Saat ini...
Walau kakinya seakan berteriak memintanya untuk berhenti, Evan tetap memaksakan diri untuk melangkah. Meski energinya seolah terkuras habis, ia terus saja menguntit si topeng merah yang berjalan beberapa meter di depannya. Kendati rasa takut di hatinya terus membisikinya untuk kabur, ia akan tetap mencari Retha sampai ketemu.
Si topeng merah berhenti di depan pintu darurat lantai delapan dan menoleh ke arah Evan, yang sedang mendaki tangga dengan pelan.
Evan yang melihat hal itu mempercepat langkahnya, tapi si topeng merah keburu membuka pintu dan berlari memasuki lorong.
“Tunggu!”
Ketika sudah sampai di depan pintu darurat, Evan hanya melihat sekelebat gerakan kaki si topeng merah yang memasuki salah satu pintu di tengah lorong. Evan berusaha menyusulnya, tapi pintu itu keburu ditutup dari dalam.
“Buka, woi!” Evan berusaha membuka pintu itu, namun tak berhasil. Bahkan setelah mencobanya beberapa kali.
Tak mau membuang waktu, Evan pun mundur dua langkah, bersiap mendobrak pintu itu
“Hentikan, kalau kamu masih sayang Retha!”
Evan terhenyak dan langsung menengok ke sumber suara bernada berat itu, yakni dari ruangan di belakangnya. Ia pernah mendengarnya ketika baru saja tersadar di bangunan ini. Tak salah lagi, pemilik suara itu adalah orang yang mengaku bernama Zehr.
Meskipun melihat pintu ruangan tempat suara itu berasal terbuka lebar, Evan tetap terpaku di tempatnya. Jantungnya seperti sedang dipompa dengan ekstrem. Rasa takut seolah merantai kakinya sehingga tak bisa digerakkan.
“Masuk, semua ini demi Retha.”
Mendengar nama kekasihnya itu disebut, akhirnya Evan memasuki ruangan itu walau dengan hati ragu. Ia tak punya pilihan lain. Kekasihnya ada di tangan Zehr.
Evan langsung mengedarkan pandangan saat kakinya sudah menjejak di lantai ruangan itu. Tak seperti ruangan lain yang tanpa perabot, Evan bisa melihat televisi layar datar berukuran besar terpasang di salah satu dinding.
“Keluar!” teriak Evan dengan geram. “Ini semua pasti gara-gara ayahku, kan? Kamu nggak bisa melawannya, jadi kamu manfaatin aku sama Retha, kan?”
“Aku di sini, Van. Akulah Zehr.”
Sontak, Evan mengarahkan matanya ke televisi. Sosok si topeng merah dengan latar belakang hitam muncul begitu saja di layar benda elektronik itu. Ternyata Zehr tidak ada di ruangan itu. Suara tadi hanya berasal dari speaker televisi.
“Kembalikan Retha!” pinta Evan dengan tak sabar.
“Selamat menikmati tayangan ini,” kata si topeng merah yang ada di televisi itu menggunakan suara Zehr.
“Hei!”
Sekarang televisi itu menampilkan sesosok manusia yang duduk di sebuah kursi. Tangan sosok itu ditaruh ke belakang, tampak terikat. Kepalanya menunduk, membuat wajahnya tak terlihat. Warna latar yang ada di belakangnya masih hitam, sama seperti sebelumnya.
“Apakah kamu membenci Evan?” suara Zehr kembali terdengar dari televisi, tapi wujudnya tak kelihatan.
Sosok yang duduk di kursi itu mengangkat mukanya. Keringat berkilau tampak membasahi wajahnya. Ujung bibirnya mengucurkan darah dan rambutnya yang agak gondrong tampak awut-awutan.
Evan membelalakkan matanya, tak percaya akan penglihatannya sendiri. Mulai dari bentuk fisik, sampai fitur wajah sosok itu tak asing lagi baginya. Tentu saja, mana mungkin Evan lupa akan sosok adiknya sendiri, Romi.
“Apa urusanmu bertanya seperti itu?” balas Romi sambil melemparkan pandangan sinis.
“Jawab sejujurnya, kalau kamu mau mereka selamat.”
Kini raut kengerian terlukis jelas di wajah Romi. Evan tak bisa melihat apa yang membuat wajah sang adik menjadi seperti itu. Yang terpampang di layar tetaplah Romi seorang.
“Aku nggak benci sama Evan. Kalau iri emang iya,” jawab Romi, lalu menunduk kembali.
“Ya, rasa iri itulah yang melahirkan kebencian.”
“Nggak!” protes Romi.
“Dan saking bencinya, kamu sampai ingin membunuh kakakmu itu, kan?”
Romi mengangkat kepalanya kembali, ekspresi ketakutan di mukanya terlihat semakin jelas.
“NGGAK!” ulang Romi dengan suara lebih lantang. “Kalau Evan mati, siapa yang jadi panutanku? Aku ini selalu mengejarnya! Dia itu sumber motivasiku! Aku nggak mungkin menginginkan dia mati!”
“Dia sudah tidak bisa melanjutkan studinya. Apa sekarang dia masih jadi panutanmu?”
Romi tercekat dan kembali menundukkan kepala. Evan yang melihat semua itu cuma bisa menelan ludah.
“Inspirasi darinya nggak cuma dari pelajaran. Dia itu dulu sering di-bully dan nggak bisa bergaul. Tapi dia bisa bangkit dan akhirnya punya teman. Aku juga sama, aku tahu rasanya di-bully, aku ngerti rasanya nggak punya teman atau punya teman tapi cuma ngedeketin kita kalau lagi senang,” ungkap Romi.
“Tapi, kenapa kamu tidak mendukungnya saat kakakmu itu sedang kesusahan?”
Romi segera mengangkat wajahnya kembali. “Aku mendukungnya!”
“Benarkah? Bukannya kamu bersaing dengannya supaya mendapat perhatian dari kedua orangtua kalian? Itulah sebabnya hubunganmu dan Evan jadi renggang. Kamu senang kan kalau dia menderita? Musuh terbesarmu itu jadi hilang.”
Linangan air mata mulai mengalir di pipi Romi.
“Aku emang salah, keluargaku emang salah,” ujar Romi sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Padahal kami saudara, tapi aku menjauh darinya karena egoku. Sekarang, aku nggak tahu harus ngejar apalagi.”
“Apakah kamu masih menganggap dia sebagai keluarga?”
Romi terdiam untuk beberapa detik, lalu menghela napas panjang. “Ya.”
Satu kata itu saja sudah cukup untuk membuat hati Evan teriris.
Tayangan di layar televisi kembali berganti, sekarang yang duduk di kursi itu adalah seorang wanita. Kepalanya pun menunduk seperti Romi sebelumnya. Namun, rambut tipisnya sudah sangat cukup untuk menjelaskan siapa dia. Ya, wanita itu tak lain adalah ibu dari Evan dan Romi.
Evan memegangi d**a kirinya erat-erat, bersiap untuk mendengar apa yang akan keluar dari mulut ibunya sebentar lagi
“Apakah Anda benar-benar seorang ibu?” tanya suara berat tanpa wujud itu lagi.
Ibu Evan tak menjawab, dan tetap menunduk.
“Bahkan Anda tidak bisa menjawabnya ya?”
“Tolong lepaskan Romi,” pinta ibu Evan dengan suara serak.
“Oh, jadi Anda meminta anak Anda dilepaskan, tapi Anda tidak peduli dengan suami Anda? Boleh tahu alasannya?”
Ibu Evan mengangkat kepalanya. Matanya tampak nanar dan pipinya sangat basah oleh aliran air mata. Jelas sekali kalau ia sudah menangis dalam waktu yang lama.
“Dia itu punya banyak simpanan. Aku sudah tidak menganggapnya sebagai suami,” jawab ibu Evan lirih. “Aku sudah sering dikirimi foto bukti perselingkuhannya.”
“Tapi katanya Anda dan suami Anda tak pernah bertengkar?”
Ibu Evan memasang senyum getir. “Ya, aku memang tidak pernah memberitahu Evan dan Romi. Aku cuma pura-pura semuanya baik-baik saja selama bertahun-tahun. Kasihan, mereka sudah melalui hari-harinya dengan berat. Gara-gara suamiku, mereka memaksa diri untuk melakukan yang terbaik. Mereka....”
Ibu Evan menangis sesenggukan dan tak melanjutkan kata-katanya.
“Lalu kemana diri Anda saat Evan dan Romi membutuhkan Anda?”
“Du... dulu aku terlalu sibuk dengan duniaku. Sekarang, aku terlalu sibuk lari dari kenyataan karena perbuatan suamiku. Padahal sebagai orangtua, apapun yang terjadi aku harus ada untuk anak-anakku,” tutur ibu Evan dengan suara yang makin serak “Tapi waktu aku sadar, semuanya sudah terlambat. Evan jadi menutup diri. Dan sekarang aku malah tak berani menemuinya...”
Tangisan ibu Evan semakin keras. Bahkan ia sampai terbatuk-batuk karenanya.
Air mata Evan juga sudah tak terbendung lagi dan mulai membasahi pipi. Informasi-informasi yang didapatnya dari televisi itu membuat otaknya carut-marut. Apakah ini “alasan” yang dimaksud Arjuna?
Tayangan di televisi kembali berganti saat Evan masih tenggelam dalam pikirannya. Kini yang duduk di kursi adalah ayah Evan. Berbeda dengan dua orang sebelumnya, beliau tidak menunduk, tetapi menatap lurus ke depan. Wajahnya juga tampak begitu tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kamu dibayar berapa?” tanya ayah Evan dengan nada santai. “Aku bisa membayar kalian lebih banyak.”
“Maaf, ini bukan soal materi.” Lagi-lagi Evan mendengar suara Zehr.
“Kalau begitu untuk apa? Siapa yang menyuruh kamu?”
“Sayangnya, kami melakukan semua ini atas kehendak sendiri. Dan untuk apa? Anda tak perlu tahu.”
Ayah Evan mengangkat sebelah alisnya, matanya tampak sedang mengamati sesuatu. Sepertinya ia bisa melihat orang yang sedang menanyainya.
“Mustahil.” Ayah Evan terkekeh pelan. “Pasti ada yang ngebeking kalian, kan? Siapa? Sebutkan saja.”
“Ya, kami memang punya beking,” jawab Zehr. “Tapi alasan para beking itu dan kami berbeda. Kami juga tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka. Yang bisa saya katakan hanyalah bahwa teman-teman sekampus Evan ikut membantu kami.”
Ketenangan masih saja terlihat di wajah ayah Evan. Kalimat-kalimat Zehr itu seolah tak ada artinya.
“Seharusnya aku habisi saja mereka itu,” sahut ayah Evan sambil mendongakkan kepalanya sedikit. “Hmm... Jadi motifnya dendam?”
“Teman-teman Evan yang punya dendam, sedangkan saya tidak.”
“Huh, kamu...”
“Apakah benar Anda membuang Evan?” potong Zehr.
“HAHAHAHA!!!” Tiba-tiba ayah Evan tertawa keras. “Mencoba mengalihkan pembicaraan, hah?”
“Jawab sejujurnya, atau istri dan anak-anak Anda tidak akan selamat.”
Semburat ekspresi kemarahan mulai terlihat di wajah ayah Evan. Tanda bahwa rasa sabar dalam dirinya sudah mulai terkikis.
“Bukan, aku cuma ingin menyelamatkannya dari kekejaman orang-orang di luar sana. Aku sendiri tidak yakin dia memerkosa anak itu,” tutur Ayah Evan akhirnya.
“Oh, bukannya Anda sendiri yang menyebabkan semua itu terjadi? Bukannya Anda yang membuat mereka berteman dengan Evan? Tapi, akhirnya mereka malah menjebak Evan. Maka dari itu, Anda menyewa sekelompok orang untuk mengejar teman-teman Evan itu, sehingga mereka tidak bisa muncul di persidangan kan? Tak lupa Anda juga menyuap dan mengancam para hakim dan saksi.”
“Salah mereka sendiri tidak mau berteman dengan Evan secara benar dan malah menjerumuskannya!” balas ayah Evan dengan nada agak tinggi.
“Anak-anak itu dipaksa keluarganya untuk masuk ke kampus yang sama dengan Evan. Dan yang memaksa keluarga-keluarga itu adalah Anda, benar begitu?” tanya Zehr lagi.
“Aku tidak pernah memaksa keluarga-keluarga itu. Aku pikir, kalau anak mereka dan anakku saling berteman, maka hubunganku dengan keluarga-keluarga itu bisa menjadi lebih baik.”
Evan tak bisa memercayai apa yang baru saja didengarnya. Menurutnya, alasan ayahnya meminta Edwin, Rossa, Axel, Rangga, dan Hilman untuk berkawan dengannya itu benar-benar tak dapat dinalar. Bukankah yang punya masalah itu para orang tua, bukan putra-putri mereka?
“Tapi keluarga-keluarga itu takut dengan Anda. Mereka menganggap tak ada pilihan lain selain menuruti permintaan Anda. Anak-anak yang dipaksa orangtuanya itu mengalami depresi, sehingga menjerumuskan anak Anda.”
“Salah sendiri punya nyali kecil,” timpal ayah Evan dengan nada dingin. “Sekarang mereka tahu sendiri akibatnya kan? Mereka tak punya pilihan lain selain bersembunyi! Rencana mereka untuk memasukkan Evan ke penjara juga gagal total.”
Ayah Evan melemparkan senyum kemenangan. Evan pun jadi merasa sangat muak dibuatnya.
“Yang terpenting adalah memberi pesan bahwa menyerang keluarga Anda bukanlah hal mustahil. Mereka melakukannya dengan putus asa, padahal mereka tahu hal itu sangat beresiko, baik bagi diri mereka sendiri maupun keluarga mereka. Tapi, mereka semua telah membuang apa yang namanya keluarga. Itu karena keluarga mereka sendiri sudah berkhianat dengan cara menjual mereka.”
Mata ayah Evan terbelalak. Jelas sekali kalau ia terkejut mendengar perkataan Zehr itu. “Ta... Tapi aku tidak mengancam keluarga mereka! Karena...”
“Dan Andalah yang telah mengkhianati Evan dari dulu,” sela Zehr.
“Aku tidak bermaksud mengkhianatinya!” Napas Ayah Evan tiba-tiba menjadi terputus-putus. “Waktu kecil dia itu kelihatan lemah, tubuhnya kurus. Dia juga anak orang kaya dan terpandang. Orang lain jadi iri padanya. Mungkin karena itu dia jadi sering ditindas anak lain.”
Ayah Evan mengatur napasnya sembari memejamkan mata. “Aku bertekad tidak menggunakan kekerasan untuk menghentikan penindasan itu. Aku memohon kepada orang-orang itu untuk menasihati anak-anaknya. Aku beri mereka materi. Tapi apa yang terjadi? Mereka malah melunjak dan membiarkan semua itu terjadi. Itu karena tak ada konsekuensi dariku kalau anak mereka menindas Evan. Mereka merasa satu tingkat lebih tinggi dariku!”
“Dan akhirnya Anda tetap mengancam keluarga anak-anak yang menganiaya Evan itu juga kan? Kenapa Evan tidak ditempel bodyguard saja? Anda pasti bisa menyewanya,” lanjut Zehr.
“Bodyguard cuma akan mengekang kebebasan Evan. Aku juga takut kalau dia nanti menyalahgunakan bodyguard itu untuk menindas orang lain. Ya, aku memang mengancam keluarga anak-anak itu. Tapi... Akhirnya tidak ada yang tulus berteman dengan Evan. Mereka semua ada maunya. Ada yang orangtuanya ingin mendekati aku, ada juga yang cuma mengharapkan keuntungan sesaat,” sambung ayah Evan.
“Lalu apa bedanya dengan kelima orang yang menjerumuskan Evan itu? Saya tadi sudah bilang, mereka menjadi teman Evan karena terpaksa.”
Mata ayah Evan kini tertuju ke bawah. Pancaran kesedihan terlihat jelas dari wajahnya.
“I... itu karena aku kebingungan.”
Evan merasa dadanya begitu sesak setelah mendengar penuturan ayahnya yang panjang lebar itu. Ternyata selama ini beliau selalu berusaha menjaga Evan. Meski caranya salah dan kebanyakan tidak berhasil.
“Lalu, kenapa Anda tidak memberi perhatian kepada Evan ketika dia membutuhkannya?” sambung Zehr.
Dengan mata berkaca-kaca, ayah Evan pun kembali memandang lurus ke depan. “Aku kira, memberinya materi dan memacunya untuk berprestasi adalah salah satu bentuk kasih sayang. Dengan prestasi yang baik, masa depannya akan cerah dan nantinya dia bersyukur. Dengan materi, segala kebutuhannya akan terpenuhi dan dia akan selalu berterimakasih padaku. Tapi aku sadar, ternyata aku cuma ingin membanggakannya dan memanjakannya....”
Tangis ayah Evan pecah, bahkan terdengar lebih nyaring dari tangis ibu Evan tadi. Melihat adegan itu, Evan pun melepaskan parang di tangannya dan meringkuk di lantai, ikut menangis.
“Anda takut bertemu dengan Evan kan?” tanya Zehr untuk yang kesekian kalinya.
Evan pun mendongak untuk melihat televisi itu lagi. Sebenarnya ia sudah tak kuat mendengar kehidupan ayahnya yang dulu jumawa, sekarang ditelanjangi seperti itu. Namun, kalau tidak memaksa diri, maka dirinya tak akan tahu semua kebenaran yang ada.
“Ya, padahal aku ingin sekali meminta maaf padanya,” jawab ayah Evan dengan nada getir, sebelum akhirnya membisu untuk sesaat. “Aku mohon, jangan lakukan apapun kepada keluargaku, terutama kepada Evan. Dia sedang senang-senangnya menjalin hubungan dengan seorang perempuan.”
“Anda tahu darimana?”
“Aku tidak mungkin meninggalkannya tanpa pengawasan.”
“Oh ya, saya beri satu informasi lagi. Istri Anda sudah tahu tentang affair Anda.”
Ayah Evan hanya tersenyum dan tampak tidak terkejut.
Tayangan berakhir, yang terlihat di layar televisi itu kini hanyalah kegelapan. Evan menempelkan keningnya ke lantai dan menangis kembali. Perasaan rindu mulai tumbuh dalam dirinya. Ia ingin menyerap kehangatan dari setiap anggota keluarganya, sekaligus meminta maaf kepada mereka. Ya, masih ada waktu untuk memperbaiki semua ini.
“Hmph!”
Evan menangkat kepalanya dan menengok ke belakang. Matanya bisa melihat si topeng merah sedang berdiri di depan pintu masuk. Setelah menyeka sisa-sisa air matanya dengan lengan, Evan memungut parangnya yang tadi jatuh, baru kemudian bangkit berdiri.
“Bawa aku ke tempat mereka,” pinta Evan tegas.
Si topeng merah berjalan meninggalkan tempatnya tanpa memberikan jawaban.
Evan menghela napas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya. Ia pun mengayunkan kakinya dengan mantap untuk mengikuti si topeng merah. Sekarang, daftar orang yang ingin diselamatkan Evan jadi bertambah.