Jakarta tanpa Ibra, ternyata, punya suara yang berbeda.
Ajeng menyadarinya di hari ketiga. Bukan karena sepi—rumah kecil itu tidak pernah sepi, ada Tika, ada Dimas, ada Wita yang mampir, ada tetangga komplek baru yang ramah—tetapi karena ada satu frekuensi yang hilang: bunyi motor sport di depan pagar jam tiga sore, ketukan dua kali di pintu tanpa salam, suara "permisi, rakyat jelata lewat" yang selalu diikuti Dimas menggerutu "pangeran kok nggak pakai etika."
Ajeng menyalakan motor biru itu tiap tiga hari, persis seperti perintah, berdiri di sampingnya sambil memegang kunci seperti petugas pom bensin, dan tetangga baru mereka sudah hafal pemandangan itu: gadis kecil di samping motor besar yang tidak pernah pergi ke mana-mana.
"Motor siapa, Dek? Punya pacar?" tanya Bu Ratmi, tetangga sebelah.
"Bukan pacar, Bu. Temen."
"Temen kok motornya dititipin. Zaman sekarang ya."
Ajeng tidak menjawab, karena ia tidak tahu jawabannya, dan kotak koran di kamarnya masih belum dibuka—bukan karena ia tidak penasaran, melainkan karena ia tahu, begitu dibuka, sebulan ini akan terasa jauh lebih panjang.
****
Pendaftaran kuliah datang seperti kereta yang tidak menunggu.
Ajeng mendaftar ke kampus swasta di bilangan Jakarta Timur—jurusan manajemen bisnis, pilihan yang membuat Tika menangis terharu dan Dimas mengangguk-angguk sambil bilang "pantes, anakku kan juragan." Biayanya berat, tetapi ada tabungan, ada penghasilan nasi goreng, ada gerobak baru yang akhirnya berdiri—gerobak yang desainnya dibuat Ibra sebelum pergi, dicat hijau-kuning, dengan tulisan NASI GORENG AJENG: TELUR CEPLOK, BUKAN MATA SAPI dalam huruf yang sengaja dibuat norak.
"Tagline-nya salah secara pemasaran," komentar Andini ketika melihatnya.
"Tagline-nya jujur," kata Ajeng. "Orang Jakarta suka yang jujur. Kadang-kadang. Kalau lagi apes."
Hari pertama kuliah, Ajeng berdiri di depan gerbang kampus dengan tas baru dari Tika dan doa dari Dimas, dan ia merasakan hal yang ganjil: bangga, gugup, dan... sepi. Karena sudut matanya mencari sesuatu yang biasanya ada—sosok tinggi blasteran yang akan menimpuk kepalanya dan berkata "semangat, gembul"—dan tidak menemukannya.
Kursi kosong, pikirnya. Hidup ini sekarang punya kursi kosong.
Ia mengirim satu foto ke nomor Fortania yang jarang aktif itu: gerbang kampus, dan satu baris teks. [Hari pertama. Lo beneran nggak ada ya.]
Balasannya datang delapan jam kemudian—beda waktu—dua kata dan satu foto: foto langit istana yang keemasan, dan tulisan: [Langitku kalah. Semangat, gembul.]
Ajeng menyimpan ponselnya dan masuk ke gerbang dengan dagu terangkat, dan tidak ada yang tahu bahwa dua kata itu yang membuat kakinya kuat melangkah.
Di dalam, kampus itu ternyata tidak semenakutkan yang ia bayangkan—hanya lebih besar, lebih panas, dan lebih banyak orang yang terlihat tahu ke mana mereka harus pergi. Di kelas pertama, dosen pengantar bisnis meminta setiap mahasiswa baru memperkenalkan diri beserta "satu hal yang kamu banggakan."
Satu per satu berdiri: juara debat, anak pemilik toko bangunan, mantan ketua OSIS. Lalu tiba giliran gadis kecil dari Jakarta Timur.
"Ajeng Cantika. Saya jualan nasi goreng dari kelas satu SMA. Sekarang punya gerobak sendiri, dan bulan depan buka cabang." Ia berhenti, lalu menambahkan dengan serius, "Satu porsi delapan ribu. Telur ceplok, bukan mata sapi. Ada yang mau pesan buat besok pagi?"
Kelas itu tertawa—bukan mengejek, melainkan jenis tawa yang keluar ketika seseorang begitu dirinya sendiri sampai tidak bisa ditiru—dan dosen di depan mengangkat alis dengan senyum orang yang sudah dua puluh tahun mengajar dan tahu kapan ia menemukan bibit yang asli.
"Bu Ajeng," kata dosen itu, "kamu baru saja memperkenalkan diri sekaligus membuka pasar. Itu yang namanya insting. Pertahankan."
Tiga mahasiswa memesan nasi goreng untuk besok pagi sebelum istirahat pertama selesai.
****
Gerobak hijau-kuning itu membuka cabang pertamanya di dekat gerbang kampus dua minggu kemudian, dan pembukaannya dihadiri delegasi paling tidak lazim dalam sejarah bisnis kuliner Jakarta Timur: seorang mantan ratu geng sekolah bernama Monika yang datang dari Bandung khusus untuk memakai celemek.
"Ini aku beneran kerja?" tanya Monika, memandangi celemek bertuliskan NASI GORENG AJENG seperti memandangi seragam militer.
"Beneran kerja. Gajinya dua kali makan gratis plus sepuluh ribu per hari. Ambil atau pergi."
"Kamu tahu aku dulu jajan lima ratus ribu sekali nongkrong?"
"Terus sekarang kamu jualan gorengan sama aku. Hidup itu lucu, Nik. Ambil atau pergi?"
Monika mengambilnya. Dan sore itu, di bawah payung gerobak, mantan musuh bebuyutan itu menggoreng pisang pertamanya—gosong di dua menit pertama, lumayan di menit kesepuluh, dan habis terjual di jam keenam—sementara Ajeng membukukan pemasukan di buku tulis dan sesekali menatapnya, masih tidak sepenuhnya percaya bahwa dunia bisa berbelok sejauh ini.
****
Sementara itu, di sebuah ruang konsultasi rumah sakit, persiapan lain sedang berjalan—lebih sunyi, lebih berat.
"Kita mulai dari yang paling mudah," kata Ibu Larasati lembut, di hadapan Tika dan Sari. "Bukan dari malam itu. Dari pagi harinya. Apa yang kamu makan pagi itu?"
Latihan kesaksian sudah masuk pekan ketiga. Tika belajar menyusun harinya menjadi rangkaian fakta—bukan untuk menghapus perasaannya, melainkan untuk memberinya rel, supaya ketika kereta perasaannya oleng di ruang sidang, rel fakta itu yang menahannya tetap berjalan.
Sari menyaksikan dari sudut ruangan dengan campuran kekaguman dan kesedihan yang tidak pernah hilang meski sudah bertahun-tahun menangani kasus seperti ini. "Kamu tahu, Tika, jaksa nanti akan tanya hal-hal yang menyakitkan. Pengacara seberang bahkan lebih parah—mereka akan coba membuatmu terlihat bingung, tidak konsisten, apa pun. Itu tugas mereka. Tugas kita: membuat mereka gagal."
"Aku tahu, Mbak Sari." Tika memegang Bebi di pangkuannya—boneka itu sekarang punya tempat tetap di setiap sesi. "Mereka boleh coba. Aku punya adik yang setiap subuh bangun masak nasi goreng selama sepuluh tahun tanpa pernah gagal satu hari pun. Konsisten itu nama tengah keluarga kami."
Dan sore itu juga, ketika Ajeng pulang kuliah dengan kepala penuh istilah ekonomi, ia menemukan sebuah amplop coklat resmi di meja makan rumahnya. Cap pengadilan. Ditujukan kepada Tika Cahyani.
Panggilan sidang. Tanggalnya tertera di sana, hitam di atas putih, tiga minggu dari sekarang.
Tika membaca surat itu dua kali, melipatnya rapi, dan berkata pada adiknya dengan nada orang membaca jadwal les:
"Nah. Sudah ada tanggalnya. Jadi kita tahu kapan kita menang."
…