PRANG!!
Suara porselen mahal yang pecah menggema ke seluruh penjuru mansion keluarga Valen, merobek keheningan pagi yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan. Hari itu mestinya menjadi momen paling bersejarah bagi keluarga yang tengah berada di ambang kebangkrutan, hari ketika putri kesayangan mereka, Ariana Valen, akan menikah dengan Dominic Xaviero. Seorang pria yang menggenggam separuh kendali ekonomi kota, sekaligus nama paling ditakuti di dunia bawah tanah.
Namun, alih-alih aroma bunga segar dan hiruk-pikuk persiapan pernikahan, rumah mewah itu justru terasa seperti neraka yang siap menelan penghuninya.
Di ruang tengah, Raymond Valen berdiri terpaku. Wajahnya bukan sekadar pucat, melainkan seputih mayat. Tangannya gemetar hebat saat meremas selembar surat berwarna merah muda, kertas beraroma parfum mahal, parfum khas Ariana.
“Anak sialan! Anak tidak tahu diuntung!” teriaknya parau, sarat amarah bercampur ketakutan. Ia menendang meja kaca di hadapannya hingga retak. “Dia benar-benar kabur! Dia membawa semuanya!”
Helena, istrinya, terduduk lemas di sofa, menangis histeris hingga tubuhnya terguncang. “Habis kita, Yah… habis semuanya…” isaknya. “Brankas kosong. Ariana membawa semua perhiasan dan uang tunai yang kita siapkan untuk mahar balik. Dia pergi… dia benar-benar pergi!”
Raymond menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Matanya melotot menatap jam dinding besar yang berdetak tanpa ampun. Jarumnya menunjukkan pukul tujuh pagi.
Dua jam lagi.
Hanya dua jam sebelum iring-iringan mobil keluarga Xaviero tiba untuk menjemput pengantin wanita.
Jika Dominic Xaviero datang dan tak menemukan pengantinnya, ini bukan sekadar pembatalan pernikahan. Ini adalah vonis mati. Dominic bukan pengusaha yang bisa diajak berunding dengan kata-kata manis. Pria itu adalah perwujudan kekejaman itu sendiri. Rumor mengatakan, tunangan Dominic sebelumnya menghilang tanpa jejak hanya karena berani menatap matanya terlalu lama.
“Kita akan mati.” gumam Raymond lirih. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Xaviero akan menguliti kita hidup-hidup kalau dia tahu kita mempermainkannya.”
Tiba-tiba, pandangan mata Raymond yang merah menyala menangkap sosok di lorong menuju dapur. Seorang gadis tengah mengepel lantai, bertubuh kurus, mengenakan pakaian lusuh yang kebesaran, rambut diikat asal-asalan, dengan tangan kasar yang jelas terbiasa bekerja keras.
Elara.
Sebuah ide gila, kejam, licik, namun satu-satunya jalan keluar, melintas di benak Raymond. Ia menegakkan tubuhnya, lalu melangkah lebar dan menghentak menuju gadis itu.
“Kau!” bentaknya.
Elara tersentak. Ember pel di tangannya hampir terlepas. Ia segera menunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar, refleks yang terbentuk setelah bertahun-tahun menerima siksaan fisik dan verbal dari pria yang seharusnya melindunginya.
“M-maaf, Ayah… a-aku hanya membersihkan tumpahan kopi pelayan tadi.” cicitnya nyaris tak terdengar. Ia tak berani menatap wajah Raymond.
Tanpa peringatan, Raymond mencengkeram lengan kurus Elara dengan kasar. Gadis itu memekik kesakitan.
“Ikut aku. Sekarang!”
“Ayah, sakit! Ayah, aku salah apa?” Elara berusaha menahan langkahnya, namun tenaga Raymond jauh lebih kuat. Ia diseret paksa melewati lorong, menaiki tangga utama berlapis karpet beludru, menuju tempat yang selama ini terlarang baginya. Kamar Ariana.
Pintu kamar itu terbanting terbuka. Tubuh Elara terlempar begitu saja ke lantai marmer yang dingin. Ia meringis, rasa perih menjalar dari siku yang membentur keras permukaan lantai.
Saat Elara mendongak, napasnya seketika tercekat.
Di tengah kamar yang luas dan harum itu berdiri sebuah manekin. Dan di tubuhnya terpasang gaun pengantin yang luar biasa indah, gaun putih berekor panjang, bertabur ribuan kristal Swarovski yang berkilau tertimpa cahaya lampu gantung. Gaun impian setiap wanita. Gaun yang nilainya mungkin cukup untuk menghidupi Elara seumur hidup.
“Pakai itu,” perintah Raymond dingin, jarinya menunjuk lurus ke arah gaun tersebut.
Elara terdiam, pikirannya yang polos berusaha mencerna kenyataan. “A-apa? Ta-tapi, Yah… itu milik Kak Ariana. Kalau Kakak tahu aku menyentuhnya, dia akan marah besar.”
“Ariana sudah pergi!” bentak Raymond, suaranya menggema hingga kaca jendela bergetar.
“Kakakmu yang cantik dan sempurna itu kabur! Dia meninggalkan kita semua untuk mati di tangan Dominic Xaviero!”
Mata Elara membelalak. Kabur? Menikah dengan Dominic Xaviero?
“Jadi… Ayah menyuruhku—”
“Gantikan dia,” desis Raymond.
Ia berlutut di hadapan Elara, lalu mencengkeram rahangnya dengan kasar hingga kuku-kukunya menekan kulit pipi gadis itu. “Kau dan Ariana kembar identik. Wajah kalian sama. Xaviero belum pernah bertemu Ariana secara langsung. Dia tidak akan tahu bedanya.”
“Tidak!” Elara memberontak, mendorong tangan ayahnya sekuat tenaga. Ketakutan mencengkeram setiap urat sarafnya. “Aku tidak mau! Semua orang tahu siapa Dominic Xaviero! Dia monster, Yah! Dia membunuh orang tanpa berkedip! Aku tidak mau mati sia-sia!”
“Kau pikir aku peduli kau hidup atau mati?!”
Tamparan keras mendarat di pipi Elara.
PLAK!
Kepalanya terpental ke samping. Rasa panas menyengat, sudut bibirnya terasa perih. Air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Dengar baik-baik, anak tidak berguna,” bisik Raymond di dekat telinganya, suaranya dingin dan berbisa. “Keluarga Xaviero sudah mentransfer dana talangan untuk menyelamatkan perusahaan. Kalau pernikahan ini batal, mereka akan menuntut ganti rugi sepuluh kali lipat. Hari ini juga.”
Raymond mengeluarkan ponselnya. Di layar, terpampang rekaman CCTV sebuah kamar rumah sakit yang suram. Seorang wanita tua bertubuh kurus terbaring lemah, terhubung dengan selang oksigen dan infus.
Neneknya.
Satu-satunya orang yang pernah mencintai Elara tanpa syarat. Satu-satunya yang tak pernah membandingkannya dengan Ariana.
“Rumah sakit baru saja menelepon,” ucap Raymond ringan, namun mematikan. “Mereka menuntut pelunasan biaya bulan ini.”
Elara menahan napas.
“Kalau kau tidak memakai gaun itu dalam sepuluh menit,” lanjut Raymond tanpa emosi, “aku akan menelepon dokter dan menyuruh mereka mencabut semua alat penunjang hidup nenek kesayanganmu. Sekarang juga.”
Dunia Elara runtuh seketika.
Ia menatap layar ponsel itu dengan pandangan kosong. Neneknya adalah satu-satunya alasan ia bertahan hidup di neraka bernama keluarga Valen. Satu-satunya pelukan yang pernah ia terima dengan tulus.
“J-jangan…” isaknya pecah. Elara merangkak maju, memeluk kaki ayahnya.
“Jangan sakiti Nenek, Yah… tolong…”
“Kalau begitu, lakukan tugasmu!” Raymond menendang kakinya agar menjauh. “Jadilah Ariana hari ini. Satu hari saja. Atau selamanya, aku tidak peduli. Yang penting Xaviero mendapatkan pengantinnya, dan keluarga ini selamat.”
Elara terisak di lantai.
Ia tak punya pilihan.
Tak punya kuasa.
Sejak awal, hidupnya memang tak pernah menjadi miliknya sendiri.
Tanpa sengaja, mata Elara menangkap sosok ibunya yang berdiri di ambang pintu. Helena hanya diam, tanpa sedikit pun niat untuk menolong. Dengan tatapan memohon, Elara berharap ibunya mau membelanya, meski hanya sekali, meski hanya sedikit.
Namun Helena tak sanggup menatap balik. Ia memalingkan wajah, melangkah pergi, lalu menutup pintu perlahan, seolah menutup keberadaan Elara dari hidupnya.
Apa lagi yang bisa ia harapkan dari keluarga ini?
Tak satu pun dari mereka menyayanginya.
Tak satu pun.
Hanya neneknya. Selalu hanya neneknya.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang tak henti mengalir, Elara bangkit perlahan. Langkahnya tertatih menuju gaun putih yang berkilauan itu. Gaun yang tampak indah di mata siapa pun, namun bagi Elara, ia terlihat seperti kain pembungkus mayat.
“Bagus,” gumam Raymond dengan senyum menyeringai puas. Ia bertepuk tangan dua kali.
Pintu kamar kembali terbuka. Tiga orang penata rias masuk dengan wajah pucat dan bingung. Pandangan mereka langsung tertuju pada Elara, rambut berantakan, mata bengkak, bibir berdarah, pipi lebam.
“T-Tuan Valen… ini…” salah satu dari mereka tergagap. “Ini bukan Nona Ariana—”
“Tutup mulut kalian dan kerjakan saja tugas kalian!” bentak Raymond tajam.
“Dandani dia. Tutupi lebam di wajahnya dengan bedak paling tebal yang kalian punya. Buat dia terlihat persis seperti Ariana. Kalau sampai ada satu orang saja yang curiga–” suara Raymond merendah, mematikan, “kalian yang akan kuhabisi.”
Tak ada yang berani membantah.
Para penata rias langsung bekerja dengan tangan gemetar. Elara didudukkan di depan cermin besar, pasrah, seperti boneka rusak yang kehilangan kehendak.
Spons bedak ditepuk-tepukkan ke wajahnya yang lebam.
Rambut yang biasanya diikat seadanya kini disasak, disemprot hairspray hingga kaku dan rapi.
Lipstik merah menyala dipoleskan di bibirnya yang pucat.
Perlahan, bayangan gadis upik abu dalam cermin menghilang. Berganti sosok wanita anggun, cantik, dan memukau. Sangat mirip Ariana.
Hampir sempurna.
Kecuali satu hal.
Tatapan matanya.
Mata Ariana selalu bersinar penuh kelicikan dan keangkuhan. Sementara mata Elara redup dan kosong, seperti milik seseorang yang telah menyerahkan hidupnya pada takdir.
“Sudah selesai, Tuan,” cicit salah satu penata rias, mundur perlahan.
Elara berdiri. Gaun itu terasa longgar di bagian pinggang. Tubuhnya terlalu kurus dibanding Ariana yang terawat. Korset di baliknya ditarik begitu kencang hingga napas Elara terasa sesak.
Tepat saat itu, suara sirine dan klakson berat menggema dari halaman depan. Bukan suara mobil biasa. Itu deru mesin monster V8. Iring-iringan mobil hitam legam dengan lambang naga perak, simbol keluarga Xaviero, telah tiba.
Jantung Elara seakan berhenti berdetak.
Raymond mengintip dari balik tirai jendela. Wajahnya tegang, namun ada kilatan lega di sana. Ia berbalik, mengambil cadar renda tebal, lalu memasangkannya di kepala Elara, menutupi wajah cantiknya sepenuhnya.
“Ingat,” bisiknya tajam sambil menggenggam paksa tangan Elara yang sedingin es. “Mulai detik ini, namamu Ariana. Jangan bicara kalau tidak ditanya. Jangan mengangkat kepalamu. Satu kesalahan kecil saja dan kau akan melihat nenekmu berada di liang kubur besok pagi.”
Pintu kamar terbuka lebar.
Cahaya matahari pagi menyilaukan mata Elara, namun ia merasa sedang melangkah menuju kegelapan abadi. Di ujung tangga, para pengawal berjas hitam berdiri berjajar, wajah mereka kosong tanpa emosi, siap membawanya pergi.
Dan di suatu tempat, di akhir perjalanan ini.
Sang Iblis sedang menunggunya.
Elara menarik napas panjang. Napas yang terasa menyakitkan, lalu melangkah keluar.