Ajeng meneruskan pesan itu ke Sari dalam waktu empat puluh detik, dan balasan yang datang bukan yang ia harapkan.
["Kami tahu. Sejak sore kami sudah tahu."]
"Terus kenapa nggak ditangkap?" Ajeng mengetik dengan jempol yang marah. "Dia mau kabur!"
["Tidak sesederhana itu, Ajeng. Mencegah seseorang pergi butuh surat, dan surat butuh bukti yang cukup kuat untuk hakim. Bukti kita ke Ringgo hari ini masih sebatas aliran uang perusahaan ke Gilang. Pengacaranya akan bilang itu urusan bisnis. Kita butuh Gilang bicara. Dialah satu-satunya jembatan dari uang ke perintah."]
Ajeng menatap layar dengan rasa frustasi yang mendidih. Semua sudah tahu siapa dalangnya. Semua sudah tahu. Tetapi hukum, ternyata, bukan tentang tahu—melainkan tentang membuktikan, selapis demi selapis, selambat yang dibutuhkan untuk tidak salah menangkap orang.
["Tapi dengarkan ini baik-baik,"] lanjut pesan Sari berikutnya. ["Ringgo mau kabur justru kabar baik. Artinya dia panik. Dan orang panik melakukan dua hal: memutuskan tali... dan membuat kesalahan. Kami akan memastikan dia melakukan keduanya. Besok, kamu mungkin dihubungi lagi. Bukan oleh Ringgo. Oleh Gilang. Kalau itu terjadi—jangan balas apa pun sebelum menelpon saya. Janji?"]
"Janji," ketik Ajeng. Dan ia sudah belajar bertanya: "Kenapa Gilang bakal hubungi saya?"
["Karena rekeningnya beku sejak kemarin malam. Dan majikannya sedang mengemas koper. Dia sudah jadi orang yang tidak dibutuhkan siapa-siapa. Orang seperti itu hanya punya satu barang tersisa untuk dijual: apa yang dia tahu."]
****
Sari benar. Telepon itu datang pukul sebelas siang keesokan harinya, ketika Ajeng sedang membantu Tika latihan berjalan di teras—sepuluh langkah pelan, dari pintu ke pagar, Bebi di ketiak sebagai jaminan keberanian.
Nomor tak dikenal. Ajeng melirik kakaknya; Tika mengangguk—mereka sudah membicarakan kemungkinan ini semalam, berdua, seperti dua prajurit menyusun peta. Ajeng mengangkat, merekam, dan menaruh ponsel di mode pengeras suara seperti yang diinstruksikan.
"Halo."
["Kamu bawa polisi ke hidup saya."] Suara Gilang kali ini tidak disamarkan. Tidak perlu lagi. Suara itu lelah, serak, dan di bawah kelelahannya ada sesuatu yang berdesis seperti sudut pisau. ["Kamu tahu berapa lama saya membangun hidup saya? Dan kamu, anak jualan nasi goreng, menghancurkannya dari kursi rumah sakit."]
"Kamu menghancurkannya sendiri," kata Ajeng, suaranya datar karena Tika ada di sebelahnya, dan ia tidak boleh runtuh di depan kakaknya. "Waktu kamu menerima uang itu. Waktu kamu turun dari mobil itu. Setiap keputusan, kamu yang ambil sendiri."
Di seberang, hening. Lalu tawa pendek, tanpa humor.
["Kamu mau dia?"] kata Gilang tiba-tiba. ["Majikanku. Otaknya. Orang yang duduk di sofa empuk sambil memerintah lewat orang lain. Saya bisa berikan dia ke kamu. Nama, perintah, tanggal, bukti—saya simpan semuanya, anak kecil. Orang di pekerjaan saya selalu menyimpan asuransi."]
Jantung Ajeng berdebar. Di sebelahnya, Tika maju satu langkah, matanya terpaku pada ponsel itu seperti menatap ular.
"Harganya?"
["Lima puluh juta. Tunai. Dan kamu kirim sendirian—tidak ada polisi, tidak ada preman uncle-uncle-an itu."] Napas serak itu bergerak cepat. ["Saya tahu kamu dicari-cari polisi, saya tahu mereka mendengarkan telepon ini sekarang juga mungkin. Tidak peduli. Kalau mereka datang, saya hilang, dan bos besar itu terbang besok malam jam sembilan, dan kalian semua habiskan sisa hidup kalian tahu dia bebas di luar sana. Pikirkan baik-baik."]
Telepon terputus.
Tika dan Ajeng saling menatap di teras kecil itu, di bawah matahari siang yang terik, dan untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.
"Dia menjual majikannya," kata Tika akhirnya, pelan. "Kayak jual gorengan."
"Orang jahat memang gitu, Kak. Nggak ada loyalitas, yang ada cuma harga." Ajeng sudah mengetik ke Sari. "Dan hari ini dia lagi obral."
****
Yang terjadi kemudian adalah empat jam paling menegangkan dalam hidup sebuah keluarga kecil di gang sempit, yang hanya boleh menonton dari pinggir.
Sari mengambil alih sepenuhnya—dan ia tegas: Ajeng tidak akan ke mana-mana. "Kamu suaranya saja. Titik." Uang lima puluh juta digantikan tumpukan kertas di dalam tas ransel hitam, dibungkus plastik, hanya lembar atasnya uang asli. Lokasi dipilih Gilang: sebuah stasiun kereta di timur Jakarta, jam enam sore, jam pulang kerja, di mana satu pria bertopi di antara seribu orang adalah jarum di tumpukan jarum.
Dan keluarga Dimas hanya bisa menunggu di rumah kontrakan mereka—yang sore itu, entah kebetulan atau tidak, dipenuhi oleh semua lelaki yang dalam dua minggu terakhir telah menjadi pagar hidup mereka.
Banu datang pertama, dengan alasan "mampir", membawa termos kopi. Radit datang kemudian, katanya mengantar modul untuk Tika—modul yang tidak diminta siapa pun. Ibra sudah ada dari tadi, duduk di lantai, pura-pura main dengan Bebo. Dimas di kursi rodanya menatap tiga pria dewasa di ruang tamu sempitnya yang semuanya pura-pura santai, dan ia tidak berkata apa-apa, hanya menyuruh Ajeng menggoreng nasi lebih banyak.
"Kalian ini," kata Dimas akhirnya, tidak tahan juga, "guru, juragan, pangeran. Nggak ada kerjaan apa sampai nongkrong semua di rumah saya?"
"Nggak ada, Yah," jawab Ibra jujur, dan Dimas tertawa—tawa yang aneh di tengah ketegangan, tawa yang membuat Tika tersenyum dari kursinya.
Pukul enam kurang, ponsel Ajeng berbunyi. Sari: ["Tim sudah di posisi. Dia bilang akan pakai topi abu-abu. Kami lihat tiga topi abu-abu di peron dua. Tunggu."]
Pukul enam lewat sepuluh: ["Target bergerak. Tunggu."]
Pukul enam lewat tujuh belas menit—yang oleh keluarga itu dicatat kemudian sebagai tujuh belas menit terlama abad ini—ponsel itu berbunyi lagi, dan kali ini suara Sari berbeda. Ringan. Terbang.
["Dapat."]
Satu kata. Dua suku kata. Dan rumah kecil itu meledak—Tika menangis, Dimas mengangkat dua tangan ke langit-langit seperti wasit mengangkat pemenang, Ibra jatuh ke belakang ke lantai dan menatap atap dengan senyum paling lebar yang pernah ada, dan Radit—guru yang selalu menjaga jarak—berdiri di sudut ruangan dengan tangan menutup mulutnya sendiri, tidak mampu menyembunyikan betapa dalam lega yang ia rasa.
"Amin," kata Dimas berulang-ulang, "amin, amin, ya Allah, amin."
Dan dari dapur, Ajeng—yang seharusnya ikut merayakan—justru duduk diam di lantai, punggung bersandar ke kaki meja, ponsel masih di tangan, karena kakinya tiba-tiba tidak kuat menahan dua minggu yang baru saja diangkat dari pundaknya.
Ibra yang menyadari duluan. Ia berlutut di depan Ajeng, tidak menyentuh, hanya menunduk sampai matanya sejajar.
"Jeng. Sudah. Dia sudah ditangkep. Lo menang."
Ajeng menatapnya, dan air matanya jatuh sekarang—bukan tangis sedih, bukan tangis takut, melainkan tangis yang keluar ketika tubuh akhirnya percaya bahwa ia boleh berhenti waspada.
"Besok," kata Ajeng di sela tangisnya, tertawa kecil di tengahnya, "besok mereka nangkep bosnya di bandara. Dan gue mau nonton beritanya sambil makan nasi goreng porsi jumbo."
"Pake telur ceplok dua," kata Ibra.
"Pake telur ceplok dua."
"Dinamain telur mata sapi, kan."
"CEPLOK, Bra. CEPLOK."
Dan seluruh ruangan tertawa, dan tawa itu terdengar sampai ke gang, sampai ke tetangga, sampai ke langit Jakarta Timur yang malam itu berwarna jingga seperti obor.
…