Gelap dan hitam adalah pemandangan pertama yang di lihat Robin saat membuka matanya. Entah masih malam atau ia terlalu cepat bangunnya.
Yang pasti menurut Robin ia bangun tepat waktu seperti biasanya. Mengedarkan pandangannya kesegala arah dan mendapati bara yang masih menyala.
Darimana bara itu berasal pikir Robin berpikir. Seingatnya ia tidak sedang berkemah ataupun melakukan perjalanan kemanapun.
Tapi kenapa bisa ada bara sisa bakaran di dekatnya?, suasana gelap membuat Robin tidak bisa melihat apapun. Pemuda itu memutuskan untuk berjalan kearah cahaya yang bersinar di belakangnya.
Dengan langkah yang berhati-hati Robin mendekati cahaya itu. Ia takut menginjak sesuatu yang bisa membahayakan, sembari mendekati cahaya itu ia terus berpikir.
Bagaimana ia bisa sampai ke tempat yang gelap itu, seingatnya baru saja ia tidur di kamarnya. Meski gelap tapi tidak sepekat ini karena masih ada cahaya lampu tidur di nakas dekat ranjangnya.
Terus melangkah dengan kebingungan dan keheranannya, Robin mencoba mengintip celah cahaya itu berada. Matanya terbelalak ketika mendapati sosok tubuh yang merupakan asal cahaya itu.
Robin terus melihat kearah orang itu yang memiliki rambut hitam pekat juga entah apa yang ada di kepalanya itu. Laki-laki atau perempuan ya batin Robin menebak.
Bisa sajakan seorang pria berambut panjang, dan itu hal yang lajim. Jadi sebelum melihat dengan pasti sosok yang sedang memunggunginya itu, Robin tidak ingin menjelaskan apapun.
Anehnya bukannya takut dengan keadaan yang sedang menimpanya, Robin justru melangkah mendekati orang yang entah sedang apa itu.
Saat akan mendekap tubuh itu dari belakang untuk bertanya, tiba-tiba sosok misterius itu berbalik menatapnya.
Sangat cantik dan menawan dengan tubuh yang begitu seksi berisi, mata bulat indah, bulu mata lentik, bibir tebal seksi, hidung mancung dan kulit putih.
Semua yang ada pada gadis itu sangat pas dan begitu menggoda penglihatan Robin. Bahkan wanita paling seksi yang pernah ia lihat dan temui tidak sebanding dengan gadis di depannya ini.
"Mimpi yang sempurna" gumam Robin tersenyum manis menatap gadis di depannya.
Apa lagi jika bukan mimpi, baru beberapa saat lalu pemuda itu menutup mata dan sudah terbangun dengan suasana aneh. Belum lagi mendapatkan pemandangan yang sangat menakjubkan dari sosok gadis di hadapannya ini.
Benar-benar perfec dream yang pernah di alami oleh Robin selama 23 tahun hidupnya.
"Salam pangeran, anda sudah bangun?" kalimat itu membuat Robin bingung dengan apa yang di maksud si gadis. "Apa kau bicara padaku?" menunjuk diri sendiri dengan heran.
"Ya, anda pangeran, jika anda sudah cukup tidurnya kita bisa pergi sekarang" ucap gadis itu lagi dengan suara lembut yang mendayu.
Meski bingung Robin tetap merasa terpesona dengan gadis di depannya. Tapi kenapa dia di panggil pangeran? dia hanya yatim piatu yang tidak punya apapun.
Bahkan kuliah saja dari bea siswa yang di dapatnya, sedangkan untuk makan sehari-hari harus bekerja hingga malam baru mendapatkan uang untuk bertahan hidup.
"Ku rasa kamu salah orang, aku bukan seorang pangeran, aku hanya yatim piatu miskin bukan seorang pangeran" sangkal Robin.
"Tapi anda adalah pangeran Rob Halmin, putra mahkota raja Halmin di dataran peri ini" jelas gadis itu tersenyum sopan.
Senyuman itu malah membuat Robin bengong karena baru kali ini ia melihat senyuman yang begitu memikat baginya. Karung mana karung batin Robin yang sangat ingin membawa gadis di depannya ini.
"Apa maksudmu dengan putra mahkota? siapa Rob Helmin? dan siapa raja Helmin? aku dari kota J bukan putra raja itu tadi, apa lagi dataran peri, bukankah itu hanya mitos semata!" kata Robin tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh gadis itu.
"Anda benar-benar bernama Rob Helmin pangeran, dan rjaa telah memerintahkan saya untuk menjemput anda pulang keistana karena sudha waktunya bagi anda untuk mengetahui dan mempelajari semuanya yang berkaitan dengan kerajaan ini" jelas gadis itu. "Nama saya Keilan, saya peri pelindung yang di tugaskan raja untuk membawa anda kembali"
Robin tertawa sumbang akan penjelasan Kelian yanh sama sekali tidak masuk akal baginya. Selama ini dia hidup sendirian dan tidak memiliki siapapun.
Ia besar di panti asuhan lalu mencoba hidup mandiri untuk dirinya sendiri saat sudah merasa mampu bekerja keras untuk kehidupannya. Entah siapa orang tuanya, Robin tidak pernah tahu karena pihak pantipun tidak tahu siapa orang tuanya.
"Jangan bercanda denganku wahai nona cantik, aku yatim piatu yang tidak di ketahui siapa orang tuanya, dan tiba-tiba kamu datang dan memberitahu kalau aku anak dari raja Helmin di daratan peri, hahaha mimpi ini benar-benar aneh" kekeh Robin.
"Ini nyata bukan mimpi pangeran, jika anda tidak percaya kalau ini nyata saya bisa membuktikannya" kesal gadis yang mulai kehilangan kesabaran itu.
Keilan memang tidak pernah sabaran menjelaskan sesuatu yang harus berulang seperti ini. Baginya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selagi kita mempercayainya.
"Benarkah! kalau begitu buktikan padaku kalau ini bukan mimpi dan apa yang kau jelaskan tadi memang benar adanya bukan ilusimu semata" tantang Robin yang ingin tahu karena penasaran juga.
Jika memang ia masih punya orang tua bukankah bagus, ia juga bisa bertanya pada mereka kenapa ia di buang di panti asuhan. Apa karena kehadirannya di anggap beban hingga di buang atau ia berasal dari hubungan terlarang.
Setidaknya itulah yang ada di pikiran Robin saat ini. Dan tidak bisa di pungkiri kalau dalam hati Robin sangat ingin melihat orang tuanya seperti apa, ada rasa rindu yang masih membelenggunya selama ini dan belum tersalurkan.
Keilan mendekati Robin dan mendaratkan cubitan mautnya di lengan pemuda itu. Seketika itu pula Robin berteriak kuat akibat rasa sakit yang ia terima, tapi mulut Robin segera di bekap oleh Keilan.
"Jangan teriak kalau masih ingin hidup" pelototan Keilan membuat Robin mengangguk lalu melepaskan tangan lembut gadis itu dari mulutnya.
"Kenapa kamu mencubitku? itu sakit tahu!" protes Robin sembari mengusap pelan bekas cubitan Keilan.
Gadis itu menghela napas lelah menghadapi sikap tuannya itu, kalau bukan putra atasannya sudah pasti Keilan akan melayangkan pukulan keras yang bisa membuat kalangan peri jatuh tersungkur, kalau bagi kalangan manusia pasti sudah pingsan.
"Kalau sakit itu artinya bukan mimpi, jadi lebih baik anda diam jangan banyak protes, setelah langit lebih cerah kita akan pergi dari sini, anda paham pangeran Rob" kata Keilan menatap Robin tegas.
Robin mendecak kesal akan sikap gadis yang ternyata tidak lembut seperti penampilannya yang begitu menggoda itu. "ternyata penampilannya tidak menjamin sikapnya" gumam Robin pelan dari pada nanti kena cubit lagi.