Azan subuh dari musala di ujung gang masih menggantung di udara ketika Tias sudah berjongkok di depan kompor, menjerang air. Kosnya hanya satu petak tiga kali empat meter, disekat tirai batik pudar jadi dua: ranjang untuk ibunya dan Kenes di balik tirai, sisanya dapur sekaligus ruang segala-galanya. Ia menanak nasi semalam, dan pagi ini tinggal menggoreng dua telur, dipotong empat, dibagi rata. Satu setengah potong untuk Kenes, satu setengah untuk ibunya, sisanya untuk dirinya kalau masih ada nafsu makan nanti.
Di atas meja kayu yang catnya mengelupas, ponsel Tias terisi penuh, kabelnya melintang seperti urat nadi. Ia belum menyalakannya. Ada urutan yang ia patuhi tiap pagi, dan menyalakan aplikasi selalu yang terakhir—sebab begitu layar itu hidup, ia bukan lagi sekadar Tias. Ia jadi nomor. Jadi titik biru yang bergerak di peta kota yang tak pernah tidur.
"Bu, obatnya sudah Tias taruh di gelas biru," katanya pelan, menyibak tirai. Ibunya, Mak Surti, sudah duduk bersandar di dinding, dadanya naik-turun dengan napas yang sedikit bersiul. Asma. Bukan yang parah, tapi cukup membuat Tias selalu meletakkan inhaler di tempat yang sama, supaya kalau gelap pun tangan ibunya tahu ke mana meraih.
"Kamu sarapan dulu, Ti," suara ibunya serak. "Jangan cuma kopi."
"Iya, Mak." Bohong kecil yang sudah jadi kebiasaan.
Kenes masih meringkuk, enam tahun, rambut acak-acakan, kaus berlubang di siku. Tias mengusap pipinya, tak tega membangunkan. Anak itu masuk sekolah pukul tujuh, diantar tetangga sekos yang searah. Tias harus sudah di jalan sebelum itu, karena pukul lima sampai sembilan adalah jam emas. Jam orang berangkat kerja. Jam ketika layar memberi lebih banyak order, dan—kalau ia beruntung—poin yang lebih gemuk.
Ia mengenakan jaket armada: hijau tua dengan logo "Lajur" di dada, sablonnya sudah retak-retak. Helm dengan stiker nomor mitra di belakang. Ia mengikat rambut, menyelipkan masker, lalu—ritual terakhir—menekan tombol daya ponsel.
Layar menyala. Aplikasi Lajur Driver terbuka dengan animasi logo yang sama setiap hari, ceria dengan cara yang aneh, seolah pagi ini bukan pagi yang sama dengan kemarin. Lalu muncul dasbor: Skor Performa 4,82. Tingkat Penyelesaian 96%. Poin Hari Ini: 0. Target Bonus Harian: 18 perjalanan untuk Rp25.000, atau 28 perjalanan untuk Rp55.000.
Dua puluh delapan. Tias menghela napas. Dua minggu lalu masih dua puluh lima.
Ia tak punya bos yang bisa diajak menawar soal angka itu. Tak ada manajer, tak ada kantor, tak ada nomor telepon yang dijawab manusia. Yang ada hanya layar ini—dingin, rapi, selalu benar menurut dirinya sendiri. Bosnya tak punya wajah, tak punya suara, tak pernah lelah. Bosnya adalah kalimat-kalimat pendek dan angka yang berubah tanpa pamit.
Tias mendorong Honda bebeknya keluar gang, motor yang masih ia cicil. Sembilan belas kali lagi angsuran. Tiap tanggal lima ia harus menyetor, dan kalau telat, denda berbunga. Motor ini bukan miliknya sepenuhnya; separuhnya masih milik leasing, dan separuh lagi milik aplikasi yang menentukan apakah ia bisa membayarnya.
Di mulut gang, ia menekan tombol "Mulai Narik". Lingkaran berputar. Lalu, dalam tiga detik, layar bergetar dan berbunyi nyaring.
Order masuk. Penumpang. 1,2 km. Estimasi Rp9.000. Poin: 1.
Ia punya lima belas detik untuk memutuskan. Tias menerima sebelum detik kesepuluh—menolak terlalu sering akan menggerus tingkat penyelesaian, dan tingkat penyelesaian yang turun berarti order berkutu yang dilempar ke pinggiran. Ia sudah hafal logika itu. Patuh dulu, baru pintar belakangan.
Titik jemput: sebuah kos eksekutif di balik Pasar Tebet. Ia menyusuri jalan yang masih sepi, embun tipis menempel di spion. Di depan pagar, seorang pria berkemeja rapi sudah berdiri sambil melihat jam tangan, lalu melihat ponselnya, lalu jalan.
"Tias, ya?" Pria itu menyebut namanya, membaca dari aplikasi. Aneh selalu rasanya, orang asing tahu namamu sementara kau tak tahu apa-apa soal mereka.
"Iya, Pak. Ke Stasiun Tebet?"
"Cepet ya, Mbak. Kereta saya 5.40." Ia naik tanpa menunggu jawaban, helm penumpang dipasang asal.
Tias menstarter. Pria itu sudah memegang ponselnya lagi, mengetik pesan, tak menoleh ke kota yang lewat. Tias hafal jenis penumpang ini: yang menganggap motornya sekadar perpanjangan dari peta di layar mereka. Bagi pria itu, Tias bukan manusia—ia adalah waktu tempuh, garis biru yang harus menyusut jadi nol sebelum 5.40.
Ia memilih jalan tikus lewat belakang pasar, memotong dua lampu merah lewat gang yang hanya ia dan segelintir driver lama yang tahu. Inilah satu-satunya hal yang ia punya dan tak dimiliki layar: pengetahuan kota yang tak tercetak di peta mana pun. Aplikasi tahu jarak; Tias tahu jalan.
Mereka tiba di mulut stasiun pukul 5.32. Pria itu turun, sudah berlari sebelum sempat bilang terima kasih, lalu—Tias melihatnya dari ekor matanya—berhenti sejenak, menatap ponselnya, memberi bintang. Tias menunggu. Notifikasi muncul: Perjalanan selesai. +Rp9.000. +1 poin. Rating: 5 bintang.
Ia menghela napas lega yang ganjil, lega untuk hal sekecil itu. Satu bintang lima. Tujuh belas perjalanan lagi untuk bonus pertama. Dua puluh tujuh lagi untuk yang gemuk.
Tias memarkir motor di pinggir, menyeruput kopi sachet dari termos kecilnya, dan menatap layar yang kini menampilkan peta kosong dengan titik birunya di tengah. Bosnya sedang berpikir, menghitung, menimbang di mana ia paling berguna pagi ini. Dalam beberapa detik, layar akan berbunyi lagi, dan ia akan jadi nomor lagi, garis biru lagi.
Di seberang jalan, matahari mulai menyentuh atap-atap. Kota bangun. Tias menelan sisa kopinya, dan menunggu order kedua.