Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Evan pun menguntit dua orang itu. Ia memang merasa sudah mulai termakan omongan gadis itu, tetapi menurutnya perbuatan Edwin ini sangatlah sembrono. Apa jadinya kalau ada orang yang melihat?
Senyuman masih saja tersungging di bibir Tara. Meski begitu, Evan bisa memergoki semburat kecemasan di wajah gadis itu.
Begitu keluar dari taman, Evan, Edwin, dan Tara langsung berjalan menuju mobil Avanza hitam milik Axel yang ada di sudut tempat parkir.
Ketiga teman Evan yang lain sudah berdiri di dekat mobil itu. Wajah Hilman memerah, terlihat sekali kalau dirinya sedang menahan marah. Rangga celingukan karena gugup, sedangkan Axel memasang ekspresi kosong. Mereka bertiga tak mengatakan sepatah kata pun, bahkan saat Evan dan dua orang lainnya tiba.
Tanpa dikomando, satu-persatu dari mereka memasuki mobil. Hilman menempati kursi kemudi, dengan Axel duduk di sebelahnya. Rangga duduk baris kursi ketiga, dan Edwin menarik Tara dengan kasar untuk duduk di baris kedua.
“Pelan-pelan dong!” gerutu Tara.
“Duduk di sebelahnya, Van,” pinta Edwin kepada Evan, terdengar tak peduli dengan perkataan Tara itu
Dengan agak ragu, Evan duduk di sisi gadis itu, mengapitnya bersama Edwin. Setelah Evan menutup pintu mobil, Hilman pun menyalakan mesin dan mulai menyetir. Edwin bergeser menghimpit tubuh Tara. Evan jadi merasa sedikit tidak nyaman karena tubuhnya tertekan oleh tubuh gadis itu.
“Ngapain sih!? Tempatnya masih luas juga!” omel Tara sengit.
“Diem lu!” balas Edwin, tak kalah galak.
Lengan Evan kembali merasakan lembutnya kulit Tara. Aroma segar gadis itu juga semakin kuat merasuki hidung Evan. Naluri lelaki Evan mulai bangkit, dan tanpa sadar matanya mengamati setiap inchi dari tubuh gadis itu.
“Apa sayang?” desah Tara kepada Evan dengan kedipan nakal. Tangan gadis itu pun mulai menjamah dagu Evan.
Pipi Evan kembali memerah. Ia sudah tak tahan dengan situasi ini. Kalau bisa, ia lebih memilih duduk di kursi depan, atau di baris terakhir. Yang penting tidak berdekatan dengan Tara.
Plak!
Tara langsung terdiam begitu tangan Edwin mendarat keras di pipi kirinya.
“Hei, jangan kasar-kasar dong!” bentak Hilman.
Edwin menoleh ke arah Hilman dengan tatapan tak percaya. “Eh, lo masih ngarepin dia? Otak lo ditaruh di mana, hah!”
Hilman mendengus kesal. “Tapi nggak gitu juga dong ca.... Hmph!”
Axel menutup mulut Hilman dengan tangannya. Hilman memberi pandangan memprotes, tapi Axel hanya menggeleng pelan. Dan akhirnya, Hilman pun tak mengatakan apapun lagi.
“Kalau kamu mau ngelepasin aku. Aku janji kita bisa jadian lagi, Hilmanku sayang,” goda Tara kembali, tampak tak peduli dengan noda merah bekas tamparan Edwin.
Edwin membentuk kata ‘diam’ tanpa suara di mulutnya. Urat-urat di lehernya tampak sedikit menonjol, pertanda amarah dalam dirinya bisa meledak kapan saja.
“Bunuh aja, Win!” celetuk Rangga dari belakang.
“Heh! Enaknya main bunuh, lu mau gue bunuh?” balas Hilman sengit.
“Nggak dibunuh pun, dia pasti mati gara-gara penyakit kelamin,” timpal Axel datar.
“Heh! Jaga omongan lo!” Hilman pun mendorong Axel dengan sebelah tangan.
Tara terkekeh pelan. “Aku nggak punya penyakit kelamin kok. Kalo ada, kamu pasti udah ketularan, Axelku sayang.”
“Lo udah ngelakuin apaan sama Tara, Xel!?” sahut Rangga dengan suara keras.
Mendadak, Tara menarik kepala Evan. Lalu, dalam hitungan detik, Evan pun bisa merasakan hangatnya bibir Tara di bibirnya sendiri. Evan membelalakkan matanya dan langsung mendorong Tara menjauh. Edwin menangkap Tara dan kembali menempelkan sebuah benda berkilau ke leher gadis itu.
Sekarang Evan merasa jantungnya seperti baru saja dihantam dengan palu besar. Yang mengancam di leher Tara bukan lagi sebuah kunci, tetapi sebilah pisau lipat yang asli.
“Win!” protes Evan dengan putus asa.
“b*****t LO, VAN!!!” teriak Axel sembari menoleh ke belakang. Wajah tanpa ekspresinya telah hilang, digantikan oleh muka penuh kemurkaan. Kelihatannya sedari tadi ia sengaja menekan amarahnya agar tidak keluar.
“STOP!” teriak Edwin. Dan kemudian mereka semua pun membisu. “Tolong... Tolong banget. Gue ngelakuin ini semua itu juga buat lo-lo pada. Gue nggak mau kejadian yang abang gue alamin keulang lagi.”
Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit Evan. Inikah yang dimaksudkan dengan kepintaran Tara? Ketiga teman Evan itu masih saja merasa memiliki Tara, padahal borok gadis itu sudah ditelanjangi.
Perjalanan pun berlanjut dengan keheningan. Tara tak bisa megeluarkan jurus penggodanya karena pisau yang mengancam di leher. Ia cuma bisa memejamkan mata dan diam, tampak berusaha menahan tangis.
Evan ingin meminta Edwin untuk melepaskan pisau itu, tetapi keadaan benar-benar tak mendukung. Kepala Edwin sekarang benar-benar panas, salah-salah Evan malah akan memantik perseteruan yang baru.
Hitungan menit terasa seperti bilangan jam bagi Evan. Mobil yang ditumpanginya akhirnya tiba juga di rumah Axel. Setelah Hilman memakirkan mobil di depan rumah, Axel pun turun terlebih dahulu. Ia memeriksa keadaan untuk beberapa detik, sebelum akhirnya mengetuk kaca mobil, memberi isyarat agar yang lain ikut keluar.
Evan keluar dari mobil bersamaan dengan Hilman. Edwin yang masih menjaga Tara dengan ketat menyusul di belakang Evan. Rangga pun ikut turun setelah Edwin. Lalu, dengan kompak mereka semua berjalan menuju rumah.
“Rencana kamu apa sih, Win?” tanya Evan curiga.
“Nanti,” jawab Edwin pendek.
Begitu keenamnya memasuki rumah, Edwin langsung menggiring Tara yang tak melawan ke area belakang. Ketiga teman Evan yang lain mengikuti Edwin, sedangkan Evan sediri hanya berdiri mematung.
Seorang gadis bersama lima orang lelaki di sebuah rumah. Tentu saja itu bukanlah situasi yang wajar.
“Kalian mau ngapain sih!?” tanya Evan, lalu bergegas menghampiri teman-temannya itu. Matanya mendapati setetes air mata mulai mengalir di pipi Tara.“Hei!”
Teman-teman Evan tak ada satu pun yang menjawab. Dengan perasaan putus asa dan bingung, Evan pun terus menguntit mereka.
“Van, buka pintunya,” pinta Edwin sesampainya di depan pintu salah satu kamar kosong.
“Buat apaan?” Evan makin bingung dan curiga.
Sontak, Tara pun menggeliatkan tubuhnya. “Lepasin! Lepa... Hmph!
Dengan cekatan, Axel mengambil sepotong kain dari saku celana dan mengikatkannya ke mulut Tara. Gadis itu semakin berontak, tapi suahanya itu sia-sia, Rangga dan Hilman kini memegangi kedua tangannya.
“Van, cepet, Van!” teriak Edwin, terdengar panik.
Evan yang gugup pun tanpa sadar memutar kunci yang sedari tadi ada di kenop pintu kamar tersebut. Dengan terburu-buru, Edwin pun membuka pintu itu, kemudian menggiring Tara masuk bersama yang lain.
“Hei, kalian udah gila ya!?” Evan berusaha melepaskan tangan Rangga dan Hilman dari Tara. Akan tetapi, cengkraman kedua teman Evan itu malah semakin kencang.
“Hmph!” Air mata Tara yang mengalir kini bertambah banyak.
“Lepasin!” bentak Evan dengan ngotot.
Axel buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia menggerak gerakkan jempolnya di atas layar sentuh ponsel itu, sebelum akhirnya menunjukkannya kepada Evan.
Saat itu juga, tangan Evan terkulai lemas, usahanya untuk melepaskan Tara terhenti begitu saja. Hatinya seperti sedang dirajam ribuan batu. Matanya melotot ke arah foto yang terpampang di ponsel Axel itu.
Axel mulai menunjukkan foto-foto yang lain. d**a Evan menjadi sesak, dan air matanya pun mulai mengancam turun. Foto-foto itu menunjukkan seorang pria paruh baya yang sedang berduaan dengan Tara. Mulai dari hanya berpelukan dengan sangat erat, berciuman dengan penuh nafsu di dalam mobil, sampai berbaring di atas ranjang dengan hanya ditutupi selimut.
Evan sangat familiar dengan wajah pria di foto-foto tersebut. Bahkan Evan bisa menebak bau parfum yang dipakai pria itu ketika menemui Tara. Tentu saja, karena pria itu adalah ayah Evan sendiri.
PLAK!
Bukannya menolong, sekarang Evan malah menampar Tara dengan sangat keras. Bahkan lebih keras dari tamparan Edwin beberapa saat yang lalu. Warna merah di pipi kiri Tara pun jadi semakin jelas.
Pertanyaan-pertanyaan mulai bergelayut di otak Evan. Apa yang ada di pikiran ayahnya saat melakukan hal itu bersama Tara? Apa jadinya kalau sampai ibunya tahu? Atau sebenarnya ibunya tahu semua ini, tetapi menyembunyikannya dari Evan dan Romi?
Edwin melepaskan pegangannya dari Tara. “Dia itu udah hampir ngancurin keluarga lo, Van.”
Sambil tersenyum lebar, Edwin memegangi tangan Evan dengan mantap. Evan tak melawan ketika tangannya diarahkan Edwin ke tubuh Tara. Padat dan berisi, itulah kesan yang didapat Evan ketika telapak tangannya menyentuh pinggang gadis itu.
“Lo udah ngerasain bibirnya, kan? Kenapa nggak sekalian yang lain?” bisik Edwin lagi, lalu mengarahkan tangan Evan ke bagian bawah tubuh Tara.
Naluri kelelakian Evan terus terpanggil seiring dengan makin banyaknya area tubuh Tara yang dijamahnya. Bahkan sekarang matanya mengamati tubuh Tara dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seolah gadis itu adalah makanan yang menggugah selera.
Tara yang tak berdaya cuma bisa menggeliat-geliat tak nyaman. Air matanya terus saja mengalir. Mulutnya mengeluarkan erangan tertahan.
Sontak, Evan berjengit dan buru-buru menarik tangannya. Gambaran keluarganya muncul begitu saja di otaknya. Kalau dirinya melakukan perbuatan tak bermoral ini dan ketahuan, maka kedua orangtuanya dan Romi akan ikut merasa malu.
Namun, bukankah ayahnyalah yang memantik semua ini? Tak ada yang menyuruh beliau untuk selingkuh. Rasa malu yang luar biasa pasti akan bisa membuat ayah Evan itu jera.
“Nggak!” Evan memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepala. “Bukan gini caranya, Win.”
Keempat teman Evan saling melempar pandangan.
Dan ada satu lagi alasan mendasar yang membuat Evan tak mau melakukan hal itu. Ya, hatinya tak tega.
“Lo nggak mau balas dendam ke cewek ini? Bokap lo kan udah diperdaya sama dia!” sungut Edwin dengan nada kecewa.
“Nggak ada gunanya nyekap dia di sini,” balas Evan dengan bibir bergetar. “Kita lepasin dia, sekarang.”
Edwin mengacak-acak rambutnya dengan mimik tak percaya. “Gini aja deh, di depan lo ada cewek cantik nggak berdaya. Terus, tempat ini juga sepi. Masa lo...
Evan mendorong Edwin sampai mundur beberapa langkah. Tapi sesungguhnya Evan sedang tidak marah. Ia mengerti kalau Edwin sangat membenci Tara. Akan tetapi, melakukan perbuatan tidak senonoh seperti ini adalah hal yang salah, bahkan untuk membalas dendam sekalipun.
“Aku bilang lepasin!” bentak Evan.
Awalnya, Hilman dan Rangga tetap tak mau melepaskan pegangannya. Namun, melihat Evan yang memasang tampang galak, akhirnya mereka berdua pun menyerah dan membebaskan Tara.
Setelah mengamati satu-persatu teman-temannya dengan tatapan tak percaya, Evan pun melepaskan kain yang terikat di mulut Tara. Melihat hal itu, Edwin cuma bisa mengangkat bahu sembari menghela napas panjang.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Evan kepada Tara.
“Plan B,” desah Tara dengan kepala menunduk.
Tanpa dikomando, Edwin, Axel, Hilman, dan Rangga pun pergi meninggalkan ruangan secara hampir bersamaan.