Gerombolan awan mendung menghalangi sinar matahari siang. Seorang pemuda dengan kulit sawo matang dan rambut cepak berjongkok di depan sebuah makam yang masih berupa gundukan tanah. Kesedihan mendalam terpancar jelas dari garis-garis tegas wajahnya. Meski begitu, bibirnya yang agak tebal justru membentuk senyum samar.
“Ini Arjuna, satu-satunya sahabatku. Sahabat terbaikku,” ujar si pemuda kepada gadis bertubuh langsing dan berambut hitam panjang yang berdiri di sisinya.
“Satu-satunya?” tanya si gadis. Ekspresi kebingungan tampak jelas tergambar di wajahnya, yang walau minim balutan make-up, tapi tampak rupawan dengan warna kulit putih bersih dan bibir berbentuk hati.
Si pemuda hanya mengangguk pelan. Lalu, suasana pemakaman yang sebenarnya sudah sepi karena tak ada orang pun jadi semakin lengang. Baik si pemuda maupun si gadis memilih diam.
Kedua orang itu tampaknya tak menyadari sedang diawasi oleh sesosok manusia berkacamata hitam dari tempat yang agak jauh.
Ya, ada satu orang lagi di pemakaman itu. Orang ketiga ini berdiri dengan mengenakan kaus lengan panjang hitam kedodoran, serta celana jeans abu-abu kebesaran. Seolah untuk melengkapi penampilannya yang sudah cukup aneh, topi hijau tua lusuh bertengger di kepalanya, membuat rambut bercat merahnya hanya tampak sebagian.
Si pemuda bangkit dengan mata yang masih terpaku ke makam. Dengan balutan kaus abu-abu agak ketat, otot-ototnya yang lumayan kokoh jadi terlihat saat ia berdiri tegak.
“Ya, satu-satunya, Retha,” tegas si pemuda sembari melirik si gadis.
Gadis yang dipanggil Retha itu mengarahkan matanya yang agak sipit kepada si pemuda. “Err... Kalau boleh tahu, penyebab sahabat kamu ini meninggal karena…”
“Kecelakaan, mobilnya kebakar. Waktu dievakuasi, tubuhnya hampir nggak bisa dikenali,” potong si pemuda, memejamkan matanya.
“Maaf.”
“Padahal aku pengen banget ngenalin dia ke kamu.” Si pemuda mengecek jam tangan berwarna peraknya sambil menghela napas. “Pulang, yuk.”
Si pemuda mulai bertolak pergi tanpa menunggu jawaban dari Retha. Alih-alih mengikuti si pemuda, Retha malah mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memotret nisan yang ada di makam.
Karena tak mendengar langkah kaki Retha, si pemuda pun berhenti dan menoleh ke belakang. “Ayo.”
“Ah, ya,” jawab Retha, buru-buru memasukkan ponselnya ke saku celana, kemudian berlari-lari kecil mendekati si pemuda.
Keduanya meninggalkan pemakaman dengan langkah pelan. Wajah si si pemuda masih saja tampak dirundungi kesedihian. Melihat hal itu, Retha pun memasang ekspresi yang menunjukkan rasa simpati mendalam.
Mereka berdua tak mengeluarkan sedikit pun kata-kata, bahkan setelah sampai di luar kompleks pemakaman.
“Sekarang cuma kamu yang aku punya, Tha,” ucap si pemuda sambil mengarahkan remot pengaman ke arah mobil sedan warna silvernya yang ada di salah satu sudut tempat parkir. Terdengar bunyi beep dua kali saat ia memencet tombol di remot itu.
“Ya,” jawab Retha sambil tersenyum tipis, sementara si pemuda membukakan pintu depan bagian kiri mobil.
Pancaran kesedihan di wajah si pemuda perlahan memudar, digantikan oleh raut kebahagiaan. Ia terus melekatkan pandangannya kepada Retha, yang tengah memasuki mobil. Seolah gadis itu akan menghilang kalau dirinya meleng sedikit saja.
“Apaan sih?” tanya Retha saat sudah duduk di kursi mobil, heran karena si pemuda terus memperhatikan dirinya.
Si pemuda cuma mengangkat bahu, kemudian ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Pandangannya tertuju ke depan untuk sejenak, sebelum akhirnya terarah ke Retha kembali.
Retha cuma mengerjap beberapa kali sambil merentangkan senyum kebingungan.
“Aku...”
Duk!
Si pemuda merasakan tengkuknya seperti dijatuhi benda keras. Seketika saja tubuhnya tertelungkup ke atas setir. Matanya terbelalak sangat lebar, tapi satu detik kemudian menutup rapat.
“EVAN!” pekik Retha.