Sekitar satu tahun yang lalu...
Matahari telah terbenam lebih dari lima jam yang lalu. Gelak tawa terdengar dari sebuah hunian sederhana di salah satu sudut perumahan. Di sekitar hunian itu hanya terdapat tanah kosong dan rumah yang belum selesai dibangun. Jadi, senyaring apapun orang di dalam hunian itu berkoar, tak akan ada yang terganggu.
Di ruang tamu hunian itu, Evan duduk di atas tikar bersama keempat temannya. Axel, pemuda bertubuh kurus dengan rambut keriting kecil-kecil sedang asyik bermain game sepakbola di sebuah laptop bersama Hilman yang berperut buncit dan berkepala botak.
Evan hanya memperhatikan layar laptop, menunggu giliran bermain. Begitu pula dengan dua temannya yang lain. Rangga yang juga berperut agak buncit seperti Hilman, namun memiliki rambut jabrik lurus, serta Edwin yang agak kekar dan mempunyai rambut ikal panjang yang diikat ke belakang.
“Eh, ngomong-ngomong, kalian mau kemana kalo udah lulus?” tanya Edwin kepada teman-temannya sambil mematikan rokoknya ke asbak
“Yang penting lulus dulu dah,” jawab Rangga, lalu menghisap rokok yang ada ditangannya dalam-dalam.
“Tapi kita kan mahasiswa yang nilai-nilainya nggak bisa dibilang jelek. Apalagi Evan yang cumlaude,” imbuh Edwin.
“Aku juga belum mikirin sampe kesana,” ujar Evan, kemudian mengambil selembar keripik singkong dari toples besar yang ada di situ dan memakannya. Di antara kelima orang itu, Evan adalah satu-satunya yang bukan perokok.
“Kalo kalian?” Edwin beralih kepada Axel dan Hilman.
“Nerusin bisnis ortu,” jawab Axel ogah-ogahan. Pandangannya masih tertancap ke layar laptop.
Axel mendapatkan rumah ini sebagai ganti kamar kos dari ayahnya yang seorang pengusaha sukses. Ia sering menggerutu soal betapa tidak enaknya meninggali sebuah rumah seorang diri. Tak ada yang membantu bersih-bersih, harus bayar rekening sendiri, dan suasananya begitu sepi. Teman-temannya tak ada yang mau ikut tinggal dengannya. Mungkin karena gerutuan itu mencerminkan sifat Axel yang pemalas.
“Ah, kemana aja, asalkan dapet duit. Yang penting, sekarang nyenengin ortu dulu pake nilai bagus,” tutur Hilman.
Evan menelan ludah. Seperti Hilman, usahanya untuk mendapat prestasi akademik yang mentereng adalah agar kedua orangtuanya bangga, tak lebih.
“Lah, trus lu sendiri gimana, Win?” tanya Rangga kepada Edwin.
“Mana gue tahu,” jawab Edwin sembari mengacak-acak rambutnya.
Rangga menyemburkan gumpalan asap rokok ke arah Edwin, yang langsung menyipitkan mata dan sedikit terbatuk.
“Sebenarnya, gue sama aja sama kalian,” celetuk Axel, kemudian menaruh stik gamenya ke lantai. Pertandingan selesai, dan dia menang. “Nurutin kata-kata ortu menurut gue nggak bisa dibilang sebagai tujuan. Soalnya itu nggak dateng dari diri kita sendiri. Kita kayak terperangkap di dalam mimpi orang lain.”
“Sok filsafat lu!” sahut Rangga.
Hilman menguap secara berlebihan, terlihat sekali kalau dibuat-buat. Sementara Edwin cuma mencibir.
Hati Evan sedikit tertohok. Ia merasa kalimat terakhir Axel itu sangat pas dengan kondisinya sekarang. Untuk masalah masa depan, ayah Evan memang memberi pilihan. Namun, semua itu tidak benar-benar berasal dari diri Evan, melainkan keinginan sang ayah.
“Aku nggak ngira temenan sama kalian itu bisa ngasih pelajaran hidup,” ucap Evan ringan. Teman-temannya pun langsung melemparkan pandangan heran ke arahnya.
“Kenapa omongan kita jadi serius banget, yah?” celetuk Edwin.
“Lu yang mulai!” Hilman, Axel, dan Rangga pun mengumpat secara serentak, sedangkan Evan cuma terkikik geli
“Yang penting kita punya persamaan, sama-sama jomblo.” Edwin memasang tampang serius, meskipun perkataannya itu tidak ada hubungannya dengan topik sebelumnya.
“Sory yah, gue udah nggak satu status sama kalian,” timpal Hilman.
“Eh?” Edwin melotot.
Rangga beringsut dari tempatnya, lalu menjabat tangan Hilman “Sesama mantan jomblo harus saling mendukung.”
“Eeh?” Sekarang Evan dan Edwin mengucapkannya secara serentak.
“Salamin gue juga dong.” Axel pun ikut nimbrung.
“Lu juga?” balas Rangga sambil mengernyitkan dahi.
Mereka bertiga saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya tertawa sembari menyalami satu sama lain. Evan tersenyum, lalu membuka mulut untuk berbicara kepada mereka. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya saat melihat Edwin melancarkan pandangan curiga kepada ketiga pemuda itu.
“Kenapa, Win?” tanya Evan.
“Siapa sih pacar kalian?” Edwin terdengar tidak memedulikan pertanyaan Evan.
Hilman hanya senyam-senyum. Rangga mengambil stik game yang tadi dipakai Hilman, lalu memulai permainan baru bersama Axel.
“Hei, kenapa lo berdua diem? Ditanyain Edwin, tuh,” kata Rangga.
“Hmmm,” gumam Hilman.
“Lu juga nggak ngejawab, Ngga,” sungut Axel.
Edwin dan Evan saling berpandangan. Mata Edwin seolah memberi isyarat kepada Evan bahwa ada yang tidak beres dari ketiga orang itu. Evan sendiri tidak tahu apakah kejadian seperti ini adalah hal yang wajar atau tidak. Yang jelas, beberapa hari yang lalu mereka berlima masih kompak menjomblo.
***
Evan duduk di kursi belajar kamarnya. Matanya mengikuti Edwin yang sedang berjalan kesana-kemari seperti orang linglung. Terlihat semburat kecemasan di wajah teman Evan itu.
“Menurut lo, mencurigakan nggak kalo tiga temen kita itu dapet pacar hampir barengan kayak gitu? Terus, anehnya mereka kompak nggak mau ngenalin ceweknya ke kita,” cerocos Edwin, masih mondar-mandir.
“Hmmm, mungkin,” jawab Evan ragu-ragu.
Edwin menghela napas sambil menggaruk rambut, baru kemudian duduk di tepian tempat tidur. Evan terus mengamati gerak-gerik temannya itu dengan seksama.
“Lo pernah denger nggak, cerita tentang cewek yang ngedeketin cowok-cowok dengan keadaan tertentu?” tanya Edwin
Evan mengerutkan kening. Ia tak tahu arah pembicaraan Edwin. “Misalnya anak orang kaya gitu? Tapi Hilman sama Rangga kan nggak bisa dibilang kaya. Muka mereka bertiga juga pas-pasan... Banget.”
Di antara kelima anggota kelompok itu, memang hanya Edwin dan Evan yang memiliki wajah tampan. Paling tidak, itulah yang dikatakan orang-orang.
Edwin tersenyum getir. “Bukan, itu... Gimana ya ngomongnya... Intinya cewek ini lebih suka ngelihat suatu perpecahan. Dia biasa ngedeketin cowok-cowok yang satu geng kayak kita. Terus, dia macarin anggota-anggota yang ada di geng itu. Terus, kalo ketahuan... Yah, lo bisa bayangin sendiri lah.”
Evan semakin bingung. “Emang tujuan cewek itu apa?”
“Kepuasan,” jawab Edwin pendek.
Evan membisu dan mulai berpikir keras. Semua yang dikatakan Edwin terdengar seperti plot fiksi aneh di telinga Evan. Kepuasan karena perpecahan? Kalau memang perkataan Edwin benar, maka Evan menduga kalau perempuan yang dimaksud itu pasti punya kelainan jiwa.
“Tapi apa yang dilakuinnya kan beresiko, Win. Maksudku... Gimana kalo dia ketahuan sebelum rencananya selesai?” tanya Evan lagi.
“Justru itu, Van. Resiko juga jadi salah satu daya tarik buat cewek itu,” jawab Edwin, lalu menghela napas. “Modusnya itu, dia ngerayu cowok-cowok yang kira-kira nggak laku, atau yang lagi depresi. Jadi, kalo ketahuan.. Yah, cowok-cowok itu kurang bisa berpikir jernih.”
“Kalau yang kamu bilang itu bener. Pasti ceweknya cantik sama pinter ngomong.”
“Dan juga seksi pastinya,” timpal Edwin dengan ekspresi serius yang tampak berlebihan. Evan jadi tidak tahu apakah temannya ini sedang main-main atau tidak.
“Kamu dapat info ini dari mana?” lanjut Evan.
Edwin memalingkan mukanya untuk sejenak, kemudian menunduk sembari menggaruk rambutnya dengan kasar. Mata Evan lagi-lagi terpaku pada gerakan yang dilakukan temannya itu.
“Sebenernya... Abang gue itu dulu tuh salah satu korbannya, Van. Dia itu cinta mati sama ni cewek. Begitu tahu maksud sebenernya dari ni cewek, dia jadi stres, terus...” Edwin menggeleng-gelengkan kepala, memberi isyarat kalau dirinya tak sanggup melanjutkan perkataannya.
“Aku nggak ngerti. Apa nggak terlalu berbahaya ngedeketin temen-temen dari adik mantan korbannya? Terus, kenapa dia nggak ngedeketin aku?” Mau tak mau, Evan mulai tertarik dengan topik ini.
“Kan udah kubilang, resiko itu salah satu daya tariknya, Van. Tapi resikonya terlalu besar buatnya kalo mau ngedeketin lo,” potong Edwin dengan intonasi suara yang agak tinggi. “Dia nggak punya daya buat ngelawan ortu lu. Terus.... Gue kok punya firasat kalo dia emang sengaja mengkonfrontasi gue.””
Bulu kuduk Evan langsung berdiri mendengar hal tersebut. “Maksud kamu?”
“Gara-gara dia...” Edwin menelan ludah dan membisu untuk sejenak, “...abang gue bunuh diri.”
Petir seakan menyambar kepala Evan. Ia baru tahu kalau Edwin menyimpan rahasia segelap itu.
Edwin bangkit dan mulai berjalan mondar-mandir lagi, matanya tampak sedikit berair. Evan hanya bisa memandangi temannya itu dengan bingung,
“Lo itu temen gue yang pertama tahu tetang cerita ini, Van,” imbuh Edwin
Evan mulai memijat-mijat tengkuknya. Ini adalah pertamakalinya ia mendengar curhat yang sangat serius dari seorang teman. Edwin memang pernah menceritakan kalau abangnya meninggal kepada Evan dan teman satu gengnya yang lain. Namun, waktu itu Edwin mengatakan bahwa penyebabnya adalah kecelakaan.
Meski masa lalunya dipenuhi kegetiran, Evan tak pernah kehilangan keluarga. Jadi ia tak bisa mengerti perasaan Edwin saat ini. Hatinya juga masih dililiti keraguan. Kendati demikian, itu semua tak menghalangi keinginan menolong dalam benaknya untuk tumbuh.
“Kalau ada yang bisa aku bantu...” ucap Evan lirih.
Edwin mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia memencet-mencet tombol di ponsel itu untuk beberapa detik, baru kemudian memberikannya kepada Evan.
Mata Evan menyipit ketika melihat foto seorang gadis dengan rambut lurus sepanjang bahu di layar ponsel Edwin. Evan langsung bisa mengerti kenapa para lelaki bertekuk lutut ketika dirayu gadis itu. Selain wajahnya yang begitu memesona layaknya artis sinetron, tubuh gadis itu juga tampak berisi, tapi terkesan tidak gemuk.
“Dia emang seksi sih,” celetuk Evan.
“Pernah liat?”
Evan menggeleng pelan.
“Info terakhir yang gue dapet, dia itu ngekos di Wisma Widuri. Tapi gue nggak tahu tempatnya dimana,” lanjut Edwin.
“Aku tahu tempatnya. Temen satu kelompokku ada yang ngekos di sana,” timpal Evan.
Edwin langsung bangkit berdiri.