Pagi itu rumah sakit terasa seperti ruang sidang.
Polisi datang pukul sembilan: dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan, dan yang perempuan—bernama Bripda Sari, berwajah ramah dengan map coklat tebal—adalah yang ditunjuk memimpin pemeriksaan karena dokter dan psikolog sepakat Tika hanya boleh bicara di hadapan sesedikit mungkin laki-laki. Psikolog rumah sakit, Ibu Larasati, duduk di sisi ranjang dengan kartu-kartu bergambar dan suara yang dilatih bertahun-tahun untuk tidak pernah terdengar menghakimi.
Ajeng tidak boleh masuk. Itu aturannya, dan tidak ada tangis atau amuk yang bisa mengubahnya. Jadi ia menunggu di koridor bersama ayahnya—yang diizinkan duduk berkursi roda demi mendampingi—dan Ibra, dan Radit yang izin mengajar pagi itu demi hal yang tidak pernah ia jelaskan ke pihak sekolah.
"Sudah dua puluh menit," kata Ajeng, menatap pintu tertutup itu seolah matanya bisa menembus kayu.
"Mereka pelan-pelan di dalam," kata Ibu Larasati pernah menjelaskan semalam. "Kami tidak menggali. Kami membiarkan airnya mengalir sendiri."
Di dalam kamar itu, Tika duduk bersandar di ranjang yang ditinggikan, selimut sampai ke dada, tangan memegang boneka kucing kecil yang dibawakan Wita dua hari lalu—satu-satunya benda yang bisa dipegangnya tanpa gemetar. Ia bicara. Sedikit demi sedikit. Berhenti lama. Lalu bicara lagi.
"Sore itu saya selesai ngajar jam setengah tujuh," katanya, dan Bripda Sari menulis tanpa suara. "Biasanya saya langsung jalan ke pangkalan angkot. Tapi malam itu... malam itu saya nunggu."
"Menunggu siapa, Mbak Tika? Pelan-pelan saja."
Tika memeluk boneka kucing itu lebih erat. "Dia bilang mau jemput. Dia sering jemput kalau saya lesnya selesai malam. Mobilnya warna gelap. Saya... saya kenal dia. Sudah lama."
Sari menunggu. Psikolog menunggu. Ruangan itu dilatih untuk menunggu.
"Dia nggak datang," lanjut Tika, dan suaranya mulai berubah, mengambang seperti orang yang berbicara dari bawah air. "Jam delapan lebih, saya takut kemalaman, saya jalan sendiri ke pangkalan. Lewat jalan belakang. Jalan pintas. Terus... terus ada mobil di belakang saya. Lampunya nyala terus mati. Saya pikir dia. Saya pikir dia akhirnya datang."
Boneka kucing itu diremas sampai benangnya hampir putus.
"Saya senyum waktu mobilnya berhenti." Air mata Tika jatuh tanpa suara, mengalir begitu saja seperti keran yang tidak bisa ditutup. "Saya senyum, Mbak. Saya pikir dia jemput."
Tidak ada yang menulis selama beberapa detik. Bahkan pena Bripda Sari ikut berhenti.
"Tiga orang," kata Tika kemudian, nyaris berbisik. "Yang turun tiga. Satu yang nyetir... yang nyetir nggak turun. Tapi saya dengar suaranya. Waktu mereka... waktu itu... dia bilang sesuatu. Dia bilang—" napas Tika tersengal, Ibu Larasati meraih tangannya, dan Tika memegang tangan itu seperti pegangan tangga di gedung yang runtuh, "—dia bilang, 'cepetan, gue masih ada urusan.' Suaranya... suaranya orang itu. Saya kenal suaranya."
****
Di koridor, jam berjalan seperti tidak bergerak. Ajeng sudah menghitung ubin lantai sampai dua ratus, lalu menghitung ulang dari awal. Radit berdiri bersandar dinding dengan tangan bersedekap, dan untuk sekali dalam hidupnya, wajahnya tidak bisa menyembunyikan apa pun—ketegangan di rahangnya terlihat jelas dari sepuluh meter.
Ibra duduk di sebelah Ajeng, tidak bicara, hanya sesekali menyentuhkan bahunya ke bahu gadis itu untuk mengingatkan bahwa ia ada. Di pangkuan Dimas, dua tangan tua saling menggenggam sampai pucat, berdoa dalam bahasa Sunda yang tidak dipahami siapa pun di koridor itu kecuali Tuhan.
Pukul sebelas kurang, pintu terbuka.
Bripda Sari keluar lebih dulu, map coklat menempel di dadanya, dan wajah ramahnya kini menyimpan sesuatu yang tajam. Di belakangnya, Ibu Larasati keluar dan mengangguk kecil ke arah keluarga: isyarat bahwa Tika baik-baik saja, sebaik yang bisa diharapkan.
"Keluarga Ibu Tika?" Sari berbicara pelan, profesional tetapi tidak dingin. "Pertama, saya mau bilang: kakak kalian luar biasa berani. Keterangannya jelas, konsisten, dan sangat membantu."
"Pelakunya, Mbak?" Ajeng langsung berdiri. "Kakak tahu siapa mereka?"
Sari memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Korban mengenal salah satu suara. Yang menyetir mobil. Itu artinya—" ia menatap Ajeng, lalu Banu yang baru tiba, lalu Radit, "—ini bukan penyerangan acak. Setidaknya satu pelaku adalah orang yang dikenal korban. Dan dia yang memberi perintah ke yang lain."
Koridor itu menelan kalimat tersebut dalam keheningan total.
Orang yang dikenal. Orang yang biasa menjemput. Orang yang dipercaya Tika sampai ia mau menjual handphone-nya—tunggu. Ajeng merasa darahnya turun dari wajahnya.
"Mbak," kata Ajeng, suaranya aneh, datar, seperti orang berbicara dalam tidur. "Kakak jual handphone-nya dua bulan lalu. Buat deposit rumah. Dia nggak punya nomor siapa-siapa lagi. Tapi 'dia' tetap tahu jadwal les kakak. Tetap tahu kapan kakak pulang malam. Gimana caranya?"
Sari menatap gadis berusia tujuh belas tahun itu dengan pandangan baru—pandangan yang diberikan polisi kepada orang yang berpikir lebih cepat dari yang seharusnya.
"Justru itu yang akan kami telusuri," jawabnya. "Nomor-nomor yang pernah menghubungi handphone lama korban sedang kami minta dari operator. Dan satu hal lagi—" ia membuka mapnya, mengeluarkan selembar print-out buram hasil CCTV, "—mobil di rekaman sudah teridentifikasi jenisnya. Sedan hitam, keluaran tujuh tahun lalu. Di Jakarta mungkin ada ribuan. Tapi kami sudah dapat tiga angka pelatnya yang tidak tertutup lumpur."
Ia menunjukkan print-out itu. Gambar hitam-putih yang kasar: sebuah sedan, dan di pelat belakangnya, tiga angka yang terbaca samar.
"Kami sedang mencocokkan dengan database. Paling lambat dua hari." Sari menutup mapnya. "Dan Mbak Ajeng—kalau kamu atau keluargamu teringat apa pun, sekecil apa pun, tentang 'teman' yang suka menjemput kakakmu: nama panggilan, ciri fisik, apa pun—hubungi saya siang atau malam."
Selembar kartu berpindah tangan. Ajeng menatapnya, lalu menatap print-out buram itu, sedan hitam tanpa wajah, dan di dalam dadanya sesuatu yang dingin mulai menyusun dirinya menjadi bentuk.
"Orang jahat itu," kata Ajeng pelan, lebih ke diri sendiri, "dia masih di luar sana. Mungkin dia lagi makan. Lagi tidur. Lagi senyum-senyum sama orang yang nggak tahu dia habis ngapain." Ia mengangkat wajah, dan Ibra—yang sudah mengenalnya berbulan-bulan—merinding melihat mata itu. "Dua hari, Mbak. Gue tunggu dua hari."
Radit menatap muridnya. Ia ingin berkata: serahkan pada polisi, jangan pikirkan balas dendam, jaga hatimu. Semua kalimat guru yang benar. Tetapi melihat gadis itu—kurus dalam seminggu, mata cekung, tetapi berdiri lebih tegak dari siapa pun di koridor—Radit menelan semua kalimat itu dan menggantinya dengan satu-satunya yang jujur:
"Dua hari. Kita semua tunggu bersama-sama."
Dan dari dalam kamar, lewat pintu yang terbuka sedikit, terdengar suara Tika memanggil pelan—"Jeng? Masuk sini. Temenin kakak."—dan Ajeng masuk, dan untuk sementara, dunia yang jahat itu harus menunggu di luar pintu.
…