Acara syukuran ulang tahun Nyonya Bestari diselenggarakan dengan sederhana di rumah keluarga Adiwijaya, di kawasan yang tenang di pinggiran Jakarta.
Sejak pagi Mita sudah berada di sana bersama Ujang, menata rangkaian bunga di ruang tamu, di meja panjang, dan di sudut-sudut taman. Ia bekerja dengan cekatan, sesekali mundur beberapa langkah untuk memastikan komposisinya sudah benar.
Yang tidak Mita ketahui, sejak setengah jam yang lalu, seorang perempuan tua duduk di kursi rotan di teras dan mengamatinya tanpa berkedip.
Nyonya Bestari memanggil putranya dengan suara pelan.
“Wijaya, kemari.”
“Kenapa, Bu?”
“Gadis yang menata bunga itu. Kamu yang menyuruh dia ke sini?”
“Bukan saya, Bu. Marchel yang memesan bunganya. Kenapa memangnya?”
Nyonya Bestari tidak menjawab. Perempuan tua itu justru bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat dengan tongkatnya.
“Nak,” panggilnya.
Mita menoleh, lalu buru-buru menunduk hormat. “Iya, Bu. Ada yang kurang, Bu?”
“Siapa namamu?”
“Mita, Bu.”
“Mita saja?” Nyonya Bestari menatap wajah gadis itu lekat-lekat. “Nama panjangmu siapa?”
Mita merasakan tengkuknya meremang. “Paramitha, Bu.”
Tongkat di tangan Nyonya Bestari terlepas dan jatuh berdentang di lantai.
“Ibu!” Wijaya bergegas menahan tubuh ibunya yang limbung. “Ibu kenapa?”
“Paramitha ....” Nyonya Bestari mengulang nama itu dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Air mata mengalir dari kedua matanya yang keriput. “Gendis Paramitha ....”
Seisi ruangan terdiam. Ujang berdiri kaku dengan setangkai mawar di tangannya. Marchel yang baru saja tiba berhenti di ambang pintu tanpa berani melangkah.
Mita mundur selangkah. Kedua tangannya gemetar hebat.
“Maaf, Bu. Saya harus pulang. Bunganya sudah selesai—”
“Gendis.”
Suara Wijaya menghentikan langkah gadis itu. Bukan bentakan. Bukan tuduhan. Hanya sebuah nama, yang diucapkan oleh seseorang yang sudah lima belas tahun memanggilnya di dalam doa.
Mita berhenti dengan punggung membelakangi mereka semua. Bahunya berguncang.
“Sejak di villa itu, Om sudah tahu,” lanjut Wijaya, suaranya ikut bergetar. “Om cuma tidak berani percaya. Om takut kalau Om salah, Om harus kehilangan kamu untuk kedua kalinya.”
Mita berbalik perlahan. Wajahnya sudah basah seluruhnya.
“Om ....”
“Gendis!”
Wijaya berlari memeluk keponakannya, sementara Nyonya Bestari terduduk di kursinya sembari menangis dan berkali-kali menyebut nama Allah.
Marchel berdiri di ambang pintu dengan seribu pertanyaan di kepalanya, dan tidak satu pun dari pertanyaan itu berani ia ucapkan pada saat seperti ini.
“Kenapa kamu tidak pulang, Gendis?” tanya Nyonya Bestari di antara isak tangisnya. “Kenapa kamu biarkan Nenek hidup lima belas tahun dengan menyesal?”
Gendis berlutut di depan kursi perempuan tua itu.
“Bukan Gendis yang memutuskan, Nek,” jawabnya pelan. “Waktu itu Gendis masih tujuh tahun. Mama yang memutuskan, dan Gendis baru mengerti alasannya setelah besar.”
“Alasan apa yang bisa lebih besar daripada pulang?”
Gendis menggenggam tangan neneknya yang penuh urat.
“Alasannya supaya Gendis tetap hidup, Nek.”
Nyonya Bestari terdiam, dan air matanya kembali mengalir.
Sore itu Hapsari dijemput dari Bogor. Ketika perempuan itu turun dari mobil dan melihat Nyonya Bestari berdiri di teras, keduanya sama-sama berhenti melangkah.
Bertahun-tahun lalu, perempuan tua itu pernah mengusirnya dengan kata-kata yang paling menyakitkan.
“Sari ....” Nyonya Bestari melangkah lebih dulu, dengan tongkat yang bergetar di tangannya. “Maafkan Ibu, Sari. Maafkan Ibu.”
Hapsari menangkap tubuh perempuan tua itu sebelum sempat terjatuh, dan keduanya menangis di teras rumah itu tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Marchel akhirnya memberanikan diri mendekat menjelang malam, ketika suasana sudah agak tenang.
“Mita ....” Ia berhenti, lalu memperbaiki ucapannya. “Maaf. Gendis.”
“Iya, Pak.”
“Jangan panggil saya Pak sekarang.” Marchel menghela napas. “Kamu marah sama saya?”
“Kenapa saya harus marah?”
“Karena saya yang menyuruh kamu mengantar bunga ke villa itu. Kalau bukan karena saya, mungkin semua ini belum terbongkar hari ini.”
Gendis menggeleng pelan.
“Justru itu yang mau saya bilang,” ucapnya. “Terima kasih. Ternyata saya sudah capek jadi Mita, dan saya baru sadar setelah nama saya dipanggil orang lain.”
Malam itu, di ruang keluarga, semuanya diceritakan. Tentang map cokelat. Tentang Pardi. Tentang mobil yang dibanting ke arah sungai. Tentang Nyai Kosasih dan Abah Engkus yang membesarkan mereka seperti anak sendiri.
Wijaya mendengarkan dengan rahang mengeras sepanjang cerita.
“Jadi selama ini,” ucapnya akhirnya, “laki-laki itu tinggal di rumah Mas Adi, memakai uang Mas Adi, sementara istri dan anak Mas Adi hidup di kampung sebagai penjual bunga.”
“Om, jangan gegabah,” ucap Gendis pelan. “Kita belum punya bukti apa pun.”
“Buktinya ada satu, Gendis,” jawab Wijaya. “Namanya Pardi. Dan kali ini Om tidak akan berhenti mencari sampai ketemu.”