus dipindahkan sebelum truk dari penggilingan datang lagi, dan Bibi Marni sudah memasang wajah yang artinya jangan-melamun.
Di seberang jalan, di mulut gang yang menuju gudang olahraga kabupaten, seorang lelaki tua duduk di kursi plastik sambil menyeruput kopi dari gelas yang sudah dingin. Ia sudah memperhatikan sejak karung pertama. Bukan memperhatikan gadis itu — Maman Sugiri sudah terlalu tua dan terlalu lelah untuk hal-hal seperti itu — tapi memperhatikan cara gadis itu turun ke bawah beban. Sudah dua puluh tahun ia tidak melihat orang melakukan gerakan itu di luar platform. Kaki yang menyongsong, bukan menghindar. Pinggul yang membuka di saat yang tepat. Beban yang diterima, bukan dilawan. Maman meletakkan gelasnya dan tidak menyeruput lagi sampai gadis itu selesai.
"Wulan!" Suara Bibi Marni memotong. "Setelah ini kamu antar pesanan Bu Haji ke Perumnas. Sepuluh kilo. Sepedaan."
"Iya, Bi."
"Dan jangan lupa, gaji minggu ini kupotong dua puluh ribu. Kamu mecahin tutup botol kecap kemarin."
Wulan mengangguk tanpa membantah, meski tutup kecap itu pecah karena tergencet karung yang Bibi sendiri suruh ia susun terlalu tinggi. Membantah hanya menghabiskan tenaga dan tidak mengembalikan dua puluh ribu. Dua puluh ribu. Di kepalanya, angka itu langsung berubah jadi takaran lain: dua puluh ribu adalah satu setengah hari obat ibu, atau tiga porsi nasi telur untuk Bagas, atau seperdelapan dari tunggakan listrik yang sudah merah di kertas tagihan. Wulan menghitung segala sesuatu dalam beban. Utang keluarganya, kalau ditimbang, mungkin seberat satu truk beras. Ia belum tahu cara mengangkatnya.
Siang itu ia menyelesaikan dua belas karung, satu pengantaran ke Perumnas, dan satu jam menjaga kasir ketika Bibi pergi salat dan tidur siang yang lamanya tidak masuk akal. Ketika matahari mulai miring, Wulan mengayuh sepeda pulang ke rumah kontrakan dua petak di belakang pasar. Bau ikan asin dan got bercampur di udara sore.
Ibunya sedang duduk di ranjang, bersandar ke dinding, dengan napas yang berbunyi tipis seperti ada peluit kecil di dadanya. Asma yang sudah bertahun-tahun, ditambah sesuatu di jantung yang kata dokter puskesmas "harus diperiksa lebih lanjut" — kalimat yang Wulan tahu artinya butuh uang yang tidak mereka punya.
"Sudah makan, Bu?" tanya Wulan, meletakkan plastik berisi sayur dan tempe di meja.
"Sudah. Tadi Bagas bikinin." Ibunya tersenyum, dan senyum itu, seperti biasa, lebih melelahkan dilihat daripada raut sedih. "Kamu yang belum, kan. Makan dulu."
Bagas keluar dari kamar dengan seragam SMP yang kancing atasnya copot. Adiknya tiga belas tahun, kurus, dengan tatapan yang terlalu tua untuk umurnya. "Kak, buku paket IPA harus beli. Lima puluh ribu. Minggu depan dikumpul."
Wulan mengangguk lagi, gerakan yang sudah jadi refleks. Lima puluh ribu. Lima karung beras. Di kepalanya angka-angka itu menumpuk, dan untuk sesaat ia merasa seperti berdiri di bawah tumpukan yang lebih tinggi dari yang pernah ia angkat. Tapi ia tidak mengeluh. Mengeluh sama tidak bergunanya dengan membantah Bibi.
Malam itu, sebelum tidur di tikar yang ia bentangkan di ruang depan, Wulan mengamati telapak tangannya. Kapalan di pangkal jari, garis-garis kasar di ruas. Tangan yang seharusnya milik orang yang jauh lebih tua. Ia menggenggam dan membuka, menggenggam dan membuka. Kekuatan ini, pikirnya, satu-satunya yang ia punya yang tidak bisa dipotong dua puluh ribu, tidak bisa ditagih, tidak bisa diambil siapa pun. Tapi kekuatan tidak membayar listrik. Kekuatan hanya membuat punggung lebih cepat rusak, seperti Pak Soleh yang sekarang jalan pun miring.
Ia tidak tahu bahwa di seberang jalan, lelaki tua di kursi plastik itu masih duduk lama setelah tokonya tutup, memikirkan cara turun ke bawah beban yang sudah dua puluh tahun tidak ia lihat. Wulan tidur dengan punggung yang pegal dan kepala penuh angka. Esok ada dua belas karung lagi. Selalu ada dua belas karung lagi.