> "Saat kau tidak lagi memiliki apa-apa, kau akhirnya sadar bahwa yang tersisa hanya dirimu dan Tuhan."
Hari itu seperti hari-hari sebelumnya—hampa dan sunyi. Tapi ada satu perbedaan: Aris merasa... kosong sepenuhnya. Bukan sedih, bukan marah, bukan kecewa. Hanya... kosong.
Pagi yang biasanya diisi dengan kopi hangat dan lamunan di teras, kini diganti dengan tubuh yang nyaris tak ingin bangun dari tempat tidur. Bahkan suara burung pun terasa jauh, seperti dunia tak lagi menyapa.
Pesan dari Luna hanya dibaca, tidak dibalas. Bukan karena tidak ingin, tapi karena tidak tahu harus berkata apa. Ada rasa bersalah yang mengendap. Semakin hari, Aris merasa menjadi beban. Cinta yang seharusnya membuatnya kuat, kini justru menjadi alasan mengapa ia merasa tak layak dicintai.
---
Pekerjaan freelance yang selama ini jadi satu-satunya sumber pendapatan pun berhenti. Klien terakhir menghilang tanpa kabar. Sisa saldo di rekening tinggal cukup untuk makan dua hari.
Satu per satu, segalanya pergi.
> "Begini rasanya... benar-benar sampai di dasar," gumamnya lirih.
Ia mencoba menulis sesuatu, tapi tak ada kata yang keluar. Bahkan pena pun terasa berat. Seolah semua ide, harapan, semangat, ikut mati.
Hari itu, Aris menatap cermin cukup lama. Wajahnya tampak asing. Mata sayu, rambut berantakan, dan sorot kosong—seperti bukan dirinya yang dulu. Yang punya cita-cita, impian, dan semangat untuk membuktikan diri.
Lalu datanglah malam.
---
Ketika gelap turun, rasa hancur itu semakin nyata. Ia terduduk di lantai kamar, tanpa suara, tanpa tangis. Hanya diam.
Dan di titik itu—di ruang kosong, di tengah keheningan—ia berbisik pelan, nyaris tak terdengar:
> “Tuhan, kalau Kau ada... aku benar-benar butuh tahu sekarang.”
Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada suara dari langit. Tapi ada kelegaan kecil karena akhirnya ia mau jujur. Bahwa ia takut. Bahwa ia kehilangan arah. Bahwa ia... tidak baik-baik saja.
---
Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering.
Luna.
Aris tidak berniat mengangkatnya. Tapi jarinya bergerak sendiri.
> “Halo...”
“Kamu gak perlu ngomong apa-apa,” suara Luna lembut, “aku cuma mau bilang... walaupun kamu ngerasa ini titik terendahmu, aku yakin kamu masih bisa bangkit.”
“Aku gak nyuruh kamu kuat... tapi tolong, jangan hilang.”
“Kalau kamu gak bisa percaya apa pun sekarang, percaya sama aku aja dulu.”
Hening.
Aris menggigit bibirnya, menahan air mata.
> “Aku gak tahu bisa sampai kapan, Luna.”
“Aku juga gak tahu... tapi satu hal yang aku percaya, kamu gak sendiri.”
---
Malam itu, Aris menuliskan satu kalimat besar di jurnalnya:
> "Yang tersisa mungkin hanya aku dan Tuhan. Tapi mungkin... itu cukup."
---
Titik terendah bukanlah akhir. Kadang, itulah tempat di mana kau akhirnya mendengar suara yang benar-benar penting—suara Tuhan, dan suaramu sendiri.