Happy reading guys !.
Flashback
Gelopi yang tadinya berada di salah satu kamar hotel, terkejut ketika mendengar suara tembakan yang begitu keras di luar sana. Pria paru baya itu buru-buru memutuskan sambungan telfon dengan seseorang.
Gelopi langsung berlari dengan panik membuka pintu balkon untuk melihat apa yang terjadi, dan betapa terkejutnya dirinya ketika mendapati tubuh leo telentang di lantai balkon dengan lengan kirinya yang tak bisa di jelaskan lagi, karena gelopi juga sangat terkejut melihat itu.
"Leo!!!"
Gelopi langsung menghampiri leo dan membantu pria malang itu untuk bangun, di papahnya tubuh atletis itu masuk ke dalam kamar dan mendudukan pria itu di tepi ranjang.
"Maaf tuan, saya tidak tau ini akan terjadi." kata gelopi sembari mendudukkan leo di tempat tidur. Lalu pria itu berjalan ke sofa dan mengambil sebuah kotak p3k yang sengaja mereka bawa kemana-mana untuk waspada jika sesuatu terjadi.
Gelopi memang salah satu bodygard yang terlatih sejak umurnya 15 tahun, ia di pilih oleh aqwee walston karena kemampuannya beda dengan bodygard-bodygard lainnya, ia menguasai banyak bela diri mulai dari bela diri lokal sampai bela diri luar pun semua dipelajarinya. Bukan hanya berbagai macam bela diri yang di kuasainya, tapi juga pertolongan saat teman atau orang dilindunginya terluka dalam perang. Seperti ini, gelopi sangat pandai dalam hal operasi.
"Cepat keluarkan pelurunya gelo!" pinta leo kesakitan yang tengah duduk di pinggir ranjang, pria itu berusaha menahan darah yang terus keluar dari lengan kirinya.
Luka tembak itu benar-benar membuatnya kesakitan, leo pikir jika gelopi tidak cepat menemukannya mungkin dirinya akan berakhir malam ini juga.
"ini akan sakit tuan, anda harus menahannya," ucap gelopi sembari membuka kotak hitam yang di dalamnya sudah lengkap dengan berbagai alat medis. Tanpa berlama-lama gelopi langsung membuka jaket hitam yang di kenakan leo lalu pria itu mulai melakukan tugasnya.
"arghh!! " erang leo kesakitan saat merasa kulitnya di sobek dan di tarik. Rasanya lebih sakit saat peluru itu menembus lengannya. Tapi entah kenapa bibirnya tersenyum miring. Sambil menatap gelopi yang begitu serius mengeluarkan peluru itu dari lengannya
"kau tau gelo ini pertama kalinya aku tertembak dan semua itu karena gadis bodoh yang tiba-tiba masuk ke kamarku" ucap leo setengah terkekeh, ia benar-benar lupa dengan sakit di lengannya. Membayangkan wajah gadis itu cukup mengihiburnya sekarang.
Gelopi hanya membalas itu dengan senyum simpul, "sepertinya gadis itu tidak tau kau siapa," ucap gelopi menatap sekilas mata leo dengan senyum gila yang tercetak di bibirnya.
"ya karena itulah dia sangat bodoh." jelas jeleo tanpa melepas senyum di bibirnya.
Tidak butuh waktu lama bagi gelopi untuk mengeluarkan peluru itu karena keahliannya itu tidak bisa di ragukan lagi. Peluru yang berlumuran darah itu berhasil di keluarkan oleh gelopi.
Leo menutup matanya, sebab sekuat apapun dirinya, saat melihat lukanya sendiri ia juga punya rasa takut. Takut akan mati misalnya.
"bagaimana dengan wanita itu?" tanya leo di sela-sela gelopi mensterilkan lukanya, sesekali bibirnya meringis saat kapas yang di bubuhi cairan alkohol itu mengenai lukanya.
"kau tidak perlu memikirkan itu, aku sudah mengurusnya," jawab gelopi dengan seriusnya mengobati luka leo.
"lalu apa kau mendapatkan file itu?" tanya leo masih penasaran dengan ucapan gelopi yang menurutnya sangat menggantung.
Gelopi mengambil perban, lalu membalut luka leo "tidak, aku tidak mendapatkan file itu,"
Leo mengerutkan alis, " jadi rencana kita hanya sia-sia begitu?. Dan apa kau tidak tau aku hampir saja kehilangan nyawaku?.dengan gampangnya kau mengatakan itu"
Gelopi tiba-tiba berhenti membalut lengan leo, matanya kini menatap leo yang juga menatap meminta penjelasan. Gelopi menhela nafas lalu melanjutkan aktivitasnya membalut luka leo.
"rencana ini memang sia-sia dari awal tuan, wanita itu hanya menipumu, dia memang berpacaran dengan kevin serbony. Tapi tidak semudah itu ia mendapatkan file yang kita inginkan. Dan aku mendapat informasi dari pantho bahwa wanita itu sudah lama menyukai anda" jelas gelopi akhir nya. Membuat leo tidak bisa berfikir, ia ingin sekali menertawai dirinya sendiri.
"b***h yang sempurna!. Beraninya dia menipuku, katakan dimana dia sekarang? " suaranya naik satu oktaf. Emosinya tiba-tiba meluap.
"tidak tuan. Pantho sudah menghabisi wanita itu" jawab gelopi lalu setelah itu ia berdiri di depan leo
Leo tersenyum dingin dan sangat sinis, mendengar wanita itu mati seketika membuatnya sangat senang.
"baguslah, jadi aku tidak capek-capek mengotori tanganku dengan membunuh wanita jalang itu." ucapnya tersenyum picik. Sedang gelopi kini berjalan kearah jendela besar yang terpampang luas di depannya. Sehingga dia dapat melihat jelas seluruh kota dari sini.
"kita harus segera pergi dari sini tuan. Polisi sedang mengepung hotel ini." ucap gelopi menoleh dan mendapati leo yang nampak santai-santai saja.
Sembari berdiri leo berjalan kerah lemari yang terletak di samping tempat tidur. Ia membukanya dan mengambil salah satu jaket kulit berwarna coklat. Tanpa berfikir pria itu langsung memakai jaketnya yang baru, entah siapa pemilik dari jaket itu, tapi jeleo tidak peduli, lagi pula jaket itu sangat pas di tubuhnya yang atletis.
"kau berjalanlah di depanku aku akan menyusul di belakangmu" sembari mengenakan jaket dan topinya.
Gelopi tersenyum. Kata-kata itu persis didengarnya 15tahun yang lalu, hanya saja pria itu sudah besar sekarang dan berdiri di depannya.
"baik, mr. Aqwee hahaha!" gelopi tertawa sambil berjalan keluar dari kamar. Leo hanya menggeleng melihat kelakuan bodygardnya itu. Terkadang gelopi akan terlihat bodoh jika berhadapan dengan jeleo. Jeleo memakai maskernya lalu setelah itu ia berjalan keluar dari kamar itu dan buru-buru menyusul gelopi masuk ke lift.
Ternyata kata-kata itu berguna sekarang, jika gelopi berjalan di depannya tidak akan ada yang curiga bahwa dia adalah seorang ceo yang di incar oleh banyak orang. Selama perjalanan keluar dari hotel banyak yang menatap gelopi dengan tatapan membingungkan, pasalanya bodygard itu selalu mengikuti kemana seorang jeleo aqwee pergi namun hari ini dirinyalah yang di ikuti seorang pria yang mencurigakan dan memakai masker di belakangnya.
Ya tentu saja tidak ada satupun orang yang tidak mengenal jeleo aqwee dan tak ada pula satupun orang yang tidak mengenal gelopi fernando. Pria keturunan rusia itu adalah bodygard yang sudah lama bekerja di bawah aqwee walston. Bahkan saat umurnya 13 tahun aqwee walston kakek dari jeleo sudah mengenalkan dirinya sebagai bodygard di depan umum.
Suara keributan di luar hotel, membuat jelo dan juga gelopi sedikit kesusahan untuk keluar dari kerumanan itu, apa lagi para wartawan kini mencegah gelopi untuk di jadikan sebagai target narasumber. Dengan terpaksa gelopi meladeni para wartawan itu, sedangkan jeleo mengambil kesempatan menyelip di antara kerumunan tanpa di ketahui satupun wartawan.
Jeleo mendapati mobilnya yang terparkir tidak jauh dari hotel. Leo langsung berlari ke arah mobilnya. Saat akan masuk ke mobilnya, matanya tidak sengaja melihat mobil ferrari hitam yang berjalan lambat memutari parkiran, matanya tidak sengaja melihat seorang gadis yang berada di mobil itu.
Jeleo tersenyum kecil di balik maskernya lalu ia masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil. Leo menggerutu kesal, padahal sudah 5 menit ia menunggu bodoh di dalam mobil tapi pria berkumis tebal itu belum juga datang.
"mr. Gelo, apa anda tau apa yang terjadi di atas sana. Apa anda tidak mendengar suara tembakan di salah satu kamar hotel ini?" tanya wanita dengan make up tebal saling mendesak memberikan pertanyaan.
"apa mr. Aqwee ada di dalam? Apa yang anda lakukan di sini?" tanya pria berkaca mata itu tak mau mengalah
"maaf saya tidak tau apa yang terjadi. Dan saya tidak bersama mr. Aqwee jadi tolong beri saya jalan. Saya sedang buru-buru mr.aqwee sudah menunggu saya,"
" memangnya mr. Aqwee di mana? " tanya wanita berjilbab. Membuat grlo menatap wanita itu.
"dia sedang mengadakan perjamuan di thailand" bohongnya. Membuat semua wartawan mengangguk secara bersamaan.
Setelah mendapat jawaban yang kurang puas para wartawan itu akhirnya mau membuka jalan. Suara blits dan jepretan kamera mengakhiri wawancara singkat dengan mr. Gelo dengan kewibawaannya gelopi berjalan meninggalkan keramaian menuju mobil yang yang tak jauh terparkir di samping hotel.
"kenapa kau lama sekali gelo!" gerutu leo saat pintu terbuka dan memperlihatkan gelopi yang tersenyum lebar wajahnya bercahaya seperti mendapat pencerahan. Pria berjas hitam itu masuk dan duduk di kursi kemudi.
"maaf tuan, sekali-kali saya harus terlihat keren di depan kamera," ucapnya di akhiri tawa membuat leo hampir saja mengeluarkan tinjunya.
Gelopi langsung menjalan mesin, mobil leo kemudian pergi dari tempat yang sudah sangat ramai di penuhi wartawan dan polisi. Biarkan mereka menyelidiki sampai mati, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Sekiranya itulah yang di katakan leo.
Sesampainya di jalan kota leo memaksa gelopi meminggirkan mobilnya ketika tidak sengaja matanya melihat seorang gadis yang berdiri di tengah jalan, kemudian pandangannya teralihkan ketika pendengarannya mendengar suara klakson jauh dari belakang gadis itu.
Sebelum terjadi sesuatu pria tinggi itu buru-buru keluar dari mobil berlari kearah gadis yang tidak sadar dengan posisinya yang berdiri di tengah jalan, sebuah mobil melaju kencang dari arah belakang gadis itu, membuat jeleo berlari kencang mendahului dan dengan gerakan cepat ia menarik lengan gadis itu dan
Bbuk.
Leo bernafas lega, nafasnya tidak teratur memburu dengan detakan jantungnya. Untung saja ia lebih cepat, jika tidak gadis yang sedang di pelukanya akan tewas tersambar mobil tadi. Leo juga tidak sadar dengan apa yang di lakukannya. Hanya saja saat melihat gadis itu dalam bahaya, rasa khawatir leo tiba-tiba menuntun dirinya untuk menyelamatkan gadis yang di pelukanya sekarang.
Leo memeluknya erat seakan tidak ingin melepasnya, dengan nafasnya yang masih memburu. Bukan karena lelah tapi rasa takut lebih mewakili hatinya saat ini.
'Tidak dua kali. Cukup dia yang mati di depanku' ucap leo sambil memejamkan matanya menghirup aroma shampoo yang di pakai gadis itu.
Kepala gadis itu perlahan bergerak namun dengan cepat leo menekan lehernya agar gadis itu tidak melihat wajahnya yang sangat khawatir. Bayangan seorang gadis yang mati di depannya membuat hati leo sangat sakit.
Cukup lama mereka berdiam saling berpelukan. Mereka tak peduli dengan tatapan orang yang lewat, bagaikan merekalah pemilik dunia.
"biarkan aku melihat wajahmu" ucap gadis itu membuat hati leo seketika luluh, leo tertawa sambil merenggang kan pelukannya, lalu kedua tangannya menangkup pipi gadis itu dengan lembut .
Iris mata gadis itu melebar saat bertemu dengan iris mata leo yang berwarna gelap.
Leo hanya bisa tersenyum di balik maskernya sambil memandangi wajah gadis yang sangat cantik jika sedang terkejut itu.
"kau-?" kagetnya. Membuat leo tertawa sambil mendekatkan wajahnya mengikis jarak yang memisahkan. Leo menempelkan keningnya di kening gadis itu.
Tak terima dengan posisi seperti itu sontak kedua tangan mungil milik gadis berambut coklat itu kini memegang lengan leo, menjauhkan pria itu darinya.
"arghh!" erang leo ketika gadis itu menyentuh lengannya,
"lengan berda- eumb," tak ingin gadis itu banyak bicara leo langsung mencium bibir gadis itu tanpa melepas maskernya.
Skip............ Flashback off.
"kita ke penthouse ku saja gelo" ucap jeleo setelah mendudukan dirinya di kursi belakang. Di tutupnya pintu mobil dan saat itu juga gelopi menacap gas dan pergi dari tempat itu, melanjutkan perjalan mereka ke tempat yang di sebut oleh leo.
Beberapa menit perjalanan kerry terus menatap leo tidak percaya. Tanpa mengatakan sepatah katapun gadis itu hanya menetap leo dengan tatapan membingungkan.
Merasa di perhatikan leo langsung menoleh dan melihat kerry yang terus menatapnya tanpa mengucapkan apa-apa.
Jika di luiahat seperti itu kerry sanagt lucu, apa lagi bibir ranumnya yang sedikit terbuka.
"apa?" tanya leo santai sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, tapi tatapan tidak lepas dari kerry.
"kau bukan psikopat kan?, kau tidak berniat untuk membawaku dan membunuhku secara perlahan kan?" tanya kerry dengan nada mengintimidasi.
Dan saat itu juga leo tertawa, "kau telalu banyak menonton drama ms.angelic,"
"dari mana kau tau namaku?" tanya kerry mendelik kesal.
Lagi-lagi leo hanya tertawa dingin "apa kau lupa sebelum menamparku kau memperkenalkan namamu? " jawab leo dengan wajah mengejek.
'Sial! Aku lupa kau benar-benar bodoh kerry! '
" Aku tidak peduli mr. Aqwee. Sekarang putar balik mobilmu, dan bawa aku ke central park. Aku tidak ingin berurusan denganmu," pinta kerry memaksa.
"ehum... Tidak seperti yang kau mau cantik. Bagaimana kalau aku mengatakan aku adalah psikopat yang akan menculikmu?" ujar leo di akhiri dengan senyum yang tercetak jelas di bibirnya.
"euhh". Keluh kerry menyerah sembari memutar matanya. Lantas gadis itu menggeser duduknya sedikit jauh dari leo.
Leo tertawa lepas sembari membaringkan kepalanya di sandaran kursi. Menutup sebentar matanya yang terasa berat.
Beberapa menit kemudian, suasana di mobil itu hening, hanya alunan musik klasik yang di putar oleh gelopi untuk menemani kesibukannya menyetir.
Kerry menyandarkan kepalanya di kaca mobil, berkali-kali ia menghela nafas merasa bosan. Dan berkali-kali juga kepalanya terbentur kaca saat mobil yang di tumpanginya menginjak jalan berlubang. Kerry tiba-tiba sadar, mungkin efek benturan di kepalanya membuatnya sedikit bodoh.
'Hei ada apa dneganku, kenapa aku tidak menolak saat pria ini menculikku?. Dan mereka akan membawaku kemana? Oh kerry sadarkan dirimu!'
Kerry menghela nafas. Dengan kesal dirinya menolehkan kepalanya bersiap untuk memaki dan namun itu terhenti saat melihat pria di sampingnya tertidur dengan posisi kepala yang bersender di sandaran kursi sedangkan kedua tangannya di lipat di d**a.
'Sadar kerry dia itu sangat berbahaya. Kau tidak boleh terus menatapnya'
Jantungnya tiba-tiba berdegub kencang ketika leo merubah posisi tidurnya menyamping membuat kerry tidak bisa bernafas, kerry tidak bisa membohongi dirinya bahwa leo adalah pria yang sangat tampan. Hidung yang macung, alis tebal, rahang yang tegas dan rambut yang berwarna gelap. Seakan menjamah mata kerry membuatnya ingin menyentuh wajah pria itu, tapi kerry buru-buru menepis khayalannya. Dan mengalihkan tatapannya ke depan.
Tidak kerry tidak! Jangan menatapnya lagi eh?
Rasanya tubuh kerry membeku kepala seseorang meninmapa bahunya, siapa lagi kalau bukan jeleo. Bulu di sekitar leher kerry meremang ketika nafas hangat menerpa di lekukan lehernya. Perlahan ia menoleh dan pertama yang di temukan matanya adalah bibir leo, sontak kerry mendorong kepala leo membuat pria itu tersadar dan membuka matanya. Rasanya sangat gugup sampai lehernya terasa kering.
"ka-kau kira aku bantal" ucap kerry terbata. Tanpa menatap leo.
Leo mengerutkan alis, sembari mengumpulkan nyawanya yang sempat melayang di alam mimpi. Lantas pria itu kembali menutup mata. Karena ia pikir perjalanan masih jauh.
Entah mau kemana mereka?. Yang jelas terakhir leo mengatakan bahwa dia akan pergi ke penthousenya bukan di rumahnya dan berarti tempat yang di maksud adalah ct corp?.
"kau sangat gugup ms. Angelic. Benahkan rambutmu yang berantakan itu, "
Mendengar itu dengan bodohnya kerry langsung menarik pengikat rambutnya membuat rambut coklatnya tergerai begitu saja.
Senyum kecil di bibir leo tercetak, ketika melihat rambut kerry tengerai begitu indah. Leo lebih suka melihat wanita mengerti rambutnya. Karena menurutnya yang membut seorang wanita terlihat cantik adalah ketika mengurai rambutnya. Apa lagi rambut kerry terlihat sangat halus dan berwarna coklat, warna yang leo suka.
"tuan kita sudah sampai," ucap gelopi sebelum keluar dari mobil dan berjalan untuk membuka pintu untuk leo.
Leo menoleh sekilas tersenyum kecil kepada kerry.
"ikutlah bersamaku untuk beberapa hari," ucap leo menyadarkan kerry dari lamunannya membuat gadis itu menoleh dengan tatapan penuh tanya.
Kerry mengangguk pelan. Kerry tidak bisa menolak,karena dirinya juga ingin melarikan diri dari tekanan ayahnya. Masa bodoh dengan ayahnya yang memgamuk dan mencari dirinya.
Melihat anggukan kerry leo langsung menggenggam tangan mungil gadis itu dan mebawanya keluar dari mobil.
"kabari aku jika sesuatu terjadi pada anda,"
"iya akan ku kabari. Kau urusi pekerjaanku untuk sementara. Dan suruh jenny mengirimiku e-mail setelah aku sampai di amsterdam,"
"amsterdam? Kita akan ke amsterdam ?"
Atensi kedua pria teralihkan menatap kerry.
"baiklah tuan kalau begitu aku pergi dulu."
Leo hanya mengangguk sekilas, sedangkan gelopi tanpa menunggu instruksi lagi. Pria paru baya itu langsung memasuki mobil kembali. Menjalankan mobil dan meninggalkan tempat itu.
"apa yang akan kita lakukan di amsterdam?" tanya kerry masih belum puas. Tatapannya tertuju pada jet yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Leo memiringkan kepalanya, mendekatkan bibirnya di telinga kerry seraya berbisik "bersenang-senang berdua, hanya kita berdua."
Kerry merasakan tubuhnya seperti terbakar mendengar suara leo yang sangat euhh.. Sudah tak bisa di jelaskan lagi. Yang jelas itu akan membuatmu terasa tersengat listrik.
'Bersenang-senang? Berdua?, kerry kau tidak salah dengar kan?'
Kalimat itu terus terulang di kepalanya. Sepertinya suasana malam di tempat ini membangkitkan euforia kerry. Gadis cantik itu belum pernah merasakan akan pergi berlibur dengan seorang pria apa lagi keluar negri. Sama sekali belum pernah terfikirkan olehnya.
Persetan dengan hidupnya selama ini. Ayah kerry benar-benar pria yang kelainan jiwa sampai-sampai mengurung putrinya sendiri.
Angin kencang menerpa wajah kerry ,menerbangkan rambut coklatnya yang tengarai seolah memebelai pandangan leo yang tak lepas dari kecantikan gadis itu.
Kerry terkejut ketika menyadari dirinya dan leo tengah berdiri di tengah lapangan penerbangan yang sangat luas. Bukan hanya itu yang membuat kerry kagum tapi yang membuat iris matanya melebar adalah sebuah jet pribadi keluarga aqwee sudah terpampang jelas di depan matanya. Di sana berdiri seorang pilot dan tiga pramugari cantik yang sudah menunggu.
Leo meraih tangan kerry untuk di gandengnya, lantas kerry menggerakkan kakinya mengikuti langkah leo. Berjalan di lapangan luas itu. Tak ada siapapun kecuali mereka. Tak ada yang tau bahwa lapangan penerbangan ini adalah milik jeleo aqwee.
"mr. Aqwee. And ms--"
"ms. Angelic" ucap kerry cepat, membuat leo memeluk pinggangnya tapi dengan cepat kerry melepas tangan leo.
"jangan coba-coba memelukku" tajam kerry, setelah itu masuk ke dalam jet.
Kerry merasa risih di perlakukan seperti itu, apalagi sejak tadi tiga pramugari itu mentapnya dengan tatapan tak suka.
"dia wanita yang galak, aku sedikit takut," ucap leo memelankan suaranya membuat pria gemuk, mengenakan seragam pilot itu tertawa keras, sedangkan tiga wanita pramugari itu hanya bisa menggigit bibir mereka melihat sisi lain dari leo.
Ternyata di balik sisi dinginnya pria tampan itu masih punya sisi yang lucu dan menggemaskan.
'Huh'
Helaan nafas kerry lolos begitu saja saat merasakan pria itu duduk di sampingnya. Sudah 15 menit semenjak pesawat itu mengudara dan saat itu juga kerry merasa nyaman sambil melihat awan gelap melalui jendela tempatnya duduk. Tapi tiba-tiba dirinya merasa terganggu saat merasakan kursi di sampingnya di duduki oleh seseorang. Dan siapa lagi kalau bukan jeleo aqwee.
"bisakah kita duduk secara terpisah? Di sini banyak kursi kau bisa duduk di mana saja," pinta kerry sembari menoleh menatap leo dengan jengkel. Tapi apa yang didapatkannya?
"kau memerintahku ms. Angelic? Aku tidak suka di perintah," balas leo menyandarkan tubuhnya di kursi jet. Pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan kemeja biru tua dan juga celana jeans.
"terserah, dan aku berharap kau tidak menyentuh kulitku sedikitpun, karena kalau sampai itu terjadi aku--"
Cup!
"kau sangat cerewet!"
Kerry seakan ingin terjun bebas saat leo sengaja mendaratkan ciuman di pipinya. Kerry menggit bibir bawahnya berusaha mengontrol emosinya. Cukup! Ini sudah keterlaluan!.
Plak!
"Aww! Damn it! " umpat leo mengelus kepalanya yang di pukul oleh kerry.
"Sudah ku bilang jangan menyentuhku. Aku bukan b***h yang bisa kau cium dan tiduri semaumu," ucap kerry kehilangan sisi polosnya. Kerry sudah tidak tahan dengan perlakuan pria yang baru di kenalnya.
Kerry memang gadis yamg masih polos, umurnya masih 19 tahun, kerry juga tidak pernah berpacaran apa lagi berdekatan dengan seorang pria. Jadi wajar saja kerry tidak suka jika ada yang memperlakukan dirinya seperti wanita jalang. Meski itu bukan ciuman pertama bagi kerry tapi tetap saja kerry tidak ingin memberikan ciumannya begitu saja ke sembarang pria.
"kau benar-benar berbeda ms. Angelic dan aku sepertinya mulai menyukaimu, "
Bisik leo di telinga kerry. Membuat jantung kerry berhenti selama dua detik.
Tbc.
jangan lupa beri love :)