Badai itu, ternyata, tidak pergi dengan satu letusan. Ia pergi seperti air banjir—pelan-pelan, menyisakan lumpur yang harus dibersihkan satu demi satu.
Kasus masuk ke meja-meja hukum dengan ritmenya sendiri: Gilang dan dua rekannya menunggu persidangan di tahanan; Ringgo menyewa pengacara termahal yang bisa ditemukan uang; Darmadi si sopir pribadi menyerahkan diri seminggu kemudian dengan wajah orang yang sudah menghitung semua jalan keluar dan tidak menemukan satu pun. Sari datang sekali ke kontrakan untuk menjelaskan panjang lebar: prosesnya akan panjang, akan ada sidang, dan suatu hari nanti Tika mungkin harus bersaksi.
"Kapan?" tanya Tika. Suaranya tenang—terlalu tenang, kata Ibu Larasati nanti, tenang yang masih dijaga rapat.
"Bulan-bulan ke depan. Tidak besok, tidak lusa. Dan kamu tidak akan sendirian di ruang sidang itu. Ada saya, ada psikolog, ada pendamping korban. Ruangannya bahkan bisa diatur supaya kamu tidak melihat mereka."
"Aku justru mau lihat mereka," kata Tika, dan Sari menatap mahasiswi kurus dengan boneka kucing di pangkuan itu, dan diam-diam membuat catatan mental bahwa jaksa akan sangat menyukai saksi yang satu ini.
Di sekolah, kabar tentang Monika menyebar dengan cara kabar buruk selalu menyebar: cepat, bengkok, dan kejam. Versi yang beredar tidak pernah benar. Tetapi anehnya, geng Monika yang dulu berbaris di belakangnya seperti pasukan, kini tercerai-berai dalam seminggu—ada yang pindah haluan memuji Ajeng, ada yang pura-pura tidak pernah kenal.
"Manusia," komentar Wita di taman belakang, di bawah pohon besar markas mereka, "adalah makhluk paling gampang lipat yang pernah gue kenal."
"Kamu ngomong gitu karena kamu benci mereka," kata Andini, membuka bekalnya.
"Kamu ngomong gitu karena kamu nggak bisa bilang 'iya Wita bener'."
"Aku bisa. Iya, Wita benar," kata Andini, dan Wita hampir tersedak kentang gorengnya sendiri.
Ajeng tertawa—tawa lebar yang sudah lama tidak terdengar di taman itu—dan merasa, untuk pertama kalinya, bahwa sekolah ini lagi-lagi menjadi tempat yang aman untuk tertawa.
****
Kabar baik datang juga dari arah jantung. Kontrol dua mingguan Dimas menunjukkan angka-angka yang membuat dokter tersenyum: tekanan darah turun, ritme lebih stabil, dan pasiennya—kata dokter itu di depan Ajeng—"ternyata nurut juga, walaupun mukanya cemberut terus."
"Muka saya memang begini dari lahir, Dok," kata Dimas.
"Ayah, jangan debat sama dokter."
"Saya nggak debat. Saya klarifikasi."
Di taksi pulang, Dimas diam agak lama, lalu berkata, pelan, seperti orang yang mengungkapkan keputusan yang sudah lama dipertimbangkan: "Jeng. Besok kita ke rumah baru ya. Ayah mau lihat. Sudah dibayar depositnya, sudah dua bulan, rumahnya nganggak. Kata orang Medan, rumah yang nganggak itu sedih."
"Ayah kuat jalan-jalan?"
"Ayah disuruh jalan kaki sama dokter barusan. Sekalian kita jalan yang ada tujuannya."
Maka keesokan harinya, Minggu pagi, mereka bertiga—Dimas, Ajeng, dan Tika yang berpegang pada lengan adiknya—berdiri di depan sebuah rumah kecil di komplek sederhana dua kilometer dari kontrakan lama mereka. Rumah tipe paling kecil, satu lantai, catnya warna hijau pudar, dan halaman depannya cuma cukup untuk satu motor dan satu pot bunga.
Tika berdiri paling depan. Ia tidak langsung masuk. Ia menyentuh dinding depan rumah itu dengan telapak tangannya, seperti orang menyentuh kening anak yang baru lahir.
"Pot bunganya di sini," kata Tika, menunjuk sudut pagar. "Kayak rumah Ibu dulu. Warna kuning gordennya. Rak buku Ajeng di kamar belakang, biar bukunya nggak di lantai terus."
Dimas menyalakan kunci di gembok pintu. Suaranya serak ketika ia berkata: "Ini rumah kalian. Kalian yang bayar. Kalian yang bangun. Ayah cuma penumpang."
"Yah, ngomong apa sih—"
"Tidak, dengarkan ayah." Dimas menatap kedua anaknya di depan pintu rumah baru mereka, matahari pagi di punggung mereka, dan lelaki tua itu membiarkan air matanya turun tanpa dihapus, karena ia sudah terlalu tua dan terlalu bersyukur untuk menyembunyikan apa-apa lagi. "Seumur hidup ayah, ayah cuma supir angkot. Ayah pikir ayah gagal karena nggak bisa kasih kalian rumah. Ternyata ayah salah besar. Ayah sudah kasih kalian hal yang bikin kalian bisa beli rumah sendiri di umur segini." Ia mengangkat tangannya, menyentuh kepala kedua anaknya. "Ilmu. Kerja keras. Sama hati yang nggak mau kalah. Itu dari ibu kalian. Ayah cuma yang nyetir."
Dan mereka bertiga berdiri di depan pintu rumah kecil itu, berpelukan, menangis bertiga di pinggir jalan komplek, sampai seorang bapak tetangga lewat mengayuh sepeda dan berkata "Selamat pagi!" dengan riang, dan mereka tertawa di tengah tangis mereka sendiri.
****
Malam itu, di ranjang mereka yang masih di kontrakan lama, Tika berbicara dalam gelap.
"Jeng. Kamu udah lulus. Rumah udah ada. Kasus jalan terus. Sekarang kakak mau nanya satu hal yang dari dulu nggak sempat kakak tanyain."
"Apa."
"Kamu. Kapan kamu mikirin kamu?"
Ajeng diam. Lampu jalan masuk lewat celah gorden tipis kontrakan, menggambar garis kuning di langit-langit.
"Maksud kakak?"
"Kamu ngurusin aku. Ngurusin Ayah. Ngurusin kasus, ngurusin nasi goreng, ngurusin semua." Suara Tika pelan tapi tajam, suara kakak sulung yang kembali. "Tapi kakak lihat, Jeng. Kakak selama ini di ranjang, nggak bisa ngapa-ngapain, jadi kerjaan kakak cuma satu: liatin. Dan kakak lihat semua. Pak Radit yang tiap hari datang bawa modul yang nggak pernah kakak minta. Dan Ibra—ya ampun, Ibra—yang duduk di lantai rumah kita kayak kucing nungguin majikannya, tiap hari, tanpa minta apa-apa."
"Kak—"
"Kakak nggak mau kamu jawab sekarang. Kakak cuma mau bilang: jangan sampai kamu sibuk jagain semua orang sampai lupa bahwa kamu juga orang yang perlu dijagain. Dan kakak udah nggak butuh dijagain dua puluh empat jam lagi. Ngerti?" Tika memutar tubuhnya menghadap dinding. "Sekarang tidur. Besok kita beres-beres. Rumah baru nggak bakal beres sendiri."
Ajeng menatap garis kuning di langit-langit itu sampai lama.
Di ujung kota, pada jam yang sama, Ibra Ozvick duduk di balkon kamar rumah tantenya, menatap layar ponselnya: satu panggilan tak terjawab dari ibunya, Ratu Fortania, dan satu pesan singkat yang menyertainya.
[Pesta musim panas istana sebulan lagi. Pesawatmu sudah dipesankan. Jangan buat ibu menunggu seperti tahun lalu.]
Ibra tidak membalas. Ia menatap lampu-lampu Jakarta yang tidak pernah habis, mencari-cari di antara ribuan titik itu sebuah gang sempit di timur kota, dan berkata pada malam, dengan bahasa ibunya yang tidak dimengerti siapa pun di sini:
"Sebentar lagi. Aku selesaikan dulu semuanya. Sebentar lagi."
…