Bukan pertama kalinya Alilea menanyakan hal seperti itu pada Raka. Sebagai seorang gadis yang mencintainya, Alilea menginginkan sebuah hubungan yang jelas, yang serius dan didasari oleh cinta. Namun Raka selalu saja berusaha untuk menghindar setiap kali Alilea menanyakan hal itu.
Dan kali ini pun tetap sama. Raka tetap saja mengenakan jaketnya, dan tampak tak terganggu dengan kemarahan Alilea.
"Raka! Jawab, Raka!"
"Hubungan kita akan tetap seperti ini. Bukannya dengan begini saja kita sudah bisa sama-sama merasa senang?" tanya Raka dengan tampang tak berdosa. Ia tampak baik-baik saja dengan jenis hubungan yang mereka jalani selama ini. Menurutnya apa yang mereka lakukan selama ini tak harus didasari oleh cinta dan hubungan berstatus.
Alilea yang merasa sangat marah pun langsung turun dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Raka yang hanya berdiri di samping sofa dengan jaket sudah terpasang di tubuhnya.
"Apa? Bisa-bisanya kamu bilang seperti itu? Aku pikir kamu udah berubah, Raka! Aku pikir kamu udah mau berusaha melawan semua rasa takut kamu itu. Tapi ternyata aku salah. Kamu memang nggak pernah belajar buat mencintai aku. Apa menurut kamu aku ini cuma cewek murahan yang bisa kamu manfaatkan?" tanya Alilea dengan suara yang semakin meninggi dan mengeras. Ia benar-benar tak terima Raka bisa mengatakan hal seperti itu saat mereka telah melalui semuanya seperti sepasang kekasih selama 1,5 tahun lamanya.
"Kenapa kamu marah? Bukannya aku udah sering bilang hal yang sama ke kamu?" Raka masih saja tak terpengaruh dengan kemarahan Alilea. Ia terlihat yakin dengan jawabannya karena ia telah memberitahu hal yang sama kepada Alilea berulang kali. Pendiriannya tetap sama, tak berubah sejak pertama kali ia mencium Alilea kala itu.
"Terus selama ini apa yang kita lakukan, Raka? Apa aku memang cuma jadi mainan kamu aja?"
"Tapi kamu juga suka 'kan jalani hubungan ini?" Raka segera menyanggah pertanyaan Alilea.
Sama seperti Alilea yang terus saja menanyakan tentang kejelasan status hubungan mereka, Raka juga tak hentinya berusaha mengingatkan Alilea bahwa ia tak ingin memulai suatu hubungan apapun dan menganggap apa yang mereka lakukan hanyalah sebuah upaya untuk sama-sama meraih kesenangan.
Namun saat melihat wajah Alilea yang tampak sedih dengan jawaban menyakitkan darinya, Raka segera memperbaiki maksudnya. "Hubungan dan status itu nggak penting. Kamu tahu sendiri 'kan, keadaanku gimana?"
Alilea tahu ada suatu keadaan yang Raka berusaha sembunyikan dari orang lain selama ini. Sebenarnya ia tak heran jika Raka akan terus berusaha berkelit dari pembicaraan mereka mengenai status dan hubungan dikarenakan oleh keadaannya itu. Namun tetap saja kata-kata pria itu terasa sangat menohok dan tak bisa ia terima begitu saja. Hati Alilea tersayat-sayat untuk kesekian kalinya.
"Terus gimana dengan cinta? Apa kamu punya? Buat aku semua itu penting, Raka! Aku paham keadaan dan penderitaan kamu. Tapi kamu itu bener-bener egois!" ujar Alilea dengan nada penuh kekecewaan.
"Al, apa kamu nggak capek bahas tentang ini terus? Sebenernya aku mau lebih lama lagi di sini sama kamu, tapi kamu malah bahas-bahas itu lagi. Lebih baik aku pulang aja." Raka pun segera membalikkan badan dan mulai melangkah pergi meninggalkan Alilea.
Namun tangan Alilea dengan sigapnya meraih lengan Raka, mencegahnya untuk pergi. Raka memang sering membuat Alilea marah bahkan terkadang sampai ingin sekali membencinya. Namun hati Alilea yang benar-benar mencintai pemuda itu membuatnya seakan selalu ingin berlama-lama dengan Raka dan tak ingin pemuda itu meninggalkannya. Selalu saja seperti itu.
Terkadang Alilea merasa marah dan lelah pada dirinya sendiri. Tapi ia tak tahu mengapa hal itu terus saja terjadi. Sahabatnya bahkan sampai menyebut perasaan yang dimiliki oleh Alilea itu sebagai "cinta yang beracun".
Raka melihat genggaman tangan Alilea pada lengannya dan wajahnya terlihat setengah heran. Bukannya gadis itu tengah sangat marah padanya, tetapi mengapa ia malah mencegahnya pergi? Pertanyaan dalam benak Raka itu tampaknya membuktikan bahwa ia benar-benar tak tahu rasanya mencintai seseorang dan tak ingin orang itu pergi.
"Jangan pergi dulu!" pinta Alilea. Entah mengapa rasanya ia seperti tak punya rasa malu sama sekali di hadapan Raka. Harga dirinya seakan hilang di hadapan teman dekat yang ia cintai itu.
"Tapi aku bener-bener nggak nyaman kamu bahas tentang itu lagi, itu lagi!" keluh Raka.
"Aku nggak akan bahas lagi. Aku janji," ujar Alilea dengan penuh kesadaran.
Alilea bisa begitu saja menurut pada perkataan Raka, hanya untuk mencegah agar Raka tak buru-buru pergi. Ia masih sangat ingin melepas rindu pada pemuda yang tampak seperti orang asing baginya di kampus itu. Sebenarnya hubungan mereka sebagai teman di kampus pun perlu dipertanyakan karena kini mereka sangat jarang saling menyapa satu sama lain.
"Dasar bodoh," ujar Raka sambil merengkuh Alilea dalam dekapannya.
Raka tahu bahwa Alilea bodoh dengan tetap mau kembali padanya dan terus mencintainya bahkan setelah ia telah berkali-kali menyakiti gadis itu. Jauh dalam lubuk hati Raka, ia tak ingin melihat Alilea tersakiti olehnya terus-menerus.
Ia sama sekali tak mengerti mengapa Alilea masih saja mencintainya dan mau menerima keadaannya yang menyedihkan. Ia pun sadar bahwa ia telah sangat egois namun ia tak kuasa melawan ketakutannya. Tak banyak yang tahu, sifat Raka itu terbentuk karena suatu keadaan yang hanya diketahui oleh Alilea.
Alilea membalas pelukan Raka dengan erat, bersyukur Raka tidak jadi pergi. Pelukan Raka itu terasa seperti pelukan seorang kekasih yang sangat hangat baginya, meskipun ia sangat menyayangkan bahwa menjadikan Raka sebagai kekasihnya yang utuh hanyalah sebuah khayalan belaka.
Ya, aku memang bodoh, Raka. Cintaku ke kamu membuatku sangat bodoh.
***
Alilea berjalan beriringan dengan Lina menyusuri area parkir motor di gedung Fakultas Sastra. Mereka tak sengaja bertemu setelah memarkirkan motor mereka masing-masing. Seperti normalnya jika dua orang perempuan berjalan bersama, mereka pasti akan memanfaatkan saat-saat tersebut untuk saling berbagi cerita.
"Masa dia bilang gitu?" tanya Lina dengan setengah terkejut pada Alilea.
"Iya. Udah berkali-kali Raka kasih jawaban yang sama begitu aku tanya tentang hubungan kita. Dia masih belum bisa berubah," jawab Alilea dengan nada tak bersemangat.
Mereka berdua tengah membicarakan tentang hubungan tanpa status Raka dan Alilea yang turut membuat Lina, sahabatnya itu, merasa habis sabar. Lina sedikit banyak telah mengetahui apa yang terjadi di antara Alilea dan pria populer di kampusnya itu selama ini.
"Terus kamu sendiri, mau sampai kapan kamu tunduk sama maunya Raka?" tanya Lina dengan nada setengah menyindir. Ia sebenarnya merasa lebih gemas dan sebal lagi pada Alilea dibanding Raka, karena sahabatnya itu mau saja terus diperlakukan seenaknya. Padahal tidak cuma sekali dua kali ia mengingatkan Alilea untuk menyudahi saja hubungannya dengan Raka yang menurutnya sangat merugikan, namun wanita itu seakan tak mengindahkannya.
"Aku sendiri juga nggak tau, Lin. Aku juga kadang heran sama diriku sendiri, kenapa bisa aku sebodoh itu. Mungkin karena aku terlalu cinta sama Raka," jawab Alilea dengan pasrahnya.
"Cinta? Masa cinta harus sampai seperti itu? Kamu sendiri bahkan udah tahu 'kan kalau perbuatan kamu itu bodoh?"
"He-em," jawab Alilea singkat. Ia sangat menyetujui bahwa perbuatannya itu memanglah bodoh.
Tiba-tiba langkah mereka terhenti saat dua buah motor besar yang dikendarai oleh dua pria berhelm teropong melintas di depan mereka. Salah satu dari kedua pria itu mengenakan jaket kulit hitam dan helm teropong berwarna merah, mengendarai motor besar berwarna merah. Sedangkan yang satunya lagi mengenakan jaket kulit lebih tebal berwarna coklat tua dan helm teropong berwarna hitam, mengendarai motor besar berwarna hitam pula. Kedua motor yang memiliki kesan berbeda itu membuat pengendaranya pun memiliki kesan yang terlihat sangat berbeda, yang satunya terlihat trendi dan yang satu lagi terlihat garang.
Kedua motor itu melintas di depan Alilea dan Lina, kemudian sama-sama diparkirkan tak jauh dari tempat mereka berdiri. Alilea dan Lina menoleh ke arah mereka, memusatkan perhatian pada kedua pengendara motor itu. Siapapun gadis yang melihat dua motor itu melintas pasti akan teralihkan, apalagi dengan dikendarai oleh pemuda-pemuda bertubuh tegap dan proporsional yang kemungkinan berwajah tampan, setampan motor mereka.
Kedua pemuda itu pun turun dari motor yang telah terparkir dengan rapi. Pandangan mata Alilea tertuju pada pemuda berjaket hitam dan berhelm merah yang segera melepas helmnya begitu turun dari motornya. Wajah tampannya langsung terlihat begitu helm terlepas dari kepalanya. Raka sedari tadi ada di balik helm itu, menyembunyikan ketampanannya.
Alilea hanya mengamati Raka tanpa ada sedikit pun senyum di wajahnya. Melihat pemuda itu di kampus selalu membuat hatinya merasa senang sekaligus sakit, teringat akan hubungan mereka yang tak jelas.
Sementara itu, pemuda bermotor hitam pun melepas helmnya. Sama halnya dengan motornya yang terkesan garang, pemuda itu terkesan dewasa dan maskulin. Wajahnya juga tampan, namun memang masih sangat sulit untuk bisa menandingi ketampanan Raka. Setelah meletakkan helm di atas motornya, pemuda itu pun langsung mengalihkan pandangan ke arah Alilea.
Dani Zefanya, teman seangkatan Alilea yang sekaligus sahabat Raka dan drumer band The Heroes, tersenyum lebar saat melihat Alilea. Kehadirannya juga cukup berpengaruh di kampus, meskipun tak sebesar Raka. Mereka sering terlihat bersama di kampus sehingga membuat fokus anak-anak orang seringkali terganggu.
Seolah lupa bahwa ia datang ke kampus dengan Raka, ia segera berjalan menghampiri Alilea yang masih saja berdiri di tempat yang sama, meninggalkan Raka yang masih sibuk merapikan rambutnya sambil bercermin di kaca spion motor.
"Hai, Al! Hai, Lin!" sapa Dani dengan ramahnya pada Alilea dan Lina.
"Hai!" jawab Alilea dan Lina secara bersamaan.
"Eh, Al. Aku masuk duluan, ya. Mau ketemu sama Beni dulu bentar," pamit Lina tiba-tiba. Sepertinya ia melakukannya dengan sengaja karena sangat mengerti maksud Dani berjalan mendekat ke arah Alilea. Sebagai sahabatnya, Alilea pastinya juga pernah bercerita tentang Dani pada Lina.
"Iya, Lin," sahut Alilea. Lina pun pergi berjalan meninggalkan mereka berdua berdiri saling berhadapan.
Dani terus saja tersenyum hangat ke arah gadis yang tubuhnya setinggi dagunya itu. Tinggi badannya dan Raka hampir sama. Bedanya perawakannya sedikit lebih besar daripada Raka, garis wajahnya lebih tegas dan kulitnya lebih kekuningan. Kesan maskulin dan kuat terpancar dari dirinya. Wajahnya yang teduh membuatnya terkesan lebih dewasa daripada usianya yang sebenarnya sama dengan Alilea dan Raka.
"Kamu bawa motor hari ini?" tanya Dani dengan suara beratnya.
"Iya. Kebetulan nanti sepulang kuliah aku mau ke toko buku," jawab Alilea. "Kamu ada kelas pagi ini?"
"Iya. Kelas Bahasa Indonesia. Kamu sendiri?"
"Aku mau ketemu dosen dulu pagi ini buat ajuin judul skripsi."
"Wah, hebat kamu! Udah mau ajuin judul skripsi aja. Padahal masih awal-awal semester 7," puji Dani dengan senyum lebarnya, menandakan bahwa ia dengan tulus memuji Alilea. Gadis itu adalah teman dekatnya semenjak masih menjadi mahasiswa baru. Namun caranya memperlakukan Alilea sangat berbeda dengan caranya memperlakukan teman wanitanya yang lain.
"Biasa aja kali, Dan. Kan memang udah waktunya. Nanti kamu juga pasti bakal ajuin semester ini," sahut Alilea merendah.
"Tapi emang bener. Kamu itu selain pinter, cantik pula," puji Dani, yang lebih terdengar seperti sebuah rayuan. Tiap kali berhadapan dengan Alilea, mulut Dani seakan tak bisa berhenti untuk mengatakan hal-hal yang sekiranya bisa membuat hati Alilea merasa senang.
"Dan!" Raka tiba-tiba menepuk pundak Dani. Penempatan waktunya benar-benar tepat, saat Dani sedang berusaha merayu Alilea. "Gue masuk dulu ya," pamit Raka yang langsung saja berjalan pergi meninggalkan Dani dan Alilea, tanpa sedikit pun menyapa Alilea.
Yah ... begitulah hubungan Raka dan Alilea. Di apartemen Alilea mereka saling bermesraan, namun di kampus mereka tidak saling menyapa. Setelah semua yang terjadi antara mereka, hubungan pertemanan mereka pun menjadi sangat canggung.
"Sisain satu kursi buat gue!" teriak Dani. Raka hanya menjawabnya dengan gerakan tangan yang mengisyaratkan "OK".
Dani pun kembali mengarahkan pandangannya pada Alilea, bermaksud melanjutkan pembicaraan mereka. Namun gadis itu ternyata tengah sibuk memperhatikan Raka yang berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Tampak raut kekecewaan di wajahnya. Dani mengerti bahwa Alilea menunjukkan ekspresi seperti itu karena Raka tak menyapanya.
"Al?" Dani mencoba memperoleh kembali perhatian Alilea padanya.
"Iya?" Alilea terlihat setengah terkejut.
"Kamu masih aja berhubungan sama Raka?" tanyanya dengan gamblang.
Dani adalah sahabat Raka sekaligus teman dekat Alilea. Meskipun Raka tak pernah menceritakan apapun tentang Alilea padanya, ia mengetahui adanya sebuah hubungan tak sehat antara kedua orang itu. Ia tak pernah lelah bertanya pada Alilea tentang hubungannya dengan Raka, dan Alilea pun selalu menjawab semua pertanyaan Dani dengan jujur kecuali satu hal, yaitu keadaan Raka yang selalu berusaha ia sembunyikan dari orang lain.
"Mmm itu ...." Alilea terlihat sangat ragu-ragu saat menjawab. Ia mencoba untuk berbohong tapi entah mengapa kata-kata bohong itu tak mampu keluar dari mulutnya sama sekali.
Dani telah berulang kali meyakinkan Alilea bahwa hubungannya dengan Raka adalah sebuah hubungan yang salah, tapi Alilea tak kunjung menjauhi pria itu. Alilea tahu, pasti Dani akan sangat marah padanya jika ia masih saja bebal.
"Masih, 'kan?" Dani menghela nafas dengan kesal. "Apa yang sebenernya kamu harapkan dari dia, Al? Sampai kapan kamu mau terus disakiti sama dia?" tanya Dani dengan nada suaranya yang juga terdengar kesal. Hanya rasa kesal yang bisa ia tunjukan karena tak ada hal lain yang bisa ia lakukan untuk membuat Alilea mengubah pendiriannya.
"Aku ...." Alilea tampak tak sanggup berkata-kata lagi.
"Coba kamu lihat aku di sini, Al. Aku masih bener-bener suka sama kamu. Tinggalin Raka dan jadi pacarku. Aku bisa memperlakukan kamu dengan jauh lebih baik daripada dia," ujar Dani, sahabat Raka, dengan penuh harap pada wanita yang disukainya sejak lama itu.