Mencari pendamping hidup
"Mah, aku ada teman laki-laki mau ke sini besok ingin bertemu mamah dan bapak" ucap siti kepada mamahnya
"Teman laki-laki? Siapa? Ada urusan apa dia ingin menemuiku siti ?" ucap mamah sija (mamahnya siti) merasa heran
"Dia teman baikku mah" jawab siti sambil tertunduk malu
"Baiklah ku tunggu kedatangannya ya" jawab mamah sija singkat
*****
'Hari sudah sore mamah dan bapak pasti sudah beres-beres dagangan dan mungkin sebentar lagi pulang, sebaiknya aku tunggu sebentar' bathinku
Yaa, Orang tuaku seorang pedagang makanan semacam warteg hanya saja kami berjualan menggunakan gerobak dan lokasi di pinggir jalan (kaki lima) tempatnya tak jauh dari kontrakan kami
"Assalamu'alaikum" ucapku yang baru saja pulang
"Walaikumsalam, kamu sudah pulang ia, makan gih terus bersih bersih" ucap siti sambil menengok ke arah pintu
"Iya kak, nanti aku mau keluar sebentar setelah selesai makan dan bersih-bersih" jawabku sambil duduk di bangku kayu tak jauh dari siti kakakku
"Tumben keluar lagi, mau kemana?" tanya siti dengan wajah masam
"Iya kak aku mau ke rumah temanku sebentar mau nganterin paket temanku yang dia titipin kemarin" jawabku santai
Tumben siti kepo dengan urusanku? tidak seperti biasanya dia seperti ini, Yaa kami kakak beradik tetapi tidak begitu akrab. apa dia curiga aku pergi kemana atau ahh sudahlah mungkin hanya perasaanku saja
Tak lama mamah dan bapak pun pulang dengan mendorong gerobak dagangannya
"Assalamu'alaikum" ucap mamah di ambang pintu yang terbuka
"Walaikum salam mah, bagaimana jualan hari ini mah? " tanyaku sambil mencium punggung tangan mamah
"Alhamdulillah ia habis semua, untuk makan nanti malam beli bakso yang lewat depan rumah saja ya, tak apa kan ?" jawab mamah sembari duduk di bangku tepatnya di sebelah aku
"Iya mah tak apa kok"
"Oh ya mah, aku mau keluar dulu sebentar mau antar paket titipan temanku kemaren" ucapku berpamitan sambil mengambil bingkisan paket di sebelahku
"Ohh yasudah hati-hati ya, pulangnya jangan terlalu malam gak baik anak perempuan pulang malam sendirian"
"Iyah mah, cuma sebentar kok." jawabku sambil tersenyum kecil lalu mencium punggung lengan mamah dan beranjak pergi
Siti mulai mondar mandir entah apa yang ada di pikirannya, tak lama kemudian ada suara motor terhenti di depan kontrakan kami
"Assalamu'alaikum" ucap seorang lelaki yang baru saja turun dari motor depan kontrakan kami
"Walaikumsalam" ucap mamah yang masih duduk di bangku tak jauh dari pintu masuk
Dengan tergesa-gesa siti pun berlari kecil ke depan ke arah sumber suara
"Mah, ini teman aku yang mau aku kenalin sama mamah dan bapak" ucap siti memperkenalkan lelaki tersebut
"Oh... ini teman kamu ti, mari silahkan duduk" ucap mamah dengan sedikit senyuman
"Baik bu terima kasih"
"Perkenalkan saya dimas teman nya siti bu" ucap lelaki itu sambil malu malu
"Oh iya, saya ibu.a siti. Kalian sudah lama kenal? Perasaan mamah belum pernah liat siti bareng sama kamu"
"Kebetulan saya baru kenal siti belakangan ini bu, dan tujuan saya ke sini dengan niat mau mengenal putri ibu lebih jauh lagi" ucap dimas dengan lantang
"Maksudnya, kamu mau melamar anak saya?" tanya mamah sambil melongo
"Iyah bu, jika ibu dan bapak mengijinkan" tegas dimas
"A-aduuhh bagaimana yah, sebentar ibu diskusi dlu sama bapak ya dim" jawab ibu gugup sambil beranjak pergi menemui bapak
Sementara siti terlihat sangat gelisah dan entah apa yang di pikirkannya, mungkin takut di tolak atau ...
"A dimas aku takut kalo mamah gak restuin kita, apalagi kita juga belum lama kenal" ucap siti dengan kegelisahannya
"Neng tenang aja, jika memang jodohnya neng itu aa in' syaa allah di mudahkan jalannya" dengan nada pelan dimas berucap mencoba untuk menenangkan siti yang gelisah dari tadi
Tak lama bapak dan ibu pun kembali ke ruangan depan duduk di bangku dekat siti dan dimas yang sedang berbincang, seketika pembicaraan mereka pun terhenti
"Nak dimas yakin ingin melamar putri bapak?" tanya bapak dengan tegas
"In' syaa allah yakin pak, jika memang bapak dan ibu merestuinya kenapa tidak" dimas pun menjawab dengan tenang
"Kami ijinkan mengenal siti dlu sebelum melangkah kelamaran takutnya gak cocok kan kasian baru menjalani tapi sudah berpisah" jelas bapak dengan wajah sangat serius dan sedikit tegang
Deg !
"Baiklah pak, bu, memang kami belum lama kenal in syaa allah saya sudah yakin sama siti akan melangkah ke lamaran tapi jika memang keputusan bapak dan ibu ingin kami mengenal lebih lagi srbelum lamaran tidak apa pak, bu saya maklumin" ucap dimas dengan nada menahan sedih
"Oh yaa nak dimas apa benar kerja jadi guru?"
"Benar pak, tepatnya guru less piano pak" jawab dimas dengan ramah
"Mmm, punya pribadi? atau..."
" alhamdulillah punya pribadi pak"
"Ohh yasudah mungkin nanti di bicarain lagi soal lamarannya ya nak dimas, jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan" jelas bapak dengan tegas
"Baik pak, klo begitu saya pamit pulang dlu pak, bu, neng" ucap dimas sembari senyum kecil lalu mencium punggung tangan bapak dan ibunya siti
*****
"Asalamu'alaikum" ucapku yang baru saja datang dari rumah teman
"Walaikum salam, shintia sudah ngantar barang.a? Tanya mamah karna tadi sempat ijin sama mamah sebelum pergi ke rumah teman
"Ohh sudah mah, alhamdulillah. Kak siti kenapa mah kok sedikit murung" tanyaku kebingungan melihat siti
Siti pun nengok ke arahku dan berlalu menuju kamarnya tanpa bicara sepatah kata pun
"I-ini ia, ta-tadi ada lelaki datang ke sini ingin melamar kakakmu siti" mamah kelihatan gugup menjawab pertanyaanku
Apa? Melamar? Kenal dari mana dia lelaki itu?dia tidak pernah keluar rumah selain ke tempat dagang mamah. Kok bisa dia ada teman lelaki dan yang bikin kaget dia mau melamar kakakku, apa dia tidak tau kakakku jarang bergaul bersama temannya atau mungkin lelaki itu sudah mengenal kakakku sejak sekolah dlu? Tapi aku mengenal wajahteman kakakku saat sekolah dlu karna aku sering main ke dekat sekolahnya dulu tapi tidak ada yang terlalu dekat seperti ini hanya sebatas pelajaran saja.
Yaa kakakku terkenal pintar saat dia sekolah dan dia di angkat jadi ketua OSIS saat itu tapi dia hanya berteman dengan perempuan saja dan merasa minderjika dekat dengan lelaki kecuali soal pelajaran dia tak ragu untuk menjelaskan jika temannya kurang mengerti terutama pelajaran matematika dan bahasa inggris
"A - apa? Melamar? Terus mamah dan bapak bilang apa? Apa mamah menyetujuinya? Setahuku siti tak pernah dekat dengan lelaki mah, kenal dari mana dia dengan lelaki itu apa mamah tau?" Ucapku kaget mendengar siti mau di lamar lelaki itu
"Yaa lelaki itu namanya dimas, dia seorang guru less piano milik ptibadi. Memang dimas mengakui kalau mereka blm lama ini kenalnya ia, mamah pun masih pertimbangin permintaannya untuk melamar siti. Bukan apa-apa hanya saja dimas dari keluarga berada, profesinya pun bisa di bilang mapan dengan penghasilan yang ia dapat, dia sudah sarjana juga. Sedangkan kakakmu SMP sajacuma sampai kelas 2 dan tidak lanjut sekolah lagi, siti cuma bantu mamah jualan selama ini. Mamah hanya takut dia di hina oleh keluarga dimas nanti kasihan dia" jelas mamah dengan wajah agak sedikit murung dan menahan kesedihan serta bingung atas permintaan dimas
"Ohh gitu ya mah, pantas saja dia murung" ucapku sambil beranjak menuju kamar siti
"Hey, kok murung sih?" tanyaku
Tapi siti tidak menjawab pertanyaanku hanya diam saja melihat ponselnya dan kelihatan jelas wajah murungnya
*****
Sebulan kemudian siti terlihat sedikit ceria wajahnya, mungkin sudah melupakan kegalauannya
"Assalami'alaikum, tok tok tok"
terdengar suara lelaki dari pintu depan, aku langsung membukakan pintunya entah siapa yang datang
"Walaikum salam" ucap ku "cari siapa mas, ada urusan apa?" sambungku bertanya pada lelaki itu
"Saya teman siti dek, kamu shintia yah adeknya siti?"
"Ohh iya benar, mari masuk, silahkan duduk. Aku akan panggilkan kak siti"
Aku pun langsung ke kamar siti. Dia sedang gelisah duduk di pinggiran kasur sambil melihat handphone sesekali
"Kak, di depan ada yang nyari"
"Oh iya baiklah aku segera ke sana" siti kelihatan tampak senang dengan senyum-senyum kecil saat ada yang mencarinya
Aku segera keluar kamar siti. 'Sepertinya siti sangat senang dengan kedatangan lelaki itu, apa dia tau siapa yang datang dan mencarinya? Padahal aku tak mengatakan siapa yang datang. Ah.. Mungkin mereka sudah janjian sebelumnya' bathinku
Siti tak kunjung datang, tak lama mamah pun ke depan karna hari minggu jadi tidak jualan dan ada di rumah
"Ehh ada nak dimas, mau ketemu siti?" tanya mamah sambil duduk dekat dimas
"Iya bu" jawab dimas sambil senyum kecil
"Oh yaa dim, mmm... gimana ya ngomongnya..." mamah kelihatan sangat gugup
"Iya, kenapa bu?"
"I - ini nak dimas, bapak sama ibu sudah diskusi soal permintaan lamaran kamu hari lalu" ucap mamah mulai sedikit tenang
" jadi begini nak dimas, maaf jika menyinggung, bukannya kami tidak merestui hubungan kalian hanya saja istilahnya tidak selevel, maksudnya kamu kan berpendidikan, profesimu juga lumayan mapan dan di pandang orang, keluargamu berada juga. Sedangkan kami hanya keluarga sederhana, siti pun SMP saja hanya sampai kelas 2 belum tamat SMP. Setelah diskusi mungkin lebih baik nak dimas putuskan siti dan cari yang lebih baik, lebih di pandang berpendidikan. Sekali lagi mamah minta maaf tak bisa merestui kalian" ucap mamah dengan terpaksa mengatakan hal ini
Deg !
"Ohh baiklah bu kalau begitu tak apa saya mengerti maksud ibu dan bapak baik,ya kalau misalnya siti dapat pendamping hidup ya syukur alhamdulillah, saya hanya bisa mendo'akan yang terbaik buat siti bu. Mungkin saya akan mencoba jauhi siti setelah ini bu" jawab dimas dengan penuh kekecewaan dan putus harapan melamar siti
"Loh kak, kok malah mondar-mandir di sini sih bukannya tadi ke depan nemuin tamu itu. Apa sudah pulang? Kok sebentar? Emang dia siapa kak, teman kakak?" ucapku penuh tanda tanya
"Mmmm... Aku mau k sana tapi keduluan mamah dan mereka lagi ngobrol juga ia jadi gk enak mau ke sana juga. Mmmm nanti deh aku ke sananya takut ganggu mereka"
"Loh kok gitu kak, bukannya itu temennya kakak? Gpp dong ikut ngobrol sama mamah juga kaya ke siapa saja kakak nih"
"Bukannya gitu ia, liat deh muka mereka serius banget" sambil menunjuk ke arah depan "aku hanya gak enak aja kalo ikut mereka ngobrol, tapi aku juga penasaran mereka ngobrolin apaan sih serius banget bikin aku cemas aja deh"
"Yaudah kalau emang penasaran samperin gih, bukan malah di liatin doang gimana sih kak"
"Dasar kompor yah, yaudah oke oke aku ke depan sekarang ia"
"Ya itu si terserah kakak, kalau penasaran ya samperin lah ke sana jgn nguping doankk"
"Iyah deh" sambil berjalan menuju arah depan tempat mamah dan dimas ngobrol
"Ehh a, udh lama ?"
"Mmm baru kok, belum lama. Nih abis ngobrol sama ibu juga"
"Ohhh, ngobrol apa?"
"Soal hubungan kalian ti" ucap mamah
"A-apa? Emang ada masalah apa mah?"
"Mmmm..." mamah tampak kebingungan bagaimana cara menjelaskan ke siti
"Biar nanti dimas yang bilang ke siti bu"
"Baiklah, kalau gitu mamah ke belakang dulu yah"
"Iyah bu"
Mamah pun beranjak ke belakang agar mereka bisa bicara dan saling mengerti yang tadi di bicarakan sama dimas. Semoga mereka mengerti ini untuk kebaikan siti juga agar dia tidak mendapat hinaan suatu hari nanti jika menikah dengan orang berada.
Tak lama dimas pun pamit. Siti pun sudah di beri penjelasan sama mamah dan bapak soal hal ini agar dia tidak terus berharap pada dimas.
***
Sebulan kemudian siti terlihat sangat ceria, dia melihat handphone nya sambil senyum senyum seperti orang sedang jatuh cinta, apakah dia sudah ada pengganti dimas? Ah... Masa sih, baru sebulan masa sudah ada penggantinya aku tak yakin. Tapi bisa jadi si, atau dia kenapa yah aduhh kok aku jadi kepo deh sama tingkahnya siti.
"Mah, aku k kamar dlu mau ganti baju nanti ada temanku mau mampir ngajak keluar sebentar"
Ucap siti dengan wajah kegirangan dan berlari kecil menuju kamarnya
Namun mamah hanya mengangguk kecil seolah ragu entah apa yang di pikirkan mamah. Mungkin mamah berpikir temannya yang akan datang itu dimas, atau teman barunya? Ah.... Entahlah. Karena ini hari minggu jadi mamah dan bapak gak jualan hanya membuat bumbu saja di rumah.
"Tok tok tok"
"Cari siapa mas?" tanyaku kepada lelaki yang mengetuk pintu yang kebetulan terbuka
"Sitinya ada neng?" ucap lelaki itu
"Ohh ada, mari duduk dulu mas" ajak ku dan diiringi lelaki itu duduk di bangku depan
"Ehhh sudah datang a? Sebentar aku panggil mamah dlu" ucap siti dan lelaki itu hanya menganggukkan kepala.a sedikit
"Mah, temanku udah datang, kami pergi dlu yah" ucap siti sambil beranjak pergi bersama lelaki itu
Kelihatnya lelaki itu ke sini tidak bawa kendaraan jadi mereka jalan kaki menuju ke arah jalan besar tak jauh dari rumah kami. Tak sopan sekali lelaki itu, datang tak beri salam pergi pun tak berpamitan tanpa kenalan dlu dan tanpa minta ijin sama orang tua kalau mau ngajak kakakku pergi, lelaki macam apa dia itu? bagaimana jika mereka pacaran? Oh, tidak tidak gak boleh terjadi masa mau punya kakak ipar seperti itu? Aku tak bisa terima
"Shintia, tadi siapa?" tanya mamah sambil duduk di dekatku membawa secangkir kopi yang di minumnya
"Entahlah mah, katanya si temennya. Bisa jadi pengganti Dimas mah" ucapku asal saja
"Hah apa, pergi pun tak pamit dlu mau jadi menantuku? Berani sekali dia" ucam mamah geram
"Iyah aku pun berpikiran sama mah, datang tak ngucap salam, berkenalan juga nggak,pergi pun tak pamit hanya siti yang mewakilkan. Lelaki macam apa dia itu, aku gak terima kalau dia jadi iparku mah" ucapku penuh kekesalan
"Iyah, mamah juga gak merestuinya kalau begini caranya, lelaki tak sopan. Apa dia gak di ajarkan sama orangtuanya soal sopan santun" mamah makin geram
Sementara aku hanya terdiam takutnya mamah malah makin marah nanti. 'Mulutku seolah tak bisa di kontrol jika melihat lelaki seperti itu, awal ketemu saja seperti itu 'gumamku
"Mah siti mana, bapak bawa pesanannya dia nih. Tapi kok di cariin gak ada yah mah" tanya bapak kebingungan
"Ohh siti. Tadi ada temannya ke sini pak ngajak keluar sebentar katanya"
"Siapa mah? Dimas?"
"Bukan pak, entahlah mamah juga baru liat dia pak"
"Lohh emang mereka pergi kemana mah"
"Mereka gak bilang mau pergi kemana pak. Ihh kesel sekali deh pak"
"Loh kok kesel mah, kenapa?"
"Itu loh pak, tadi temannya siti ke sini datang dia tak ucap salam, duduk sebentar pun hanya nunggu siti ganti baju mungkin, tapi mamah gak di kasih tau padahal mamah ada di belakang loh pak. Lebih kesel lagi lelaki itu ngajak keluar anak kita kok bisa bisanya gak pamit dulu sama kita, malah siti yang mewakilkan pak. Jangan sampe siti minta dinikahkan sama dia pak, mamah gak sudi punya menantu seperti itu pak"
"Yang benar aja mah, apa mungkin mereka buru-buru mah"
"Gak mungkin lah pak, siti aja santai begitu pas mau pergi"
"Yaudah kita tunggu aja mereka pulang dulu mah"
"Iyah pak"
Bapak pun segera duduk di sampingku sambil nyeruput kopi yang sudah di buatkan mamah.
"Shintia, kakakmu pergi kemana, ada cerita gak sama kamu"
"M-mm... Enggak ada kok pak, dia cuma bilang mau keluar sebentar aja pak. Emang kenapa ya pak"
"Ohh gak apa apa. Siapa tau kamu tau gitu mereka pergi kemana"
"Ohh enggak tau kok pak"
***
Hari sudah sore, namun siti belum juga pulang dari pagi tadi. Beberapa kali mamah dan bapak bertanya padaku namun emang siti belum pulang ya mau bagaimana lagi aku hanya menjawab dia belum pulang saja dan tak mau banyak bicara takutnya salah paham
"Mah aku pulang" ucap siti sambil melangkah menuju ke belakang yang kebetulan mamah ada di belakang
"Udah pulang ti? Mana temanmu? Bukannya tadi kalian pergi bareng, kok pulangnya sendiri?"
"Dia ada kerjaan mah jadi langsung pulang hanya bisa nganterin sampai jalan depan saja"
"Apa? Kok nganterin sampe situ doang sih, harusnya pamitan dulu atau apa kek gitu"
"Tapi dia buru-buru mah, dia ada kerjaan jadi langsung pulang"
"Kalau dia tau ada kerjaan, kenapa kalian pergi sampe sore? Kaya gak ada waktu lagi aja pergi seharian"
"Maaf mah"
Siti pun segera beranjak ke kamarnya "kok pesananku udah datang, pasti bapak udah datang deh"
Siti pun langsung ke belakang menemui bapak
"Pak, makasih yah udah bawain pesanan aku"
"Iyah ti, sama-sama. Oh iya ti, kamu dari mana? kok tadi bapak cariin gak ada sih jadi bapak simpan aja pesananmu di kamar"
"Abis keluar pak sama teman aku"
"Siapa? dimas?"
"Bukan pak, mungkin penggantinya dimas"
"Apa? penggantinya? Coba nanti suruh dia kesini bapak juga pengen kenal lelaki macam apa dia itu"
"Iyah pak, besok dia kesini lagi kok"
"Oke bapak tunggu ya, tapi setelah dagang jangan pas bapak masih di tempat jualan"
"Baik pak"
***