Evan berusaha turun dari tempat tidur. Akan tetapi, sensasi berputar dan letih yang dirasakannya mengakibatkan tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Baru menjejakkan sebelah kakinya ke lantai, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terjembab. Tiang tempat infusnya tergantung ikut rubuh, menyebabkan suara kelontangan yang cukup nyaring.
Pandangan Evan menjumpai lantai keramik yang tak asing baginya. Dengan warna coklat dan retakan-retakan di sana-sini. Tak salah lagi, ia belum lepas dari bangunan tempatnya bertempur dengan si topeng merah.
Dengan gerakan yang begitu kaku seperti robot, Evan mengangkat kepalanya agar bisa melihat tubuh-tubuh keluarganya itu. Ia sangat ingin menghampiri mereka, tetapi di sendi tubuhnya seakan mengeras dan tidak bisa digerakkan.
“Sayangnya, kamu nggak ngalahin banyak hal malam ini,” kata sebuah suara dari belakangnya.
Suara perempuan. Tenang. Dekat.
Evan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
Ia tetap menempelkan pipinya ke keramik dingin itu, memaksa paru-parunya bekerja, sementara di sudut pandangannya ruangan itu perlahan-lahan berubah menjadi apa adanya.
Tirai hijau muda yang tadi ia lihat ternyata lembaran plastik bening yang digantung di kawat, kotor oleh percikan dan debu. Lemari kecil di sudut ternyata tumpukan kardus basah. Tiang infus yang tadi rubuh di sampingnya adalah sebatang besi berkarat, dan selang yang tadi tersambung ke tangannya cuma seutas tali rafia yang ujungnya diikat longgar di pergelangannya.
Tidak ada jendela di dinding seberang. Yang ada hanya lubang persegi tanpa kusen, ditutup papan dari luar.
Dan lampu di langit-langit bukan lampu neon rumah sakit, melainkan satu bohlam kuning yang menggantung di kabel telanjang, berayun pelan.
Ayunan bohlam itu membuat bayangan-bayangan di lantai ikut bergerak maju-mundur.
Termasuk tiga bayangan panjang di sisi kanan ruangan.
Evan sudah melihat mereka sejak tadi. Ia hanya belum mengizinkan dirinya sendiri mengakui apa yang dilihatnya.
Sekarang ia tidak punya pilihan.
Ibunya terbaring paling dekat dengan tembok, masih mengenakan daster yang sama seperti waktu Evan pamit dua hari lalu. Ayahnya di sebelahnya, kacamata baca masih menggantung di satu telinga. Dan Nayla — Nayla yang tertidur di sofa dengan buku pelajaran terbuka di dada — berbaring paling ujung, kakinya masih memakai kaus kaki sekolah.
Sesuatu di dalam dada Evan pecah tanpa suara.
Ia membuka mulut. Tidak ada yang keluar. Bukan teriakan, bukan tangisan, bahkan bukan napas. Hanya rahang yang bergerak turun-naik seperti mesin yang kehabisan bahan bakar.
“Aku udah bilang, kan.” Suara itu bergerak. Langkah kaki pelan mengelilingi ranjang. “Aku bilang jangan turun dulu.”
Sepasang sepatu berhenti di depan wajah Evan.
Sepatu kets putih. Yang selalu Retha pakai. Yang selalu ia keluhkan gampang kotor.
Sekarang bagian depannya berwarna cokelat gelap sampai ke tali-talinya.
Evan mengangkat kepalanya.
Retha berdiri di sana, memandanginya dari atas. Kaus yang tadi tampak bersih kini terlihat sebagaimana adanya — bagian dada dan lengannya menghitam, kaku, dengan pola percikan yang menyebar dari bawah dagu sampai ke pinggang. Wajahnya juga. Ada garis-garis kering di pipi dan pelipisnya, dan satu bercak yang belum kering di bawah tulang pipi kiri.
Di tangan kanannya, tergantung sebuah topeng.
Merah.
Evan menatap benda itu. Lalu menatap wajah Retha. Lalu benda itu lagi.
“Kamu,” bisiknya.
“Aku.”
“Kamu yang—”
“Iya.”
Retha mengucapkannya tanpa penekanan apa pun. Tanpa kemenangan, tanpa penyesalan, tanpa gemetar sedikit pun di suaranya. Seperti orang yang ditanya apakah ia yang mematikan lampu teras.
Dari arah pintu, Jay berdecak.
“Gue bilang juga apa,” ucap Jay sambil melipat tangan. “Kelamaan. Harusnya dari tadi aja.”
“Dia harus lihat sendiri,” jawab Retha, tanpa menoleh.
“Buat apa?”
“Biar dia percaya.”
Evan bergerak.
Bukan ke arah pintu. Bukan ke arah Retha. Ia menyeret sikunya ke lantai, memutar tubuhnya, dan mulai merangkak ke sisi kanan ruangan.
Ke arah Nayla.
Jaraknya mungkin tidak sampai empat meter. Malam itu, empat meter terasa seperti seluruh panjang jalan raya. Keramik menggores siku dan lututnya. Kaus rumah sakit hijau muda yang ternyata cuma kain lap besar itu tersangkut di sesuatu dan robek di bagian bahu.
Evan tidak berhenti.
Satu meter. Dua.
Sebuah sepatu menahan bahunya, tidak keras, tapi cukup untuk membuat Evan berhenti bergerak maju.
“Nggak usah,” kata Jay dari atas. “Percaya sama gue, lo nggak mau lihat dari deket.”
“Minggir.”
“Nggak.”
“MINGGIR!”
Evan mengayunkan tangannya, mencoba menepis kaki itu. Tenaganya bahkan tidak cukup untuk menggoyahkannya. Jay hanya berdiri diam sampai Evan berhenti sendiri, kehabisan napas, dahinya menempel ke lantai.
“Udah?” tanya Jay.
Evan tidak menjawab.
“Bagus.” Jay menarik kakinya. “Bangun. Lo bakal butuh berdiri buat yang berikutnya.”
“Berikutnya apa,” bisik Evan ke lantai.
Jay tidak menjawab pertanyaan itu.
Dan diamnya jauh lebih menakutkan daripada jawaban apa pun yang bisa Evan bayangkan.
Evan menekan kedua telapak tangannya ke lantai. Otot-ototnya menolak. Ada sesuatu di dalam suntikan tadi yang masih bekerja, membuat setiap sendi terasa dipenuhi pasir basah.
Ia mendorong tetap.
Sebelah lututnya berhasil naik. Lalu tangan kirinya menemukan rangka besi ranjang, dan ia mencengkeramnya sekuat yang ia bisa.
“Van.” Retha memiringkan kepala. “Kamu belum kuat.”
Evan tidak menjawab. Ia menarik tubuhnya ke atas, sedikit demi sedikit, sementara ruangan berputar dan bohlam kuning itu berubah jadi tiga bohlam lalu jadi satu lagi.
Retha tidak menghalanginya. Gadis itu hanya berdiri diam, memandanginya dengan kepala miring, seperti seseorang yang sedang menonton anak kecil belajar berjalan.
Butuh waktu lama, tapi akhirnya Evan berdiri.
Punggungnya bersandar ke ranjang. Kedua kakinya gemetar hebat. Napasnya pendek-pendek dan cepat.
Ia berdiri, dan itu saja sudah menghabiskan segalanya yang tersisa di dalam tubuhnya.
“Kenapa,” ucap Evan.
Retha tidak langsung menjawab.
“Kenapa, Retha.”
“Kamu yakin mau tahu?”
“KENAPA!”
Teriakan itu keluar dari suatu tempat yang bahkan Evan sendiri tidak tahu masih ada di dalam dirinya. Suaranya memantul di dinding-dinding kosong, kembali kepadanya, terdengar asing di telinganya sendiri.
Retha menunggu sampai gemanya habis.
Lalu ia melangkah maju satu langkah, dan untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Bukan marah. Bukan iba.
Sesuatu yang jauh lebih buruk daripada keduanya: kelembutan.
“Karena mereka nggak akan pernah berhenti sendiri, Van,” kata Retha pelan. “Aku udah pernah bilang itu ke kamu. Di pasar malam. Kamu inget?”
Evan mengingatnya.
Ia mengingat suara datar itu, cahaya lampu jalan yang jatuh miring ke separuh wajah Retha, dan bagaimana ia memilih untuk tidak bertanya.
“Tapi mereka nggak ngapa-ngapain,” bisik Evan. Matanya bergerak ke sisi kanan ruangan, ke tiga bentuk yang terbaring di sana, lalu buru-buru kembali ke wajah Retha karena ia tidak sanggup lebih lama dari itu. “Ibuku nggak ngapa-ngapain. Nayla baru lima belas tahun.”
Sesuatu berkedip di mata Retha.
“Nayla nggak seharusnya ada di rumah malam itu,” kata gadis itu.
Kalimat itu diucapkan seperti sebuah penjelasan.
Seperti sebuah jadwal yang meleset.
Dan mendengarnya, Evan merasakan kakinya berhenti bekerja untuk yang terakhir kali.