Bisa baca sambil dengerin music pake Soundtrack: charlie puth- Attention (J. Fla cover).
Selamat membaca! :)
Plak !
Hening. Suara tamparan beberapa detik lalu menciptakan keheningan di dalam kamar bernuansa White Dark itu. Angin pun tak berani untuk lewat takut untuk ikut campur dalam masalah. Beda dengan Api yang memang sengaja datang untuk memanasi dua orang yang saling melempar tatapan dingin.
Jeleo Aqwee Pria yang selalu merasa dirinya lah yang paling hebat, merasa dirinya adalah Pria yang selalu di takuti banyak orang kini menjadi pria yang kehilangan semua harga dirinya hanya dengan satu tamparan Seorang Gadis bernama Kerry Angelic!.
Rasa sakit di dua titik tubuhnya, membuat tangan Jeleo mengepal kuat, perasaan ingin membunuh berteriak-teriak di benaknya. belum pernah ada yang membuatnya seperti ini. Bahkan Pria itu di besarkan layaknya seorang pangeran yang di agung-agungkan. Tapi apa yang dilakukan gadis di depannya, datang tanpa tau apa masalahnya dengan Jeleo dan berani menampar manusia berhati serigala yang setiap saat ingin menerkam seseorang.
Menendang dan menampar dua paket yang sempurna untuk berurusan dengan Jeleo Aqwee. Haruskah Jeleo terima dengan apa yang di lakukan Kerry Angelic?
"Katakan harus ku apakan dirimu sekarang?" tanya Jeleo dingin, mata hitamnya bertemu dengan mata coklat milik Kerry. Jeleo tersenyum, tersenyum sangat tampan.
Sedang Kerry membalas senyum itu dengan sinis.
"Membunuhku? Itu kah yang yang kau inginkan?" jawab Kerry membuat Jeleo mentapnya intens.
Jeleo tersenyum santai,mengeluarkan sesuatu di saku jaketnya.
"Tebakan yang tepat Girl,"
Mata Kerry membulat sempurna, melihat apa yang di pegang pria itu, sebuah pistol perak berukuran sedang. Ia pikir Leo hanya bermain-main dan menakuti dirinya tapi apa yang di lihatnya sekarang?. Leo mengarahkan pistol itu kearahnya. Apakah ia akan membunuh Kerry sekarang? Leo mengarahkan pistol itu tepat di kepala Kerry.
"Aku sangat senang, saat kau mengatakan bahwa kau tidak takut dengan siapapun. Aku seperti tertarik denganmu"
Kerry diam untuk sesaat, bibirnya kelu untuk mengcapkan sesuatu. Matanya masih memandang tak percaya. Ia menyesal dengan ucapannya beberapa menit yang lalu
"Kau benar-benar ingin membunuhku sekarang?" tanya Kerry melemas, ia meremas ujung dreesnya.
"Menurutmu? Kenapa? apa kau mulai takut denganku?"
Kerry menutup matanya saat ujung pistol itu menyentuh jidatnya. Memasrahkan dirinya mati di tangan pria itu.
Ttak.
Jeleo menarik pelatuk, sambil tersenyum miring, "Kerry Angelic, nikmati ketakutanmu,"
Leo bersiap melepas pelatuk namun aksinya itu terhenti saat mendengar derap langkah kaki yang banyak. Terdengar seperti segerombolan orang yang berjalan terburu-buru di koridor dan mendekati kamar yang mereka tempati.
Kerry masih menutup mata, ia tak tau apa yang akan terjadi padanya selanjutnya. Gadis ini terlalu takut untuk membuka mata. Melihat pistol itu saja sudah membuat jantungnya beradu cepat dan sekarang ujung pistol itu menempel di jidatnya
Jeleo menurunkan pistolnya. Tatapannya teralihkan ke arah pintu. Lalu detik berikutnya ia kembali menatap Kerry.
"Kita akan bertemu kembali." ucap Leo menatap Kerry yang menutup matanya.
Kerry bernafas lega tanpa membuka mata, membuat senyum terukir di bibir Leo namun senyum itu bukanlah senyum sinis seperti tadi.Tapi senyum yang tak bisa di artikan.
Derap langkah itu semakin mendekat, Leo dengan cepat mengambil topi dan kaca matanya di atas tempat tidur, ia segera memakainya lalu dengan gerakan cepat ia berjalan membuka pintu balkon yang terbuat dari kaca.
Sedang Kerry membuka perlahan matanya, matanya langsung menatap punggung atletis Jeleo yang sudah menghilang di balik pintu balkon yang tertutup oleh gorden putih kamar hotel ini.
"Cepat cari dia! kita tidak boleh kehilangan orang yang hampir saja mencelakai Nona Angelic!" perintah pengawal wanita berperawakan inggris itu.
Wajahnya yang tegas serta tatapan dingin membuat kecantikannya tertutupi. wanita itu memakai baju serba hitam di sakunya terdapat senjata yang selalu di bawanya.
Ia mendekati Kerry yang berdiri di dekat sofa. tubuhnya yang tinggi itu langsung merangkul bahu Kerry dan membawanya keluar. Sedangkan tiga bodygard berbadan besar langsung mencari di setiap sudut kamar hotel, mulai dari kolong ranjang, ruangan kerja, laci, balik gorden dan kamar mandi. Kamar ini adalah Kamar VIP dimana kamar ini cukup luas dengan desain interiornya yang mewah bernuansa white dark. Jadi jangan heran jika di dalamnya terdapat ruangan Kerja kecil untuk para pengusaha yang menyempatkan dirinya di Hotel Mewah ini.
Kerry menolehkan kepalanya kebelakang menatap sebentar pintu balkon itu sambil berjalan, tatapan yang sulit di artikan, ia merasakan hal yang mengganjal di hatinya, kerry seperti merasa kehilangan dan merasakan pertemuannya dengan pria itu terlalu singkat. Sadar dengan itu, Kerry menolehkan kepalanya kembali ke depan.
"Nona ayo keluar dari sini! " titah bodygard saat Kerry berhenti di depan pintu dan berbalik melihat sebentar pintu balkon yang berusaha di buka oleh para pengawalnya.
......
Leo menghela nafas ketika dirinya sudah berada di balkon, angin malam menerpa wajah tampannya, membuatnya menutup mata sebentar membiarkan angin menyegarkan tubuhnya lalu Leo menarik nafas dan membuangnya kasar saat matanya tidak sengaja melihat ke bawah. Yang dilihatnya langsung adalah keramaian di bawah sana, suara kendaraan dan keramaian kota membuat Jeleo bernafas cepat. Sekarang dirinya berada di ketinggian 100 meter dan itu membuat jantung Jeleo beradu cepat, ia berfikir panjang, antara meloncat dan menyerahkan dirinya begitu saja kepada orang-orang yang sudah ia tebak adalah pengawal gadis itu.
Tidak semudah itu!.
"Cari dia sampai dapat!"
Jeleo mendengar suara sepatu yang mendekat ke arah balkon.
Jeleo mendesis kesal sembari memegang pagar pembatas balkon lalu mengatur nafasnya, ia membasahi bibirnya yang terasa kering, ia menutup matanya sebentar mengambil ancang"
"pintu balkonnya terkunci,"
"Pecahakan sekarang!"
"Tapi--, "
PRANG!
PRANG!
Tak ada pilihan lain selain melompat. Jeleo terpaksa terjun dengan menggunakan tali pengaman yang sudah Gelopi siapkan di sofa Balkon, ternyata Geloi sudah menyiapkan semuanya dengan sangat rapi.
Perlahan tapi pasti, jeleo menggunakan tali untuk turun melewati kamar-kamar dengan lampu yang masih menyala, kakinya ia gunakan untuk menginjak kaca jendela hotel, melihat posisinya yang mengudara dan hanya bisa menahan tubuhnya dengan tali tambang yang terasa ingin putus. Ia menahan nafas agar keseimbangannya tetap stabil.
"s**t!" umpatnya merasakan talinya berhenti terulur.
Kini tubuhnya mengantung di udara. Angin kencang membuat rambut hitamnya berterbangan, membuatnya terlihat sangat tampan. Jeleo mendongak ke atas dan melihat senjata yang sudah mengarah ke padanya orang yang memegang senjata itu siap untuk menembak Leo.
Leo mendecis pelan, lalu menatap kebawah,mencari zona aman dan matanya tiba-tiba melihat balkon kamar yang sudah tak jauh dari tempatnya mengantung, hanya dua meter darinya. Tanpa berfikir panjang segera ia melepas kaitan tali yang melingkar di pinggangnya.
DORR!!
Leo langsung meloncat dan bersamaan dengan itu suara tembakan keras membuat alam seketika berhenti bergerak. Menghentikan semua aktivitas, suara sirine mobil polisi berbunyi memenjuru di langit Jakarta malam ini. Menghebohkan semua orang di bawa sana. Bunyi klakson mobil tak kalah keras. Membuat kemacetan di depan gedung pencakar langit ini di penuhi banyak orang yang penasaran. Mereka salaimg mendesak menatap ke atas. Menyaksikan apa yang terjadi di atas sana.
Tubuh Leo membentur keras kelantai balkon, ia menatap langit yang di penuhi bintang-bintang. Langit begitu cerah tak secerah hatinya saat ini. Perlahan ia memejamkan matanya merasakan lengan kirinya terasa panas dan perih. Cairan warna merah itu merambat keluar dari lengan kirinya.
"LEOO!!! "
------