Cedar Gulch menyambut Elias dengan bau yang sama seperti empat tahun lalu, hanya lebih pekat: lumpur, asap kayu bakar, kotoran kuda, dan di balik semua itu, samar tapi tak terbantahkan, bau logam tajam merkuri yang dipakai para pendulang untuk mengikat butir emas dari pasir sungai.
Tapi kotanya sudah berganti tuan. Itu terasa sebelum ia bisa menjelaskannya.
Dulu Cedar Gulch adalah kota yang berisik dengan harapan. Sekarang ia berisik dengan keputusasaan yang berusaha terdengar seperti harapan. Tenda-tenda pendulang berdesakan di tepi sungai, lebih banyak dari dulu, tapi wajah-wajah di antaranya kurus dan abu-abu. Jalan utama masih satu garis lurus berlumpur, masih berderet saloon dan kandang kuda dan kantor pos. Tapi ada yang baru, atau setidaknya jauh lebih besar dari yang ia ingat: sebuah bangunan dua tingkat dari kayu cedar yang dipelitur, dengan papan nama dicat rapi dalam huruf emas.
KANTOR PENAKSIR DAN BANK STERLING VANCE. PENAKSIRAN JUJUR. HARGA ADIL.
Elias berdiri di seberang jalan dan membaca dua kata terakhir itu untuk waktu yang lama.
Ia turun dari kereta dengan menyandang nama baru. Di Bitter Springs ia telah memutuskan: ia adalah Amos Teller, seorang pendulang dari wilayah selatan yang datang terlambat mengejar sisa demam emas, cukup naif, cukup miskin, cukup tidak penting untuk diperhatikan siapa pun. Ia mengulang nama itu dalam hati sampai terasa seperti miliknya. Amos Teller. Bukan Elias. Selama berada di kota ini, Elias Crane harus mati lebih sungguh daripada Tom Bissell dan Gantry yang mati di rel itu.
Ia mencari tempat tinggal dan menemukannya di tepi utara kota: sebuah gubuk papan reyot yang ditinggalkan pemilik sebelumnya, atapnya bocor di satu sudut, dindingnya bercelah cukup lebar untuk dimasuki angin malam. Pemilik tanah, seorang janda tua bermata cerdik bernama Nyonya Doyle, menyewakannya dengan harga yang membuat Amos Teller harus menyerahkan satu-satunya dolar peraknya yang tersisa untuk sewa minggu pertama.
"Datang mengejar emas, ya?" tanya Nyonya Doyle, menatapnya dari atas ke bawah. "Sudah telat, Tuan. Yang masih bisa digali di sini cuma harapan kosong dan punggung yang pegal."
"Saya cuma butuh cukup untuk hidup," jawab Amos Teller, membuat suaranya terdengar lelah dan bodoh dan sedikit putus asa. Itu tidak sulit. Ia hanya perlu sedikit melebih-lebihkan apa yang benar-benar ia rasakan.
Sepanjang dua hari berikutnya, Amos Teller tidak mendulang. Ia mengamati.
Ia duduk di teras saloon paling murah dengan secangkir kopi pahit yang ia minum sehirup demi sehirup agar bertahan lama, dan ia menonton jalan. Khususnya, ia menonton antrean.
Setiap pagi, ketika pintu kantor penaksir Vance dibuka, sebuah antrean terbentuk. Para pendulang datang membawa hasil kerja keras mereka dalam kantong-kantong kulit kecil: butir emas, debu emas, kadang gumpalan kecil yang mereka cuci dengan merkuri sampai jari mereka gemetar keracunan. Mereka masuk satu per satu. Dan Amos Teller, dari seberang jalan, mempelajari wajah mereka saat keluar.
Itulah yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Wajah-wajah yang masuk membawa harapan yang masih menyala. Wajah-wajah yang keluar runtuh. Bukan semua, tapi terlalu banyak. Ia melihat seorang pria muda keluar sambil menatap secarik kertas di tangannya seakan kertas itu telah menamparnya. Ia melihat seorang pria tua duduk di anak tangga kantor itu dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang masih berlumur lumpur sungai. Ia melihat seorang perempuan, istri pendulang, menarik lengan suaminya menjauh sambil berbisik dengan suara yang pecah.
Kadar mereka dicap rendah. Lagi dan lagi. Emas yang mereka kira cukup untuk bertahan satu musim, ditaksir Vance hanya bernilai recehan.
Elias — Amos, ia mengoreksi dirinya sendiri dengan tajam — tahu satu hal yang tidak diketahui kebanyakan orang di antrean itu. Ia tahu cara kerja sebuah timbangan, dan ia tahu cara kerja penipuan. Ayahnya seorang pandai besi; sejak kecil Elias belajar bahwa berat adalah kebenaran yang paling jujur di dunia, lebih jujur dari mulut manusia mana pun. Sebuah ons selalu sebuah ons. Sebuah timbangan yang benar tidak bisa berbohong.
Kecuali ada yang membuatnya berbohong.
Dan itu bisa dilakukan dengan begitu banyak cara halus sehingga membuat kepala berputar. Anak timbangan yang dikikis sedikit di bagian bawahnya sehingga lebih ringan dari yang tertera. Poros timbangan yang dilumuri kotoran tak kasat mata di satu sisi. Cawan yang dimiringkan sepersekian derajat. Atau cara yang paling tua dan paling sederhana: pengukuran kadar yang sah, lalu angkanya saja yang dipalsukan dengan pena di atas surat keterangan, karena di seluruh kota ini hanya ada satu tangan yang tanda tangannya diakui untuk menentukan berapa kadar emas seseorang. Tangan Sterling Vance.
Pada sore hari kedua, Amos Teller melihat orang itu untuk pertama kalinya.
Sterling Vance keluar dari kantornya menjelang senja, dan seluruh jalan seakan menyesuaikan diri dengan kehadirannya. Ia bukan pria besar — justru ramping, rapi, berusia mungkin lima puluhan, dengan rambut perak disisir ke belakang dan setelan abu-abu yang bersih di tengah kota berlumpur, suatu kemewahan yang dengan sendirinya merupakan pernyataan kekuasaan. Ia menyapa orang-orang dengan ramah. Ia menepuk bahu seorang pendulang, menanyakan kabar anak orang itu yang sedang sakit, menyelipkan sesuatu — uang receh, mungkin — ke tangan orang itu dengan gerakan yang terlihat seperti kemurahan hati sejati. Orang-orang membuka topi untuknya. Seorang ibu menyuruh anaknya membungkuk hormat.
Dermawan. Terpercaya. Dicintai.
Amos Teller menatap pria yang tersenyum itu menyeberangi jalan berlumpur dengan papan kayu yang sengaja dipasang agar sepatunya tetap bersih, dan ia merasakan sesuatu yang dingin dan tenang mengeras di dalam dadanya. Ia mengenali wujud kejahatan yang paling sulit dilawan: kejahatan yang dicintai korbannya sendiri. Kejahatan yang tersenyum dan menanyakan kabar anakmu yang sakit sambil tangan lainnya merampas tanah tempat kau berdiri.
Melawan pria dengan pistol cepat itu mudah dimengerti. Melawan pria yang seluruh kota anggap penyelamat — itu butuh kesabaran yang belum tentu dimiliki Elias Crane.
Ia menghabiskan kopinya yang sudah dingin dan kembali ke gubuk reyotnya saat gelap turun. Malam itu ia tidak tidur. Ia berbaring di balai-balai papan dan mendengar angin masuk dari celah dinding, dan ia menyusun di kepalanya bukan rencana penyerangan, melainkan langkah pertama yang paling rendah hati: besok pagi, Amos Teller akan ikut antrean. Ia akan mendulang sedikit emas dari sungai, emas sungguhan yang ia tahu persis beratnya, lalu ia akan menyerahkannya untuk ditaksir. Dan ia akan melihat dengan matanya sendiri seberapa besar timbangan kuningan Sterling Vance berani berbohong.