Napasku masih sedikit tersengal - sengal karena kepedasan, begitu juga dengan Anggi. Kulihat, ia memegangi perutnya kesakitan.
"Kenapa? Sakit perut?" tanyaku dengan nada mengejek.
"Halah gitu doang," ucap Anggi menepis ucapanku.
Aku hanya mengangguk - anggukan kepalaku, mencoba mengulur waktu.
"Gue boleh minta satu keinginan lagi?" tanyaku pada Anggi tiba - tiba.
Aku benar - benar harus memutar otak, akan gagal jika Gita kembali dengan cepat. Aku harus membuat Gita pergi sedikit lebih jauh, jika ingin rencana ini berhasil.
"Apaan?" tanya Anggi mencoba menahan pedas yang masih tersisa.
"Gue pengen makan martabak manis yang ada di perempatan sejahtera sama es boba di simpang lima."
Aku mengatakannya dengan cepat dan dengan senyum kecil, berharap Anggi akan terkecoh.
Anggi menatapku