Cerita ini bukan tentang bad boy yang menyukai si kutu buku, atau Bad boy dengan bad girl yang berakhir tobat.
Bukan pula tentang dua remaja SMA yang menyukai satu sama lain, atau cerita cowok jutek yang berakhir menyukai si cewek pendiam dan pemalu di kelasnya.
Ini hanya cerita Arseno, si dokter muda dan tampan. Yang lahir dari keluarga kaya yang menjadikannya pewaris Siwan grub, perusahaan keluarganya.
Dengan seorang gadis cantik yang berprofesi sama dengannya, Metta Aletta yang terlahir dari keluarga sederhana yang merupakan teman dekat Arseno juga.
Arseno, si cowok pendiam dan dingin yang jarang mengutarakan rasa sukanya. Lebih mementingkan ego dan gengsinya daripada berbicara tulus. Berbanding terbalik dengan Metta yang sudah menyukainya sejak lama namun sama sekali tidak ditanggapi. Hanya di anggap angin lalu saja.
Sampai muncul sosok yang datang di tengah-tengah keduanya. Sosok yang ingin mengenal Metta lebih dari seorang teman. Membuat Arseno merasa keberadaannya terancam.
Tidak ada yang rumit dari cerita ini. Tidak ada dendam keluarga yang harus dibalas dalam satu malam, tidak ada perkelahian di gang sempit, tidak ada surat cinta yang diselipkan di loker.
Yang ada hanya seorang pemuda yang tidak pernah bisa mengatakan apa yang ia rasakan, dan seorang gadis yang terlalu keras kepala untuk berhenti berharap.
Arseno bukan tipe yang akan mengejar. Bukan tipe yang akan menelepon lebih dulu, atau menanyakan sudah makan atau belum. Kalimat terpanjang yang keluar dari mulutnya biasanya berisi instruksi medis, bukan perasaan.
Tapi kalau kalian perhatikan lebih lama, kalian akan sadar satu hal.
Orang seperti Arseno tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya bicara dengan cara yang tidak dimengerti siapa pun. Termasuk oleh gadis yang ia diamkan bertahun-tahun.
Dan ceritanya dimulai dari sebuah malam biasa di rumah sakit.
***
Jam di dinding ruangannya sudah menunjuk angka sebelas lewat. Koridor di luar sana sudah sepi, hanya menyisakan bunyi roda troli yang didorong perawat malam dan dengung lampu yang setengah mati.
Arseno masih duduk di kursinya dengan lengan kemeja tergulung sampai siku, membaca berkas pasien terakhir hari itu. Matanya perih, tapi ia tidak berniat pulang sebelum semua tanda tangannya selesai.
Ketukan pada pintu membuatnya mengangkat wajah.
"Masuk."
Pintu terbuka pelan. Seorang gadis berambut sebahu melongokkan kepalanya lebih dulu, lalu menyelinap masuk dengan kantong kertas di tangan.
"Belum pulang, dokter?"
Arseno kembali menunduk pada berkasnya. "Kelihatannya gimana?"
Metta mencebikkan bibir, tapi tetap melangkah masuk dan meletakkan kantong kertas itu di atas meja, tepat di samping berkas yang sedang dibaca Arseno.
"Bubur ayam. Yang di depan rumah sakit," ujarnya sembari mendudukkan diri di kursi seberang tanpa dipersilakan. "Elo dari siang cuma minum kopi. Gue ngitung."
"Ngapain diitung?"
"Kerjaan gue banyak, salah satunya ngitung kopi elo."
Arseno tidak menjawab. Jarinya membalik satu halaman.
"Dokter," panggil Metta lagi, kali ini suaranya lebih pelan. "Besok gue ada operasi pagi. Yang pasien kemarin itu."
"Terus?"
"Ya... gak papa sih. Gue cuma agak deg-degan aja." Gadis itu mengusap telapak tangannya sendiri di atas pahanya, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia gugup. "Kemarin pas megang klem, tangan gue sempat gemetar dikit."
Arseno akhirnya berhenti membaca. Pemuda itu menutup berkasnya, menaruhnya di tumpukan sebelah kanan, lalu menatap Metta dengan tatapan yang datar seperti biasa.
"Jam berapa operasinya?"
"Tujuh."
"Sekarang jam sebelas lewat." Arseno kembali meraih berkas berikutnya. "Pulang. Tidur. Tangan yang gemetar gak boleh pegang pisau."
Metta mengerjap. Kalimat itu terdengar seperti teguran, nadanya juga seperti teguran, tapi gadis itu sudah cukup lama mengenal Arseno untuk tahu bahwa yang barusan bukan teguran.
"Iya, dokter," jawabnya, senyumnya melebar tanpa bisa ditahan.
Metta menopang dagu, menatap pemuda di depannya lekat-lekat. Lampu meja menyorot separuh wajah Arseno, memperjelas rahang tegasnya dan lesung pipit yang jarang sekali muncul. Gadis itu selalu punya kesempatan menatap wajah itu sepuasnya justru karena pemiliknya tidak pernah balas menatapnya.
"Gue gak lapar," ujar Arseno akhirnya.
"Ya udah, gak usah dimakan."
"Terus ngapain lo bawa?"
"Biar besok pagi gue bisa bilang ke Arka kalau elo nyia-nyiain bubur seharga dua puluh ribu," balas Metta dengan wajah datar yang jelas-jelas dibuat-buat.
Arseno mendongak sedikit. Hanya sedikit. Cukup untuk melihat gadis itu tersenyum lebar seolah baru saja memenangkan sesuatu.
"Berisik."
"Iya, iya. Gue keluar." Metta bangkit, merapikan jaketnya, lalu berhenti di ambang pintu. Gadis itu berbalik sekali lagi. "Dokter Arsen."
"Hm."
"Jangan lupa makan. Beneran."
Pintu tertutup pelan.
Arseno diam beberapa saat, memandangi daun pintu yang sudah rapat itu tanpa ekspresi apa pun. Lalu tangannya terulur, menarik kantong kertas tadi mendekat, dan membukanya.
Buburnya masih hangat. Ada dua bungkus kerupuk, satu sendok plastik, dan segelas kecil teh tawar yang bahkan tidak ia minta.
Pemuda itu memakannya sampai habis. Termasuk seledrinya, yang sebenarnya tidak pernah ia suka.
Selesai makan, Arseno menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya jatuh pada foto yang selalu berdiri di sudut mejanya. Foto lama, warnanya sudah pudar. Dua anak lelaki dan satu anak perempuan yang tersenyum lebar ke arah kamera dengan gigi ompongnya.
Rahangnya mengeras samar.
Ada hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Ada nama-nama yang tidak pernah ia sebut keras-keras, bahkan pada dirinya sendiri. Dan mungkin karena itulah ia tumbuh menjadi orang yang menyimpan segalanya, termasuk yang seharusnya ia keluarkan.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Metta Aletta: Buburnya dimakan gak?
Arseno menatap layar itu lama. Jempolnya bergerak, mengetik.
Makasih.
Ia menatap kata itu beberapa detik, lalu menghapusnya satu per satu sampai kolom pesannya kosong lagi. Pemuda itu berdecak samar pada dirinya sendiri, lalu mengetik ulang.
Asin.
Terkirim.
Balasan datang kurang dari lima detik kemudian, panjangnya tiga baris, penuh protes, diakhiri dengan tiga emoji marah dan satu kalimat yang membuat sudut bibir Arseno naik sedikit tanpa ia sadari.
Metta Aletta: Berarti besok gue beliin lagi biar elo bisa protes lagi!
Arseno mengunci ponselnya, menaruhnya menghadap ke bawah, lalu memijat pangkal hidungnya.
"Bodoh," gumamnya entah pada siapa.
Ia mematikan lampu meja, menyampirkan jubah putihnya di lengan, dan melangkah keluar dari ruangannya. Koridor rumah sakit sudah kosong. Di ujung sana, lift terbuka dan menelan bayangannya begitu saja.
***
Besok paginya, semuanya akan kembali seperti biasa.
Arseno akan datang paling pagi, memasang wajah datar yang membuat dokter magang menahan napas, dan menyapa siapa pun hanya dengan anggukan.
Metta akan tetap mengekorinya, tetap membawakan sesuatu, tetap tersenyum walau dibalas satu kata.
Arka akan tetap mengomel, menyebut sahabatnya kanebo kering, dan tetap tidak digubris.
Semuanya akan berjalan seperti biasa, seolah tidak akan pernah ada yang berubah.
Sampai suatu hari nanti, seseorang datang dan berdiri terlalu dekat dengan Metta. Sampai untuk pertama kalinya, Arseno merasakan sesuatu yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Sesuatu yang membuat pemuda berhati dingin itu akhirnya tahu rasanya takut kehilangan.
Tapi itu nanti.
Untuk sekarang, cerita ini dimulai dari pagi berikutnya. Dari koridor rumah sakit yang mulai ramai, dari langkah panjang seorang dokter muda dengan stetoskop yang melingkar di lehernya.